KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Kelahiran


__ADS_3

...Sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Quran...


...Happy reading...


Zana, gadis itu terus menangis dan merintih kesakitan pada perutnya yang begitu keram dan nyeri. Buliran keringat membasahi wajahnya yang terlihat pucat menahan sakit.


Ketuban Zana sudah pecah, merembes membasahi kakinya.Sudah waktunya gadis itu untuk melahirkan anak pertamanya.


Hanu mengendarai mobilnya dengan cepat. Melesat begitu laju membelah jalanan yang lengang tak ada pengandara karna waktu masih pukul 03: 00 pagi.


"Sabar sayang. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit, " ujar Hanu menoleh sekilas ke arah Zana yang terus meringis kesakitan sembari memegangi perutnya.


Mobil itu akhirnya sudah sampai di depan rumah sakit. Hanu bergegas turun dari mobil. Ia membuka pintu mobil dan menggendong Zana sekuat tenaga karna badan istrinya cukup berat.


"Suster tolong! Istri mau melahirkan!! " teriak Hanu berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


Dua suster yang tengah berjaga ship malam, langsung berjalan mendekati Hanu.


"Silahkan istrinya di bawa ke ruang persalinan, " ujar suster tersebut menggiring Hanu yang mengikuti dari belakang menuju ruang bersalin.


Sedangkan satu suster yang tadi menelpon dokter kandungan untuk segera ke rumah sakit.


"Mas Hanu sakit.... " adu Zana dengan suara pelan dan bergetar merasakan sakit di perutnya yang makin menjadi-jadi. Mata yang membengkak  dan memerah, air mata yang sudah mengering dengan wajah pucatnya.


"Iya, sayang. Kamu harus kuat ya. "


Hanu membaringkan Zana di brankar dengan pelan. Tangannya tidak lepas menggengam tangan mungil Zana yang begitu dingin dan berkeringat.


Suster menyiapkan alat dan barang untuk persalinan di ruangan tersebut.


"Mas aku takut hiks.... Nanti kalau aku mati bagaimana... " lirih Zana di sertai tangis.


"Istigfar, sayang. Jangan bicara seperti itu, berdo'a semoga semuanya di lancarkan. Kamu jangan berpikiran negatif," ujar Hanu yang sudah berkaca-kaca.


Hanu tidak bisa membayangkan bila Zana meninggalkan dirinya. Ia tidak akan sanggup menjalani kehidupan ini tanpa istrinya. Ia berdoa semoga semuanya di lancarkan Allah, dan istrinya melahirkan buah cinta mereka dengan selamat.


Hanu memeluk Zana yang terbaring di brankar. Pria itu mengusap peluh yang sudah membasahi hijab istrinya. Dokter kandungan belum datang juga, membuat Hanu was-was dengan keadaan istrinya.


"S-sakit, Mas Hanu. Aku sudah tidak kuat hiks... "rintih Zana blingsatan.

__ADS_1


"Sabar sayang, kamu harus kuat ya. Sebentar lagi dokternya datang, " ujar Hanu sembari mengecup kening Zana.


Hanu berusaha mungkin menahan tangisnya, melihat keadaan Zana. Ia tidak tega, tapi ada rasa bahagia terselip di hatinya. Untuk pertama kalinya melihat bagaimana perjuangan yang tidak mudah bagi seorang ibu yang akan melahirkan anaknya.


Tidak lama seorang dokter wanita masuk ke dalam ruang tersebut di ikuti oleh suster.


"Ketubannya sudah pecah? " tanya dokter tersebut pada Hanu.


"Iya, dokter. Tolong cepat untuk melakukan persalinannya, istri saya begitu tersakitan, " ujar Hanu.


"Suster lepas celana pasien dan siapkan kain, " titah dokter tersebut pada suster.


Dengan cepat suster menutupi tubuh Zana sebatas pinggang dengan kain dan melepaskan celana yang sudah penuh dengan lendir dan darah pertanda akan bersalin. Zana tidak henti-hentinya menangis merintih kesakitan dengan rasa sakit yang makim menjadi-jadi yang luar biasa.


"Ibu tarik napas dalam-dalam setelah itu buang, " intruksi dokter tersebut mengangk*ngkan kedua kaki Zana di balik kain.


Zana berpegangan dengan kuat di tangan Hanu yang selalu melafalkan do'a dan shalawat di dekat telinga Zana.


"Arrgg... Sakit hiks... Aku tidak kuat, " keluh Zana menggelengkan kepalanya,menyerah dengan keadaan yang begitu menyiksanya.


"Yang kuat Bu. Sebentar lagi bayinya keluar, " ujar dokter tersebut memasukkan tangan pada vag*na Zana memeriksa sampai mana letak bayi yang ternyata sudah mulai terdorong keluar.


"Aarrg.. " Zana melengkungkan badannya ke depan, mengejan dengan kuat, tangannya mencengkram pergelangan Hanu sangat kuat hingga menimbulkan bekas di pergelangan pria tersebut.


"Ayo Bu, sedikit lagi, " ujar dokter tersebut. Darah begitu banyak membanjiri brankar hingga menetes ke lantai.


Zana mengejan dengan kuat, hingga tangisan nyaring seorang bayi laki-laki yang menggema memenuhi ruang tersebut. Bayi dengan kulit putih bersih itu dengan darah yang masih melekat di badannya yang terlihat gemuk. Hanu tidak bisa membendung tangisnya melihat darah dagingnya sudah terlahir. Ia bersujud syukur di lantai.


Lain halnya dengan Zana yang sudah kehabisan tenaga dan pandangan matanya mulai meredup.


Suster membersihkan bayi tersebut dan membedongnya.


"Ini, Pak bayinya, " suster tersebut menyerahkan bayi laki-laki tersebut pada Hanu yang begitu bergetar menggendong mahluk kecil tersebut dengan perasaan campur aduk.



Bayi laki-laki itu membuka matanya. Memperlihatkan lensa matanya yang berwarna biru ke coklatan. Anak Hanu mewarisi mata biru kecoklatan milik sang kakek buyutnya yang sudah lama meninggal dunia.


Bayi yang sangat tampan dengan bibir tipis seperti Zana dan wajahnya mirip Hanu. Setelah penantian panjang, akhirnya pria tersebut memiliki anak dari darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


"Suster cepat bawa brankar yang baru dan siapkan kantong darah! " sarkas dokter dengan nada perintah.


Hanu yang tersadar dengan keadaan sekitarnya langsung menatap ke arah Zana yang sudah menutup matanya.


"Dokter istri saya kenapa? " tanya Hanu panik.


"Istri anda mengalami pendarahan .Pasien kehilangan darah begitu banyak  dan harus mendapatkan donor darah. Ini kondisi yang sangat bahaya bila pasien yang baru melahirkan pingsan bisa mengancam nyawanya, " papar dokter tersebut.


"Tolong Dok, selamatkan istri saya, " mohon Hanu. Ia mendekati Zana yang sudah di hiasi wajah pucat.


"Sayang bertahanlah, jangan tinggalkan, Mas. Kamu harus bisa melewati ini semua. Lihat sekarang kamu sudah berhasil melahirkan anak kita, sayang, " Hanu tidak bisa membendung air matanya, ia menyentuh wajah Zana yang terasa dingin.


"Jangan tinggalkan Mas, sayang. "


"Maaf Pak, tolong minggir. Kami akan membawa istri Bapak ke ruang UGD, " ujar suster tersebut.


Dua suster membawa Zana keluar dari ruang bersalin.


"Pak, bayinya harus di masukkan ke inkubator, " ujar dokter.


Hanu menyerahkan anaknya ke dokter tersebut.


🍄🍄🍄🍄🍄


Seorang wanita terbaring lemah di kasur dengan badan yang sangat kurus wajah yang tampak pucat.


Aniya masih setia menutup matanya. Wanita itu sakit parah setelah beberapa minggu lalu Hanu menolak dirinya untuk kembali rujuk. Aniya selalu menolak untuk makan, yang ia minta hanya Hanu, seolah pria itu adalah obat penawarnya.


"Kami jangan penyiksa diri kamu seperti ini, Aniya. Sadar, Nak. Umma sakit melihat kamu seperti ini... "


Umma Sarah duduk sisi kasur. Ia baru saja menyelesaikan sholat tahajjud, memohon agar sakit putrinya di angkat dan sakit hati beserta cinta Aniya di hilangkan untuk Hanu.


Entah kenapa Aniya begitu sangat mencintai Hanu.


"Apa kita telpon Hanu saja, Umma? Mungkin Aniya akan sembuh dan mau makan , " usul Abah Husein yang baru masuk kamar.


"Tidak usah, Abah. Itu malah memperkeruh keadaan dan akan membuat Aniya makin berharap pada Hanu. " jawab Umma Sarah dan Abah terdiam menatap sendu ke arah Aniya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2