KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Terbakar cemburu


__ADS_3

Hanu melingkarkan tangannya di perut Zana, dagunya menancap di bahu sang istri.Pria itu memberikan kecupan di leher Zana, membuat sang empu kegelian apalagi hembusan napas Hanu yang menerpa lehernya, membuat tubuhnya meremang.


"M-mas kenapa di sini?Aku belum selesai masaknya, " gugup Zana ,yang masih sibuk memotong kangkung.


"Saya ingin melihat istri saya memasak. Sudah tiga hari kita tidak bertemu. Saya sangat merindukan kamu, " Hanu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zana yang tampak terkekeh geli dengan ucapan suaminya . Padahal setiap malam Hanu selalu ke rumah walau pun itu masih jatah Aniya.


"Mas lebay, " celetuk Zana. Membuat Hanu menatap Zana dari samping.


"Rindu itu datangnya tiba-tiba dan tak kenal waktu . Walau kita sering bertemu tapi saya tidak bisa menahan ke rinduan ini yang semakin membuncah ingin memeluk dan selalu berada di dekat kamu, " ujarnya dengan suara parau.


Zana menundukkan kepalanya sejenak. Senyuman merekah di bibir manisnya, ia pun juga sangat merindukan suaminya dan ingin selalu bersama Hanu dan ingin selalu berdekatan. Tapi ia sadar tidak mungkin setiap waktu Hanu selalu bersamanya, bukan hanya urusan pekerjaan_____Tapi juga Aniya. Kakak madu nya itu juga selalu berusaha membuat Hanu untuk selalu bersamanya.


"Kamu mau masak, hmm? " tanya Hanu, membuat lamunan Zana buyar.


"Aku ingin memasak Kangkung goreng dan juga ayam tepung. Karna hanya itu yang bisa aku masak. Aku tidak sehebat mbak Aniya yang pandai memasak, " ujarnya dengan raut wajah yang sedih. Hanu melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Zana agar menghadap dirinya.


"Jangan selalu membandingkan-bandingkan diri kamu dengan Aniya, " ujarnya menangkup pipi Zana, agar menatap dirinya. "Saya sudah senang kamu mau membuatkan makanan untuk saya.Yang penting kamu ikhlas melayani suami mu ini. " Hanu tersenyum dengan tatapan sayu pada Zana.


Cup


Pria itu mengecup bibir ranum Zana.Mata gadis itu langsung membola dengan pipi yang bersemu dan tampak malu-malu. Hanu tertawa dan menarik Zana dalam pelukannya, memberikan kecupan di pucuk kepala istri kecilnya bertubi-tubi. Zana tidak bisa menyembunyikan senyumannya di balik pelukan sang suami. Ia membalas pelukan Hanu lebih erat lagi . Rasanya ia sangat tidak rela bisa suatu hari nanti harus berpisah dari Hanu. Ia benar-benar sudah sangat mencintai Hanu melebihi mencintai dirinya.


Zana tidak peduli lagi dengan orang-orang mengatakan apapun pada dirinya yang merupakan istri kedua. Yang penting apa pun yang di tuduhkan orang-orang padanya tidak,'lah benar.


*******


Zana mengambil lauk dan nasi untuk Hanu yang sudah duduk manis menunggu makan siangnya. Ia menyerahkan piring penuh dengan makanan tersebut pada Hanu yang menatap lekat pada dirinya dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Kamu tidak makan? " tanya Hanu melihat Zana yang duduk menghadap dirinya.


"Tidak . Aku makannya setelah mas Hanu selesai, " ujarnya tersenyum.

__ADS_1


Hanu menghela napas pelan. "Sekarang kita makannya satu piring berdua saja. Biar romantis, " ujar Hanu tersenyum."Saya tidak mau, kamu hanya menonton saya makan sedangkan kamu tidak makan. Jangan segan sama saya."Hanu menyodorkan sendok yang penuh dengan makanan pada Zana.


"Aaa.... Ayo buka mulutnya,sayang, "


Zana perlahan membuka mulutnya, menerima suapan dari Hanu . Ia jadi salah tingkah sendiri ketika matanya bertubrukan dengan netra coklat bening milik Hanu yang menatap dirinya. Hanu mengusap sudut bibir Zana yang blepotan, dan menjilat jarinya sendiri bekas mengusap sudut bibir gadis tersebut. Zana yang melihat itu memalingkan wajahnya, malu.


"Sekarang suapin saya, " Hanu menyerahkan piring tersebut pada Zana yang kini menyuapi suaminya yang terus menatap dirinya.


"Masakkan kamu enak , sayang. Saya sangat menyukainya, " puji Hanu. Lagi-lagi pipi Zana kembali bersemu mendengarnya.


"Mas, jangan terlalu memuji aku, " ujarnya untuk menutupi kegugupannya dengan kepala yang tertunduk.


"Memangnya kenapa? Salah seorang suami memuji apapun yang di lakukan istrinya, termasuk membuat makanan ini? " ujarnya."Sesederhana apapun masakkan yang kamu buat tetap enak bagi saya. Karna yang membuatnya orang yang sangat saya cintai. "Hanu mencium pipi Zana dengan lembut.


Mereka berdua saling pandang. Menatap satu sama lain dengan tatapan begitu dalam menyiratkan perasaan mereka berdua masing-masing.


🍁🍁🍁🍁🍁


Aniya mengusap peluh yang membasahi dahinya. Ia berdecak, seharian harus di sibukan membersihkan rumahnya yang cukup besar ini. Apalagi pembantu yang sering bersih-bersih rumahnya tidak bisa masuk bekerja karna anaknya yang sakit.Aniya menggerakan pinggangnya ke kanan dan ke kiri.Aniya menghembuskan napas kasar, ia lupa belum mencuci baju yang kotor apalagi begitu menumpuk.


Aniya membenarkan hijabnya dengan wajah yang datar. "Anaknya sakit, jadi tidak masuk kerja , jadi aku yang harus mengantikannya, apalagi cucian pada menumpuk, "decaknya, kembali menyapu lantai sebelum di pel.


Umma Sarah terdiam sejenak. Seolah tengah memikirkan sesuatu. Hingga sebuah senyuman tercipta di wajah wanita berusia 64 tahun itu.


"Gimana, Zana saja yang mencuci baju kotor itu, jadi kamu tidak terlalu lelah dan Pekerjaan kamu juga teringani, " ujar umma Sarah memberikan solusi. Aniya langsung menganggukkan kepalanya tanpa pikir panjang,setuju dengan ucapan Umma nya.


"Ya Umma. Setidaknya Zana itu ada manfaatnya jadi istri mas Hanu, " ujar Aniya yang bergegas berjalan ke belakang rumah.


Kini Aniya menenteng plastik hitam dengan baju kotor yang memenuhi plastik tersebut. Mereka berdua berjalan menuju ke rumah Zana yang tidak terlalu jauh.


********

__ADS_1


Sesampainya di rumah Zana, Aniya perlahan memutar tuas pintu kayu tersebut dengan pelan. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Zana untuk pertama kalinya. Beruntung gadis itu tidak mengunci pintu , jadi dengan mudah ia masuk ke dalam. Umma Sarah mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari Zana. Sayup-sayup mendengar suara gemericik air di dapur.


Sedangkan mata Aniya memanas menatap foto pernikahan Hanu dan Zana yang duduk bersanding. Tangannya terulur mengambil bingkai foto yang berukuran sedang tersebut yang terletak di meja. Hatinya seperti di tusuk belati begitu dalam hingga tembus,sangat sakit .Walau di dalam foto tersebut tidak ada raut kebahagiaan di antara keduanya tapi Aniya bisa melihat belakang ini, sangat jelas pandangan mata Hanu yang begitu berbeda saat menatap Zana. Seperti menyiratkan sesuatu di dalamnya.


Brak!!


Aniya tiba-tiba membanting foto Hanu dan Zana ke lantai ,matanya melotot dan napas yang terengah.Umma Sarah langsung kaget, ia membelalakan matanya melihat ke lantai yang sudah terdapat pecahan kaca dari bingkai tersebut.


"Aniya apa yang kamu lakukan? " tegur umma Sarah yang tampak tidak suka dengan perbuatan putrinya.


"Aku benci melihat foto itu!Hanu hanya milik aku, hanya milik aku! " Aniya meninggikan suaranya dengan nada yang bergetar.


"Foto aku! " Zana yang mendengar ke ributan di ruangan tamu langsung mendatanginya. Tapi yang ia lihat Umma Sarah , Aniya dan bingkai foto pernikahan yang hancur.


"Kenapa ini bisa pecah? "Tanya Zana, mengambil fotonya. Menatap dua orang yang ada di depannya.


Bukannya menjawab, mata Aniya mengarah pada kalung yang tersemat di leher Zana dengan liontin berbentuk hurud H.


" Dari mana kamu dapat kalung itu? "tanya Aniya penuh kecurigaan.


Zana terdiam. Ia langsung menyembunyikan kalung tersebut dari pandangan Aniya yang menatap tajam ke arahnya .


" I-ini kalung aku, "alibi Zana.


" Bohong! Itu pasti dari Mas Hanu!Kenapa kamu bisa mendapatkan apa pun dari mas Hanu , hah!! Bahkan aku tidak pernah di berikan kalung oleh mas Hanu sendiri, hanya cincin yang dia berikan pada aku!"teriak Aniya dengan napas memburu dan wajah yang memerah.


Zana mundur beberapa langkah. Ia memegang erat kalung yang baru di berikan Hanu.


"Sudah, Aniya. Itu hanya kalung. Kamu tinggal minta dengan Hanu. " Umma Sarah memegangi Aniya yang hendak mendekati Zana.


Aniya menoleh menatap Umma Sarah, menatap tajam.

__ADS_1


"BUKAN TENTANG KALUNG ITU SAJA! TAPI KENAPA MAS HANU TIDAK PERNAH MEMBERIKAN SESUATU YANG TIDAK PERNAH AKU DAPATKAN, KENAPA?!! " Teriak Aniya yang benar-benar sudah di kendalikan oleh amarahnya.


Bersambung...


__ADS_2