KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Pernyataan


__ADS_3

Satu persatu pakaiannya yang ada di dalam lemari ,Zana masukan ke dalam koper. Karna sore ini ia akan tinggal di rumah yang baru.Ada rasa senang di hatinya karna bisa bebas dan bisa melakukan apa pun yang ia inginkan di rumah baru yang akan ia tinggali nanti. Sedangkan saat berada di rumah ini ia merasa tertekan dan tidak bebas. Mungkin karna ada Umma Sarah yang selalu ikut campur dalam masalah rumah tangganya dan Hanu.


"Sudah beres memasukan pakaian kamu ke dalam koper? " Tanya Hanu yang baru masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan, makanan dan segelas air putih . Zana tersenyum dan menganggukan kepalanya seraya menutup resleting koper tersebut dan mendirikannya.


"Iya, sudah mas, " jawab Zana. Hanu mendekati sang istri dan meletakan nampan tersebut di meja dekat ranjang.


"Sekarang makan dulu ya.Kamu belum makan dari tadi siang, " ujar Hanu mengusap pipi mulus istrinya.


Pria itu mengenggam tangan Zana dan menggiringnya untuk duduk di sisi ranjang. Hanu tahu istrinya tidak makan siang karna menghindari Umma Sarah yang selalu memberikan kata-kata yang menyakitkan bagi istri keduanya tersebut.Dan pilihannya sudah tepat dan benar untuk membelikan rumah pada Zana.


"Sekarang makan yang banyak ya. Badan kamu sekarang lebih kurus, sayang, " ujar Hanu, yang membuat Zana menghentikan tangan kanannya yang akan memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Zana tersenyum tipis menanggapi ucapan Hanu dan melanjutkan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Hanu menatap sendu pada Zana dengan hati yang begitu perih. Gadis itu lebih banyak bersedih dari pada bahagia setelah menikah dengannya. Tapi Hanu berjanji setelah ini ia akan membahagiakan istri kedua ini.


🕸🕸🕸🕸🕸


"Aku pergi dulu. Kamu jaga diri baik-baik. Tiga hari nanti aku baru pulang ke sini, " ujar Hanu pada Aniya yang memeluk dirinya. Ia mengecup kening Aniya dan melepaskan pelukan sang istri yang seolah tak rela untuk melepaskan pelukannya.


"Kenapa harus tiga hari, mas?Kenapa tidak besok saja kamu pulang ke rumah, " rengek Aniya pada Hanu yang melirik Zana yang ada di sebelahnya.


"Aku sudah memutuskan. Untuk tinggal di rumah Zana selama tiga hari dan sebaliknya di rumah kamu juga selama tiga hari , sayang. Supaya adil. Kamu harus ingat, kalau aku bukan hanya milik kamu tapi juga milik Zana." Tutur Hanu tersenyum lembut pada Aniya.


"Sekarang aku pergi dulu. Assalamu'alaikum." Sebelum pergi Aniya mencium punggung tangan suaminya. Ia menatap Zana mendengus apalagi Hanu mengenggam tangan Zana begitu erat saat akan masuk ke mobil.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Balas Aniya dengan suara yang pelan. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya, melihat perlakuan Hanu yang berbeda pada Zana. Apalagi melihat tatapan suaminya pada gadis itu. Tatapan yang tidak pernah ia dapatkan dari Hanu selama 8 tahun menjalani mahligai pernikahan.


Hanu melambaikan tangannya dari jendela mobil pada Aniya yang membalas lambaian tangannya dengan senyuman yang merekah. Tapi___Setelah mobil itu menghilang dari pandangan matanya ,senyuman Aniya langsung luntur dan berubah menampilkan wajah yang begitu suram. Dadanya begitu sesak , ia tidak sengaja menguping pembicaraan Hanu yang akan mengajak Zana ke kota. Sedangkan dirinya___Hanya diam di rumah membayangkan bagaimana bahagianya Zana di atas kecemburuannya. Pasti gadis itu besar kepala karna Hanu mengajaknya ke kota dan membelikan apapun yang gadis itu mau.


"Kamu kenapa, Aniya? Kenapa mukanya sedih seperti itu, nak?" Tanya Umma Sarah yang tiba-tiba muncul dari belakang , membuat Aniya sedikit terkejut.


"Tidak apa-apa, Umma. Cuma sedih saja, karna mas Hanu harus pergi selama tiga hari, " jawab Aniya apa adanya. Umma Sarah mengusap punggung putrinya lembut.


"Sabar,nak.Lagi pula suami kamu itu harus bersama Zana karna memang sudah jatah gadis itu." Ujar Umma Sarah. Aniya menganggukan kepalanya enggan.


🕸🕸🕸🕸🕸


Hanu mengenggam tangan Zana dan meletakan di pahanya. Sedangkan gadis itu tersenyum malu, ia menatap Hanu yang juga menatap dirinya dengan tatapan yang membuat hatinya berbunga-bunga.


" Aku tidak mengantuk, mas. Ooh iya. Aku bawa cemilan buatan aku sendiri, "ujar Zana mengeluarkan satu toples kue kering dari tas ranselnya.


" Ini buatan kamu sendiri? "Tanya Hanu ulang dengan wajah yang di buat terkejut. Ia baru tahu bila istri kecilnya pintar membuat kue.


" Iya. Aku baru pertama kali buat kue kering ini, mengikuti resep yang ada di youtube, mas. Aku buatnya kemaren. Cobain, mas, "Zana menyodorkan kue tersebut pada Hanu.


" Suapin, sayang, "pinta Hanu dengan nada manja. Zana terlihat malu-malu , dengan tangan gemeter ia menyuapi suaminya yang terus menatap dirinya.


" Aw! Sakit, mas! "Ringis Zana, memukul lengan Hanu. Pria itu dengan sengaja mengigit jarinya saat menyuapi kue.

__ADS_1


Sedangkan Hanu tertawa. Ia mencubit pipi istrinya dengan gemas.


" Habisnya kamu gemesin, sayang. Kapan lagi kita bisa seperti ini, "ujar Hanu dengan tawa yang mulai mereda. Zana tersenyum, tapi perlahan senyuman itu perlahan memudar. Hanu mengkerutkan kening melihat perubahan raut wajah sang istri.


" Kenapa? "Tanya Hanu, bingung.


" Tapi aku cuma istri kedua kamu, mas.Tentu mbak Aniya lebih penting dari pada aku. Aku hanya orang baru yang hadir di tengah hubungan kalian berdua."Ujar Zana dengan sorot mata yang begitu sedih.


"Jangan berpikir seperti itu, sayang. Kamu sangat penting bagi kehidupan saya, " ujar Hanu menangkup kedua pipi Zana. Menatap lekat sepasang mata berwarna coklat jernih itu.


Zana mencari kebohongan dari balik mata Hanu. Ia takut pria ini hanya membohongi dirinya agar kesedihannya menghilang. Bagaimana ia tidak berpikir seperti itu sementara pernikahannya dengan Hanu terjadi karna ibunya menjualnya dengan Hanu yang menginginkan seorang anak. Tapi___Zana tidak menemukan kebohongan dari mata Hanu yang ia lihat adalah ketulusan pria tersebut.


"Apa mas, mencintai aku? " Tanya Zana spontan. Hanu diam sejenak.


"Iya, saya mencintai kamu ,Zana. Kamu bisa melihat bagaimana perhatian yang saya berikan adalah bentuk bukti bila saya mencintai kamu, " ujar Hanu yakin dengan perasaannya. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya pada Aniya.


Zana tersenyum haru mendengar pernyataan Hanu. Ada rasa bahagia yang begitu memuncak dari hati Zana. Perlahan Hanu mendekatkan wajahnya pada Zana. Mengikis jarak di antara mereka berdua, hingga bisa merasakan hembusan napas satu sama saling.


"Hmm..... " Deheman yang cukup keras, membuat Hanu langsung menjauhkan wajahnya dari Zana .


"Kalau mau enak-enak nanti kalau sudah sampai penginapan, " sindir Ujang yang merupakan sopir dan teman dekat Hanu.


Zana langsung menyembunyikan wajahnya dengan memeluk Hanu yang juga terlihat malu. Tapi gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2