KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Wanita iblis


__ADS_3

...~Happy reading~...


Ayu berjalan mendekati umma Sarah yang terlihat gugup dengan raut ketakutan yang terbingkai jelas di wajahnya.


"Pergi kau dari sini! Aku tidak mengizinkan kamu masuk ke kamar!" sarkas umma Sarah menatap tajam.


Ayu menggelengkan kepalanya."Jawab dulu pertanyaan aku. Apa ini ada hubungannya dengan Adira, anak ku.Iya?"tanya Ayu dengan suara yang bergetar.


Umma Sarah menundukkan kepalanya. Dan kembali menatap Ayu yang memberikan tatapanΒ  mengintimidasi pada dirinya.


"A-aku tidak menyembunyikan apapun.Kamu salah dengar,"elak umma Sarah.


Ayu tersenyum mendengar ucapan umma Sarah. Dia tidak percaya dengan ucapan orang yang sangat membenci dirinya di masa lalu.


" Sarah. Jangan berusaha untuk menyembunyikan kebohongan yang pastinya akan terbongkar. Anak bungsu ku hilang tanpa jejak sama sekali. Polisi mengatakan dia di culik bahkan menduga di bunuh. Kamu tahu? Aku hampir gila dan depresi karna putri kesayangan ku hilang. Seolah separuh nyawa ku hilang sebagian, karna Adira ku hilang. "


Ayu menyeka kristal bening dari sudut matanya, berbalut rasa sesak di dadanya yang begitu sakit mengingat putri bungsunya yang hilang.


Umma Sarah mencengkram kuat foto Aniya yang ada di pelukannya.Bahkan, sekarang ia merasakan apa yang Ayu rasakan, kehilangan orang paling ia sayangi.


"Aku merasa tidak memiliki musuh sama sekali. Dan orang yang membenci aku hanya kamu, Sarah. Hanya kamu yang membenci aku! Jadi... tidak salah aku mencurigai kamu.Kalau kamu ada sangkut pautnya atas hilangnya Adira. Aku mohon jujur, Sarah hiks...kalau anak aku hilang karna kamu... " lirih Ayu yang terselip rasa amarah di dalamnya.


Badan wanita tersebut bergetar hebat di sertai isak tangis. Ayu meluruhkan tubuhnya ke lantai. Mengingat Adira menjadi duka yang begitu lara bagi Ayu.


Umma Sarah makin menundukkan kepalanya. Rasa bersalah menyelimuti hatinya saat ini. Apalagi, sekarang ia merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang di sayang.


"A-aku yang membunuh, A-adira." ucapnya dengan bibir getar dan suara yang pelan. Namun, Ayu masih bisa mendengar itu.


"Ja-jadi memang kamu yang membunuh, Adira?!"

__ADS_1


Ayu langsung bangkit dari lantai dan menyerang umma Sarah.


Plak


"Iblis kau Sarah! Dasar tidak punya hati! Kau membenci ku kenapa anak aku yang kau lenyapkan?!"


Ayu menjambak dan memukul umma Sarah membabi buta. Sedangkan umma Sarah seolah pasrah.


Bayu yang mendengar keributan di dalam kamar langsung masuk ke dalam.


Betapa terkejutnya Bayu. Ayu mengamuk dan menyerang Sarah yang terlihat pasrah dengan memeluk foto Aniya.


"Istighfar, Ayu. Hentikan." Bayu menarik Ayu, menjauh dari umma Sarah yang sudah terlepas hijab, penutup kepalanya.


Abah Husein masuk ke dalam kamar. Pria paruh baya tersebut tampak terkejut melihat pemandangan di depan matanya. Abah segera memeluk umma Sarah yang menatap kosong .Abah segera menutup kepala istrinya dengan selimut yang ada di kasur.


"Lepas, Mas! Aku ingin membunuh wanita iblis yang sudah membunuh anak kita, Adira!" Ayu memberontak, berusaha lepas dari dekapan sang suami.


" Dia,"Ayu menunjuk umma Sarah, "Dia yang sudah membunuh Adira, anak kita Mas. Dia pelakunya hiks...Adira meninggalkan kita karna wanita iblis yang tidak punya hati itu!" ujarnya berteriak.


Badan Bayu langsung menegang, seperti di tembak petir di siang bolong. Ucapan yang di lontarkan Ayu sukses membuat Bayu mematung sesaat. Sama halnya abah Husein yang tidak bisa menyembunyikan terkejutnya.


Umma Sarah makin menundukkan kepalanya.Dadanya seperti di hantam batu besar. Kehancuran dirinya sebentar lagi terjadi. Karma atas kejahatan yang telah dia lakukan sudah ada di depan mata dan siap menghncurkan dirinya berkeping-keping.


Baru saja berduka atas kehilangan Aniya. Kini, datang lagi masalah yang lebih berat dan rumit lagi.


"Apa kau penyebab Adira hilangnya, Adira?" tanya Bayu dengan mata yang memerah.


"Maaf... " lirih umma Sarah dengan suara yang tersekat di tenggorokan.

__ADS_1


Bayu berjalan cepat ke arah umma Sarah yang sudah ketakutan dan memegangi lengan abah Husein, mencari pelindungan.


"Aku fikir kamu sudah berubah, Sarah. Aku fikir kamu sudah menyesali perbuatan kamu yang sudah membunuh calon anak ku yang di kandung, Ayu...dan ternyata kau telah memisahkan kami dari Adira. Kenapa kau harus melakukan itu, Sarah?Apa karna dendam yang ada di dalam hati mu, hingga anak kecil seperti Adira kau jadikan tumbal untuk melampiaskan dendam mu, kepada ku... "


Bayu sudah tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi. Badannya melemas. Membayangkan, bagaimana Adira di renggut nyawanya oleh Sarah, sungguh membuat dadanya begitu sakit dan kepalanya yang terasa pening.


Abah terdiam. Tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun apalagi untuk membela umma Sarah yang jelas-jelas salah.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Zana menatap keluar jendela mobil. Hanu fokus menyetir mobilnya sesekali melirik ke arah Zana.


"Sayang, kamu kenapa, hmm?" tanya Hanu yang melihat Zana sekilas dan kembali fokus ke depan.


"Tidak kenapa-napa, Mas. Hanya saja, aku kasihan dengan umma Sarah. Pasti dia masih terpukul dan belum bisa menerima atas kepergian, mbak Aniya." ujar Zana menatap Hanu.


"Semuanya sudah takdir, sayang.Meninggalnya seorang yang di cintai adalah sebuah ujian dan tidak mungkin Allah memberikan kepada hambanya.Bila dia tidak sanggup untuk menjalani ujian itu semua.Sebuah ujian bisa jadi musibah yang ditimpakan Allah kepada manusia sebagai tadzkirah atau peringatan dari Allah kepada manusia atas dasar sifat Rahman-Nya dan sebagai azab bagi orang-orang fasiqin, munafiqin, ataupun kafirin."tutur Hanu.


" Mas, tahu dimana hal seperti itu?"tanya Zana. Karna Hanu mengucapkannya seolah tahu dengan menjelasan yang begitu rinci di sampaikan suaminya.


"Mas tadi mendengar sebuah ceramah di ponsel, tentang ujian dan menyebab Allah memberikan ujian."


Zana menganggukkan kepalanya. Namun, gadis itu tampak tersentak kala suaminya menggenggam tangannya dan mencium cukup lama punggung tangannya dengan mesra.


"Mas, cinta kamu Zana." ucapnya membuat hati Zana menghangat dan debaran di dadanya.


"Aku juga cinta, Mas." sahut Zana, tersipu malu mengucapkannya. Walaupun sudah lama bersama dan menjalin pernikahan tidak memungkiri bagi Zana yang masih malu mengatakan cinta pada Hanu. Kecuali suaminya yang memulai.


Bersambung...

__ADS_1


Β 


__ADS_2