
...Sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Quran....
...Tegur bila ada kesalahan dalam tulisan....
...Happy reading...
Aniya turun dari mobil setelah Hanu lebih dulu. Mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan tangan yang saling bertautan membuat Aniya tidak bisa menyembunyikan kesenangannya. Walau hanya sentuhan fisik tapi itu sudah membuat hatinya berbunga-bunga.
Hanu masuk ke dalam rumah setelah mengetuk pintu. Abah yang kala itu duduk di sofa, ruang tamu bersama Umma Sarah setelah baru pulang dari acara kondangan di kampung sebelah.
"Assalamu'alaikum." ucap Hanu.Membuat keduanya langsung menyaut ucapan salam tersebut.
"Waalaikumsalam."
Abah Husein dan Umma Sarah tidak bisa menyembunyikan ke kagetan,'nya melihat Aniya berdiri di dekat Hanu dengan pakaian yang terbuka seperti itu.
"Hanu, Aniya kenapa memakai baju terbuka seperti itu? " tanya Abah yang bangkit dari tempat duduknya , mendekati keduanya. Umma Sarah langsung menarik Aniya dari dekat Hanu.
"Apa ini ulah kamu, Hanu? " ujar Umma Sarah seperti menuduh.
"Aku tidak tahu apa-apa. Tapi Aniya sendiri yang tiba-tiba datang ke rumah ku dengan pakaian seperti ini. Makanya aku antar ke rumah, " ungkap Hanu.
Umma Sarah berdecak dan mendelikkan matanya tidak percaya dengan ucapan Hanu.
"Umma tidak percaya dengan ucapan kamu, Hanu. Aniya wanita yang baik-baik walau masa lalunya dulu buruk tapi tidak mungkin Aniya mau memakai baju haram seperti ini. Tidak seperti Zana yang selalu berpakaian terbuka, " ujar Umma Sarah menjelekkan Zana.
"Umma tolong jangan pernah bawa Zana dalam masalah ini. Aku akui dulu Zana memang berpakaian terbuka tapi sekarang tidak lagi. Dan aku tidak peduli Umma percaya atau tidak dengan ucapan ku. Tapi memang kenyataan bila Aniya datang ke rumah ku dengan pakaian yang terbuka seperti itu. Umma bisa tanyakan itu pada Ujang yang melihat kejadian itu, dimana Aniya datang dan langsung memeluk ku. " papar Hanu berusaha meredam amarahnya . Ucapan Umma Sarah benar-benar memancing kemarahannya.
Umma Sarah menggelengkan kepalanya, menepis semua ucapan yang dilontarkan Hanu, "Heh! Hanu. Umma katakan sekali lagi kepada kamu ya Aniya tidak mungkin merendahkan dirinya hanya untuk kamu yang merupakan pria brengsek dan kurang ajar seperti kamu_____"
"Cukup Umma!! " sela Abah Husein , memotong ucapan Umma Sarah yang menatap kearahnya
"Umma, Abah lebih percaya dengan Hanu.Kita sudah tahu dengan sikap Aniya yang bisa nekat seperti ini, " ujar Abah Husein.
"Abah lebih membela Hanu ketimbang anak kita. Apa Abah tidak kasihan dengan Aniya, bisa sajakan Hanu kembali menggauli Aniya saat status mereka resmi bercerai, " tuding Umma Sarah terdengar aneh bagi Abah Husein. Hanu menggelengkan kepalanya tidak menyangka Umma Sarah akan memfitnahnya seperti itu.
__ADS_1
"Astaghfirullah! Istighfar Umma, " sebut Abah Husein memegangi kepalanya yang terasa pening dengan ucapan ngawur Umma Sarah.
"Hanu sekarang kamu lebih pulang, " perintah Abah dan Hanu menganggukkan kepalanya.
"Mas Hanu, Mas jangan pergi! " Aniya berteriak memanggil pria tersebut, tangannya di cekal oleh Abah Husein.
"Lihat ini Umma! Apa ini yang kamu sebut anak kita wanita baik-baik . Merendahkan dirinya untuk seorang pria yang tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengannya, " ujar Abah dan Umma Sarah diam, bungkam tidak dapat berkata-kata lagi.
"Abah lepas! Aku mau menyusul Mas Hanu! " sarkas Aniya berusaha melepaskan cekalan tangan Abah.
Plak!
Aniya tersungkur di lantai dengan rasa perih di pipinya kala Abah menampar dirinya untuk pertama kali. Air mata Aniya tidak bisa terbendung lagi.Umma Sarah langsung memeluk Aniya yang masih syok.
"Abah jangan berbuat kasar dengan putri,Umma. Walau dia bukan anak kandung Abah bukan berarti Abah boleh menyakitinya hiks..... " Umma Sarah mengusap pipi Aniya yang memerah dengan air mata yang berguguran merasakan sakit di hatinya melihat keadaan Aniya.
"Abah tidak akan semarah ini bila Aniya tidak berbuat hal yang merendahkan dirinya sendiri dan mengumbar aib buruk bagi keluarga kita. Abah benar-benar tidak becus mendidik kalian! "
Abah Husein pergi ke dapur untuk meredam emosinya yang benar-benar sudah memuncak.
Hanu membuka pintu kamar yang telah ia kunci. Seorang gadis duduk bersandar di lemari dengan wajah yang di telungkupkan di kedua lututnya.
"Sayang, " Hanu mendekati Zana, mengusap kepala istrinya lembut.
Zana perlahan mengangkat kepalanya. Matanya langsung bertemu dengan netra hitam pekat milik Hanu yang menatap dirinya sendu.
"Maaf...."
Hanu langsung memeluk Zana, mendekapnya dengan erat. Sedangkan gadis itu menangis dalam pelukan suaminya. Betapa takutnya dia bila terjadi apa-apa dengan Zana dan anak dalam kandungan istrinya tersebut.
"Kenapa pintunya dikunci. Aku takut Mas meninggalkan aku dan kembali dengan Mbak Aniya. Aku sayang Mas Hanu, aku tidak ingin kehilangan Mas Hanu, " tangisan Zana pecah,dadanya begitu sesak seiring dengan tangisan yang semakin sesegukan.
"Mas, tidak akan meninggalkan kamu, sayang, " Hanu mencium kening Zana yang sudah berlumuran keringat.
Zana yang haus kasih sayang sedari kecil begitu takut kehilangan Hanu yang melimpahkan kasih sayang dan cinta padanya. Lalu, apakah salah bila dia berharap Hanu tidak kembali lagi dalam dekapan Aniya.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi, nanti dada kamu sakit, "ujar Hanu menghapus air mata Zana.Gadis ini akan sesak napas bila terlalu lama menangis.
Hanu mengangkat tubuh mungil Zana dalam gendongannya. Ia meletakkan sang istri di kasur.
" Hijabnya lepas ya, "
Hanu melepaskan hijab yang melekat di kepala Zana. Ia menyingkirkan anak rambut sang istri yang sudah basah dengan keringat.
Zana kembali memeluk Hanu, menenggelamkan wajahnya dalam dada Hanu. Merasakan usapan lembut dan kehangatan yang menjalar dalam pelukan suaminya.
"Minum dulu, tenggorokan kamu pasti kering, " Zana meminum air putih yang diberikan Hanu.
"Mau istirahat dulu atau kita langsung pergi ke kota? " tanya Hanu.
"Langsung pergi. Aku takut Mbak Aniya ke sini lagi, " ucapnya dengan suara serak.
"Ya sudah sekarang kita siap-siap ya, "
Zana menganggukkan kepalanya.
******
Hanu menatap ke arah jendela luar mobil melihat rumah-rumah warga yang di lewati termasuk rumah Aniya yang tampak begitu sepi. Zana menyandarkan kepalanya di dada suaminya,merasakan usapan lembut di perutnya. Ujang mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan normal. Jarak desa ke kota cukup jauh mungkin butuh waktu 2 jam bila tidak macet.
"Makan dulu ya, tadi kamu makannya sedikit, " ujar Hanu membuka bungkusan roti.
Dengan telaten Hanu menyuapi Zana yang masih setia melingkarkan tangan di pinggangnya.
"Ujang, tolong urus peternakan ku. Dan jangan katakan pada Aniya bila aku dan Zana pindah ke kota, " pinta Hanu dan Ujang menganggukkan kepalanya.
Sudah satu jam perjalanan. Zana sudah terlelap dalam pangkuan Hanu layaknya seperti Ayah memangku putrinya. Rasa pegal Hanu rasakan karna terlalu lama duduk di mobil dan tangan yang kebas , terlalu lama menyangga kepala Zana.
"Semoga kamu sehat-sehat di dalam sana ya, nak. Maafkan Ayah yang sering membuat Bunda kamu selalu menangis, " ucap Hanu mengusap perut buncit Zana.
Bersambung...
__ADS_1