
...Jangan lupa kasih like,komen,vote dan hadiahnya. Terima kasih....
...Sebaik-baiknya bacaan Al-Quran...
...Happy reading...
Gadis dengan pakaian gamis berwarna hitam dipadukan pashmina coklatnya yang sangat kontras. Napas Zana tersengal-sengal sembari memegangi perutnya yang sedikit nyeri dengan peluh yang membasahi wajahnya yang tampak memerah.Sinar matahari yang begitu terik membuat hawa sangat panas.
Mata Zana berbinar-binar dengan senyuman yang tercipta di wajahnya. Dengan langkah cepat gadis itu mendekati penjual es krim yang ia kejar dari rumah sampai sini. Sebenarnya di depan rumah sudah ia teriaki tapi penjual es krim itu tidak mendengar sama sekali panggilannya.
Tampak beberapa anak kecil menggerumbuni penjual es krim tersebut. Zana mengantri di belakang anak laki-laki yang menoleh kearahnya sekilas. Fokus tatapan Zana mengarah pada anak kecil yang begitu menikmati es krimnya, membuat ia menjilat bibir bawahnya karna sudah tidak sabar ingin mencicipi es krimnya.
Mungkin karna mengidam Zana nekat keluar dari rumah tanpa memperdulikan lagi larangan Hanu, entah semarah apa suaminya itu bila iaΒ pulang ke rumah.Tapi dia berharap Hanu belum pulang. Kini giliran Zana ,tapi anak perempuan mendorong dan menyerobot antrian miliknya. Karna tidak dapat menyeimbangkan badannya Zana hampir terjungkal bila seseorang tidak menahan badannya dari belakang. Gadis itu langsung menjauh dari pria yang telah menolongnya itu.
"Terima kasih, " ucap Zana menatap pria yang ada di depannya .Pria yang entah siapa namanya mengulas senyum.
"Aya, tidak boleh seperti itu, " tegur pria yang telah menolong Zana dan merupakan Ayah dari anak perempuan yang telah mendorong Zana.
"Ish, Papa. Aya mau cepat-cepat makan es krim, " gerutu Aya, tak merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Namanya juga anak kecil, " sahut Zana pada pria tersebut.
"Sekali lagi maafkan anak saya. Dia memangΒ nakal, semenjak Mamahnya meninggal dunia, " ujar pria yang seumuran Hanu itu.
"Oh, ternyata pria ini duda, " batin Zana.
*******
Hanu menyusuri jalan, mencari istrinya yang entah pergi ke mana. Sebelumnya ada yang memberitahu dirinya ,bila Zana keluar dari area komplek perumahan.
Sesekali Hanu mengusap keringat yang membasahi wajahnya. Matanya menyipit kala melihat seluit seperti Zana yang duduk di bawah pohon sembari menikmati es krim.
Dengan langkah cepat Hanu berjalan ke arah gadis tersebut. Sebelum menyebrang jalan ia melihat kanan-kiri takut ada pengendara yang lewat.
Dengan mulut yang blepotan Zana bangkit dari tempat duduknya setelah es krim yang ia makan sudah habis . Matanya mengarah pada penjual telur gulung yang ada di sebrang jalan. Matanya kembali berbinar.
__ADS_1
"Kamu mau itu ya?Ya sudah Bunda belikan untuk kamu tapi setelah itu kita pulang, " ujar Zana mengajak bicara pada anaknya yang ada dalam perut.
Baru beberapa langkah berjalan sebuah tarikan di pergelangan tangannya, membuat Zana langsung menubruk sesuatu. Perlahan ia mendongak menatap seseorang yang sudah memberikan kilatan mata yang menajam kearahnya.
Dengan susah payah Zana meneguk ludah. Rasa takut dan gugup bercampur jadi satu.
"Bagus.Mas sudah mengatakan kepada kamu agar jangan keluar rumah. Kenapa malah melanggar aturan Mas. Kalau kamu dan anak kita kenapa-napa siapa yang khawatir, " ketus Hanu dan Zana menyengir memperlihatkan deretan giginya.
"Sekarang, ayo pulang, " ujar Hanu dan Zana menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau pulang. Mau beli itu, " tunjuknya pada penjual telur gulung.
Hanu melihat kearah yang di tunjuk Zana. Ia memperhatikan lamat-lamat penjual yang berdagang di pinggir jalan, apalagi banyak pengendara yang lewat tidak menampik bila telur yang sudah di goreng dan di letaknya di ruang terbuka pasti terkena debu.
"Jangan.Nanti kamu sakit perut. Tidak boleh beli jajan gorengan di pinggir jalan, " tolak Hanu sembari menarik tangan Zana.
"Aku mau makan itu!Ini anak Mas yang minta bukan aku. Nanti anak kita ileran kalau tidak di turuti kemauannya! " ujar Zana ngotot untuk tetap membeli jajanan favorit anak SD itu.
Hanu menggelengkan kepalanya, "Jangan, Zana. Nanti Mas buatin telur gulung untuk kamu di rumah. Sekarang kita pulang, " ujar Hanu, menghentikan taksi yang lewat.
"Tapi aku tetap mau yang itu, "
"Lepasin, aku mau telur gulung,Mas Hanu! " teriak Zana berusaha turun dari gendong Hanu. Banyak pasang mata yang mengarah pada keduanya, beberapa orang berbisik. Mengira bila Hanu dan Zana bertengkar.
Pria itu memasukkan Zana ke dalam taksi lalu baru dirinya yang masuk.
πππππ
Aniya mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Ia berniat menyusul Hanu, berjuang agar kembali bersatu dengan mantan suaminya itu. Bukankah cinta butuh pengorbanan untuk hal itu?
Umma yang masuk ke dalam kamar tampak kaget melihat Aniya memasukkan pakaian ke dalam koper. Lantas, wanita paruh baya itu mendekati putrinya.
"Kamu mau kemana, Aniya? Kenapa kamu berkemas? " tanya Umma Sarah, dan Aniya menoleh.
"Aku mau menyusul Mas Hanu ke kota. Aku ingin kembali dengan Mas Hanu, Umma. Tidak masalah aku jadi istri keduanya, " ujar Aniya tersenyum kecil, seolah apa yang ia harapkan terjadi.
__ADS_1
Umma menggelengkan kepalanya kuat. Menarik kedua tangan Aniya, menatap lekat mata putrinya itu.
"Kamu jangan merendahkan diri kamu untuk Hanu, Aniya. Yang ada Hanu makin merendahkan kamu sebagai seorang wanita. Di dunia ini Pria bukan hanya ada Hanu saja tapi banyak.Jangan terus mengharapkan dia.Umma sakit hati melihat kamu terlalu terobsesi pada Hanu," papar Umma Sarah dengan mata yang berair .
"Aku tidak terobsesi dengan Mas Hanu, Umma! Aku benar-benar mencintainya melebihi diri ku sendiri. Tolong izinkan aku ke kota. Apa Umma tidak ingin melihat aku bahagia? " Aniya bersimpuh di depan Umma Sarah dengan kedua tangan yang menyatu.
"Kalau kamu benar-benar mencintai Hanu. Ikhlaskan Dia. Karna tingkat tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan dia bersama yang lain, " ujar Umma Sarah.
"Tapi aku tidak bisa. Aku bukan orang yang seperti itu, Umma. Aku sangat mencintainya dan harus memilikinya kembali, " bantah Aniya tegas.
"Sudah, Aniya. Umma harus apa supaya kamu tidak mengejar Hanu terus menerus. Kasihani diri kamu, jangan buat hati kamu semakin terluka dengan pengharapan yang berlebihan, " Umma Sarah menangis melihat sikap Aniya.
Umma Sarah memeluk Aniya, mengusap kepala putrinya dengan lembut. Sementara, Aniya tidak bisa menahan tangisnya, ia sangat mencintai Hanu ia ingin bersama kembali. Mengulas kebersamaan mereka berdua dulu.
"Aku mau Mas Hanu, Umma hiks..... "
πππππ
Dengan mata yang memerah setelah lama menangis. Zana memakan telur gulung buatan Hanu. Walau rasanya enak tapi sensasinya tetap beda bila membeli di pedagangnya langsung.
Ia menoleh melihat kearah Hanu yang tengah berbincang dengan petugas yang akan memasang CCTV di rumah mereka.Bila seperti ini pergerakannya akan terus di awasi meski suaminya tidak ada di rumah.
"Bagaimana?enak? " tanya Hanu yang mendekati Zana.
"Enak, tapi lebih enak lagi bila membeli di pedagangnya langsung, "jawab Zana dengan bibir yang mengerucut.
" Nanti kamu sakit perut kalau makan gorengan dan jajanan di pinggir jalan, "nasehat Hanu.
" Mas Hanu jahat. Mas sama saja menuduh pedagang itu yang tidak- tidak. Dulu waktu SD sama SMP aku sering beli jajanan di pinggir jalan, tapi tidak sakit perut. Wlek. "sarkas Zana sambil memeletkan lidahnya pada suaminya.
" Tapi sekarang beda. Kamu tinggal sama Mas dan sedang mengandung anak Mas jadi harus nurut. Selama sama Mas kamu harus makan yang sehat dan juga higienis. Setelah makan mandi ya, "
Cup
Hanu mengecup bibir ranum Zana dan beranjak ke ruang tamu melihat petugas yang tengah memasang CCTV di ruang tamu.
__ADS_1
Bersambung...
CissπΈ dulu yang ngira Zana di culik.