KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Cincin


__ADS_3

Zana langsung menjauhkan dirinya dari Hanu. Ia menundukan kepalanya dengan pipi yang bersemu merah dan rasa gugup yang menjalar di hatinya. Dengan jantung yang berdegup kencang.


"Kenapa? " Tanya Hanu, melihat Zana yang menggeser tubuhnya menjauh. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat namun tidak berani menatap mata sang suami. Ia masih syok ketika Hanu untuk pertama kali mencium dirinya.


Hanu meraih tangan Zana dan mengenggam tangan sang istri yang sudah berkeringat dingin, membuat pria itu mengernyit bingung.


"Tangan kamu kenapa keringatan? Sakit? " Tanya Hanu yang di balas gelengan oleh oleh Zana tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Tidak, Mas. A-aku malu, " cicit Zana dengan pelan, namun masih bisa di dengar Hanu.


"Kamu malu kenapa, sayang? " Tanya Hanu yang belum paham maksud sang istri. Zana menunjuk sudut bibirnya dengan telunjuk, tepat dimana Hanu menciumnya .


Pria itu malah tersenyum lebar. Ternyata istri kecilnya tersipu malu. Tangan besar Hanu merengkuh pinggang Zana dan menarik tubuh gadis tersebut agar merapat padanya dan itu membuat wajah Zana makin memanas,jantungnya juga makin berdegup begitu menggila.


"Berarti itu ciuman pertama kamu? " Tanya Hanu dengan jarak begitu dekat dengan wajah Zana yang menganggukan kepalanya pelan. Hanu tersenyum lebar dengan pancaran kebahagiaan yang terlibat jelas dari raut wajahnya. Ada rasa bahagia di hatinya, itu berarti Zana sangat menjaga dirinya. Padahal zaman sekarang anak muda sering melakukan hubungan pacaran, sebagai komitmen.


"Berarti saya laki-laki pertama untuk kamu? " Hanu kembali melontarkan pertanyaan yang selalu di balas anggukan oleh Zana.


Tangan besar pria tersebut mengusap lembut pipi Zana dengan sangat lembut.


"Saya pikir kamu pernah pacaran, karna pakaian kamu yang selalu terbuka, mengikuti pakaian zaman sekarang, " ujar Hanu. Ucapan sang suami begitu menohok bagi Zana. Sebenarnya pakaian yang ia pakai merupakanΒ  bentuk kekecewaannya pada kedua orang tuanya. Ia juga tidak pernah di didik cara berpakaian yang baik dan sopan. Tapi perlahan ia memakai pakaian yang tertutup setelah Hanu memintanya.


Gadis itu langsung melingkarkan tangan di tubuh Hanu. Kepalanya ia sandarkan di dada kokoh sang suami.


"Tapi sekarang aku tidak ingin memakai pakaian yang terbuka lagi. Karna aku sadar keindahan tubuh ku hanya mas Hanu yang boleh melihatnya, " ujar Zana. Hanu tersenyum sambil mengusap kepala gadis tersebut.


"Mas, cuma milik aku'kan? " Entah mengapa ia tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti itu pada Hanu.


Hanu terdiam sejenak mendengar pertanyaan Zana, dan sedetik kemudian menganggukan kepalanya.


"Saya cuma milik kamu seorang ,Zana." Jawab Hanu yang masih setia memeluk Zana yang tersenyum malu-malu__Tapi perlahan senyuman itu luntur. Mengingat dirinya hanya istri kedua dan Hanu bukan miliknya seutuhnya karna Hanu juga milik Aniya. Bolehlah ia egois? Ia ingin menjadi wanita satu-satunya di kehidupan Hanu dan hanya namanya yang ada di hati sang suami.Tapi semua tidak mungkin terjadi.

__ADS_1


"Wajah kamu kenapa sedih seperti itu, hmm? " Tanya Hanu, melihat sorot mata Zana yang memperlihatkan kesedihan.


Gadis itu memainkan kacing baju atas, mendongak menatap Hanu.


"Tapi kamu bukan milik aku seutuhnya, ada mbak Aniya, " jawab Zana dengan lesu.


"Kalau kita lagi berduaan, saya hanya milik kamu seutuhnya. Jangan memikirkan sesuatu yang membuat kamu sedih termasuk Aniya , saat kita sedang berduaan seperti ini, " ujar Hanu. Zana menganggukan kepalanya dan tersenyum manis pada suaminya tersebut.


🍁🍁🍁🍁🍁


Aniya membalik badannya di kasur ke kanan dan terkadang ke kiri. Ia benar-benar tidak bisa tidur. Bagaimana ia bisa tidur dengan tenang bila ia terus memikirkan Hanu dan Zana.Aniya bangun dari tidurannya, ia menyandarkan punggung di bahu ranjang. Tangannya meraih ponsel yang sudah retak layarnya, tapi masih bisa untuk di gunakan.


Wanita itu mencari kontak seseorang di ponsel. Ia menempelkan benda pipi itu di telinganya. Aniya memberengut kesal, karna sambungan ponselnya tidak di angkat.


"Pasti mereka berdua sedang bersenang-senang, " celetuk Aniya. Ia meletakan ponsel tersebut dengan kasar ke tempatnya.


Wanita itu bangkit dari kasur dan berjalan keluar dari kamar. Aniya hendak ke dapur untuk minum, tenggorokan terasa kering dan juga haus.


"Kamu mau kemana? " Tanya Abah sekedar basa-basi. Aniya menghela napas lelah .


"Aku mau ke dapur, mau minum, haus, " jawab Aniya. Abah menganggukan kepalanya, seraya tersenyum.


"Duduk dulu di sini, Abah ingin bicara, " ujar Abah, menepuk-nepuk karpet yang ada di sebelahnya.


"Abah, mau bicara apa sama Aniya? " Tanya Anita the poin.


Tangan Abah terulur mengusap kepala Aniya dengan lembut, yang duduk di sebelahnya.


"Abah minta kamu untuk merubah sikap kekanak-kanakan, kamu. Jangan seperti anak remaja yang sedikit-sedikit cemburu. Kamu sudah dewasa Aniya, dan harus pintar mengendalikan perasaan kamu sendiri. Kamu yang meminta Hanu untuk berpoligami ,berarti kamu sudah siap menerima konsekuensi itu semua." Tutur Abah, Aniya memalingkan wajahnya. Hati tersentil mendengar ucapan Abah.


"Sebenarnya Abah sedih dan kecewa mendengar Hanu telah menikah lagi. Tapi Abah sadar bahwa semua yang telah terjadi merupakan takdir dan juga kamu sudah mengizinkan Hanu untuk menikah lagi. Abah hanya berdoa, semoga pernikahan putri Abah berakhir bahagia.Dan semoga Zana cepat hamil ya agar rumah ini semakin ramai. " Ujar Abah tersenyum lembut.

__ADS_1


Aniya merasakan sesak mendengar ucapan terakhir Abah. Ada rasa tidak terima bila Zana hamil. Aniya takut bila Hanu semakin lengket dengan Zana, apalagi suaminya itu sangat menginginkan seorang anak, meski Hanu tidak pernah mengatakan soal itu. Ia sering melihat suaminya yang tengah menatap foto seorang bayi di galeri ponsel. Itu berarti Hanu ingin sekali memiliki anak.


Entah kenapa ia harus di berikan penyakit seperti ini. Andai ia bisa hamil pasti rumah tangganya dengan Hanu sangat bahagia dan tidak akan ada pernikahan suaminya dengan gadis lain.


🍁🍁🍁🍁🍁


Zana terus menatap sekitar dengan pandangan kagum. Ia tidak henti-hentinya melihat ke atas menatap mall yang bertingkat-tingkat. Hanu terus mengenggam tangan sang istri erat . Ia takut sang istri tiba-tiba menghilang , apalagi mall sangat padat di hari minggu seperti ini.


"Mas, ini kita di mana? Tempatnya bagus, seperti istana, " ujar Zana seperti orang udik yang baru pertama kali ke mall.


Hanu tertawa mendengar ucapan Zana yang begitu polos. "Ini, namanya mall. Kita ke sini untuk membeli baju untuk kamu, " ujar Hanu.


Pria itu membawa sang istri ke toko perhiasan. Saat menikahi Zana ia tidak menyempatkan cincin di jari manis sang istri.


"Mbak saya mau melihat cincin yang itu, " Tunjuk Hanu pada sebuah cincin berlian.


Zana melihat-melihat cincin yang sangat bagus. Ia tersentak kaget saat Hanu menarik tangannya dan menyematkan cincin berlian di jari manisnya.


"Bagaimana, pas di jari kamu? " Tanya Hanu. Zana menatap cincin yang ada di jari manisnya dan memegangi cincin tersebut.


"Bagus, mas, pas juga di jari aku. Tapi ini mahal, " ujar Zana, melihat harga di cincin tersebut.


"Tidak pa-pa asal kamu suka dan pas di jari kamu. Atau mau cincin yang lain? " Ujar Hanu. Zana menggelengkan kepalanya, menolak.


"Mbak saya minta cincin seperti itu lagi satu," ujar Hanu menunjuk cincin yang di pakai Zana.


"Memangnya mas mau pakai cincin seperti aku juga ? " Tanya Zana polos. Hanu tertawa, ia mengusap kepala Zana yang tertutup hijab.


"Cincin ini saya belikan untuk, Aniya. Supaya adil.Kalau kamu saya belikan cincin, Aniya juga saya belikan juga." Tutur Hanu. Zana hanya ber"oh"saja.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2