
"Aniya, " panggil Hanu yang tengah duduk bersandar di ranjang, memperhatikan istrinya yang tengah sibuk berhias di depan cermin.
"Iya, Mas. Ada apa? " Sahut Aniya yang tengah menyisir rambutnya. Ia menoleh pada Hanu.
"Sini, sayang. Aku ingin berbicara dengan mu, " ujar Hanu menepuk-nepuk kasur di sebelahnya. Aniya tersenyum, menganggukkan kepalanya. Wanita itu meletakan sisir di meja dan mendekati Hanu dengan rambut yang tergerai indah dengan baju tidur yang melekat di badannya yang membentuk lekuk tubuhnya.
Aniya merangkak menaiki ranjang. Ia mendekati Hanu, duduk menghadap pada sang suami yang memberikan usapan lembut di kepalanya. Rasanya sangat nyaman dan hatinya selalu menghangat ketika mendapatkan usapan lembut dari Hanu.
"Kamu bisa jujur dengan aku, sayang. Kamu tahukan, aku sangat marah bila kamu atau pun Zana menyembunyikan sesuatu termasuk berbohong, " ujar Hanu dengan nada yang terdengar begitu lembut, tapi bagi Aniya itu ucapan yang sangat menakutkan bagi dirinya. Ia sangat ingat betul , bila Hanu sudah bertanya seperti itu berarti suaminya sudah tahu penyebab Umma pingsan dan ucapannya tadi sore adalah sebuah kebohongan.
"Jadi____" Hanu sengaja menjeda ucapannya. Tangannya masih setia mengusap kepala Aniya dan terkadang menyisir rambut panjang istrinya dengan jari-jarinya.
"Maafin aku, Mas. " Ucap Aniya , tertunduk takut dengan air mata yang perlahan menetes dari kelopak matanya.
"Kenapa minta maaf ?" Tanya Hanu seolah pura-pura tidak tahu apa yang istrinya telah perbuat.
Aniya memilin ujung bajunya. Ia perlahan menatap netra hitam pekat Hanu yang terus memberikan tatapan pada dirinya,seolah menunggu ke lanjutan ucapannya.
"A-aku bohong. Sebenarnya aku mengadu kepada Umma karna kamu marah-marah dengan ku karna lebih membela Zana. A-aku cemburu dan marah karna kamu lebih perhatian dengan Zana. Dan juga Umma langsung mendatangi Zana, untuk memberikan peringatan, " ujar Aniya.
Hanu menghela nafas berat mendengar pernyataan sang istri."Aniya, aku bukannya marah tapi kecewa dengan kamu yang tanpa berpikir panjang menyuruh aku menceraikan Zana. Pernikahan bukan sebuah permainan atau hal semacamnya yang bisa di putuskan begitu saja. Kamu tahu? Menikah tidak boleh di lakukan secara sembarangan karena menikah adalah bentuk ibadah terpanjang dan selayaknya di jaga hingga maut memisahkan. Jadi jangan buat aku menjadi pria yang tidak bertanggung jawab dan egois karna hanya ingin membahagiakan kamu yang menginginkan aku menceraikan Zana."tutur Hanu tegas.
"Maafkan aku, Mas. Aku salah, aku begitu cemburu hingga menyuruh kamu melakukan sesuatu yang di benci Allah. Aku minta maaf ,Mas, " Aniya menangis tersedu-sedu mengenggam tangan besar Hanu yang menatap sendu pada istri pertamanya.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis. Yang terpenting kamu jangan mengulanginya lagi ya. Aku sudah memaafkan kamu, " ujar Hanu menghapus air mata yang membasahi pipi Aniya.
"Sini peluk dulu. " Hanu merentang kedua tangannya. Aniya langsung memeluk sang suami yang mengecup keningnya begitu mesra.
Tangan wanita itu mengusap-ngusap dada bidang Hanu. Aniya perlahan membuka satu kancing baju atas suaminya yang menatap sendu pada dirinya.
"Mas__" Aniya mengigit bibirnya kelu,ragu mengucapkan apa yang ia inginkan sekarang, "Mas, kita sudah lama tidak melakukannya. Aku sangat merindukan hal itu , " ucap Aniya dengan pipi yang bersemu merah.
"Merindukan apa? " Tanya Hanu seraya mengecup bibir ranum Aniya yang makin tersipu malu.
Hanu kembali mencium bibir Aniya dan mencium bibir istri dengan lembut . Ia juga sudah lama tidak menggauli istrinya. Aniya membalas ciuman Hanu dan menekan tengkuk suaminya agar memperdalam ciuman mereka berdua. Tangan besar itu melepaskan kancing baju tidur Aniya tanpa melepaskan tautan bibir mereka berdua yang sudah sangat terbakar gairah masing-masing dan menginginkan ke tahap berikutnya.
*****
Gadis itu bangkit dari kasur. Ia berjalan kearah pintu keluar kamar untuk mencari makanan di dapur. Zana menatap sekitar luar kamar yang remang-remang cahaya. Apa mungkin Hanu dan Aniya sudah tidur? Zana berjalan kearah dapur dengan langkah pelan, ia takut menyenggol barang ataupun benda yang ada di rumah ini.
Clek...
Zana menyalahkan skaler lampu dapur. Pertama yang ia tuju untuk mencari makanan adalah kulkas . Gadis itu membuka kulkas, yang menampakan isi dalam kulkas tersebut dan lebih banyak sayur , buah-buahan dan makanan siap saji yang tersedia dalam kulkas tersebut . Tapi mata Zana langsung tertuju pada satu butir telur dan mie instan yang, entah siapa yang meletakan dalam kulkas.
"Sepertinya enak, malam-malam makan mie berkuah pakai cabe yang banyak dan telur setengah matang, " gumam Zana yang langsung mengambil ketiga bahan itu.
Ia menanggar panci yang sudah di isi air di atas kompor dan menyalahkan kompor tersebut. Zana juga meletakkan teplon di atas kompor sekalian menceplok telur mata sapi setengah matang. Setelah beberapa menit berkutat di dapur, akhirnya mie kuah pedas dengan telur mata sapi sudah jadi.
__ADS_1
"Emm__Sumpah enak banget, " Zana menyeruput kuah mie tersebut.
Gadis itu meniup-niup mienya sebelum masuk ke dalam mulutnya. Ia mengibas-ngibaskan tangan di depan mulutnya karna kepanasan dan kepedasan.
"Pedas banget, tapi bikin nagih, " ucap Zana kembali memakan mienya. Matanya sekitaran ruang makan tersebut. Ia baru sadar bila rumah Hanu cukup besar, beda dengan rumahnya yang sangat kecil dan terlihat seperti gubuk.
"Kenapa makan mie? " Suara bariton yang terdengar serak, membuat Zana langsung menoleh ke samping. Hanu menatap ke arah mangkok mie yang sudah tinggal sedikit.
Pria itu menarik kursi dan duduk di sana, memperhatikan Zana yang kembali memakan mienya tidak memperdulikan pertanyaan tadi.
"Kenapa malah makan mie? Padahal di tudung saji ada ayam goreng sama telur dadar, " ujar Hanu membuka tudung saji.
Zana menoleh menatap Hanu yang meletakan ayam goreng di dalam mangkoknya.
"Makan ayam goreng dan telur dadarnya, supaya cepat kenyang dan mubazir kalau tidak memakan yang masih tersisa, " ujar Hanu. Pria itu bangkit dari kursi . Ia masuk ke dalam mengambil sesuatu.
Tidak berapa lama Hanu kembali dengan membawa satu piring. Ia mengambil nasi di pemanas di dekat meja dan kembali duduk di kursi.
"Belum makan? " Sebuah pertanyaan terlontar dari bibir Zana.
Hanu yang hendak menyuapkan makanan ke mulutnya tersenyum, "Saya sudah makan tadi, tapi lapar lagi, " jawab Hanu tersenyum.
Zana memperhatikan penampilan Hanu yang terlihat berantakan dan rambut yang kusut, acak-acakan. Dan aroma tubuh pria ini agak aneh, tidak seperti biasanya. Bau keringat dan bercampur bau yang tidak bisa ia sebutkan.
__ADS_1
Bersambung...