
...Jangan memaksa seseorang untuk tetap bertahan, bila pada akhirnya dia akan tetap pergi jua....
...{Windanor}...
"Kamu harus ingat, Zana. Kamu bisa ada di posisi ini,itu karna aku.Kalau bukan karna aku,kamu tidak akan menjadi istri mas Hanu," ujar Aniya berjalan memgitari Zana dengan tatapan yang menusuk.
"Dan yang harus kamu ingat satu hal.Aku membeli kamu dari ibu Idah sebesar 150 juta.Bahkan ibu Idah sendiri yang meminta uang sebesar itu. Aku kira kamu adalah gadis yang tepat untuk menjadi alat penghasil anak untuk mas Hanu tapi... perkiraan ku salah kamu malah menjadi penghancur rumah tangga ku.Rasanya aku ingin tertawa dengan ke salahan yang aku buat sendiri, menjadikan kamu istri kedua mas Hanu," ujar Aniya yang berdiri di depan Zana.
Tangan gadis itu terkepal kuat.Rasa tidak terima dikatakan alat penghasil anak oleh Aniya .Benci?Ya ,Zana makin membenci Ibunya yang tega menjualnya,walau dengan Hanu dia bisa mendapatkan ke bahagiaan dan cinta tapi rasa benci itu tidak pernah hilang untuk ibunya.Kenapa sangat sulit sekali baginya untuk hidup bahagia dan tenang tanpa di ganggu oleh orang-orang yang tidak menyukainya.
"Kamu sadar atau tidak Zana.Kamu tidak lebih dari seorang pelacur diluaran sana, bedanya kamu memiliki status sebagai seorang istri. Kenapa aku mengatakan itu,karna aku harus membayar kamu agar bisa menikah dengan mas Hanu.Dan ingat baik-baik, mas Hanu menikahi kamu karna menginginkan seorang anak. Dan lihat saja nanti ,kamu akan di buang oleh mas Hanu setelah melahirkan anaknya," ujar Aniya berusaha mempengaruhi Zana.
"Tidak,mas Hanu tidak akan melakukan itu," bantah Zana menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Walau hatinya tidak sepenuhnya menyalahkan ucapan Aniya.
"Lihat saja nanti Zana.Kamu akan di campakkan seperti aku.Dan kamu yakin mas Hanu mencintai kamu? Bisa saja dia hanya pura-pura dengan perasaannya sendiri agar kamu tetap bertahan sampai anak dalam kandungan kamu lahir,"lanjut Aniya tersenyum sinis.
Zana memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit.Rasa sakit dan nyeri bersamaan menghantam perutnya. Gadis itu merintih kesakitan. Tangannya berpegangan pada pilar untuk tetap bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak tumbang.
"S-sakit..." Zana mencengkram bajunya, merintih kesakitan.
Aniya tersenyum.Dulu juga dia pernah hamil dan sangat hafal bila wanita yang sedang mengandung terkadang tidak bisa terlalu banyak pikiran apalagi tertekan karna itu berpengaruh pada kandungannya.
Perlahan tubuh Zana merosot ke lantai dengan butiran keringat yang membasahi wajahnya.Zana terus merintih kesakitan.Aniya berjongkok memperhatikan wajah Zana yang terlihat tersiksa dengan rasa sakit itu.Dan Itu sebuah kenikmatan bagi Aniya melihat Zana tersiksa seperti ini.
"Bagaimana?Sakit ya?Aduh kasihan. Semoga keguguran ya.Kalau bisa tidak bisa hamil lagi seperti aku hahaha...... " ujar Aniya di akhiri tawa yang begitu puas.
Zana menatap Aniya dengan butiran kristal yang berjatuhan dari pelupuk matanya.Dadanya bergemuruh sangat geram dengan wanita yang ada di depannya yang tidak punya hati sama sekali.
Aniya bangkit, setelah puas melihat wajah Zana yang tampak tersiksa dengan rasa sakitnya.Wanita itu langsung melenggang pergi begitu saja,meninggalkan Zana yang terduduk di lantai teras.
"Ssst...sakit." desis Zana dengan mata yang terpejam, rasanya dia akan pingsan.
"Astaghfirullah!Zana kamu kenapa? "
__ADS_1
Hanu yang baru sampai ke rumah, langsung berlari ke arah Zana yang sudah terduduk di teras. Pria itu langsung meletakkan sembarang kantong plastik berisi buah mangga yang baru ia beli .Hanu langsung mengangkat tubuh Zana yang langsung mengalungkan tangan di lehernya.
Dengan hati-hati Hanu membaringkan tubuh Zana di kasur. Tangan pria itu langsung menyingkap rok yang dipakai Zana.
"Mas mau apa?" Zana merapatkan kedua kakinya,melihat Hanu yang akan menyingkap rok miliknya.
"Mas takut bila muncul flek lagi. Coba diperiksa dulu, sayang.Lepas dulu celananya," ujar Hanu kembali menyingkap rok Zana.
Hanu menarik celana yang di kenakan Zana sebatas selutut . Dan benar saja ada flek berwarna hitam yang tampak jelas.
"Mas,hiks....Kenapa ada lagi?Aku takut keguguran,Mas." Zana tidak bisa menahan tangisnya.Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuh Zana bergetar hebat.
Hanu menutupi bagian bawah Zana sebatas pinggang dengan selimut.Pria itu meletakkan celana sang istri di keranjang pakaian kotor.Ada rasa takut dan kecewa bila sampai Zana keguguran.
"Sudah jangan menangis.Ini tidak apa-apa, sayang. Kemarin kata dokter Devi itu hal yang biasa." ujar Hanu memeluk dan mengecup kening Zana. Ia mengusap punggung gadis itu dengan lembut walau hatinya tidak bisa menyembunyikan ketakutan bila Zana sampai keguguran.
"Nanti kalau aku sampai keguguran, Mas akan meninggalkan aku?Aku tidak mau hiks...," Zana makin menjadi-jadi menangis dalam dekapan Hanu.
"Sayang, kamu tidak boleh bicara seperti itu.Siapa yang bilang Mas akan meninggalkan kamu?Jangan pernah berpikir Mas akan meninggalkan kamu, itu suatu hal yang tidak mungkin. Bagaimana bisa Mas meninggalkan seseorang yang di cintai hanya karna masalah anak, " ujar Hanu menenangkan.
Zana tidak ingin kehilangan Hanu yang merupakan sumber kebahagiaannya saat ini.
"Sst....lebih baik kamu istirahat, sayang. Jangan memikirkan hal seperti itu. Sampai kapanpun kita akan tetap bersama," ujar Hanu menyakinkan Zana, memeluk lebih erat tubuh ringkih zana.
••••
"Bagaimana Umma? Apa mas Hanu membatalkan gugatannya itu?" tanya Aniya memegangi tangan kanan umma Sarah dengan wajah penuh harap.Sedangkan yang di tanya begitu ragu menjawab pertanyaan Aniya .
"Hanu tidak ingin membatalkan gugatannya.Dia bersikeras untuk tetap menceraikan kamu.Umma sudah membujuknya dengan berbagai cara...tapi dia tetap tidak mau," ujar umma Sarah menatap iba pada nasib putrinya.
Senyuman yang terbingkai di wajah Aniya langsung memudar. Matanya berkaca-kaca,dengan rasa kecewa yang begitu mendalam dan sesak luar biasa di dadanya seolah paru-parunya di remas dengan kuat.Aniya langsung menjatuhkan tubuh kasar di sofa sembari memegangi kepalanya yang begitu pening.
Umma Sarah mengusap lengan Aniya lembut, sekiranya bisa membuat putrinya sedikit tenang.
__ADS_1
"Kenapa Umma harus gagal!Aku tidak mau cerai dari mas Hanu.Umma bisa'kan mengancam mas Hanu agar tidak menceraikan aku?" ujar Aniya yang mengacak-ngacak hijab yang di kenanya hingga beberapa helai rambut keluar dari hijabnya karna ia saat ini benar-benar frustasi.
"Umma,lebih baik kita rebut peternakan milik mas Hanu,agar dia jatuh miskin dan dengan itu mas Hanu akan memohon kepada aku dan aku tidak jadi cerai dengan mas Hanu, "ujar Aniya dengan mata yang berbinar.
Umma Sarah menggelengkan kepalanya mendengar ucapan ngawur Aniya yang tak masuk akal.
"Itu tidak mungkin,Aniya.Peternakan sapi itu milik Hanu sepenuhnya.Uang yang di gunakan Hanu untuk membangun peternakan sapi,merupakan hasil dari warisan almarhum orang tuanya Hanu," ujar umma Sarah mengingatkan.
Bahu Aniya langsung merosot turun seolah tidak memiliki harapan lagi. Bagaimana cara dirinya agar tidak berpisah dari suaminya.Kenapa tidak ada jalan keluar untuknya sama sekali.
••••
"Saya mohon pada pak Hanu agar benar-benar menjaga Zana.Kandungan istri bapak sangat rentan keguguran. Bukan hanya penyebab umur Zana yang cukup muda untuk mengandung di usianya yang sudah 18 tahun tapi karena stres ,tertekan dan itu merupakan faktor utama yang sangat berpengaruh pada kondisi janin,"jelas dokter Devi.
"Kalau bisa di kurangin untuk berhubungan badan dengan Zana. Kalau bisa seminggu dua kali.Saya hanya takut akan terjadi kontraksi bila melakukan setiap hari,"peringat dokter Devi dan itu membuat Hanu tertunduk malu walau wajahnya terlihat tenang namun ia benar-benar malu.Akhir-akhir ini ia sering menjamah istrinya.
Hanu menganggukkan kepalanya membalas ucapan dokter Devi.
" Kalau begitu saya permisi pak Hanu. Kalau terjadi apa-apa lagi dengan Zana langsung telpon saya,"ujarnya.
" Baik.Terima kasih sudah datang ke sini."ujar Hanu yang di balas senyuman tipis oleh dokter Devi.
Setelah kepergian dokter tersebut. Hanu masuk ke dalam kamar. Matanya langsung berfokus pada Zana yang tertidur lelap di kasur setelah meminum obat pereda nyeri yang diberikan oleh dokter Devi.
Hanu berjalan mendekati kasur dan duduk di sisinya.Tangannya terulur mengusap lembut pipi Zana yang tampak begitu pucat.
Cup
Satu kecupan Hanu berikan di pipi Zana.
" Kamu harus kuat.Jangan buat Bunda jadi sakit seperti ini, "ujar Hanu mengusap perut Zana lembut.
" Maafkan Mas, Zana.Karna Mas kamu harus seperti ini..."lirih Hanu,merasa bersalah dengan semua keadaan dan masalah yang harus di hadapi istrinya.
__ADS_1
Hanu mengambil ponselnya di nakas. Ia membuka rekaman CCTV yang sengaja ia pasang di teras rumah.
Tatapan Hanu menajam menonton rekaman tersebut. Rahangnya mengeras dengan tangan terkepal kuat. Pria itu bangkit dari tempat duduknya.Dia mengambil jaket di belakang pintu dan segera keluar kamar.