KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Kabar bahagia


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan jejak ya!^^...


...~Happy reading~...


Tiga bulan sudah Zana dan Hanu menjalani bahtera pernikahan. Suka dan duka di lewati oleh Zana setiap harinya , umma Sarah yang selalu ikut campur dengan rumah tangganya dengan Hanu. Sedangkan Aniya selalu saja mengatur dan mengekang dirinya.Seolah Aniya lebih tahu tentang dirinya.Entah memang seperti ini menjadi istri kedua, selalu di kendalikan oleh istri pertama.


Ada rasanya Zana ingin kabur dari sini. Andai dia tidak mencintai Hanu, mungkin ia sudah dari dulu kabur dari rumah ini. Sedangkan yang membuat ia makin tertekan adalah Umma Sarah yang selalu melontarkan ucapan yang begitu pedas pada dirinya. Entah salah apa dirinya.


Hueek....Hueek


Zana terus memuntahkan isi dalam perutnya, hingga cairan bening yang ia muntahkan. Tubuhnya begitu lemas dan tidak bertenaga. Zana berpegang kuat pada sisi wastafel di kamar mandi.Pandangan matanya seperti berkunang-kunang, pusing dan pandangan yang perlahan mulai kabur.


Gadis itu berjalan keluar dari kamar mandi. Tangannya menempel di sisi tembok menahan tubuhnya yang rasanya sudah tidak kuat untuk berjalan ke arah kasur.Tubuh Zana langsung ambruk, tapi sebelum jatuh menghantam lantai, Hanu yang tiba-tiba masuk kamar langsung berlari ke arah Zana,dengan sigap menangkap tubuh mungil Zana yang sudah tidak berdaya dan begitu lemas. Mata gadis itu tertutup, tapi masih dalam ke sadarannya.


Hanu membawa Zana ke kasur dan membaringkannya dengan hati-hati di kasur. Menutupi tubuh istrinya dengan selimut sebatas dada.


"Kita ke puskesmas ya. Badan kamu panas, sayang, " ujar Hanu menyentuh kening Zana.


"Tidak usah, Mas. Mungkin karna aku kelelahan, " sahut Zana yang masih memejamkan matanya, merasakan pusing di kepalanya.


"Mas takut kamu kenapa-kenapa, sayang. Kalau begitu Mas panggil dokter umum di puskesmas dulu ya. Tunggu sebentar, Mas ke puskesmas dulu, " Hanu beranjak meninggalkan Zana yang menatap Hanu dengan tatapan sayu.


********


Hanu duduk di sofa, menunggu dokter Devi yang tengah memeriksa keadaan Zana. Ia berdoa semoga istrinya tidak sakit parah. Ia takut Zana kenapa-kenapa. Hanu terus menatap pintu kamar. Bibirnya tiada henti berdoa untuk keadaan Zana sekarang.

__ADS_1


Ceklek


Pintu kamar terbuka, dokter Devi keluar dari kamar tersebut. Hanu langsung bangkit dari tempat duduknya dan mendekati dokter Devi dengan wajah yang tampak khawatir.


"Bagaimana keadaan istri saya,Dok? Zana tidak sakit parah'kan? " tanya Hanu mendesak.Dokter Devi tersenyum tipis.


"Pak Hanu tidak usah khawatir. Memang wajar seorang wanita yang tengah mengandung mengalami gejala-gejala seperti itu, " ujar dokter Devi. Hanu mengernyitkan dahinya, bingung dengan ucapan dokter tersebut.


Dokter Devi yang melihat wajah kebingungan Hanu. Yang tidak paham dengan penjelasannya.


"Jadi setelah saya periksa dan melakukan tes urin dengan tespeck istri pak Hanu tengah mengandung, " ujar dokter Devi. Hanu tersenyum lebar dengan matanya yang berkaca-kaca, seolah tak menyangka dengan kabar yang sudah lama yang ia tunggu-tunggu dan kabar yang sangat membahagiakan bagi dirinya.


Hanu mengusap wajahnya , seraya mengucapkan beribu-ribu syukur pada Allah SWT. Keinginannya mendapatkan keturunan dari darah dagingnya sendiri terkabul. Hanu langsung masuk ke dalam kamar, dokter Devi tersenyum melihatnya. Sejujurnya dia sudah tahu bila Hanu menginginkan seorang anak.


Dulu saat beberapa bulan menikah dengan Aniya Hanu sering ke puskesmas, ingin istrinya di periksa. Karna Aniya mual-mual dan pusing seperti gejala perempuan yang tengah hamil dan setelah di periksa, wanita itu tidak hamil . Hanya masuk angin. Itu berlanjut hingga usia pernikahan Hanu dan Aniya berjalan selama 3 tahun yang selalu memeriksa keadaan Aniya, hamil atau tidak.


Berpoligami itu di halalkan bagi laki-laki asal bisa bersikap adil.Walau laki-laki sudah bersikap adil. Namun,terkadang para istri tidak bisa menahan cemburu bila satu di antara mereka bermesraan dengan suaminya. Kelemahan wanita itu cemburu dan tidak mampu untuk menyembunyikannya hal itu. Seberusaha apa pun menyembunyikan kecemburuannya akan tetap terlihat dari gerak-gerik dan tatapan mata yang menjelaskan semuanya.


"Sayang , kamu hamil." Hanu menggenggam dan mengecup tangan Zana yang masih terbaring lemas di kasur.


"Alhamdulillah, Mas. Allah mempercayakan kita menjaga titipannya, " sahut Zana yang mengeluarkan air mata kebahagiaan. Hanu mencium kening, pipi dan terakhir mengecup bibir Zana lembut.


"Sekarang kamu tidak boleh banyak beraktivitas .Kamu harus banyak istirahat. Ooh...iya. Kamu mau makan apa, sayang. Mas belikan atau kamu mengidam sesuatu? " tanya Hanu dengan antusias.


Zana tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


mas Hanu begitu sangat bahagia. Mungkin bila mbak Aniya hamil pasti mas Hanu akan seperti ini juga. Tapi , inilah mungkin sudah takdir dari sang Maha kuasa. Bila mbak Aniya memberikan anak pada mas Hanu, pasti dia tidak mungkin di pertemukan dengan mas Hanu dan terikat pernikahan. Segala sesuatu ada kebaikannya meski ada yang menyakitkan.


*******


"Assalamu'alaikum."


Hanu masuk ke dalam rumah dengan senyuman yang tidak memudar . Aniya terkejut ketika suaminya memeluk dan mencium keningnya.


"Waalaikumsalam, Mas, " balas Aniya melepaskan pelukan suaminya dan memperhatikan raut kebahagiaan yang terpancar di wajah Hanu.


"Mas, kamu kenapa terlihat sangat bahagia sepeti itu? " tanya Aniya penasaran.


Hanu meraih kedua tangan Aniya dan menggenggamnya. "Aku punya kabar bahagia. Zana...hamil, " ujar Hanu tersenyum.


Aniya tersenyum dan sekaligus bahagia mendengar berita tersebut. Tapi senyuman itu perlahan memudar. Melihat kebahagiaan dan antusiasnya Hanu dengan ke hamilan Zana. Mungkinkah bila ia hamil suaminya akan sebahagia itu. Baru kali ini ia melihat raut kebahagiaan dari wajah Hanu yang terbingkai begitu indah. Aniya kembali tersenyum, lebih tepatnya tersenyum kepedihan yang di balut kecemburuan.


Hanu memegang ke dua bahu Aniya yang langsung buyar dari lamunannya.


"Hari ini jatah kamu dengan aku'kan? Tapi sepertinya hari ini dan minggu depannya aku tidur di rumah Zana, sayang. Aku takut Zana kenapa-kenapa bila di tinggal sendirian di rumah.Apalagi sedang mengandung.Kamu tidak apa-apa'kan? " tanya Hanu yang di angguki Aniya dengan senyuman paksa.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Aku ingin membelikan makanan untuk Zana, biasanya wanita hamil sangat suka yang asam-asam seperti rujak, " ujar Hanu.


"Abah dan Umma ke mana? " tanya Hanu menatap sekitar ruangan yang terlihat sepi.


"Abah sama Umma pergi, " jawab Aniya dengan lesu.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Kamu jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa telpon aku, " ujar Hanu, mencium kening Aniya sekilas dan langsung pergi setelah mengucapkan salam.


Aniya mengepalkan tangannya kuat . Matanya memanas. Andai dia yang hamil pasti Hanu akan memberikan perhatian seperti itu juga. Ada rasa iri dengan Zana yang bisa mengandung , sedangkan dirinya mandul, tidak bisa memberikan anak.


__ADS_2