KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Jatah


__ADS_3

Zana mendongak menatap Hanu yang menghalangi jalannya. Pria itu terus memaksa dirinya untuk mengaku, penyebab ia menangis . Ternyata suaminya ini sangat keras kepala dan___Pemaksa.


"Mas, aku mau lewat, " Zana mendorong dada kokoh Hanu agar menjauh darinya. Pria itu mengukung dirinya dengan kedua tangan hingga ia tidak memiliki celah untuk kabur.


Hanu menyentuh dagu Zana. "Saya tidak akan membiarkan kamu pergi sebelum kamu mengatakan penyebab kamu menangis seperti ini. Jangan di biasakan bohong sama suami. Kalau ada masalah itu jangan di pendam sendiri. Masalah kamu adalah masalah saya juga. Kamu pikir dengan menyembunyikan semua beban yang kamu tanggung itu akan membuat semuanya selesai?Tidak! " ujarnya tegas.


"Seorang suami bukan hanya sebagai pemimpin dan pelindung bagi istrinya tapi juga tempat saling berbagi masalah satu sama lain. Mencari solusi dari masalah tersebut bukan menyimpan sendiri. Seolah saya ini orang asing yang kamu tidak percaya, " ujar Hanu tegas.


Zana mengerucutkan bibirnya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Mengigit bibir bawahnya, bingung harus mulai dari mana untuk menceritakannya. Zana menarik napas dalam-dalam untuk memulainya, Hanu masih setia menatap wajah cantik istrinya dengan jarak yang begitu dekat.


"A-aku belum siap menceritakan. T-tapi setelah Ibu dan Bapak pulang aku akan menceritakan sama Mas, " ujar Zana gugup. Hanu mengangguk-anggukan kepalanya. Ia menjauh dari istrinya yang menatap ke arah lain, menghindari kontak mata dengannya.


"Ya sudah. Kalau begitu kamu buatkan minuman untuk Bapak dan Ibu. Mau saya bantu? " tawar Hanu yang di balas dengan gelengan kuat oleh Zana.


"Tidak usah, Mas. Lebih baik Mas temui Ibu sama Bapak saja, biarkan aku yang mnyiapkan semuanya, " ujar Zana.


Hanu tersenyum dengan anggukkan samar. Sebelum pergi pria itu mencium pipi Zana,membuat pipi sang empu langsung memerah. Gadis itu memegangi ke dua pipinya setelah Hanu sudah pergi. Gugup dan juga jantung yang berdetak begitu kencang, hingga ia memegangi dadanya.


******


Zana datang membawa minuman dan cemilan dengan nampan.Obrolan ketiganya terhenti ketika Zana meletakkan satu persatu minuman di meja. Idah tersenyum tipis menatap putrinya dan beralih melihat pada Hanu yang menatap lekat Zana.


"Duduk di sini dulu, Zana, " ujar Hanu menggenggam sebelah  tangan Zana ketika hendak beranjak.


Gadis itu menurut. Ia duduk di samping Hanu yang masih setia menggenggam tangannya. Zana memilih menundukkan kepalanya dari pada harus menatap kedua orang tuanya yang duduk berhadapan dengan dirinya. Kebencian  itu semakin besar melihat wajah keduanya. Mungkin orang lain akan menggapa ia anak durhaka atau tidak beradab pada keduanya. Tapi rasa kecewa begitu mendalam yang tertanam begitu kuat di hatinya.


Hanu mengusap punggung tangan Zana begitu lembut. Sadar akan ke tidak nyamanan istrinya saat bertemu dengan keduanya. Ada sesuatu dari tatapan Zana pada kedua orang tuanya, dan Hanu tidak dapat mengartikan pandangan Zana itu.


"Ooh... Iya.Aku dengar kamu memiliki peternakan sapi ya? " tanya Baron dan Hanu menganggukkan kepalanya.


"Iya, Pak. Alhamdulillah itu sebagai pencarian nafkah saya untuk kedua istri saya, " jawab Hanu.


"Berarti uang kamu banyak dari hasil penjualan sapi itu? " tanya Baron, Idah langsung mencubit paha suaminya. Menurutnya itu tidak sopan bertanya tentang hal yang di anggap pribadi.

__ADS_1


Zana menatap Bapaknya dengan pandangan tak suka, dengan wajah merengut. Apalagi dengan pertanyaan itu. Ia tahu betul Bapaknya  mata duitan dan suka berjudi.


"Iya, Pak.Cukup untuk memenuhi kebutuhan kedua istri saya, " jawab Hanu sekenanya.


"Bapak sama Ibu ingin menginap di sini? " tanya Hanu.


"Tidak, Hanu. Kami langsung pulang.Ibu sama Bapak ke sini hanya untuk menengok Zana , karna kami sangat merindukannya. Apalagi sudah hampir satu bulan tidak bertemu, " ujar Idah.


******


"Kamu tahu, Aniya? Tadi ada kedua orang tua, Zana kesini, " ujar Umma Sarah di sela-sela sibuk menggoreng ikan. Kegiatan Aniya yang tengah memotong daun bawang terhenti. Ia menoleh menatap Umma Sarah yang ada di sampingnya.


"Untuk apa mereka ke sini? " tanya Aniya kembali melanjutkan kegiatannya.


"Untuk apa lagi, bila tidak menemui si Zana. Bapaknya saja penampilannya seperti preman pantas Zana tidak ada akhlak sama sekali dan tidak punya adab.Lagi pula kenapa Hanu mengambil istri kedua seperti Zana. Kamu juga kenapa tidak menentang Hanu menikah dengan si Zana itu. Coba Umma tahu Hanu akan menikah lagi pasti akan Umma gagalkan, " tutur Umma Sarah.


"Lebih baik mengadopsi anak dari pada Hanu menikah lagi. Karna poligami adalah ibadah yang sangat susah dan letak kesusahannya itu  bersikap adil. Umma kasihan melihat kamu, Aniya. Makan hati terus karna si Zana." lanjutnya .


Aniya memilih diam. Tidak Ada celah baginya untuk menjawab ucapan Umma nya yang memang benar adanya. Ia berharap Zana cepat hamil dan memberikan ia anak. Kalau bisa setelah Zana melahirkan ,Hanu harus menceraikan gadis itu. Karna memang itu rencananya dari awal. Mungkin terdengar sangat jahat tapi mana ada istri yang rela terus berbagi suami dengan wanita lain.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hanu memeluk Zana dari belakang. Gadis itu menghentikan menyisir rambutnya. Ia menatap pantulan Hanu yang ada di cermin dan juga menatap dirinya. Bahunya terasa berat saat suaminya meletakkan dagunya . Tangan Hanu makin erat melingkar di perut ratanya.


"Kamu cantik, sayang, " puji Hanu dengan suara yang serak dan tatapan yang begitu sayu.Zana meneguk ludahnya susah payah mendengar suara Hanu yang tampak berbeda, membuat ia bergidik ngeri.


Hanu membalikkan tubuh Zana agar menghadap dirinya. Ia merengkuh pinggang gadis tersebut dan menariknya hingga tubuh mereka berdua merapat.


"Kamu cantik, " lagi-lagi Hanu mengucapkan itu , membuat pipi Zana makin memanas .


Darahnya berdesir saat bibir tebal itu menyentuh pipinya ,hingga menempel sempurna. Mata Zana membola dengan tubuh yang menegang.


Hanu menjauhkan wajahnya dari Zana. Menangkup pipi chubby istrinya.

__ADS_1


"Kenapa tegang seperti itu? " tanya Hanu terkekeh geli melihat wajah tegang Zana.


"Malu... " Zana memeluk Hanu , menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Kenapa malu, hmm?" goda Hanu. Zana mendongak menatap suaminya dengan mengulum senyumannya.


"Tidak tahu... " jawab Zana di sertai tawa. Hanu tersenyum sekaligus terpesona dengan Zana. Baru kali ini ia melihat istrinya tertawa biasanya hanya tersenyum.


Hanu menempelkan keningnya pada kening Zana yang langsung terdiam.


"Saya boleh minta jatah?"


Ucapan Hanu membuat mata Zana melotot. Ia langsung menjauh dari suaminya.


"Kenapa? " tanya Hanu, heran.


"I-itu....... A-aku takut, nanti sakit lagi, " jawab Zana dengan memilin ujung bajunya, kepala tertunduk.


"Nanti saya pelan-pelan, " ujar Hanu.


"Memang kalau pelan-pelan tidak sakit? " tanya Zana polos.


"InsyaAllah, tidak, " jawab Hanu sekenanya.


Pria itu berjalan mendekati Zana. Dan tanpa aba-aba langsung mencium bibir ranum istrinya. Hanya sebuah ciuman namun perlahan berubah menjadi sebuah ******n yang menuntut dan menginginkan lebih. Satu tangan Hanu memeluk pinggang ramping Zana, dan satu tangannya menahan tengkuk istri kecilnya tersebut .


Pria itu berjalan kearah ranjang tanpa melepaskan tautan bibirnya. Zana mencengkram baju Hanu. Ia sudah hampir kehabisan napas.Hanu melepaskan ciumannya. Zana menghirup udara begitu rakus.


"Mas nakal banget. Bibir aku kebas jadinya, " gerutu Zana.


"Maaf ya. Soalnya saya kecanduan sama bibir mungil kamu ini. Jadi........ Jadi sudah siap ke tahap selanjutnya? "


Zana mengangguk kepalanya ragu-ragu.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2