KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Berkunjung


__ADS_3

...Maaf ya baru update. Tunggu like tembus 400 like😊baru update lagi....


...Sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Quran...


...Happy reading...


Kini, Hanu mulai mengendarai mobilnya. Zana menatap keluar jendela mobil, sesekali tangannya mengusap perutnya yang kian membesar di balik baju.


Zana tersentak kala Hanu menggenggam tangannya. Ia menoleh menatap suaminya yang membalas tatapannya sekilas dan kembali menatap ke depan.


"Mas yakin untuk pergi ke sana? " tanya Zana yang tampak khawatir.


"Memangnya kenapa, sayang? Mas sudah lama tidak melihat peternakan kita di desa. Dan ini waktu yang tepat karna sedang libur kerja beberapa hari, " jawab Hanu dan Zana menghela napas pelan.


"Kamu jangan takut apalagi khawatir. Mas, tahu kamu takut bila Aniya macam-macam, tapi selama ada Mas kamu aman, " ujar Hanu tersenyum lembut menyakinkan sang istri.


Zana menganggukkan kepalanya pelan dengan bibir yang mengerucut.


Mobil Avanza itu berhenti di depan restoran. Hanu ingin mengajak Zana untuk makan terlebih dahulu. Pasti istrinya lapar apalagi dengan keadaan mengandung seperti ini.


Hanu menggenggam tangan Zana setelah keluar dari mobil. Gadis itu menatap kagum pada restoran bergaya Italia tersebut. Ini pertama kalinya Hanu membawa ia ke tempat mewah seperti ini.


"Mas, pasti makanan di sini mahal? Lebih baik kita makan di tempat lain, " bujuk zana sembari pandang matanya mengedar melihat sekitar. Pengunjung restoran di sini kebanyakan kalangan orang kaya terlihat dari penampilan mereka.


Beberapa pasang mata melihat ke arah Zana. Gadis itu menelusupkan dirinya dalam pelukan Hanu. Seolah paham, Hanu membawa Zana ke meja yang paling ujung, istrinya tampak tak nyaman di perhatikan beberapa orang.


Hanu mendudukkan Zana di kursi. Ia pun duduk di sebelah sang istri sembari mengambil buku menu dan mencari-cari makanan untuk Zana dan dirinya.


Setelah makanan di pesan Hanu menarik tangan Zana dan menggenggamnya, memberikan usapan lembut di punggung tangan Zana.


"Mas sengaja mengajak kamu ke restoran ini. Sesekali membawa kamu makan di restoran yang mahal, Mas terkadang bila mengadakan pertemuan dengan klien biasanya di sini. Rasanya tidak adil Mas tidak mengajak kamu ke sini juga, " ujar Hanu tersenyum hangat.


"Kamu sangat penting bagi Mas, sayang. Mas ingin membuat kamu selalu bahagia dan terus mengukir senyum, " ujar Hanu jujur.


Zana tidak bisa berkata-kata lagi. Semburat bahagia dalam hatinya tidak bisa ia sembunyikan. Kupu-kupu seolah beterbangan mengelilingi atas kepalanya.

__ADS_1


"Apa aku sangat penting bagi Mas Hanu? " tanya nya.


"Tentu, kamu sangat penting bagi Mas. Apapun Mas lakukan demi kebahagiaan kamu, " jawab Hanu dan Zana tersenyum malu mendengarnya.


Tidak berapa lama, makanan yang mereka pesan sudah datang. Pelayan meletakkan beberapa makanan di meja dan dua minuman. Kening Zana mengernyit melihat begitu banyak makanan yang di pesan suaminya.


Hanu memotong-motong daging BBQ yang ia pesan untuk Zana. Tangannya terulur menyuapi istrinya yang segera menerima suapan darinya.


"Enak? " tanya Hanu yang di angguki Zana.


"Aku makan sendiri, " Zana mengambil alih piring daging BBQ tersebut dari Zana.


Hanu mengulas senyum. Ia mengusap kepala istrinya dengan sayang. Tidak menyangka dalam hidupnya bila Zana lah yang berhasil membuat ia sejatuh-jatuhnya mencintai gadis yang dulu merupakan istri kedua dan sekarang menjadi wanita satu-satunya dalam hati nya kini.


"Mau spagetti? " tawar Hanu dan Zana melihat ke arah makanan yang sama seperti mie.


"Mau, " jawab Zana. Apapun yang di tawarkan Hanu gadis itu langsung mengiyakan.


Hanu kembali menyuapi spagetti ke dalam mulut Zana yang sudah menggembung.Ia tertawa pelan melihat Zana menyumpal mulutnya dengan daging BBQ.


Sekarang mereka berdua sudah sampai di depan rumah Aniya . Hanu sengaja ke rumah mantan istrinya tersebut untuk berkunjung. Karna tidak enak bila tidak berkunjung ke sini setelah beberapa bulan di kota. Walau ia tidak memiliki hubungan apapun dengan Aniya tapi bukan berarti silahturahmi mereka terputus. Apalagi Hanu sudah menganggap abah Husein dan Umma Sarah seperti orang tuanya.


Tok... Tok...


Suara ketukan pintu membuat Abah Husein yang tengah duduk santai di rumah tamu, segera bangkit untuk membukakan pintu.


Ceklek


Saat pintu di buka. Raut wajah Abah Husein tampak kaget, sedetik kemudian mengulas senyum melihat siapa yang datang.


"Assalamu'alaikum."


Hanu mencium punggung tangan Abah diikuti oleh Zana.


"Walaikumsalam.Ini benaran kamu, Hanu? " tanya Abah Husein yang tak percaya.

__ADS_1


"Iya, ini benaran Hanu ,Abah." jawabannya.


Abah langsung memeluk Hanu erat, ia tidak menyangka Hanu akan mengunjunginya, setelah beberapa bulan tidak bertemu lagi. Abah Husein menguraikan pelukannya pada Hanu dan beralih melihat ke arah Zana yang tersenyum tipis. Fokus pandangan Abah tertuju pada perut Zana yang sudah sangat membuncit.


"Berapa usia kandungan Zana, Hanu? " tanya Abah.


"Sembilan bulan, Bah. Jangka dua minggu Zana akan melahirkan. Mohon do'a kan semoga proses persalinan istri Hanu lancar . Ini anak yang selalu aku tunggu-tunggu kelahirannya, " ujar Hanu sembari mengusap perut buncit Zana.


"Abah selalu mendoakan untuk cucu Abah. Meski anak kamu tidak memiliki ikatan darah dengan Abah," ujar Abah.


"Ayo masuk, kita duduk. Kasihan Zana terlalu lama berdiri, " ujar Abah.


Keduanya masuk ke dalam rumah yang memiliki kenangan yang begitu besar untuk Hanu. Pria itu baru saja akan duduk sebuah panggilan dari suara yang sangat familiar memanggil namanya. Ketiganya langsung melihat ke arah Aniya yang berjalan mendekat.


Hanu memperhatikan Aniya lekat. Wanita yang pernah menjalin pernikahan dengan dirinya dulu terlihat tampak lebih tua dengan kerutan-kerutan yang begitu kentara di wajahnya.


Lain halnya dengan Aniya yang menatap Hanu dengan pandangan kagum sekaligus terpesona, melihat penampilan mantan suaminya yang jauh lebih tampan dan tampak lebih muda dari umurnya yang sudah hampir 40 tahun sama sepertinya. Pandangan mata Aniya beralih pada Zana yang terlihat sangat cantik dan kulit wajah putih bersih begitu terawat. Beda dengan dirinya , wajahnya tampak kusam.


Tanpa sadar Aniya meraba wajahnya sendiri yang tentunya kalah jauh dari Zana yang lebih cantik. Hanu begitu merawat istrinya termasuk soal kecantikan.


Aniya berjalan mendekati ketiganya. Pandangan mata Aniya saling bertubrukan dengan mata Hanu. Wanita itu menatap mantan suaminya dengan pandangan kerinduan, sedangkan Hanu dengan pandangan yang tidak menyiratkan perasaan apapun.


"Hmm.... Aniya buatkan minuman untuk Hanu dan Zana, " pinta Abah dan mengangguk samar. Sekilas Aniya melihat ke arah perut Zana yang sudah sangat besar.


"Mas, jangan lama-lama di sini nya, " bisik Zana. Ia benar-benar tidak tenang berlama-lama di sini, apalagi ada Aniya.


"Tunggu sebentar lagi, sayang. Tidak enak bila langsung pergi saja, kita baru sampai, " bisik Hanu. Zana menghela napas berat.


*******


Aniya yang tengah membuat teh, mengeluarkan sebuah obat serbuk dari kantongnya dan memasukkan ke cangkir teh yang sudah ia beri tanda sebelumnya. Ia menatap sekitar yang tampak sepi. Umma Sarah tidak ada di rumah karna sedang pergi ke acara walimah.


Senyuman seringai muncul di wajah Aniya. Ia segera membawa nampan berisi teh itu ke ruang tamu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2