KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Kecurigaan Hanu


__ADS_3

Happpy reading


Zana tersentak kaget, sebuah tangan melingkar di perutnya. Tapi dia begitu familiar dengan aroma tubuh orang yang tengah memeluknya dari belakang. Dengan cepat Zana membalikan badannya. Hanu tersenyum melihat wajah ke terkejutan istrinya.Dia langsung mengecup bibir ranum Zana dengan mesra, sedikit ******* nya. Gadis itu melebarkan matanya dengan pipi yang merona setelah Hanu melepaskan tautan bibirnya.


"M-mas kenapa bisa masuk ke dalam rumah. Bukannya pintu sudah aku kunci? "tanya Zana menutupi ke gugupan nya.


Hanu terkekeh pelan.Dia mengangkat kunci ke udara, memperlihatkannya pada Zana.


"Kamu lupa, saya punya kunci cadangan rumah ini, " jawab Hanu, menyandarkan kedua tangannya di wastafel, mengurung Zana dalam kungkungannya. Gadis itu tersenyum kikuk, memalingkan wajahnya yang masih memerah, tersipu malu.Dia benar-benar gugup dengan jantung yang berdegub kencang dengan posisi mereka yang begitu dekat. Hingga Zana bisa merasakan hembusan napas Hanu.


"Mas kenapa malam-malam ke sini? Bukannya tiga hari ke depan jatah Mas dengan mbak Aniya, " ujar Zana.


"Memangnya saya tidak boleh menemui istri saya, hmm? "tanya balik Hanu.


Zana menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Bukan begitu tapi...aku tidak menyangka saja Mas ke sini. Aku malah senang Mas ke sini.Memangnya mbak Aniya mengizinkan Mas menemui aku? "tanya Zana. Hanu memanyunkan bibirnya, seolah tengah mencerna ucapan istrinya.


Tangan besar Hanu menangkup kedua pipi Zana, mengusap lembut pipi istrinya yang mulai berisi.


"Saya tidak perlu meminta izin Aniya , untuk menemui kamu, " jawab Hanu.


Pria itu langsung mengendong tubuh Zana dengan tiba-tiba, membuat gadis itu refleks mengalungkan tangannya di leher Hanu. Pria itu menggesekan hidungnya di leher Zana yang tertawa kegelian.


"Hahaha_____Mas sudah, aku geli tahu, " Zana mendorong kepala Hanu agar menjauh darinya.


"Aww!, " ringis Zana, ketika Hanu mencium pipi kanannya gemas. Lebam di pipinya akibat tamparan tadi belum sepenuhnya pulih.


Hanu langsung menghentikan aksinya, mendengar rintihan kesakitan sang istri. Ia langsung menurunkan Zana dari gendongnya dan memegangi pipi kanan gadis tersebut. Hanu baru sadar bila pipi Zana memerah dan masih terlihat bekas tamparan walau sudah mulai samar-samar.


"Pipi kamu kenapa? " tanya Hanu yang fokus memperhatikan pipi kanan Zana. Gadis itu langsung menjauhkan tangan Hanu dari pipinya.Dia mengenggam tangan suaminya.

__ADS_1


"Ini tadi jatuh. A-aku ke peleset dan pipi aku langsung membentur batu di belakang rumah sana, " jawab Zana.Berharap Hanu percaya.Dia tidak ingin menambah masalah lagi. Yang ada Umma Sarah dan Aniya kembali menyerangnya lagi ke rumah.


Hanu menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan ucapan Zana.Dia tidak semudah itu untuk di bohongi. Jelas-jelas ini bekas tamparan.


"Kamu yakin pipi kamu begini karna jatuh atau karna hal lain?Zana kamu tahu,kan saya tidak suka di bohongi apalagi menyembunyikan sesuatu dari saya, " ujar Hanu tegas. Zana menunduk.Dia bisa melihat tatapan tajam Hanu yang mengarah padanya.


Zana mengerjapkan matanya, memilin ujung bajunya. Mendongak menatap Hanu.


"Tadi umma dengan mbak Aniya ke sini, mencari Mas Hanu. Terus aku katakan ke mereka kalau Mas tidak ada di sini. Tapi mereka tidak percaya dan aku di tampar umma . Memang salah aku, karna membentak mereka karna terpancing emosi, " jawab Zana yang menunduk takut Hanu marah.


"Maaf.... "


Zana langsung menatap Hanu .Dia kaget mendengar ucapan maaf dari bibir suaminya.


"Ini karna saya tidak bisa bertindak tegas dengan Aniya mau pun pada umma.Lain kali bila mereka datang ke sini dan menyakiti kamu...tolong jangan sembunyikan ini dari saya apalagi sampai berbohong. Saya tidak mau kamu di sakiti seperti ini terus, " Hanu memeluk Zana yang membalas pelukannya dan mencium kening istrinya lembut.


Hanu menguraikan pelukannya dan kembali menyentuh pipi kanan Zana pelan.


"Sudah tidak sakit lagi. Kan sudah di cium Mas, " jawab Zana tertawa. Hanu mencubit hidung sang istri gemas.


"Sudah pintar menggombal kamu ya, " ujar Hanu yang ikut tertawa. Pria itu merasa bahagia saat berada di dekat Zana, beda saat bersama Aniya.


"Kamu sudah makan, hmm? " tanya Hanu.


Zana menggelengkan kepalanya. "Belum, tadi sore makan bakso yang Mas belikan. Tapi kalau aku boleh tahu, Mas tadi ke mana dengan mbak Aniya? " tanya Zana yang sedikit penasaran.


Hanu merengkuh pinggang ramping Zana, agar makin merapat padanya. "Kenapa menanyakan hal itu? Kamu cemburu? "goda Hanu.


Zana mengerucutkan bibirnya, " Bukan cemburu iih.Kalau tidak ingin menjawab juga tidak pa-pa, "ujar Zana, yang langsung memalingkan wajahnya.

__ADS_1


" Tadi saya dengan Aniya pergi makan di luar. Sudah lama kami tidak makan berduaan di luar. Dan alasan saya ke sini ingin mengajak kamu makan malam di luar. Rasanya tidak adil bila Aniya saya ajak makan di luar.Sedangkan kamu tidak, "ujar Hanu tersenyum hangat pada Zana dengan tatapan yang begitu teduh pada sang istri.


*******


"Mau tambah lagi? " tawar Hanu pada Zana yang masih mengunyah sate di mulutnya.


"Wudah, shegini shudah chukup, " jawab Zana dengan mulut yang penuh.


Hanu mengusap kepala istrinya lembut yang tertutup hijab pasmina berwarna hitam, yang cukup kontras dengan kulit putihnya.Dia mengusap sudut bibir Zana yang blepotan dengan jarinya dan menjilat jari tersebut. Zana yang melihat itu mengerjabkan matanya.


"Mas tidak jijik? " tanya Zana. Hanu tertawa pelan.


"Kenapa harus jijik. Ini punya istri saya. Bahkan sisa makanan kamu saya mau memakannya, " jawab Hanu. Zana memalingkan wajahnya dengan pipi yang bersemu . Hanu tertawa melihat pipi sang istri yang memerah dan itu karna dirinya. Tapi jujur dia sangat suka melihat istrinya yang tersipu malu.


"Eh, eh. Itu bukannya Hanu dengan istri muda nya? " tanya Milah pada teman sebelahnya yang bernama Tati ,yang juga makan sate di tempat ini.


"Iya, itu memang Hanu. Tidak menyangka ya kalau Hanu menikah lagi. Mana istri muda nya cantik. Kasihan mbak Aniya, " jawab Tati menatap tidak suka pada Zana.


"Pasti mbak Aniya perlahan di singkirkan sama tuh perempuan tukang rebut suami orang, " celetuk Milah.


"Memangnya Hanu menikah dengan perempuan itu karna saling cinta atau perempuan itu yang menggoda Hanu dan minta di nikahi? " tanya Tati pada Milah.


"Denger-denger dari umma Sarah,perempuan itu yang ke gatelan dengan Hanu. Memang ya zaman sekarang perempuan yang muda suka sekali merebut suami orang, apalagi kalau pria itu berduit , " celetuk Milah pedas. Tati menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan temannya. Mereka berdua terus memperhatikan interaksi Hanu dan Zana.


"Mas, memangnya tidak pa-pa kita makan di luar. Nanti kalau mbak Aniya marah atau cemburu gimana? " tanya Zana yang tampak gelisah.


"Kamu kenapa takut seperti itu, hmm? Memangnya Aniya punya hak apa untuk melarang saya menemui kamu dan mengajak kamu jalan-jalan. Bukan berarti karna jatah aniya,saya tidak boleh menemui kamu, " tutur Hanu, tersenyum. Zana menghela napas pelan dan menganggukkan kepalanya.


"Setelah saya mengantarkan kamu sampai ke rumah, saya langsung pulang. Jadi kamu jaga diri baik-baik.Bila terjadi apa-apa segera telpon saya ya." ujar Hanu yang di angguki Zana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2