KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Kejujuran


__ADS_3

...Sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Quran....


...Happy reading...


"Aku minta maaf,Mas .tapi aku mohon kita rujuk ya, Mas. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku janji tidak akan menyakiti Zana lagi dan anak dalam kandungannya, " lirih Aniya begitu memohon, tidak peduli dengan semua kesalahan yang telah dia perbuat pada Zana.


Hanu menggelengkan kepalanya pelan, membuat Aniya makin mengeratkan genggaman tangannya pada mantan suaminya itu dengan isak tangis yang makin menjadi-jadi.


"Maaf Aniya, aku tidak bisa kembali kepada kamu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu . Aku tidak mencintai kamu selama kita menjalani pernikahan. Semua perhatian dan kasih sayang yang aku berikan adalah tugasku sebagai suami untuk menyenangkan kamu agar kamu tidak sakit hati bila tahu perasaan aku yang sebenarnya. Aku minta maaf, "


Kini, rasa sakit itu makin berlipat-lipat kala mendengar sebuah fakta yang membuat Aniya tidak bisa berucap apa-apa lagi. Lidahnya seakan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun tapi____Dadanya seperti dihantam batu yang begitu besar berkali-kali. Hanya air mata yang terus mengalir menggambarkan betapa hancurnya Aniya sekarang .


Hanu menundukkan kepalanya tak tega melihat Aniya yang begitu syok dengan pernyataan yang ia lontarkan. Abah Husein tidak kalah terkejut lagi, bagaimana bisa Hanu berpura-pura mencintai Aniya selama ini. Ada rasa bersalah yang membuncah di benak Abah, karna Hanu menikahi Aniya atas permintaan dirinya dan Umma Sarah.


Zana menatap suaminya dengan ekpresi tidak menyangka. Dia pikir Mas Hanu mencintai Aniya dan sebaliknya.


"Mungkin ucapan ku sangat menyakiti kamu, Aniya. Tapi itulah kebenarannya, " tambah Hanu kembali menatap Aniya yang membalas pandangan matanya.


"Kalau kamu tidak mencintai aku , berarti kamu juga tidak mencintai Zana, 'kan? " ujar Aniya. Setidaknya adil bila dirinya tidak dicintai Hanu maka Zana juga tidak mendapatkan cinta mantan suaminya, agar rasa sakit dihatinya tidak menjadi-jadi. Aniya lebih rela Hanu tidak dimiliki wanita manapun terutama Zana.


Hanu menghela napas berat, menatap sekilas Zana yang berdiri dibelakangnya. Seolah menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya terutama Aniya yang sudah tidak sabaran, terlihat jelas dari raut wajah wanita tersebut yang terbingkai jelas. Umma Sarah lebih memilih melihat ke arah lain tidak tega melihat Aniya dengan keadaan yang seperti sekarang.


"Aku mencintai Zana. Rasa cinta itu tiba-tiba muncul dan mengalir begitu saja tanpa aku sadari, " jawab Hanu jujur. Sebuah senyuman kecil muncul di bibir ranum Zana. Sebuah gejolak kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan dari ekpresi wajah maupun hati.

__ADS_1


Kilatan kemarahan dari balik mata Aniya di tujukan pada Zana yang langsung memudarkan senyumannya.


"Ini tidak adil! Kenapa kamu tidak bisa mencintai aku? Padahal kita sudah bersama selama bertahun-tahun , sedangkan Zana hanya beberapa bulan! " sarkas Aniya yang sungguh tidak terima dengan pernyataan Hanu benar-benar tidak adil. Rasa bencinya pada Zana makin besar.


"Aku tidak tahu, Aniya. Aku juga sudah berusaha untuk mencintai kamu tapi tidak bisa, aku sudah menganggap kamu seperti keluarga ku sendiri karna kita sudah bersama semenjak kedua orang tuaku meninggal. Aku menganggap kamu seperti adikku sendiri tapi karna Abah dan Umma meminta untuk menikahi kamu, aku terpaksa menyetujuinya sebagai balas budi. Ternyata keputusan ku menerima pernikahan itu akan berakhir seperti ini, " ujar Hanu begitu lirih.


Lagi-lagi rasa sakit hati yang luar biasa kembali menghantam Aniya. Kenapa semuanya harus berakhir seperti ini, seolah semesta tengah mempermainkan dirinya begitu teganya. Perasaan ini langsung hancur lebur bersama dengan luka yang tertoreh begitu dalam dihatinya.


"Umma, Abah. Aku pamit pulang, " ujar Hanu yang sudah tidak nyaman dengan kondisi seperti ini.


Pria itu mencium tangan Abah Husein, tapi Umma Sarah tak mau menjulurkan tangannya pada Hanu seolah tidak sudi. Pria itu hanya tersenyum tipis dan pergi dari hadapan keduanya yang menatap Hanu dengan pandangan yang berbeda-beda. Sementara Aniya masih mematung meresapi semua yang kenyataan yang langsung menghancurkan perasaan dan hatinya.


"Ayo kita pulang, " Hanu menarik pergelangan tangan Zana, segera membawa istrinya pergi sebelum Aniya melakukan sesuatu yang membahayakan Zana.


*******


"Di tahan sakitnya ya, " ujar Hanu dan Zana menganggukkan kepalanya patuh.


Sebenarnya Hanu sudah bisa menebak bila yang menampar Zana adalah Umma Sarah. Satu-satunya orang yang begitu membenci istrinya. Awalnya Hanu ingin menegur atau menasehati Umma Sarah tapi, saat itu waktu yang tidak tepat. Dimana Umma Sarah sudah begitu marah padanya karna persidangan tadi dan pingsannya Aniya , bisa sajakan Umma Sarah makin terpancing lagi emosinya bila Hanu menegur perbuatan tidak terpuji yang dilakukan mantan mertuanya tersebut terhadap Zana.


Pasti orang-orang menganggap dia suaminya yang bodoh karna diam saja saat istrinya ditampar dan sakiti oleh orang-orang yang secara terang-terangan tidak menyukai Zana tapi itu semua ada alasannya. Karna Hanu tahu betul sifat Umma Sarah yang semakin menjadi-jadi bila di tegur meski ucapan kita benar.


"Sudah selesai, " ujar Hanu tersenyum pada Zana yang tersenyum tipis.

__ADS_1


"Mas janji, ini terakhir kalinya kamu disakiti oleh Umma dan Aniya. Setelah semua urusan selesai kita akan pergi ke kota dan menetap di sana untuk membuka lembaran baru tanpa ada yang mengganggu keluarga kecil kita nanti, " ujar Hanu memeluk Zana dari samping yang tengah duduk di sisi brankar.


Gadis itu membalas pelukan Hanu lebih erat. Walau ada sedikit rasa bersalah pada Aniya.


Hanu mencium pelipis Zana sekilas dan kembali memeluk gadisnya , merasakan kehangatan yang menjalar pada keduanya dengan perasaan penuh cinta.


Zana menengadah kepalanya memperhatikan wajah Hanu yang tampak begitu letih dan hembusan napas gusar.


🍄🍄🍄🍄🍄


Aniya menangis meraung-raung dengan sakit hati yang ia rasakan sekarang. Wanita itu memukul-mukul dadanya yang begitu sesak dengan semua kenyataan yang harus dia terima kasih. Entah berapa banyak air mata yang terus menetes menangisi kehancuran dirinya dan harus kehilangan sosok pria yang sangat ia cintai melebihi apapun. Kenapa Tuhan tidak adil padanya, kenapa orang yang paling dia cintai menjadi sumber luka terbesarnya.


Seseorang mengatakan sebuah akhir cerita akan selalu berakhir bahagia tapi____Kenapa akhir dari cerita percintaan dan kehidupannya berakhir luka dan kesedihan berkepanjangan.


Umma Sarah memeluk Aniya, mengusap bahu putrinya dengan sangat lembut. Mencoba memberikan ketenangan dan kekuatan pada Aniya yang benar-benar butuh seseorang untuk bisa memahami dan menyembuhkan luka dihatinya.


"Sudah aniya. Jangan tangisi pria seperti Hanu yang tidak pantas untuk kamu tangisi. Air mata kamu terlalu berharga menangisi pria kurang ajar dan brengsek seperti Hanu, " ujar Umma Sarah tampak emosi ketika menyebut nama Hanu.


"Tidak, Umma. Aku tidak bisa tanpa Mas Hanu.Aku butuh dia hiks.... Mas Hanu!! " jerit Aniya yang masih di peluk Umma Sarah, sedangkan Abah Husein memanggil dokter agar memberikan obat penenang pada Aniya yang tidak berhenti mengamuk dan menangis.


Bersambung...


Tandai bila typo.

__ADS_1


Jangan lupa di like, komen, vote dan kasih hadiah.


Terima kasih


__ADS_2