
...Sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Quran...
...Happy reading...
Dua pasang manusia saling berpelukan dari balik selimut yang menutupi tubuh polos keduanya. Pakaian mereka berdua berserakan di lantai. Deru napas Zana maupun Hanu tak beraturan setelah percintaan panas mereka setengah jam lalu. Kendati begitu, Hanu tetap hati-hati melakukannya mengingat Zana dalam keadaan mengandung.
"Mas ini kenapa hawanya panas? " tanya Zana yang masih dalam dekapan Hanu. Tubuhnya terasa lengket dengan aroma khas yang menguar dari badan mereka berdua.
Tubuh Zana di banjiri keringat dan kakinya masih bergetar karna ulah suaminya itu.
"AC nya sudah Mas setel paling kencang, sayang, " jawab Hanu terdengar serak dan berat. Matanya masih terpejam namun satu tangannya merengkuh pinggang Zana dan satu tangannya lagi menyanggah kepala Zana.
"Mas, mau mandi badan aku gerah sama lengket, " rengek Zana merasa tidak nyaman dan risih dengan keadaan dirinya yang penuh keringat dan lengket seperti ini.
"Tunggu sebentar, sayang.Mas tidur dulu ya,capek." ujar Hanu hendak menutup matanya tapi Zana terus merengek membuat ia terusik.
"Mas, ayo antar aku ke kamar mandi. Nanti jangan minta jatah lagi kalau gitu, " ancam Zana sudah sangat kesal.
Hanu menghela napas panjang.Pria itu bangun dari tidurannya, ia mengambil sarung yang tergeletak di lantai untuk menutupi bagian tubuhnya sebatas pinggang.
"Ayo sini, Mas gendong, " ujar Hanu yang baru bangkit dari ranjang. Zana merentangkan kedua tangannya dengan selimut yang melilit di tubuh polosnya.
Pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sekalian mandi junub.
Hampir satu jam Hanu dan Zana baru keluar dari kamar mandi. Pria itu mendudukkan sang istri di kursi rias yang menghadap cermin. Hanu mengambil pakaian Zana yang ada di dalam lemari.
"Rambutnya di keringkan dulu, nanti kamu sakit kalau tidur dalam keadaan rambut basah, "ujar Hanu sembari membalut tubuh Zana dengan selimut yang baru ia ambil dari lemari.
Dengan telaten Hanu mengeringkan rambut Zana menggunakan handuk kecil. Senyuman kecil terbit di wajah tampan pria tersebut melihat bayangan Zana dalam pantulan cermin. Sedangkan gadis itu mengayun-ayunkan kakinya bak anak kecil.
" Sekarang pakai baju dulu, "ujar Hanu setelah selesai mengaringkan rambut Zana dan beralih memakaikan baju untuk istri kecilnya itu.
Zana memperhatikan Hanu mengancingkan piyama tidurnya. Kemudian, beralih menatap wajah suaminya yang terlihat lebih tampan dengan rambut yangΒ basah dan berantakan. Walau mulai muncul kerutan di wajah Hanu karna usia yang sudah mendekati 40 tahun,sedangkan dirinya sebentar lagi akan berumur 19 tahun.
Bukan karna harta ataupun ke tampanan yang membuat Zana semakin jatuh cinta pada Hanu tapi sikap dan perlakuannya yang membuat gadis itu makin betah dan setiap harinya akan jatuh cinta dan seterusnya untuk Hanu.
" Kamu mau makan , sayang? "tawar Hanu sembari memakai bajunya.
" Boleh. Memangnya di dapur ada apa? "tanya Zana.
"Ayam goreng yang Mas masak tadi. Kalau mau, Mas panasin dulu, " ujar Hanu dan Zana menganggukkan kepalanya.
"Mas, tapi aku rebahan di kasur, "
"Kalau begitu Mas ganti dulu sprei nya, soalnya kotor, " ujar Hanu.
"Jangan, biar aku yang memengganti sprei nya Mas panasin ayam goreng aja.Kita bagi tugas, " ujar Zana.
__ADS_1
"Jangan. Kamu lagi hamil tidak boleh banyak beraktivitas, " tolak Hanu dan Zana berdecak.
πππππ
"Mas pergi dulu ya. Kamu jangan keluar rumah. Jaga diri baik-baik, " Hanu mengecup bibir ranum Zana dan memeluk strinya dengan sayang .
Lalu, Hanu sedikit berjongkok menyesuaikan tinggi badannya dengan perut Zana.
"Sayang, Ayah pergi kerja dulu. Kamu baik-baik ya nak dan jaga Bunda , " Hanu mengusap perut buncit Zana dan menciumnya sekitar.
"Mas pergi dulu. Mungkin tidak terlalu lama perginya ,karna cuma mengantar surat lamaran, " ujarnya mengusap pipi Zana.
"Iya, Mas hati-hati di jalan. Jangan genit, " peringat Zana dengan mata mendelik dan Hanu tertawa.
******
Pria dengan setelan pakaian formal melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung sangat besar dan lantai gedung yang bertingkat-tingkat. Hanu masuk ke dalamnya dan mendekati meja resepsionis.
"Saya Hanu Hafiz Ali sudah ada janji dengan pak Cio Danuarta, " ucap Hanu.
"Mari saya antar Pak.Bapak Cio sudah menunggu, " ujar resepsionis wanita dengan make up tebalnya itu.
Hanu berjalan mengikuti wanita tersebut hingga sampai di depan pintu ruangan CEO.
"Silahkan masuk, Pak, " resepsionis wanita itu membukakan pintu untuk Hanu setelah mengetuk pintu.
"Bagaimana kabar kamu Hanu? Aku sudah lama menunggu tak sabar ingin bertemu, " ujar Cio memeluk singkat Hanu.
"Kabar ku baik. Maaf menunggu lama karna tadi macet, " ujar Hanu tak enak.
"Sudah tak apa-apa, santai saja Hanu. Mari kita duduk, "
Keduanya duduk di sofa.
"Aku ke sini ingin melamar pekerjaan di perusahaan kamu ,Cio." ujar Hanu sembari menyerahkan surat lamaran kerjanya.
"Kamu tidak usah menberikan surat lamaran kerja ini. Karna tanpa itu pun aku akan tetap menerima kamu . Kamu aku terima kerja menjadi asisten ku, " ujar Cio tersenyum pada Hanu yang tampak kaget.
"Kenapa harus jadi asisten? " tanya Hanu heran.
"Kamu tidak suka? " tanya balik Cio.
"Bukan begitu. Aku ini orang baru,kenapa harus di jadikan asisten kamu? Pekerjaan yang mungkin banyak diinginkan oleh karyawan lain. Rasa tidak adil bila aku langsung mendapatkan tempat itu, " ujar Hanu dengan hati-hati mengucapkannya, takut Cio tersinggung dengan ucapannya.
"Aku bosnya di sini. Jadi terserah aku mau menempatkan kamu dimana. Ingat Hanu kita ini kawan dari lama bahkan seperti saudara sendiri.Kamu juga banyak membantu aku, jadi apa salah aku membalasnya. Mulai besok kamu sudah mulai kerja, " ujar Cio tanpa ingin di bantah.
Hanu hanya bisa membalas dengan senyuman dan anggukan walau ada rasa tidak enak dalam benaknya.
__ADS_1
πππππ
Tok tok tok
"Mas Hanu! Mas Hanu! " Aniya mengetok pintu rumah Hanu berulang kali namun tidak ada jawaban sama sekali . Rumah ini juga sangat sepi dan halaman rumah yang kotor karna berserakan daun kering.
Aniya melihat ke sisi rumah. Biasanya jendela ruang tamu selalu di buka tapi sekarang tertutup. Apa mereka berdua pergi, tapi ke mana?
"Cari siapa? "
Lontaran pertanyaan dari seseorang membuat Aniya menoleh kearah Gala yang tengah duduk di teras rumahnya, sibuk dengan game di ponselnya.
"Aku cari Mas Hanu. Apa kamu tahu dia ke mana?Tadi aku sudah mencari ke peternakan tapi tidak ada? " ujar Aniya berdiri di hadapan Gala .
"Kalau tidak salah mereka pindah ke kota. Aku sempat bertanya dengan anak buah Hanu,yang kemaren mengantarkan mereka berdua, " ujar Gala yang masih fokus dengan ponselnya.
Aniya terdiam, lidahnya kelu tidak berkata apa-apa lagi. Tangannya terkepal kuat dengan guratan kemarahan yang tersemat di wajahnya.
"Jadi begini cara kamu, menjauh dari aku, Mas Hanu, "batin Aniya.
Aniya langsung pergi dari hadapan Gala. Ia harus segera pulang ke rumah.Ujang sialan! Pria itu mengatakan tidak tahu Hanu ke mana , tapi nyatanya Ujang membohongi dirinya.
πππππ
Hanu memarkirkan mobilnya di depan pekarangan rumahnya. Senyuman tersemat di wajahnya. Hatinya begitu bahagia karna telah di terima kerja di perusahaan Cio.
Hanu turun dari mobil, sembari menenteng kue yang ia beli khusus untuk Zana. Ia melangkahkan kakinya ke rumah. Kening Hanu mengkerut karna pintu rumah tak terkunci. Apa Zana lupa mengunci rumah. Bahaya bila ada orang asing masuk.
" Sayang! Mas bawa kue untuk kamu! "
Namun tidak ada jawaban.
"Zana, kamu di mana ,sayang.Zana! "
Hanu masuk ke dalam kamar dan keluar kembali karna tidak menemukan sosok istrinya. Ia memeriksa setiap ruangan termasuk dapur dan kamar mandi pun tidak lupa.
Jantung Hanu berdegup kencang. Rasa kalut dan takut merayap di benaknya . Kekhawatiran terbingkai jelas di wajahnya.Hanu keluar dari rumah. Ia mendekati ibu-ibu yang tengah berkumpul tidak jauh dari rumahnya.
"Maaf Bu. Apa anda melihat istri saya? " Hanu memperlihatkan foto Zana dari galeri ponselnya.
"Saya tidak melihat istri Mas nya. Dari tadi tidak ada yang lewat di jalan ini, " ujar salah satu ibu-ibu tersebut.
Napas Hanu memburu. Rasa khawatir makin menjadi-jadi ,apalagi Zana dalam keadaan mengandung, bisa saja sesuatu menimpa istrinya dan anak dalam kandungannya.
"Kamu kemana, sayang. Bisa gila Mas kalau kamu tidak ketemu, "
Bersambung...
__ADS_1