KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Info


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan jejak ya! ^^...


...~Happy reading~l...


"Zana, buka pintunya!Sayang, buka pintu kamarnya."


Hanu tidak henti-hentinya mengetuk pintu kamar Zana yang di kunci dari dalam.Dia benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya di dalam sana. Dan tidak seperti biasanya Zana mengunci pintu.


Aniya duduk di sofa, sibuk memakan buah yang sudah di kupas Hanu,awalnya buah itu untuk Zana tapi dia yang memakannya. Wanita itu menatap jengah pada suaminya yang masih setia mengetuk pintu kamar Zana yang tidak tanda-tanda akan terbuka.


"Mas, sudahlah. Mungkin Zana sedang tertidur, " ujar Aniya.


"Tidak, Aniya. Sekali pun dia tidur tidak mungkin sampai mengunci pintu dan pasti mendengar panggilan Mas," sahut Hanu yang kembali mengetuk pintu kamar itu lebih keras lagi.


Hanu terdiam sejenak, berpikir keras mencari cara agar bisa membuka pintu tersebut. Bisa saja,'kan terjadi sesuatu pada Zana di dalam. Pria itu pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa membobol pintu. Tidak berapa lama Hanu kembali dari dapur membawa linggis. Ia mulai mencongkel pintu tersebut tidak peduli bila pintunya akan rusak.


Tidak butuh waktu lama, Hanu berhasil membuka pintu kamar yang terkunci tersebut. Ia langsung masuk ke dalam kamar, matanya langsung mengarah pada seseorang yang menutup seluruh badannya dengan selimut.


"Sayang kamu kenapa? " tanya Hanu berjalan mendekati ranjang. Ia menarik selimut itu tapi di tahan oleh Zana dengan kuat.


Zana benar-benar tidak ingin melihat wajah Hanu. Ke cemburuan yang benar-benar tidak bisa ia kendalikan. Apalagi mendengar pernyataan Hanu yang lebih mencintai Aniya. Seharusnya dia sadar dengan posisi dirinya yang hadir di antara Hanu dan Aniya hanya karna untuk bisa mendapatkan anak.


"Sayang, apa Mas ada salah sama kamu? Jangan diam seperti ini, Mas tidak akan tahu di mana letak kesalahnya Mas di mana ,sayang, " ujar Hanu mencoba membujuk agar Zana mau membuka selimutnya.


"Mas pergi dari sini!Aku tidak mau melihat wajah, Mas!"sentak Zana di balik selimut dengan suara seraknya.

__ADS_1


"Zana, jangan seperti ini . Sekarang buka selimutnya, nanti kamu pengap sayang, " bujuk lagi Hanu.


"Mas, sudah biarkan saja Zana. Sekarang cepat antarkan aku pulang, Mas, " sahut Aniya yang berdiri di samping Hanu, menarik lengan suaminya.


"Tunggu sebentar, Aniya. Aku tidak bisa meninggalkan Zana dalam keadaan marah seperti ini, " ujar Hanu. Aniya mendengus kesal.


"Ya sudah aku pulang jalan kaki saja, kalau begitu. "ancam Aniya, membuat Hanu menghela napas kasar.


"Ayo aku antar," ujar Hanu mengalah. Pria itu menarik pergelangan tangan Aniya, keluar dari kamar dengan langkah berat. Sebelum benar-benar keluar dari kamar dia menoleh melihat Zana yang masih setia menutupi badan'nya dengan selimut.


Zana perlahan membuka selimutnya dengan mata yang sembab dan wajah yang memerah, setelah ke pergian Hanu dan Aniya . Rasanya sakit sekali, pernikahan poligami ini lebih banyak duka yang ia rasakan dari pada bahagia.Ia pikir, bersama dengan orang yang di cintai akan membuat dia selalu bahagia,ternyata salah.Zana turun dari ranjang, ia berjalan ke pintu keluar dengan rambut panjang yang terurai indah tanpa tertutup hijab.


Zana memilih duduk di kursi,depan teras rumah dengan tatapan yang begitu kosong tapi di balik itu semua ada luka yang menganga di hatinya. Tangannya terulur mengusap perut ratanya dengan lembut.Menikmati semilir angin sore yang menerpa permukaan wajahnya.


Tanpa di izinkan, Gala duduk di sebelah Zana. Ia memperhatikan gadis tersebut yang tampak melamun entah apa yang di pikirkan.


"Masalah itu jangan terlalu berlebihan di pikirkan, " celetuk Gala.Lagi-lagi Zana menoleh melihat tetangganya itu.


"Kamu tidak usah ikut campur!Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan! " sarkas Zana menatap tajam.


Gala terkekeh mendengarnya, seolah ucapan Zana adalah sebuah lelucon, "Orang lain tidak harus di posisi kamu agar bisa merasakan apa yang kamu alami.Lewat tatapan mata dan guratan raut wajah kamu,sudah menjelaskan semuanya bila kamu sedang bersedih." ujar Gala. Zana diam, bungkam.


" Oh, iya.Aku dengar kamu istri ke dua ya? Kamu itu cantik, dan bisa mendapatkan suami yang lebih kaya, tampan dan tentunya single,"ujar Gala.


"Itu bukan urusan kamu!"bentak Zana , menatap nyalang pada Gala yang menampilkan wajah yang tetap terlihat tenang.

__ADS_1


Pria itu bangkit dari tempat duduknya. Dengan satu tangan yang di masukkan ke saku celana.Gala menatap lurus ke depan ,menerawang.Zana memperhatikan pria tersebut.


"Aku sering memperhatikan kamu yang selalu di perlakukan tidak adil oleh istri pertama dan Ibu mertua dari suami kamu. Kamu tahu, dengan kamu menikah dengan pria yang sudah beristri ,itu sama saja membuat kamu di pandang buruk oleh orang lain sebagai seorang perempuan, "ujar Gala menghadap ke arah Zana yang masih mendengarnya perkataan pria itu.


"Kehidupan kamu sangat menyedihkan sekali sebagai istri ke dua. Aku jamin cepat atau lambat suami tua kamu itu akan menceraikan kamu setelah mendapatkan apa yang dia mau. Bukankah dia menikahi kamu karna menginginkan anak bukan untuk berbagi cinta,"ujar Gala.


Deg.....


Lagi-lagi ucapan Gala benar-benar tidak bisa membuat Zana berkutik. Ia tidak bisa meragukan ucapan Gala karna alasan mas Hanu menikahi dirinya karna paksaan Aniya, agar bisa mendapatkan ke turunan.Tapi di lain sisi dia sangat mencintai suaminya. Gala tersenyum miring melihat Zana mulai mencerna ucapannya.Gadis yang sangat polos.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Hanu, kamu mau ke mana? " tanya Umma Sarah, melihat Hanu hendak beranjak dari meja makan.Aniya menoleh melihat ke arah suaminya.


"Aku ingin pulang. Kasihan Zana menunggu ku, " jawab Hanu.


"Biarlah, Umma. Kasihan Zana sendirian di rumah,apalagi dia sedang hamil muda," sahut Abah Husein.


Umma Sarah menghembuskan napas pelan, ia merendam amarahnya yang baru saja mereda setelah bersitegang dengan abah Husein.


"Hanu, kamu sudah hampir seminggu lebih di rumah Zana. Jangan terus mengutamakan istri ke dua kamu itu karna alasan dia hamil . Aniya juga butuh kamu, Umma waktu hamil tidak seperti itu," sindir umma Sarah.


"Malam ini kamu tidur di sini.Aniya butuh kamu di sisinya. Jangan tidak bersikap adil dan membuat hati anak umma sedih karna kamu," ujar umma dengan ucapan yang tidak bisa di bantah.


Hanu hanya menganggukkan kepalanya,membenarkan ucapan umma Sarah.Dia harus bersikap adil. Hanu melihat ke arah Aniya yang tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2