KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Rasa


__ADS_3

"Hanu, istri kedua kamu mana? Suruh keluar kamar dari tadi Aniya terus yang mengerjakan kerjaan rumah, " ujar Umma sedikit ketus.


"Iya,Umma, " sahut Hanu yang meletakan kopi yang baru ia seduh. Pria itu bangkit dari kursi beranjak meninggalkan Umma Sarah di meja makan. Aniya yang baru datang dari dapur menatap kepergian Hanu, seraya meletakan mangkok yang berisi soup ayam.


"Umma, mas Hanu mau kemana? " Tanya Aniya menatap Umma Sarah.


"Umma suruh Hanu memanggil istri keduanya. Enak sekali gadis itu cuma santai-santai , tanpa mau membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Mentang-mentang Hanu seperti memanjakannya. Kamu harus tegas dengan gadis itu__Bila tidak ,dia akan bertingkah semaunya, " ujar Umma Sarah tegas.


"Iya, Umma. Aku akan tegas dengan Zana, " ujar Aniya. Namun terbesit di pikirannya untuk memberikan pekerjaan berat untuk Zana. Mungkin saja'kan gadis itu kembali kabur lagi dari rumah karna tidak tahan dengan pekerjaan yang akan membuat Zana tersiksa.


"Wah, sedangkan membicarakan apa ini? " Abah berjalan mendekati istri dan putrinya. Pria paruh baya itu mendudukan dirinya di kursi.


"Itu, Umma lagi membicarakan istri kedua Hanu. Dia itu tidak tahu malu, Abah. Keluar kamar hanya untuk makan saja setelah itu masuk kamar lagi , seharusnya Hanu bisa bertindak tegas, menyuruh si gadis itu untuk membersihkan rumah bukan hanya Aniya yang terus mengerjakan semuanya, " cerocos Umma Sarah.


Abah menggelengkan kepala seraya tersenyum, "Bisa saja istri Hanu malu untuk keluar kamar dan belum terbiasa dengan kita semua. Namanya juga baru menjadi menantu,ada rasa segan untuk melakukan pekerjaan rumah dan belum paham apa yang harus dia lakukan. Umma juga saat awal-awal menjadi istri Abah sering berada di kamar," Timpal Abah .


Umma Sarah terdiam tidak bisa bergeming lagi . Tapi ia tidak suka di sama-samakan dengan istri kedua Hanu.


"Iya.Memang Umma selalu berada di kamar saat awal-awal menjadi seorang menantu. Tapi bedanya istri kedua Hanu itu bertingkah semaunya. Dan abah harus ingat dia itu perusak hubungan rumah tangga anak kita, Aniya, " ujar Umma tak mau kalah.


"Umma, seharusnya tidak boleh mengatakan hal buruk pada dia. Apalagi menuduh dia bertingkah semaunya tanpa ada bukti yang berdasar.Abah tahu Umma kecewa dan marah karna Hanu mempoligami Aniya, tapi coba Umma pikirkan Hanu tidak mungkin berpoligami bila Aniya mengizinkan. Umma juga harus ingat Aniya tidak bisa memberikan keturunan dan cucu untuk kita. Jadi wajar seorang pria menikah lagi karna menikah bukan hanya tentang cinta tapi juga ingin mendapatkan seorang anak.Asal Hanu bisa bersikap adil dengan kedua istrinya, Abah tidak melarang.Meski berpoligami adalah sesuatu yang sangat sulit apalagi bagi seorang wanita, " tutur Abah.

__ADS_1


Aniya terdiam , tangannya meremas kuat baju gamisnya. Ucapan Abahnya benar. Ia pikir saat menyuruh Hanu menikah lagi ia akan bersikap biasa saja karna yakin suaminya bisa bersikap adil , tapi____Rasanya sangat menyakitkan sekali. Seadil-adilnya Hanu pada dirinya dan Zana, tapi itu tetap menyakiti dirinya karna belum bisa merelakan Hanu berbagi cinta dan kasih sayang dengan Zana.Ia begitu mudah melontarkan ucapan,agar Hanu menikah lagi, tapi saat suaminya itu sudah terikat pernikahan dengan Zana, ia malah ingin menghancurkan pernikahan Hanu karna ia sadar bila ia tidak suka berbagi.


🍁🍁🍁🍁🍁


Zana terus memajukan pelnya di lantai keramik. Ia melirik Umma Sarah yang terus mengawasi dirinya sambil duduk di sofa.


"Itu, di bagian sana belum kamu pel, Zana. Yang benar pelnya, " tegur Umma Sarah menunjuk lantai keramik di bawah meja. Gadis itu mengepel tempat yang di tunjuk Umma Sarah, walau hatinya begitu dongkol karna di perlakukan seolah ia adalah pembantu.


Zana mengusap peluh yang membasahi keningnya. Kali ini ia memilih mengikuti ucapan Umma Sarah dari pada nantinya menciptakan keributan. Hanu yang baru pulang dari peternakan sapi berjalan mendekati sang istri yang sudah dua jam sibuk dengan pekerjaan rumah.


"Zana kamu sudah makan? " Tanya Hanu mendekati Zana dan melirik Umma yang menatap jengah pada dirinya.


Hanu menatap kearah Umma Sarah."Tapi bahaya juga bila sudah jam sepuluh pagi tapi Zana belum sarapan pagi. Lagi pula ada bibi Ani yang mengurus pekerjaan rumah. Takutnya Zana mempunyai penyakit maag, "ujar Hanu seraya merebut pel yang ada di genggaman Zana yang dari tadi mengamati obrolannya dan Umma Sarah.


" Sekarang kamu mandi dulu. Badan kamu bau keringat,"celetuk Hanu seraya mencium kening Zana yang menbelalakan matanya. Kaget mendapatkan kecupan di keningnya tiba-tiba. Umma Sarah melotot melihat tingkah Hanu yang tidak tahu tempat , melakukan hal seperti itu pada Zana.


Zana langsung beranjak pergi meninggalkan Hanu dengan menunduk. Ia seolah tidak berani menatap mata pria itu. Entah mengapa detak jantungnya begitu berdegup kencang. Tubuhnya juga tiba-tiba langsung menegang seperti tersengat listrik saat benda kenyal dan lembab itu menempel keningnya.


Umma Sarah mendengus menatap kepergian Zana dan itu tidak luput dari perhatian Hanu.


*****

__ADS_1


Zana masuk ke dalam kamar. Ia langsung menutup pintu kamar dan menyandarkan punggungnya di belakang pintu dengan napas yang turun naik. Tangan gadis itu memegangi dadanya, dan beralih meraba keningnya tepat Hanu mencium keningnya.


"Kenapa aku jadi gugup seperti ini? Dan kenapa jantung ku tiba-tiba berdegup kencang seperti ini, " gumam Zana.


Gadis itu belum pernah merasakan apa itu jatuh cinta. Ia terlalu awam untuk mengerti perihal tentang percintaan. Satu hal yang Zana tahu bila ia menyukai seseorang ia tidak bisa jauh dari orang tersebut dan ingin selalu bersama orang tersebut, dan itulah yang menurut Zana yang namanya mencintai.


Sejatinya cinta adalah anugerah yang terindah dari Tuhan yang merupakan fitrah bagi manusia. Ketertarikan antar lawan jenis dengan adanya rasa kasih sayang yang akhirnya tumbuh benih-benih cinta menjadi sesuatu hal yang wajar bagi setiap orang sedang jatuh cinta. Tapi terkadang kita salah menaruh perasaan cinta itu pada seseorang yang tidak tepat untuk kita. Yang akhirnya menimbulkan luka di hati, kecewa dan sesak di dada mengingat hal menyakitkan itu. Kita memang tidak tahu kapan dan pada siapa akan jatuh cinta. Tapi perlu di ingat bila kita bisa berdoa dan memohon pada sang Maha cinta agar menaruh perasaan cinta ini pada orang yang tepat dan juga mencintai kita.


Zana berjalan ke lemari pakaian. Ia mengambil pakaian yang akan di bawa ke kamar mandi. Setelah menikah dengan Hanu ia selalu memilih memakai pakaiannya di kamar mandi. Walau Hanu sudah sah menjadi suaminya dan halal bagi pria itu melihat setiap lekuk tubuhnya. Tapi ia masih belum siap , apalagi menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hanu dan Abah duduk di kursi depan teras rumah. Dua pria beda umur itu duduk sambil menikmati secangkir kopi dan ubi goreng yang di masak Aniya. Untuk masalah bersih-sih rumah di serahkan pada bibi Ani yang setiap sore akan pulang bila pekerjaannya sudah selesai. Sedangkan Aniya memilih bertugas di dapur karna istri pertama Hanu sangat pandai memasak.


"Abah menyarankan agar Zana tinggal di rumah yang berlainan dengan Aniya. Kamu tahu sendirikan Hanu tabiat seorang wanita yang tidak bisa menahan rasa cemburunya walau sebentar saja. Mereka bisa memendam rasa sakit hati dan cinta dalam diam tapi tidak bisa menahan cemburunya.Seadil-adilnya kamu dengan kedua istri kamu pasti akan menciptakan konflik karna kecemburuan di antara keduanya. Apalagi saat kamu bermesraan dengan Zana dan itu akan membuat Aniya terbakar cemburu. Jadi Abah ingin kamu membelikan rumah untuk Zana___Jadi tidak ada yang saling cemburu saat kamu tengah berduaan dengan salah satu istri kamu, " pungkas Abah panjang lebar.


Hanu tersenyum, menganggukan kepalanya. "InsyaAllah, Abah. Aku akan secepatnya membelikan rumah untuk Zana. Apalagi akhir-akhir ini Aniya sering marah tanpa sebab karna cemburu dan kesal saat aku memberikan perhatian pada Zana, " ujar Hanu terkekeh.


"Itu uniknya seorang perempuan. Mereka tidak mau mengatakan apa yang membuat mereka kesal ataupun marah. Tapi memberikan isyarat dan kode dengan gerak-gerik tubuh mereka dan ucapan yang terkadang mengarah sesuatu hal yang ingin di ucapan, " timpal Abah yang di angguki di sertai tawa ringan di antara menantu dan mertua itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2