
...Jangan lupa tinggalkan jejak ya! ^^...
...~Happy reading~...
Aniya berjalan mendekati Umma Sarah yang masih bersitegang dengan Abah Husein. Langkah kakinya begitu berat dengan air mata yang tidak berhenti menetes.
"Umma, aku anak Abah,'kan? " tanya Aniya lirih penuh kekecewaan dan luka di hatinya.
Umma menoleh menatap Aniya.Ia memeluk putrinya dengan air mata yang tidak bisa terbendung, sama halnya dengan Aniya, Umma Sarah juga hancur dan sakit hati mengingat masa lalunya yang sudah tertutup rapat, kini terungkit kembali.
Umma Sarah menguraikan pelukkan, mengusap wajah Aniya penuh dengan air mata. Abah menatap ke duanya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kamu bukan anak Abah, Aniya. Umma di usir dan di talak oleh Ayah kamu saat hamil. Dan itu karna ke hadiran wanita penghancur itu hiks...... Umma tidak mau kamu merasakan seperti yang Umma alami, " ujar Umma Sarah. Begitu jelas terpancar ke bencian dari sorot mata umma Sarah ketika mengingat wanita muda yang sudah menghancurkan rumah tangganya dengan suami pertamanya dulu.
"Sudah Umma!Jangan mengungkit-ungkit masa lalu. Tidak semua istri ke dua menjadi penghancur rumah tangga suaminya dengan istri pertama," tegur Abah Husein yang benar-benar tidak suka dengan ucapan Umma Sarah yang menyamakan Zana dengan wanita di masa lalu.
Umma Sarah menatap ke arah Abah dengan mata yang melotot. "Abah lebih baik diam!Abah tidak tahu rasanya di posisi aku.Dan Abah harus ingat, aku lebih tahu yang terbaik dan buruknya untuk Aniya. Dan Abah harus buka mata lebar-lebar, Zana itu gadis yang tidak baik, dia sama saja dengan wanita di masa lalu aku, yang akan membuat Hanu mengceraikan Aniya, Abah!"sentak Umma Sarah.
"Istigfar,Umma." ujar Abah Husein langsung memeluk istrinya, meredam emosi umma Sarah yang menguasai dirinya.Membuat umma Sarah tidak bisa perpikir jernih.
Sementara Aniya entah pergi ke mana. Wanita itu pergi dari rumah dengan keadaan hati yang benar-benar kacau.
__ADS_1
******
Suara ketukan pintu yang cukup keras, membuat Hanu yang tengah mengupas buah apel untuk Zana di dapur terhenti. Pria itu mencuci tangannya , setelah itu berjalan cepat bergegas membuka pintu luar.
Saat pintu di buka, Aniya langsung berhambur ke pelukan Hanu. Memeluk erat suaminya dengan di iringi isak tangis yang terdengar sesegukan.
"Sayang, kamu kenapa? "tanya Hanu khawatir bercampur panik melihat Aniya yang tiba-tiba datang ke rumah dengan keadaan seperti ini. Aniya menyembunyikan wajahnya di dada kokoh Hanu tanpa ingin menjawab pertanyaan suaminya.
Hanu langsung membawa Aniya untuk duduk di sofa. Pria itu melepaskan pelukan Aniya, menangkup wajah istrinya.
"Kamu kenapa, sayang? Tiba-tiba datang sudah menangis seperti ini?Siapa yang sudah berani membuat kamu menangis seperti ini?" ujar Hanu dengan wajah yang terlihat marah.
Aniya hanya menggelengkan kepalanya. Hanya tangisan yang keluar dari bibir merahnya.
Tidak berapa lama, Hanu kembali dengan membawa segelas air putih. Ia memberikannya pada Aniya. Wanita itu langsung meminum air tersebut, Hanu mengusap punggung Aniya lembut seolah itu akan memberikan ke tenangan pada sang istri.
"Sekarang, coba ceritakan penyebab kamu menangis? " ujar Hanu lembut.
Karna wanita harus di perlakukan dengan sangat lembut , contohnya dari ucapan di saat hatinya hancur dan kekecewaan yang di rasakan. Wanita butuh seseorang yang bisa memahaminya dan peran suami sangat penting bagi seorang istri. Suami bukan hanya tempat mencurahkan cinta dan bermanja tapi tempat berkeluh kesah dengan masalah yang di hadapi. Dan suami menjadi obat penenang bagi istri.
"Aku bukan anak kandung Abah, tapi anak dari suami pertama Umma, Mas hiks...."ujarnya kembali menangis. Hanu memeluk Aniya,mendekap dengan erat.
__ADS_1
" Sudah , jangan menangis seperti ini, sayang. Walau Abah bukan Ayah kandung kamu, tapi dia memperlakukan kamu seperti putri kandungnya sendiri. Jangan karna masalah ini hubungan kamu dengan Abah merenggang, "tutur Hanu.
Aniya terdiam,tidak merepon ucapan suaminya. Ia masih setia memeluk Hanu yang membuat hatinya perlahan tenang, emosinya yang menggebu-gebu kini perlahan mulai mereda. Dia beruntung mendapatkan suami seperti Hanu yang begitu sayang dan memahami dirinya, jadi jangan heran bila dia begitu takut ke hilangan sosok suami seperti Hanu.
" Sekarang, lebih baik kamu istirahat dulu di sini. Tenangkan pikiran kamu, "ujar Hanu. Aniya menganggukkan kepalanya.
Hanu membawa Aniya ke kamar kosong yang ada di samping kamar Zana. Mereka berdua masuk ke dalam, Aniya duduk di sisi kasur dengan raut sedih yang masih terbingkai di wajahnya.
" Mas,"panggil Aniya, membuat Hanu yang mengambil sarung bantal di dalam lemari, menoleh ke arah sang istri.
" Ada apa, sayang? "tanya Hanu berjalan mendekati Aniya yang mendongak menatap suaminya. Wanita itu meraih ke dua tangan Hanu, menggengamnya.
" Kamu janji jangan tinggalkan aku atau menceraikan aku ya,Mas."ujar Aniya dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Astaghfirullah, Aniya. Jangan berbicara seperti itu atau bahkan berpikir aku akan meninggalkan kamu . Sampai kapan pun aku akan tetap bersama kamu dan akan selalu jadi suami kamu, " ujar Hanu meyakinkan. Aniya tersenyum.Dia merentangkan ke dua tangannya pada Hanu.
"Peluk aku, Mas." manjanya . Hanu tertawa , ia langsung memeluk Aniya dan mencium pelipis istrinya.
"Aku mencintai kamu, Mas, " ujarnya setengah berbisik. Hanu diam sejenak mendengar itu. Walau kenyataannya Hanu lebih mencintai Zana.
"Aku lebih mencintai kamu, sayang ku, istri ku, "jawab Hanu dengan rasa bersalah pada Aniya karna membohongi perasaannya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan seseorang di balik pintu kamar membekap mulutnya menahan suara tangisnya agar tidak terdengar. Zana dari tadi memperhatikan ke duanya saat di ruang tamu. Entah mengapa semenjak hamil ia makin pencemburu,melihat Hanu dan Aniya membuat hatinya berkali-kali lipat begitu sakit dari pada sebelumnya.