
Sebenarnya cerita ini belum tentu aku publish.Takut mendapat komen negatif dari pembaca yang membenci kisah tentang pelakor atau perusak rumah tangga orang.
Aku hanya minta di review oleh kalian.Dan hasilnya, gagal.
Cerita ini tidak mengandung unsur poligami sama sekali.Tapi pembaca sudah berasumsi lebih dulu.
"What! Kau menyukai pria yang sudah beristri!" pekik Aretha nyaring. Hingga menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe.
"Iih, Aretha. Kau bisa diam atau tidak. Lihat sekarang semua orang melihat ke arah kita," gerutu Khalisa menutupi setengah wajahnya hingga hanya mata yang terlihat dengan buku menu, karna ia benar-benar malu.
"menyesal aku curhat dengan Aretha."
"Maaf, aku benar-benar kaget mendengar curhatan mu itu.Tidak menyangka sahabat ku ini tengah jatuh cinta, tapi jadi masalahnya itu... kenapa kau mencintai suami orang?" ujar Aretha heran.
Khalisa menghirup napas panjang."Aku tidak tahu. Tapi yang jelas aku sangat mencintainya dan harus menjadikan dia milikku ."ucapnya seraya tersenyum.
Aretha terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar heran dengan pemikiran sahabatnya itu. Bisa-bisanya mencintai suami orang. Entah Khalisa yang tengah kesurupan atau kena pelet pemikat hati.
"Coba kamu pikir lagi Lisa. Bagaimana bisa mencintai pria yang lebih tua dari mu bahkan sudah punya istri.Lebih baik cari pria lain yang bahkan lebih dari pria yang kau sebut itu," ujar Aretha berusaha menyadarkan sahabatnya pada cinta yang salah.
"Aku tidak mau. Menurut ku hanya dia yang berhasil memikat hati ku,Aretha," ujar Khalisa ter senyum-senyum bak orang kasmaran."Kau tahu sendiri'kan. Aku sangat sulit untuk jatuh cinta dan percaya pada para pria semenjak Bian berselingkuh dari ku. Dan sekarang aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Lisa aku ingin jujur dengan kau.Mungkin ucapan ku nanti sedikit menyakitkan bila masuk ke telinga mu." ujar Aretha.
"Ya, silahkan saja ucapkan yang inginkan kau katakan pada ku." ujar Khalisa sembari memakan kue yang ia pesan.
"Kau itu seperti pelakor, semacam wanita penggoda karna menyukai suami orang. Demi kebaikan dirimu. Lebih baik cari pria lain yuk, yang lebih tampan dan kaya raya." ujar Aretha menganggukkan kepalanya, menatap Khalisa yang memutar bola matanya malas.
"Aku sudah mengatakan pada mu, Aretha. Aku akan tetap berusaha mendapatkan dia, bagaimana pun caranya." ucapnya kekeh.
"Dan tega melukai hati istrinya. Apa kau tidak kasihan pada istrinya? Kita sama-sama wanita, Lisa. Istri mana yang tidak hancur dan sakit hati bila suaminya di rebut wanita lain alias pelakor," ujar Aretha menekan kata pelakor.
"Kalau begitu, aku jadi istri keduanya. Jadi tidak akan merasa kehilangan, kan? " ujar Lisa.
Pletak
Aretha menjitak kepala Khalisa cukup kencang, membuat sang empu meringis kesakitan.
__ADS_1
"Dasar gila! Sepertinya saat pembagian urat malu kau berkeliaran ke mana-mana," sembur Aretha.
"Kau ini apaan sih, Aretha?! Sakit tahu,"ujar Khalisa memegangi kepalanya yang lumayan sakit akibat jitakkan yang di berikan Aretha.
" Kau yang apa-apaan. Aku ini termasuk sahabat mu yang baik. Menyadarkan kau dari jiwa bibit pelakor yang sepertinya sudah tumbuh di otak kecil mu itu!"sentaknya.
"Terserah aku'lah. Memangnya apa urusan mu itu. Aku hanya ingin curhat dengan kau, bukannya minta di nasehati. Kata deddy ,aku boleh melakukan apapun yang aku inginkan,yang terpenting itu bisa membuatku bahagia," ujar Khalisa tersenyum lancip di akhir kalimatnya.
"Dan kau salah kaprah dalam memahami ucapan deddy mu itu." cetusnya dan Khalisa malah mencibir ucapan sahabatnya itu.
Ting...
Suara gemerincing di pintu cafe, menandakan bila ada pengunjung baru yang datang. Membuat perhatian Khalisa teralihkan termasuk Aretha. Badan Khalisa membeku. Matanya menangkap sosok Fandra dengan istrinya,membuat rasa cemburu dan hati yang mendadak sakit di waktu bersamaan.
"Heh! Kamu kenapa diam Lisa. Kerasukan? " tanya Aretha menatap ngeri pada Khalisa yang masih diam, memperhatikan Fandra dengan sang istri duduk di meja yang tidak jauh dari dirinya.
"Aretha, aku dengan dia cantikkan mana? " Pertanyaan mendadak membuat Aretha kagok, bingung.
"Maksud kamu apa? Siapa yang cantik? " tanya balik Aretha membuat Khalisa menatap kesal.
"Kamu lihat wanita yang memakai dress pink polos itu. Nah, cantikkan aku atau dia?"
Aretha menatap wanita yang di sebut sahabatnya itu.
"Tidak ada menarik-nariknya. Bagaimana tidak, rambut di cepol asal, memakai kemeja kotak-kotak dan celana jeans robek-robek. Kau lebih mirip preman pasar," ujarnya tanpa merasa berdosa.
Khalisa menatap sengit pada sahabatnya itu. Dan kembali menatap ke arah Fandra yang dengan mesranya menyuapi sang istri. Tanpa sadar matanya berair. Tangannya terkepal kuat.
Tidak sengaja pandangan Fandra mengarah pada Khalisa yang membuat pandangan mereka berdua saling menumbuk untuk sesaat.Hanya tatapan datar dan dingin yang di perlihatkan pria tersebut pada Khalisa.
"Ya Tuhan, kenapa sakit sekali rasanya melihat Fandra dengan istrinya." batin Khalisa pedih.
"Enak? " tanya Fandra yang kembali menyuapi istrinya.
"Enak, Mas. Aku suka," ujar Anesia tersenyum. Fandra menatap hangat pada sang istri, memberikan usapan lembut di kepala Anesia.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya," ujar Fandra yang di angguki Anesia.
Pria itu mencium kening istrinya sekilas dan pergi ke toilet.
__ADS_1
"Ya ampun so sweet nya," ujar Aretha yang memperhatikan interaksi Fandra dan Anesia tanpa tahu orang di sebelahnya tengah ke bakaran jenggot melihat kemesraan keduanya.
Khalisa bangkit dari tempat duduknya. Meninggalkan Aretha.
"Khalisa kau mau kemana?!" tanya Aretha dengan suara melengking.
"Toilet! " jawabnya sedikit berteriak.
******
Fandra memperbaiki resleting celananya dan bersiap keluar dari toilet. Namun, seseorang langsung mendorongnya kembali masuk ke dalam toilet.
"Fandra sengaja ya, ingin membuat ku cemburu? Fandra jahat, hati ku sakit melihat kalian berdua bermesraan!" sentak Khalisa dengan napas menggebu-gebu.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa malah mendorong saya? " Fandra meringis merasakan sakit pada punggungnya karna benturan cukup keras di tembok.
"Fandra yang apa-apaan.Aku cemburu melihat kalian berdua bermesraan."
"Dia istri saya dan wajar saya bermesraan dengan dia.Dan kamu bukan siapa-siapa saya!" bentaknya membuat Khalisa langsung bungkam dengan badan yang kaku.Matanya memanas.
"Jangan terus mengejar saya.Saya sudah menikah!"
"Jangan seperti wanita murahan."tambahnya
Setelah mengucapkan itu. Fandra pergi meninggalkan Khalisa yang langsung menangkup wajahnya dengan kedua tangan.Percayalah, hatinya benar-benar remuk saat ini, mendapatkan bentakkan dari Fandra.
Suara isakkan kecil keluar dari bibir Khalisa yang bergetar. Bersamaan dengan air mata yang meluruh.
******
"Kamu kenapa?" tanya Aretha menelisik mata Khalisa yang sembab.
Khalisa menggelengkan kepalanya lesu.Ia duduk ke tempatnya.Mata gadis itu memperhatikan Fandra dan Anesia dari kejauhan dengan rasa sakit luar biasa di hatinya.
Khalisa menundukkan kepalanya,rembesan air mata jatuh tanpa pamit di pelupuk matanya.
"Sudah,Lisa.Jangan mencintai seseorang yang menorehkan luka di hati mu.Cari pria yang masih single dan mencintai mu juga." nasehat Aretha menatap iba.
"Apa kau tidak lelah seperti ini? Mengejar sesuatu yang tidak akan mungkin tergapai.Stop berharap pada pria itu." Aretha menunjuk Fandra dengan dagunya.
__ADS_1
Terlihat jelas pada Fandra yang tidak merasa bersalah setelah mengucapkan kalimat kasar pada Khalisa. Justru pria itu tengah bersenda gurau dengan sang istri dan tak khayal saling bercumbu di depan Khalisa yang mati-matian menahan tangisnya.
Bersambung...