
**Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komen, vote dan memberikan hadiah.
...-Happy reading**-...
Napas mereka berdua memburu dengan peluh yang membasahi badan keduanya. Selimut yang membalut tubuh polos mereka berdua. Zana menenggelamkan wajahnya di dada telanjang Hanu, tangan mungilnya melingkar di pinggang suaminya.
Hanu memgusap kepala Zana lembut yang sudah basah oleh keringat dan itu karna pergulatan mereka dua jam yang lalu. Ia mencium kening istrinya dengan sayang.
"Saya mencintai kamu, Zana, " ujar Hanu dengan suara yang serak.Zana menatap suaminya,tersenyum.
"Aku lebih mencintai kamu, Mas, " sahut Zana.Hanu tersenyum mendengarnya.
Tangan besar pria itu mengusap perut rata Zana yang menatap sendu Hanu.
"Semoga kamu cepat hadir ya, Nak, " gumam Hanu seraya mengusap lembut perut gadis tersebut, penuh harap.
Tangan Zana terulur menyentuh pipi Hanu, membuat pria itu menatap dirinya.Mata kedua saling bersitatap dengan pandangan yang terkunci.
"InsyaAllah, kalau sudah waktunya aku pasti akan mengandung anak kamu, Mas, " ujar Zana yang tidak melunturkan senyuman manisnya.Hanu tersenyum lebar.Mengecup bibir Zana sekilas. Kembali memeluk tubuh mungil gadis tersebut.
🍁🍁🍁🍁🍁
Tok...... Tok....
Suara ketukan pintu, membuat Hanu yang tengah duduk di sofa, di temani secangkir kopi panas. Bangkit dari tempat duduknya. Ia memutar tuas pintu tersebut.
"Aniya, "
Aniya tersenyum. Ia meraih tangan Hanu, mengecup punggung tangan suaminya. Wanita itu menenteng rantang makanan berwarna pink.
"Kamu kenapa ke sini pagi-pagi? " tanya Hanu. Aniya mengerucutkan bibirnya.
"Memangnya aku tidak boleh menemui suami ku, " ujar Aniya dengan wajah cemberut. Hanu terkekeh, ia menarik Aniya dalam pelukannya, mengecup kening istrinya tersebut.
"Aku bukannya melarang. Tapi tumben kamu ke sini, " ujar Hanu membawa Aniya masuk ke dalam rumah. Aniya mendudukkan dirinya di sofa, di ikuti oleh Hanu.
"Aku sengaja ke sini. Tadi Umma masak daging rendang, aku jadi ingat dengan Mas yang sangat menyukai rendang, " ujarnya,sambil membuka rantang tersebut.
__ADS_1
Aniya menyuapi Hanu yang tidak bisa menolak, karna pria itu juga memang sangat suka rendang. Apalagi umma yang memasaknya , membuat Hanu teringat dengan almarhum bunda nya yang sering memasak rendang untuknya waktu beliau masih hidup.
"Enak, Mas? " tanya Aniya tersenyum. Hanu mengangguk kepalanya. Aniya mengusap sudut bibir Hanu yang tampak blepotan.
"Kamu selalu tahu apa yang aku suka, " ujar Hanu mengusap pipi Aniya yang tampak tersipu malu dengan semburat pipi yang memerah.
"Mas bisa saja. Kita sudah lama berumah tangga, pasti aku tahu semua tentang kamu, Mas, " ujarnya di sertai tawa renyah.
"Mas, makanannya sudah siap..." ucapan Zana terjeda melihat Hanu tengah di suapi Aniya. Ada rasa sesak melihat pemandangan di depannya. Ia menundukkan kepalanya meredam apa yang ia rasakan di dalam hati.
"Zana! " panggil Hanu sedikit keras, membuat Zana tersentak kaget.
"Ada apa, Mas? " tanya Zana berjalan mendekati Hanu, seraya melirik pada Aniya yang menatap ke arahnya.
"Seharusnya saya yang tanya. Kamu kenapa melamun? Dari tadi di panggil-panggil kamu tidak mendengar. Kamu kenapa,hmm?" tanya Hanu. Zana langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak Mas. Aku ke sini hanya mau bilang ,kalau makanan sudah siap di meja makan. Tapi....Sepertinya Mbak Aniya sudah membawakan makanan untuk ,Mas. Kalau begitu aku ke dapur dulu, " ujarnya menahan perih di hatinya.Bohong bila ia tidak cemburu. Kenapa harus sesakit ini? Sedangkan ia sadar mbak Aniya juga berhak atas mas Hanu.
"Zana," panggil Hanu yang bangkit dari tempat duduknya, membuat Aniya mendengus.
Sebenarnya Hanu sudah kenyang tapi berusaha menjaga perasaann Zana agar tidak bersedih.
"Ayo kita makan, sayang. Aniya mari makan bersama, " ajak Hanu.Aniya bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekati suaminya.
"Ayo, Mas. Aku tidak sabar mencoba masakan Zana, " ujar Aniya menarik lengan Hanu menuju ke dapur lebih dulu. Zana bergeming di tempatnya sesaat ,kemudian ia menyusul keduanya ke dapur.
*******
"Mas lauknya mau apa? " tanya Zana yang bersiap akan mengambilkan.
"Terserah saja, " ujar Hanu. Aniya memutar bola matanya jengah.
"Ini, Mas, " Zana memberikan piring yang sudah penuh dengan nasi dan lauk.Hanu menyendokkan makanan tersebut dan bersiap menyuapkan ke mulutnya tapi di tahan oleh Aniya.
"Mas, bukannya kamu tidak bisa makan udang, " ujar Aniya, melirik Zana yang tampak terkejut.
"Aniya," tegur Hanu yang melirik Zana agar Aniya bisa menjaga ucapannya. Ia tidak ingin menyakiti hati istri keduanya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengingatkan kamu,Mas. Kamu itu alergi udang, yang ada badan kamu gatal-gatal, " ujar Aniya.
"Maaf..." lirih Zana dengan raut wajah bersalah dan terlihat sedih.
"Kalau begitu. Aku masakan makanan yang lain, " ujar Zana, hendak beranjak tapi pergelangan tangan'nya di cekal Hanu.
"Jangan.Saya masih bisa makan ikan goreng ini. Jangan sedih seperti itu.Ayo duduk dulu kita lanjutkan makannya, " ujar Hanu tersenyum lembut pada Zana.
Zana kembali duduk di sebelah Hanu. Walau rasa bersalah dan tidak enak pada Hanu masih menyelimuti hatinya.
"Lain kali bila kamu ingin memasak sesuatu, tanya dulu sama Mas Hanu. Masa sebagai istri kamu tidak tahu apa yang tidak bisa di makan, Mas Hanu, " sembur Aniya.Membuat Zana makin di lingkupi rasa bersalah.
"Sudah, Aniya.Sekarang,lanjutkan makannya tanpa harus banyak bicara, " ujar Hanu tak suka dengan ucapan istri pertamanya.Aniya mendelikkan matanya, menyuapkan makanan dengan kasar ke dalam mulutnya.
******
Aniya mendekati Zana yang tengah sibuk melap meja makan setelah mereka selesai dengan sarapan pagi tadi.
"Ini, pil untuk kamu."
Aniya menyodorkan botol kecil berisi pil pada Zana yang langsung menatap ke arahnya.
Zana mengambil botol itu dengan wajah yang tampak bingung. "Ini pil apa? " tanya Zana memperhatikan botol kecil bening tersebut.
Aniya tersenyum. "Ini pil menyubur kandungan. Supaya kamu cepat hamil."
Zana langsung terdiam mendengarnya.
"Aku ingin kamu secepatnya hamil. Aku ingin menggendong anak Mas Hanu dan merawatnya seperti Ibu yang lainnya, " ujar Aniya tersenyum, membayangkan hal itu.
"Tapi saat anak aku lahir. Aku yang lebih berhak merawatnya, " sahut Zana.
"Kamu lupa, aku istri Mas Hanu juga. Kamu tahu'kan, kamu bisa menikah dengan mas Hanu karna aku yang tidak bisa hamil. Jadi anak kamu, juga anak aku. Kita bukan hanya berbagi suami, tapi juga berbagi anak! "sentaknya menekan kata anak. Aniya langsung pergi meninggalkan Zana yang menatap kepergian wanita tersebut hingga hilang dari pandangan matanya.
"Malang sekali nasib ku. Jadi istri kedua hanya untuk memberikan anak..." ujarnya lirih, tersenyum miris.
Zana mengusap air mata yang lolos dari sudut matanya.
__ADS_1