
"Mas, wajah aku jadi merah seperti ini, " rengek Aniya pada Hanu yang mengolesi salep agar menghilangkan luka bakar yang memerah di wajah sang istri .
"Sabar, sayang. Nanti pasti kulit wajah kamu akan pulih seperti semula.Makanya diam, aku olesi salepnya dulu, " ujar Hanu.
"Pasti Zana sengaja numpahin bubur yang panas itu ke wajah aku, mas. Sekarang wajah aku jadi merah seperti ini, " gerutu Aniya. Hanu, diam. Tidak ada niat menanggapi ucapan Aniya.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Di lain tempat. Zana tengah sibuk menguras selimut di mesin cuci. Ia baru selesai mencuci sarung bantal, guling ,sprei dan menaruh cucian tersebut di ember yang besar agar besok ia tinggal menjemurnya.Setelah tiga kali pengurasan selimut di mesin cuci, kini Zana memindahkan selimut yang cukup berat tersebut karna begitu menyerap air.
"Capek, " keluh Zana. Tangan kanannya memegangi sisi mesin cuci sambil menggerakan kepalanya kanan-kiri karna terasa pegal. Sesekali Zana menguap karna rasa kantuk yang menerma. Matanya juga meredup karna ia benar-benar sudah mengantuk tapi harus menunggu proses pengeringan selimut terlebih dahulu.
"Zana, " panggil Hanu yang sudah berada di samping gadis tersebut yang langsung membuang mukanya setelah sebelumnya ia menatap suaminya dengan rasa sesak mengingat bagaimana Hanu membentak dirinya.
Hanu menghela napas berat. Ia menundukan kepalanya sebentar dan kembali menatap Zana yang mengeluarkan selimut dari mesin cuci pengering.
"Saya minta maaf karna sangat keterlaluan terhadap kamu, Zana. Tapi saya tidak membenarkan kamu melakukan itu terhadap Aniya. Apalagi sampai melukainya. " Pungkas Hanu. Zana yang mendengar kalimat terakhir sang suami langsung menghentikan gerakan tangannya yang memegangi selimut yang lembab itu.
Gadis itu menatap pria yang membalas tatapan matanya dengan pandangan yang begitu lembut tapi bagi Zana pandangan mata Hanu begitu menyakitkan baginya dan itu akan membuat hatinya perlahanย melemah dan memaafkan kesalahan Hanu yang telah menunduhnya.
"Aku tidak ada niat sedikit pun melukai, mbak Aniya. Kaki ku tersandung kursi dan tidak sengaja mangkok bubur yang aku pegang jatuh tepat di wajah mbak Aniya. Tapi percuma aku mengatakan hal ini karna aku akan tetap salah di mata kamu,"ujar Zana, tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.
__ADS_1
Hanu tiba-tiba mendadak terasa perih mendengar lontaran Zana. Ia langsung di sergap rasa bingung antara harus percaya dengan Aniya atau Zana.
"Maaf bila saya melukai hati kamu karna ucapan saya. " Hanu memeluk erat tubuh Zana dari samping. Sedangkan yang di peluk diam membeku. Hatinya begitu menghangat, entah sejak kapan ia merasakan perasaan yang aneh pada Hanu. Perasaan yang membuat ia merasa nyaman, tenang dan aman saat bersama dengan pria yang sudah berstatus suaminya itu.
"Sekarang kamu istirahat, pasti capek." Ujar Hanu menguraikan pelukannya.
"Jangan di ulangi lagi kesalahan yang tadi, Zana. Saya tidak suka kamu menyakiti Aniya, karna rasa cemburu kamu. Mungkin ini karna saya kurang membagi waktu lebih banyak pada kamu," Hanu memegangi kedua bahu Zana, agar gadis itu menghadap dirinya.
Nada suara Hanu memang terdengar lembut, tapi tetap menimbulkan rasa perih di hati Zana. Dia selalu di pojokan atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Bukankah di sebuah hubungan pernikahan bukan hanya tentang cinta, kesetiaan dan komitmen, tapi juga saling percaya antar pasangan. Tapi sebaliknya Hanu meragukan ucapannya yang memang benar adanya. Lalu bagaimana konflik dan pertengkaran tidak bisa terelakan bila sang suami tidak mempercayai istrinya.
"Terserah kamu, mas.Tapi aku tegaskan, aku tidak salah! " Ujar Zana tegas. Ia langsung menghempaskan ke dua tangan Hanu yang memegangi kedua bahunya dan berlalu pergi dengan hati yang begitu sakit dan sesak.
Zana melangkahkan kakinya meninggalkan Hanu yang menatap kepergian gadis itu dengan tubuh yang mematung. Diam-diam rasa bersalah mulai merayap di benak Hanu pada Zana. Ia sudah melukai hati istrinya.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
"Bagus, Hanu. Umma mendukung keputusan kamu. Dari pada Zana nantinya akan berbuat yang lebih nekat lagi pada Aniya. Memang benar kata orang istri kedua selalu berusaha merebut apa yang di miliki istri pertama, termasuk cinta dan kasih sayang suaminya," sembur Umma Sarah blak-blakan.
"Umma," tegur Abah menyikut lengan sang istri.
Zana yang mendengar ucapan Umma tersenyum hambar. Ia menatap kearah Hanu yang diam tidak membela dirinya.
__ADS_1
"Aku izin kebelakang dulu, " ucap Zana yang sudah tidak tahan pada Umma Sarah yang dari tadi memojokan dirinya.
"Zana!" panggil Hanu yang langsung mengejar Zana yang setengah berlari.
*****
Zana menghentikan langkahnya.Gadis itu menutup mulutnya merendam suara tangisannya. Air mata tidak terbendung lagi.
"Zan_" Ucapan Hanu langsung terjeda, mendengar tangisan dan tubuh bergetar istri keduanya yang membelakangi dirinya.
"Sayang, " Hanu langsung memberikan pelukan hangat pada Zana yang tersentak kaget.
"Pasti karna ucapan Umma ya? " Tanya Hanu mengeratkan pelukan dari belakang pada Zana yang tidak bisa mengontrol tangisannya lagi.
"Sabar ya. Hari ini kita pindah rumah, supaya kamu lebih bebas melakukan apapun yang ingin kamu lakukan di rumah yang baru nanti. Supaya Umma juga tidak ikut campur dengan urusan rumah tangga kita, sayang."
Zana membalikan badannya dan kembali memeluk Hanu.
"Aku capek, " ucap Zana dengan lirih mengadukan apa yang ia rasakan pada Hanu. Bukan hanya lelah di fisiknya tapi batinnya juga. Sudah satu bulan pernikahan ia dengan Hanu dan selama itu ia harus mendengar ucapan pedas Umma Sarah yang menganggap dirinya selalu salah . Apakah sejelek dan seburuk itu menjadi istri kedua?
"Iya, sayang. Nanti kita ke kota ya. Sekalian membelikan kamu baju dan juga membeli alat dan barang yang di butuhkan untuk mengisi rumah baru yang akan kita tempati," ujar Hanu. Zana mengangguk kepalanya dalam pelukan sang suami.
__ADS_1
Sebenarnya yang membuat pria itu lambat dalam membeli rumah karna mencari yang sesuai untuk tempati. Ia tidak mau membeli rumah yang jauh dari rumah Aniya.Hanu ingin rumah Zana dan Aniya berdekatan agar bila salah satu istrinya ada apa -apa ia tidak terlalu jauh pulang ke rumah salah satu istrinya.
Bersambung...