
Aniya merapikan rambut panjangnya yang tergerai dengan indah. Ia menatap bayangan dirinya di pantulan cermin dengan senyuman yang tercipta di bibir ranumnya.
Dress berwarna hitam membalut tubuhnya yang ramping dan sangat pas dia kenakan olehnya sekarang. Aniya mengambil lipstik di meja dan memoles bibirnya agar terlihat lebih fresh dan menambah kecantikan. Meski umurnya sudah 35 tahun ia masih tetap terlihat cantik bahkan mengalahkan kecantikan Zana.
Kini, Aniya berjalan keluar dari kamar dengan dress berwarna hitam yang ia kenakan sekarang. Paha putih nan mulusnya terpampang jelas , karna panjang dress itu di atas lutut.

Mata wanita itu menelisik setiap jengkal ruangan yang tampak kosong. Sepertinya Umma dan Abah tidak ada di rumah. Aniya langsung keluar dari rumah dengan penampilannya yang terbuka untuk menuju ke rumah Hanu.
Terlalu mencintai dan terobsesi beda tipis, namun bedanya Aniya seperti dibuat tergila-gila dengan Hanu. Dia tidak pernah membiarkan wanita lain bisa memiliki Hanu seutuhnya kecuali hanya dirinya seorang.
Aniya terlalu larut dengan perasaannya sendiri hingga tanpa sadar itu makin membuat ia makin terluka. Tidak ada kata ikhlas bagi Aniya bila sudah soal percintaan.
"Ini bukannya si Aniya anaknya Umma Sarah? " ujar Dewi memperhatikan Aniya yang baru saja berpapasan.
"Iya, astaghfirullah. Kenapa sampai memakai baju terbuka seperti itu? Bukannya Aniya selalu berpakaian tertutup, "ujar Nina yang tak menyangka.
" Iya. Itu kenapa Umma sama Abah membiarkan Aniya seperti itu. Apa mungkin karna di poligami Hanu maka,'nya jadi seperti itu, "celetuk Dewi yang masih memperhatikan Aniya yang sudah menghilang dari pandangan mereka berdua.
🍄🍄🍄🍄🍄
Hanu memasukkan beberapa koper ke dalam bagasi mobil di bantu oleh Ujang. Hari ini Hanu dan Zana akan pergi ke kota dan menetap di sana. Walau terasa berat meninggalkan desa ini yang memiliki banyak kenangan di dalamnya. Tapi, ini demi kebaikan dirinya dan Aniya agar tidak menganggu rumah tangganya dengan Zana. Hanu takut Aniya akan melakukan hal nekat pada Zana yang tengah mengandung.
Hanu yang tengah mengatur letak koper di bagasi mobil, tersentak ketika sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Pria itu tersenyum, dia bisa menebak pasti ini Zana. Sedangkan Ujang memalingkan wajahnya , seolah menjaga pandangannya agar tidak melihat ke arah seseorang yang tengah memeluk Hanu.
" Sayang, kenapa? Kamu butuh sesuatu_____"
Ucapan Hanu terjeda kala berbalik ke arah seseorang yang ia kira istrinya.Aniya tersenyum dan langsung memeluk Hanu dengan erat.
__ADS_1
"Kamu apa-apaan Aniya? Kenapa memakai pakaian seperti ini, " ujar Hanu yang melepaskan pelukan Aniya, paksa. Terlihat jelas sorot kemarahan di mata Hanu.
Pria itu melihat sekitar, ada beberapa orang yang menatap ke arah mantan istrinya, apalagi pakaian Aniya benar-benar terbuka. Tidak pikir panjang Hanu langsung membawa Aniya masuk ke dalam rumah , menarik pergelangan tangannya.
Hanu menatap tajam Aniya, "Maksud kamu apa memakai baju terbuka seperti ini dan datang ke rumah ku, Aniya. Apa kamu tidak malu menjadi tontonan orang-orang termasuk para pria di luaran sana. Jaga rasa malu kamu itu, Aniya, " papar Hanu tegas namun ada kemarahan dibaliknya.
"Memangnya kenapa? Aku berpakaian tertutup karna kamu, Mas. Sekarang kita sudah bercerai lalu, untuk siapa aku menjaga kehormatan diriku. Aku akan tetap seperti ini mengumbar aurat ku pada pria lain , kecuali kamu mau rujuk dengan aku. Aku hancur tanpa kamu, Mas Hanu, " Aniya kembali memeluk Hanu, menangis meluapkan segala keluh-kesah dalam hatinya yang benar-benar sudah terluka.
"Mas Hanu! "
Suara teriakan Zana yang berdiri di ambang pintu kamar, membuat Hanu menoleh ke arah sang istri yang sudah menatap nyalang dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Zana berjalan ke arah Aniya dan mendorong paksa wanita tersebut hingga pelukannya terlepas.
"Jaga batasan, Mbak Aniya! Mas Hanu suami aku dan Mbak Aniya tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Mas Hanu, " sarkas Zana penuh penekanan, menatap marah pada Aniya yang membalas tatapannya lebih sinis penuh kebencian.
"Kamu lupa Zana, kalau aku istri pertama Mas Hanu, walau kami sudah bercerai aku tetap wanita pertama yang mendapatkan Mas Hanu. Kamu hanya istri kedua yang beruntung bisa menjadi wanita satu-satunya dalam kehidupan Mas Hanu setelah aku tersingkir, tapi ingat baik-baik aku akan merebut Mas Hanu kepelukan aku dan menyingkirkan kamu layaknya seperti sampah, " papar Aniya penuh kemenangan melihat terdiaman Zana yang bergulir menatap sekitar.
Plakk
"Sudah Zana, kamu sedang hamil, sayang, " ujar Hanu memeluk Zana , mengusap punggung istrinya agar lebih tenang dan amarahnya meredam.
"Kamu mulai berani, Zana! " ujar Aniya sembari memegangi pipinya yang terasa perih.
"Iya,aku tidak pernah takut dengan Mbak Aniya. Dulu, aku diam saat Umma dan Mbak Aniya menampar dan menyakiti aku, aku menghormati kalian karna Mas Hanu tapi sekarang tidak!" Zana menatap Aniya dengan air mata yang berguguran, mengingat perlakuan Umma maupun Aniya padanya dulu.
Sudah cukup dia mendapatkan perlakuan buruk dari Aniya yang selalu menindas dirinya. Bagaimana pun ada saatnya ia melawan dan membalas perlakuan Aniya. Dia bukan gadis berhati malaikat yang hanya diam saat di tindas.
Napas Aniya memburu, emosi dan amarah yang memuncak setelah mendapatkan tamparan dari Zana. Harga dirinya seperti di injak-injak oleh Zana.
"Sudah, jangan marah-marah, kamu sedang hamil. Mas takut kandungan kamu kontraksi lagi, " ujar Hanu.
__ADS_1
"Mas kenapa diam saja saat di memeluk, Mbak Aniya. Seharusnya Mas lepaskan pelukannya , " omel Zana pada Hanu yang cemburu.
Aniya mengepalkan tangannya kuat, hingga kuku, 'nya memutih. Tangannya sudah siap akan membalas tamparan Zana tapi di tangkis oleh Hanu dan mendorong Aniya yang mundur beberapa langkah.
"Jaga sikap kamu, Aniya. Sedikit saja kamu menyentuh Zana, aku bisa melaporkan kamu ke polisi, " gertak Hanu.
Aniya tersenyum getir mendengarnya, "Kamu ingin melaporkan aku ke polisi? Silahkan, tapi biarkan aku melenyapkan dia! " Aniya menunjuk tepat di depan wajah Zana dan maju ke depan.
"Dasar wanita berhati iblis, " umpat Zana .
Hanu langsung menggendong Zana tiba-tiba, membuat gadis itu memekik kaget dan memberontak dalam gendongan suaminya. Hanu membawa masuk Zana ke dalam kamar, dia takut Aniya akan kembali menyakiti istrinya.
"Mas lepas, " Zana berusaha melepaskan dirinya dalam gendongan Hanu yang begitu mendekap tubuhnya.
Setelah meletakkan Zana di kasur Hanu langsung keluar dari kamar dan menguncinya.
"Sekarang kamu pulang, " Hanu menarik pergelangan tangan Aniya sedikit kasar.
Hanu membuka pintu mobil dan Aniya masuk ke dalam. Bukan hanya mengantar Aniya pulang tapi mengadukan kelakuan mantan istrinya itu pada Abah Husein. Agar mendidik Aniya lebih tegas lagi.
Betapa malunya Hanu menjadi buah bibir orang-orang sekitar dan itu karna Aniya. Mereka semua tidak tahu bila ia sudah bercerai dengan Aniya.
******
"Mas Hanu, bukan pintunya! " teriak Zana, menggedor-gedor pintu dari dalam kamar.Dia berusaha membuka pintu tersebut.
"Mas Hanu buka! Mas Hanu! " teriak Zana yang tak henti-hentinya namun tidak mendapatkan respon sama sekali.
Entah apa yang Mas Hanu lakukan dengan Aniya. Tapi, ia takut wanita itu merebut suaminya meski itu tidak akan mungkin. Kendati pun ,Zana tidak bisa menampik bila Aniya memiliki banyak akal bulus agar bisa mendapatkan Hanu kembali.
__ADS_1
Ujang berdiri di depan rumah Hanu untuk berjaga. Awalnya ia ingin membuka pintu kamar yang di kunci Hanu setelah mendengar teriakan Zana. Tapi, setelah di pikir lagi Ujang tidak berani membukanya takut bila itu akan membuat Hanu marah nantinya.
Bersambung...