KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Bonus part


__ADS_3

...***Jangan salahkan aku karna mencintai mu.Tapi salahkan cinta ini yang harus bertanam di hati ku untuk mu...


...Sumpah serapah seseorang akan masuk dan Tuhan mengabulkannya.Meski dia orang jahat sekalipun***. ...


Aezar Affandra Hafiz berjalan dengan derap langkah tegap dan tegas melewati koridor kantor.Pandangan matanya lurus ke depan dengan sorot yang tajam.Alis mata tebal, hidung bangir ,netra biru kecoklatan dan bibir tipis sangat menggoda para wanita untuk mencicipinya.Aura dinginnya begitu mendominasi hingga orang-orang di sekitar bisa merasakannya. Meski begitu, tidak memudarkan para wanita untuk mendekati pria tersebut. Walau tahu status Fandra sudah beristri.


Fandra atau Aezar merupakan seorang asisten presdir di perusahaan yang cukup ternama di negri ini. Sudah hampir 10 tahun ia bergelut dalam pekerjaan tersebut.


Pria berusia 35 tahun itu sudah berstatus menikah dan sekarang usia pernikahannya sudah tujuh tahun. Namun sayang, Tuhan belum memberikan ia anak. Walaupun begitu, tidak ada niatan bagi Fandra untuk menikah lagi atau bahkan menduakan sang istri tercinta.


Fandra sangat mencintai istrinya, Anesia.


Baru saja Fandra akan masuk ke ruangannya, sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Dan Fandra tahu siapa pelakunya.Dengan cepat ia berbalik badan. Memberikan tatapan yang lebih tajam dan aura dingin yang menguar dalam dirinya lebih kuat.


"Fandra, aku merindukan mu,"dengan suara yang manja Khalisa mengucapkannya.Dia kembali memeluk Fandra, menenggelamkan dirinya di dada kokoh yang selalu memberikan kenyamanan dan ketenangan.


" Jaga batasan mu, "desis Fandra. Melepaskan dengan kasar tangan Khalisa yang melingkar di tubuhnya.


" Aku sangat merindukan mu, Fandra. Apa salah aku memeluk mu?Sudah satu minggu kita tidak bertemu,"ujarnya dengan tatapan polos bak anak kecil.


Fandra memalingkan wajahnya, berdecih sinis.Dia benar-benar muak dengan gadis yang selalu menganggu ketenangan hidupnya.Semenjak pertemuannya dengan Khalisa, gadis ini selalu mengganggu dirinya.


"Serindu apapun kau dengan saya... " Fandra mendekatkan wajahnya pada Khalisa,hingga gadis itu bisa merasakan hembusan napas Fandra. "Saya tidak peduli."


Setelah mengucapkan itu. Fandra segera masuk ke ruangannya. Meninggalkan Khalisa yang diam mematung di tempatnya.Menatap pintu ruangan Fandra yang sudah tertutup rapat.


"Aku yakin. Suatu hari nanti kamu akan mencintai ku... " lirih Khalisa.


******


"Daddy... "


Dengan senyuman merekah lebar Khalisa masuk ke ruangan pria paruh baya yang merupakan pimpinan dari perusahaan tersebut.Gadis itu langsung menghempaskan dirinya di sofa.


"Apa kuliah mu sudah selesai hingga pulang secepatnya ini?"tanya Cio yang fokus pada berkas-berkas di tangannya.


"Apa Deddy lupa?Aku tadi masuk kuliah pagi jadi pulangnya cepat, " jawab Khalisa.


"Deddy, aku boleh minta sesuatu? " tanya Khalisa yang sudah berdiri di samping Cio.


"Memangnya kamu mau meminta apa?" tanya Cio yang kini menatap ke arah putri kesayangannya itu.


Dengan senyuman mengembang Khalisa mendekatkan wajahnya di telinga Cio dan berbisik-bisik.Khalisa menjauhkan wajahnya setelah menyebutkan sesuatu yang dia minta.


"Bagaimana?Boleh tidak Deddy?" tanya Khalisa penuh pengharapan.


Cio menganggukkan kepalanya."Boleh.Tapi jangan terlalu lama, "peringat Cio sembari menelpon seseorang.


" Ke ruangan saya sekarang,"setelah mengucapkan itu Cio langsung mematikan sambungan telpon.


Tidak lama seseorang masuk ke dalam ruangan presdir, setelah mengetuk pintu sebelumnya.


Fandra melangkahkan kakinya mendekati meja kebesaran Cio. Ekor matanya melirik Khalisa yang tersenyum ke arahnya.


" Ada yang bisa saya bantu,Tuan? "tanya Fandra sopan.


" Tolong temani Khalisa untuk berbelanja di mall. Dia ingin di temani oleh mu,"ujar Cio.


Fandra tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya. Khalisa segera mengambil tasnya yang tergeletak di sofa. Dia kembali mendekati Cio, dan memberikan kecupan di pipi sang Deddy.


" Aku pergi dulu Deddy,"ujarnya.


Khalisa segera melingkarkan tangannya pada lengan Fandra yang sudah memberikan lirikkan tak suka dengan perbuatan gadis tersebut.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan." ujar Fandra dan Cio menganggukkan kepalanya.


*****


"Tolong lepaskan tangan mu dari lengan saya," ujar Fandra datar.Ketika sudah keluar dari ruangan Cio.


Bukannya melepaskan, Khalisa makin mengeratkan lingkaran tangannya di lengan Fandra.


"Tidak mau. Aku ingin seperti ini terus, Fandra." ujarnya dengan manja. Fandra mendengus kasar.

__ADS_1


Keduanya berjalan berdampingan menuju lobby dengan Khalisa yang begitu lengket pada Fandra.Entah sejak kapan gadis ini menaruh ketertarikan pada asisten deddy, nya.Beberapa bahkan hampir semua karyawan kantor memperhatikan keduanya yang berjalan beriringan. Sudah menjadi rahasia kantor bila Khalisa tertarik pada Fandra yang merupakan seorang asisten presdir.


Fandra membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Khalisa. Namun, gadis itu memilih duduk di kursi depan.


"Fandra, Ayo! " teriak Khalisa dengan suara yang melengking.


Fandra segera masuk ke dalam mobil. Memasang seatbelt di tubuhnya.


"Fandra, tolong. Aku tidak bisa memasang benda ini di tubuhku," ujar Khalisa dengan bibir mengerucut.


Fandra menghela napas pelan.Dia meraih seatbelt di samping Khalisa dan memasangnya.Khalisa, gadis itu menghirup dalam aroma khas dari badan Fandra yang menguar.Posisi mereka yang begitu dekat membuat deru napas Khalisa memburu dengan jantung yang berdegup kencang.


Setelah benda itu terpasang di tubuh Khalisa.Fandra hendak menjauhkan tubuhnya namun tatapan matanya tidak sengaja mengarah pada wajah Khalisa yang sudah sedari tadi memperhatikan dirinya.Netra gadis itu menatap pupil kecoklatan milik Fandra. Namun, sesaat kemudian pria tersebut langsung memalingkan wajahnya. Memutuskan kontak mata.


Khalisa pun menatap ke arah lain. Senyuman malu-malu terbit di bibir manisnya.Ada rasa bahagia yang membuncah saat bertatapan dengan Fandra.Meski hanya sorot mata dingin yang dia dapatkan.


"Kita ke mall yang mana?" tanya Fandra. Membuat Khalisa yang tengah tersenyum sendiri langsung menoleh.


"Eh... ki-kita ke mall dekat sini." jawab Khalisa yang salah tingkah dan Fandra langsung menjalankan mobilnya.


*****


Di perjalanan. Tepatnya dalam mobil. Kedua manusia yang sama-sama diam, tidak ada yang berniat memulai obrolan. Apalagi mengharap Fandra untuk lebih dulu memulai obrolan, jangan harap!


Khalisa melirik Fandra sembari memainkan ujung bajunya.Pipinya selalu memerah kala menatap dan mencuri lirikkan pada pria yang berhasil bertahta di hatinya.


"Sudah sampai," ujar Fandra memarkirkan mobilnya.Dia lebih dulu turun dan mengitari mobil, membuka'kan pintu untuk Khalisa.


"Terima kasih," ucapnya dan Fandra menganggukkan kepalanya samar.


Greb


Tatapan Fandra menajam, melihat tangan Khalisa melingkar manis di lengannya.


"Ayo, masuk." ajak Khalisa menarik Fandra yang sudah pasrah.


"Fandra,kamu lapar tidak? " tanya Khalisa yang melihat-lihat setiap toko pakaian yang mereka lewati.


"tidak." jawabnya singkat.


"Terserah," jawabnya lagi singkat. Membuat gadis itu mendengus kesal.


"Kenapa Fandra selalu mengatakan'tidak' dan 'terserah'? Apakah tidak ada kosa kata yang lain? " sungut Khalisa.


"Memangnya kau menginginkan saya mengucapkan apa, Nona?" tanya Fandra berusaha sabar dengan tingkah kekanak-kanakan Khalisa.


"Fandra tidak boleh mengucapkan kata itu lagi.Aku tidak suka.Jangan kaku dan bersikap dingin terhadap ku," ujarnya seperti mengatur.


"Bukan berarti, karna kamu anak dari atasan saya,kamu berhak mengatur-ngatur saya.Sikap saya memang seperti ini," ujarnya penuh penekanan.


"Memang kenapa? Kamu bawahan deddy. Jadi, harus menurut dengan ku. Apapun yang aku tidak suka kamu harus turuti! " sentaknya.


Fandra mengepalkan tangannya.Menahan geram pada gadis yang ada di depannya.Namun, suara dering telpon membuat atensi Fandra teralihkan termasuk Khalisa.


Pria tersebut mengeluarkan ponsel di balik jas hitamnya.Senyuman tersungging di bibirnya ketika tahu siapa yang menelponnya.


Khalisa mendekatkan dirinya pada Fandra. Penasaran ingin melihat nama penelpon.Pria tersebut langsung menjauhkan ponselnya dari Khalisa yang baru dia sadari mulai ikut campur dengan hal privasinya.


"Hallo, sayang." ujar Fandra dengan nada lembut pada sang penelpon. Khalisa mendelikkan matanya dengan bibir yang mencibir.


"..... "


"Mungkin sore aku baru pulang. Kamu tunggu saja, sayang. "ujar Fandra dengan sudut mata melirik Khalisa.


"...... "


"I love you."


Fandra mematikan sambungan telpon dari sang istri tercintanya tanpa menyadari orang di sebelahnya terbakar api cemburu.


"Sikap saya memang seperti itu," cibir Khalisa mengulang ucapan yang di katakan Fandra beberapa menit lalu.


"Dasar bohong!Itu Fandra bisa berkata lembut tanpa ada kesan nada datarnya saat berbicara di telpon! " sungut Khalisa yang masih tersisa rasa cemburu yang membara.

__ADS_1


Alis pria tersebut terangkat menatap Khalisa yang merengut.


"Ini istri saya. Jadi, wajar saya bersikap lembut dengan dia," tukas Fandra.


"Ya sudah, jadikan aku istri kedua mu,"ucap Khalisa tidak tahu malu.


Fandra menatap Khalisa datar dan langsung melangkahkan kakinya, meninggalkan gadis tersebut yang meneriaki dirinya,namun tidak di hiraukan.


🌸🌸🌸🌸🌸


Kini, mereka berdua tengah menikmati makan siang di restoran. Fandra hanya memesan coffe. Sementara Khalisa memesan beraneka jenis menu makanan.Gadis itu akan bertambah nafsu makannya bila suasana hatinya buruk.


"Kapan Fandra bisa mencintai, aku? Aku tidak masalah di jadikan istri kedua, asalkan Fandra bisa adil," pertanyaan bodoh itu keluar dari bibir mungil Khalisa.


Bila wanita lain tidak ingin di madu. Maka Khalisa,gadis aneh yang menawarkan diri sebagai istri kedua.


"Apakah tidak ada pembahasan lain?" tanya balik Fandra semakin datar.


"Tidak ada!Sampai kapanpun, aku akan terus membahas ini. Sampai Fandra menjadikan aku istri kedua."


Fandra menatap ke arah lain,berdecak kesal dengan gadis tersebut yang sayangnya anak dari atasannya.


"Kamu itu masih muda.Masih banyak pria lain di luaran sana.Dan tentunya lebih tampan dan sempataran dengan umur kamu. Kamu hanya mengagumi saya, bukan mencintai saya.Kalaupun kamu mencintai saya, maka itu hanya cinta monyet," ujar Fandra tegas.


Khalisa mengeraskan rahangnya dengan tangan terkepal kuat.


"Mau setampan dan sekaya apapun pria lain bahkan raja Dubai sekali pun melamar ku...aku akan tetap memilih Fandra.Jangan tanyakan alasan kenapa aku mencintai Fandra! " sentaknya lebih tegas.


Fandra melirik Khalisa yang tampak mengatur napasnya yang tersengal dan tampang wajahnya yang memerah karna marah.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Suara deru mesin mobil mengisi keheningan di dalam mobil yang terdapat dua orang yang sama-sama diam.Fandra fokus menyetir, sedangkan Khalisa sibuk memainkan ponselnya namun lebih banyak mencuri-curi pandang dengan orang yang ada di sebelahnya.


"Langsung ke kantor atau pulang?" tanya Fandra tanpa menatap Khalisa.


"Langsung pulang ke apartemen." jawabnya.


Kini, mobil tersebut sudah memasuki area apartemen.Mobil itu berhenti tepat di depan lobby apartemen yang terlihat sepi hanya ada satu satpam yang berjaga.


"Sudah sampai," ucap Fandra.


Khalisa terdiam sejenak dengan kening berkerut seolah tengah berfikir. Hingga ide gila muncul di otaknya.


"Fandra yakin tidak berniat menjadikan aku istri kedua?" tanya Khalisa dengan nada sensual.


Jemari lentiknya meraba-raba dada bidang Fandra yang keras di balik jas hitam.Pria itu menahan nafasnya merasakan gelenyar aneh.


"Singkirkan tangan mu itu!"


Fandra menepis kasar tangan Khalisa di dada,nya. Namun, gadis itu kembali meraba-raba dada Fandra dan beralih memainkan dasi Fandra.


"Fandra tidak akan rugi menikahi aku.Aku akan menjadi istri yang manis dan penurut.Asalkan Fandra bisa adil. Lagi pula istri mu tidak bisa memberikan Fandra anak," ucapnya tanpa sadar, itu menyulut emosi Fandra.


"Stop, Khalisa!" bentak Fandra membuat Khalisa kaget.Apalagi mendapatkan bentakkan dari Fandra untuk pertama kali.


"Jangan pernah membawa-bawa istri saya dalam ucapan omong kosong mu itu.Apalagi sampai mengucapkan kalimat yang tak pantas kau lontarkan untuk istri saya!" ucapnya tegas dengan intonasi yang meninggi.


Aura menyeramkan terlihat jelas dari wajah Fandra.Seolah ucapan Khalisa adalah kalimat terkutuk yang pantang untuk di ucapkan bagi pria dewasa itu.


Kini, badan Khalisa terkurung di antara kungkungan kedua tangan kekar Fandra. Jarak keduanya yang terkikis hingga Khalisa bisa merasakan hembusan napas Fandra yang menerpa wajahnya.Jiwa agresifnya menghilang seketika, tergantikan dengan rasa takut yang teramat.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


"Tumben pulangnya terlambat," ujar Anesia yang baru saja membukakan pintu untuk Fandra, suaminya.


"Maaf, sayang. Banyak pekerjaan di kantor," ujar Fandra seraya mengecup bibir ranum Anesia.


"Pasti Mas sangat kelelahan. Aku siapkan air hangat dulu untuk Mas mandi," ujar Anesia yang di angguki Fandra.


Setelah kepergian Anesia. Fandra menjatuhkan tubuhnya di sofa. Melepaskan dasi yang melingkar di lehernya.


****

__ADS_1


Badan Khalisa masih gemetaran,mengingat kejadian di dalam mobil.Dia tidak pernah ketakutan seperti ini.Fandra memang tidak banyak bicara atau banyak tingkah. Tapi sekali marah membuat dirinya ketar-ketir.


"Bisa gila aku.Bagaimana bisa membuat Fandra tergoda dengan ku. Bila dengan jarak yang sangat dekat saja dengan Fandra membuat ku ketakutan," gumamnya yang duduk di sisi kasur.


__ADS_2