
Hanu membukakan pintu mobil untuk Zana. Ia mengulurkan tangannya pada Zana yang langsung menyambutnya.
"Mau di gendong? " tawar Hanu membuat kening Zana mengkerut.
"Tidak usah di gendong. Lagi pula cuma jalan masuk ke dalam rumah, " balas Zana sedikit terkekeh. Hanu tersenyum dan menutup pintu mobil tersebut.
"Sekarang cepat masuk rumah. Tidak baik udara malam untuk ibu hamil, " ujar Hanu menggenggam tangan mungil Zana dan menariknya lembut.
Pria itu memutar tuas pintu, membukanya dan mendahulukan Zana untuk masuk ke dalam, baru di susul olehnya.
"Kamu mau makan, sayang? " tanya Hanu yang baru mengunci pintu. Zana yang baru mendudukkan tubuhnya di sofa mendongak menatap suaminya.
"Tidak.Aku sudah kenyang, " jawab Zana sambil mengusap perut buncitnya.
"Mas gendong , aku capek jalan ke kamar, " ujar Zana dengan nada manjanya,merentang kedua tangannya lebar. Hanu hanya menggelengkan kepalanya pelan,sambil terkekeh.
"Katanya tidak mau di gendong, " ledek Hanu dan Zana menekukkan wajahnya.
"Memang, tapi sekarang kaki aku ke rasa pegalnya, terus pinggang aku juga sedikit sakit, Mas, " adu Zana sembari mengalungkan tangannya di leher Hanu yang menggendong dirinya.
Pria tersebut berjalan masuk ke dalam kamar dan meletakkan Zana begitu hati-hati di kasur , seolah-olah istrinya tersebut sebuah benda yang mudah hancur bila tidak hati-hati untuk meletakkan.
"Mas mau mandi dulu. Kamu tidak usah mandi nanti masuk angin tidak baik ibu hamil mandi malam, badan kamu Mas lap pakai kain basah ya, " ujar Hanu.
"Aku mau mandi,bila tidak mandi malah kerasa lengket badan aku, Mas. Kan bisa rebus air , " ujar Zana yang tidak nyaman dengan badannya yang memang sudah berkeringat apalagi seharian berada di luar.
"Ya sudah, Mas rebus dulu air hangatnya. Kamu jangan kemana-mana, " peringat Hanu.
"Iya, aku tidak akan kemana-mana,Mas." jawab Zana. Lagi pula mau kemana dia bila cuma berada di sekitaran dalam rumah ini.
__ADS_1
******
Gadis dengan handuk putih yang melilit di tubuhnya keluar dari kamar mandi . Itu pun Hanu menggendongnya, alasan pria itu menggendong karna takut bila Zana terpeleset apalagi keadaan istrinya yang tengah mengandung. Hanu mendudukkan Zana di sisi kasur. Ia membuka lemari pakaian mencari baju tidur yang nyaman dan dingin bila di pakai istrinya. Karna setahu Hanu ibu hamil sering kegerahan saat malam hari .
"Mau Mas bantu pakaikan bajunya, " tawar Hanu yang di balas gelengan oleh Zana.
"Tidak usah. Mas lebih baik mandi sana"" ujar Zana seraya mengambil pakaiannya dari tangan Hanu.
"Ya sudah. Mas mandi dulu. Kalau ada apa-apa panggil Mas ya, sayang, " ujar Hanu yang mengecup pipi kanan Zana setelah itu masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Zana memakai pakaiannya. Hanu banyak membelikan baju tidur untuknya dengan bahan kain yang dingin bila dipakai. Jujur setelah dia hamil , ia mudah berkeringat dan gampang kepanasan meski sudah di ber-AC. Kata dokter Devi itu hal biasa yang di alami ibu yang tengah mengandung .
Hanu yang baru selesai mandi dan melangkahkan kakinya keluar dari mandi tersenyum melihat ke arah Zana yang tengah duduk bersandar di bahu kasur, sambil mengunyah makanan gadis itu fokus ke layar televisi , menonton.
"Sayang, nanti kalau sudah selesai makan cemilannya, minum terus langsung tidur, " ujar Hanu lembut.
"Boleh, tapi jangan sampai ke malaman tidurnya, tidak baik ibu hamil bergadang, " ujar Hanu yang tengah memasang bajunya. Zana berdecak kesal mendengarnya, sedikit-sedikit suaminya selalu berkata 'tidak baik untuk ibu hamil' walau dia tahu itu bentuk dari perhatian Hanu padanya dan bayi dalam kandungannya.
Hanu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia mengambil remot televisi di dekat Zana dan langsung mematikan televisi tersebut, membuat gadis itu menoleh menatap ke arah suaminya dengan pandangan marah.
"Kenapa dimatikan? Aku belum selesai menontonnya, " protes Zana.
Hanu menggelengkan kepalanya pelan.Mengambil segelas air putih yang sudah dia sediakan. Ia memberikan pada Zana yang menyambutnya dengan bibir mengerucut.
"Ini sudah terlalu malam. Kamu juga sudah selesai makan cemilannya. Sekarang tidur, sayang , " ujar Hanu naik ke atas kasur . Zana meletakkan gelas yang sudah kosong tersebut di meja, dan membuang bungkusan snack tersebut ke bak sampah.
"Sini dekatan sayang biar Mas peluk, " Hanu menarik tangan Zana lembut yang mendekatinya. Ia mendekap tubuh mungil Zana yang selalu membuat perasaannya selalu nyaman dan tenang.
Letihnya seolah sirna begitu saja saat mendekap tubuh mungil Zana,setelah masalah yang harus dia hadapi tadi siang saat proses perceraiannya dengan Aniya dan itu benar-benar menguras pikirannya. Zana seperti obat penawar baginya.
__ADS_1
Hanu tidak henti-hentinya mengecup kening Zana dan semakin mengeratkan pelukannya. Bersyukur, Allah menghadirkan Zana dalam kehidupannya meski dipersatukan saat dirinya sudah memiliki seorang wanita dalam hubungan yang terikat.
🍄🍄🍄🍄🍄
Aniya menatap jendela luar kaca mobil dengan air mata yang sudah mengering di wajahnya. Matanya hanya memperlihatkan kekosongan dalam sorot matanya namun di balikannya ada luka yang sangat dalam.
Aniya ingin berteriak sekencengnya, membayangkan Zana begitu bahagia dengan Hanu menjalani rumah tangga mereka. Dan Zana menjadi wanita satu-satunya dalam kehidupan mantan suaminya itu. Sementara dirinya di sini menderita dan menangis.
"Aniya, jangan terlalu memikirkan Hanu. Jangan menyiksa hati kamu hanya untuk pria seperti Hanu, " nasehat Umma Sarah memeluk Aniya dari samping.
Abah Husein hanya melirik dari kaca mobil. Sebenarnya, hatinya juga terluka dengan keadaan yang menimpa Aniya, putrinya tapi ini sudah takdir yang Allah tetapkan dan ini juga merupakan karma yang harus di tanggung Aniya.
Abah hanya berdoa semoga Aniya bisa berubah menjadi wanita yang lebih baik lagi. Setelah semua yang Aniya lakukan. Bukan hal yang mudah harus melupakan seseorang yang sudah bertahun-tahun hidup bersama dan juga sangat dicintai.
"Umma, apa aku bisa hidup tanpa Mas Hanu? Andai aku tahu hadirnya Zana dalam kehidupku akan merusak pernikahan aku dan Mas Hanu, aku akan menyingkirkannya dan mungkin saat ini hubungan ku dengan Mas Hanu akan tetap baik-baik saja, " lirih Aniya dengan suara yang serak.
"Semuanya sudah terjadi Aniya. Jangan terus berandai-andai bila itu tidak akan mengembalikan semuanya, malah itu akan membuat kamu semakin terluka. Semuanya sudah di takdirkan oleh Allah jadi... Terima semua ketetapan-Nya dan ikhlas, " nasehat Abah Husein yang fokus ke depan.
"Abah mudah mengatakan itu, tapi aku yang harus menjalaninya, ini benar-benar menyiksa aku. Kenapa takdir hidupku begitu berantakan seperti ini, " keluh Aniya begitu putus asa.
Umma Sarah tidak bisa berucap apa-apa lagi hanya bisa memberikan pelukan dan menasehati dengan ucapan yang tidak menyakiti hati putrinya . Umma benar-benar berusaha menjaga perasaan Aniya.
Tak terasa taxi yang di tumpangi ketiganya sudah sampai di pekarangan rumah. Aniya dan Umma Sarah turun dari mobil baru di susul oleh Abah yang sebelumnya membayar ongkos taxi.
Aniya langsung masuk ke dalam kamar. Bukannya duduk atau merebahkan dirinya di kasur. Wanita itu membuka lemari pakaian dan____Semua pakaian Hanu sudah tidak ada lagi.
"Mas, andai kamu tahu sehancur apa aku saat ini. Rasanya aku ingin mati saja, " gumamnya. Namun sebuah ide terbesit di benak Aniya dengan senyuman yang terbit di bibir ranumnya.
Bersambung...
__ADS_1