
"Mas Hanu!" Aniya langsung berlari, dan memeluk suaminya yang baru datang. Ia menangis terisak-isak dalam pelukan Hanu yang mengusap kepala sang istri yang tertutup hijab tersebut.
"Kamu kenapa Aniya? " Tanya Hanu dengan wajah yang khawatir. Aniya melepaskan pelukannya dan menatap Hanu.
"Penyakit jantung Umma kambuh. Aku tidak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi mas, untuk membawa Umma ke rumah sakit. Abah ada urusan dengan temannya dan aku memilih menunggu mas datang, untuk mengantarkan Umma ke rumah sakit, " ujar Aniya.
"Sekarang Umma di mana? " Tanya Hanu. Aniya langsung menarik tangan suaminya dan menggiringnya ke kamar mereka berdua.
Pasangan suami-istri itu masuk ke dalam kamar . Hanu mendekati Umma Sarah yang terbaring di kasur dan juga sudah sadarkan diri namun memegangi dadanya yang masih terasa sakit.
"Umma, kita rumah sakit ya, " bujuk Hanu. Umma Sarah langsung memalingkan wajahnya, menolak ajakan menantunya itu. Hanu menatap kearah Aniya yang membalas tatapan suaminya yang seakan menyuruh dia untuk ikut membujuk Umma Sarah agar mau ke rumah sakit.
"Umma, kita ke rumah sakit ya. Supaya dokter bisa mengetahui keadaan kesehatan Umma. Aku takut Umma kenapa-napa. " Ujar Aniya duduk di sisi kasur.
"Tidak usah Aniya. Umma tidak pa-pa. Lebih baik kamu suruh Hanu bersikap tegas pada istri keduanya yang kurang ajar dan tidak punya adab itu. " Sarkas Umma Sarah tanpa mau menatap kearah Hanu yang memasang wajah heran dan bingung dengan ucapan mertuanya itu.
"Memangnya Zana melakukan apa? " Tanya Hanu, menoleh pada Aniya.
Wanita itu menarik lengan suaminya, agar menjauh dari Umma Sarah untuk menceritakan kejadian yang tadi.
Aniya menggigit bibirnya kelu, "Sebenarnya yang buat Umma kayak gini Zana, mas. Dia mengucapkan hal tidak pantas dan juga mengatakan perkataan yang kasar hingga membuat penyakit jantung Umma kambuh, " jawab Aniya, menundukkan kepalanya sejenak dan kembali menatap wajah Hanu yang terlihat kaget, seakan tidak percaya dengan ucapannya.
"Kamu yakin Aniya?Karna aku tahu betul dengan sikap Zana, dia tidak akan melawan ataupun memberontak bila tidak di mulai duluan. " Ujar Hanu. Walau baru menikah beberapa hari dengan Zana ia sudah mengenal betul bagaimana sikap istri keduanya itu.
Aniya terdiam. Ia menundukkan kepalanya, meneguk ludahnya dengan kasar. Ia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya. Apalagi Hanu sangat benci atau marah bila ia mengadukan permasalahan rumah tangganya dengan kedua orang tua ataupun orang lain.
__ADS_1
Karna sejatinya orang tua atau pun orang lain tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga apalagi merusak perkawinan keduanya yang sudah terjalin dalam suatu ikatan yang di sah'kan oleh hukum dan agama . Tapi terkadang seorang anak selalu mengadukan permasalahan rumah tangganya pada kedua orangtuanya dan seolah bila kedua orang tuanya bisa menyelesaikan permasalahannya . Padahal masalah suami dan istri bisa di selesaikan dengan baik-baik dan berpikir lebih dewasa lagi. Kecuali suami melakukan KDRT.
"A-aku____"
"Kalau begitu, biar aku yang menanyakan hal ini pada Zana-nya langsung . Aku hanya ingin menyakinkan ucapan kamu benar atau tidak, " ujar Hanu menyela ucapan Aniya.
"Jangan, mas! Apa kamu tidak percaya dengan aku?Memang Zana salah, mas. Jadi kamu tidak usah mencari kebenaran ini dari Zana, pasti nantinya dia tidak akan mengaku, " bujuk Aniya, agar Hanu membatalkan niatnya menemui Zana.
"Ooh iya. Hari ini jatah aku sama kamu, mas. Jadi aku mohon kamu jangan temui Zana ya. Karna hari ini waktu kamu full untuk aku, mas, " ujar Aniya tersenyum manis pada Hanu. Sedangkan pria itu terdiam, ia menatap aneh dengan tingkah sang istri yang sedikit mencurigakan.
"Aniya! " Panggil Umma Sarah sedikit meninggikan suaranya.
"Iya, Umma! " Sahut Aniya.
"Mas, aku temui Umma dulu. Aku sudah masakan makanan untuk kamu, sudah aku sajikan di tutup saji, meja makan. " Ujar Aniya.Setelah mengucapkan itu wanita tersebut beranjak pergi meninggalkan Hanu.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Zana, " panggil Hanu lembut. Tangannya terulur mengusap kepala gadis tersebut . Perlahan Zana membuka matanya, ia mendongak menatap Hanu yang tersenyum lembut padanya.
"Ngapain kesini?! Pasti mau menyalahkan aku, karna Umma jatuh pingsan?! " Ucap ketus zana, menatap sinis pada Hanu.
Bukannya menjawab Hanu fokus menatap pipi Zana yang semakin membengkak dan darah yang mengering di sudut bibir gadis tersebut.
"Ini, kenapa pipi kamu makin bengkak Zana? " Tanya Hanu.
__ADS_1
"Jangan pegang-pegang! Lebih baik kamu urus mbak Aniya si tukang ngadu! " Sentak Zana, menyingkirkan tangan Hanu yang memegangi pipinya.
Hanu mengerutkan dahinya mendengar ucapan Zana. "Maksudnya, Aniya ngadu apa? " Tanya Hanu penasaran.
Zana memutar bola matanya malas. Ia mengubah posisinya yang tiduran kini duduk menghadap Hanu.
"Aku terserah kamu mau percaya atau tidak sama aku .Tadi Umma tiba-tiba datang ke kamar ini, marah-marah sama aku dan menuduh aku meracuni otak kamu, agar membentak dan memarahi mbak Aniya. Dan pipi aku bengkak karna tamparan dari Umma.Aku benar-benar capek dengan semua ini, hidup ku selalu di peduhi kesedihan dan penderitaan, " ucap Zana dengan mata yang berkaca-kaca namun tetap berusaha tegar.
Hanu langsung memeluk Zana."Maaf ___Maafkan saya,Zana.Gara-gara menikah dengan saya kamu semakin menderita, tapi saya berjanji akan membahagiakan kamu. Sabar ya sayang. Nanti saya akan menegur Aniya, "ucap Hanu mencium sekilas kepala Zana, dan menancapkan dagunya di atas kepala sang istri. Zana perlahan membalas pelukan Hanu, perlahan air matanya menetes. Ia bukan gadis yang tegar dan kuat , tapi yang ia tahu saat dirinya terlihat lemah maka orang lain akan menginjak-injak dan berusaha menghancurkan mental dan merendahkan dirinya.
" Kita ke dokter ya. Takutnya pipi kamu nanti infeksi, apalagi sampai bengkak seperti ini, "ujar Hanu menyentuh dan mengelus pipi Zana.
" Tidak usah, aku hanya ingin istirahat, "ujar Zana.
" Ya sudah. Sekarang kamu istirahat, saya belikan obat di apotek. Kamu mau nitip sesuatu? "Tanya Hanu.
Zana terdiam sejenak sambil telunjuknya mengetuk-ngetuk pipinya, sedang berpikir.
" Aku mau cilok sama bakso, "jawab Zana dengan senyuman mengembang. Sudah lama ia tidak memakan cilok dan bakso, makanan terfavoritnya itu.
" Iya, nanti saya belikan, "ujar Hanu, mengusap kepala Zana lembut.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hanu menghela napas panjang. Menonton rekaman CCTV yang sengaja ia pasang di kamar tamu, tempat Zana tiduri sekarang. Sebenarnya ia sudah lama memasang CCTV di kamar itu tanpa sepengetahuan Aniya. Karna berjaga-jaga, takut bila ada maling ataupun perampok yang masuk ke dalam sana. Di kamar itu ia banyak menyimpan dokumen-dokumen penting . Hanu menyenderkan tubuh besarnya di sofa, ruang tamu. Setelah selesai menonton rekaman tersebut. Hanu memijit dahinya yang terasa pening .
__ADS_1
" Ya Allah, aku sudah gagal mendidik Aniya, "lirih Hanu pelan dengan mata yang terpejam.
Bersambung...