KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Ikhlas


__ADS_3

...Terima kasih atas like, vote dan hadiah yang kalian berikan. Itu sangat berarti bagi saya....


...Sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Quran...


...Happy reading...


Obrolan Hanu dan Abah terhenti kala Aniya datang dengan membawa nampan berisi teh. Wanita itu memberikan teh pada Abah, Hanu dan juga Zana.


"Silahkan di minum, " ujar Aniya yang duduk di sebelah Abah Husein.


Hanu mengambil cangkir teh tersebut dan meminumnya. Lain halnya dengan Zana yang tak berniat sama sekali menyentuh ataupun meminum teh yang di buatkan Aniya. Ia masih trauma pada Aniya yang dulu pernah memberikan makanan yang di masukkan obat penggugur kandung.


"Zana, ayo di minum dulu tehnya. Pasti kamu haus, " ujar Aniya membujuk agar gadis tersebut  meminum teh yang ia masukkan obat Aspirin yang merupakan pantangan bagi wanita hamil.


Obat aspirin adalah obat pereda sakit kepala, namun tidak di anjurkan untuk di konsumsi wanita hamil, karna akan berpengaruh pada janin.


Zana menggelengkan kepalanya, "Aku tidak suka minum teh, " bohong Zana, membuat Aniya mendengus pelan.


"Mas, aku mau minum air mineral botol yang kamu belikan tadi yang ada di mobil, " pinta Zana pada Hanu.


"Zana, tidak usah mengambil di mobil. Biar Aniya mengambilkan air putih di dapur, " ujar Abah.


"Iya Zana. Kamu mau air putih dingin atau biasa saja? " tanya Aniya.


Zana meremas lengan Hanu. Matanya menatap Hanu dengan pandangan yang memelas sembari menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak ingin meminum pemberian Aniya.


"Tidak usah. Biar aku mengambilkan air minum di mobil. Zana tidak bisa sembarangan minum air mineral, " ujar Hanu melirik Zana.


Abah Husein hanya menganggukkan kepalanya. Lain halnya Aniya yang menahan mati-matian amarah dan rasa  kesal'nya karna rencananya harus  gagal.


"Apa kamu mengira aku memasukkan racun ke minum ini?" ujar Aniya dengan suara pelan. Dia berpindah tempat duduk di sebelah Zana dengan jarak yang begitu dekat.


"Mau di masukkan racun ataupun tidak, aku tetap tidak ingin menerima pemberian Mbak Aniya. Cukup sekali Mbak Aniya hampir membunuh janin ku itu sudah sebuah kewaspadaan bagiku untuk tidak menerima apapun dari Mbak Aniya, " jawab Zana membalas tatapan mantan madu suaminya itu.


"Kalian sedang membicarakan apa? " tanya Abah yang memperhatikan mereka berdua.


Aniya menoleh ke arah Abah dan tersenyum. "Hanya menanyakan kabar Zana dan juga tentang anak dalam kandungan, Zana." jawab Aniya tersenyum, sembari mengusap perut buncit Zana dengan sakit hati yang begitu membengkak pada Zana.


Sungguh, Aniya begitu iri pada Zana. Seolah kebahagiaan selalu melingkupi gadis tersebut. Sedangkan dia selalu di terpa kesedihan dan sakit hati yang selalu menyiksa setiap hari dan setiap saat.


"Ada apa ini?" tanya Hanu yang baru datang dengan menenteng satu botol air mineral. Aniya langsung tersadar dari lamunannya.


Hanu memberikan air mineral tersebut pada Zana. Gadis itu langsung meminumnya. Bahkan perhatian kecil yang di berikan Hanu pada Zana membuat hati Aniya perih.

__ADS_1


"Mas, apa aku boleh bicara berdua dengan mu? " tanya Aniya. Zana langsung tersedak mendengarnya.


"Uhuk... Uhuk... "


"Pelan-pelan minumannya, sayang, " ujar Hanu mengusap punggung Zana lembut.


"Maaf, Mas. " ujar Zana. Dia menatap ke arah Aniya. Entah apa yang akan dibicarakan wanita tersebut pada suaminya.


"Mas, apa boleh? " tanya Aniya sekali lagi. Hanu terdiam sejenak tampak berpikir, sedetik kemudian ia menganggukkan kepalanya membuat Aniya mengulas senyum manis.


******


Kini, keduanya tengah berada di belakang rumah. Hanu menatap lurus ke depan sedangkan Aniya menatap ke arah Hanu, menatap lekat mantan suaminya. Memperhatikan setiap lekuk wajah Hanu dan ketampanan yang tidak pernah memudar dari awal mereka menikah hingga____Mereka berpisah.


"Mas.... Aku minta maaf atas semua kesalahan yang aku perbuat. Maaf telah membuat kamu kecewa dan marah karna masa lalu kelam ku. Aku memang wanita kotor bagi kamu... Tapi Tuhan selalu memberikan kesempatan pada Hambanya untuk memperbaiki semuanya, " ujar Aniya dan Hanu menoleh melihat ke arah Aniya yang sudah meneteskan kristal bening di pipinya.


"Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah, " sahut Hanu. Aniya mendekati pria tersebut hingga jarak mereka begitu dekat.


"Bila setiap orang memiliki kesempatan... Maka kamu juga akan memberikan aku kesempatan untuk kembali menjalin sebuah pernikahan dengan kamu, Mas. Aku ingin kita rujuk, Mas. " ujar Aniya dengan suara yang serak.


Tangan Aniya terulur menggenggam tangan Hanu begitu erat.



Hanu langsung melepaskan genggaman tangan Aniya. Wanita itu menatap kecewa.


"Aku mohon ,Aniya. Lupakan tentang hubungan kita di masa lalu. Ikhlaskan aku dan jangan terlalu berharap untuk kembali rujuk.Jalani kehidupan kita masing-masing tanpa harus mengungkit masa lalu, "tukas Hanu.


Hati Aniya begitu tertohok bercampur rasa kecewa dan sesak di dada.


"Sampai kamu memohon pun kita tidak akan kembali mengulang sebuah pernikahan. "


Hanu beranjak meninggalkan Aniya.


"Mas Hanu! Aku mencintai kamu, Mas!Aku tidak bisa tanpa kamu,ini benar-benar menyiksa!" teriak Aniya membuat langkah Hanu terhenti.


"Jangan selalu mengatas namanya cinta agar kita kembali. " Setelah mengucapkan itu Hanu benar-benar pergi dan menghilang dari pandangan Aniya yang terduduk di tanah.


*****


"Abah, aku pamit ingin pulang, " ujar Hanu yang baru datang.


Zana bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Hanu yang langsung meraih tangannya.

__ADS_1


"Ya sudah bila kalian ingin pulang. Semoga kalian sehat terus dan jangan lupa ke sini lagi. Abah tidak sabar melihat anak kalian nanti, " ujar Abah Husein dan keduanya tersenyum.


🍄🍄🍄🍄🍄


Kini, Hanu dan Zana sudah ada di peternakan. Semua anak buah Hanu berdiri berjejer menyambut kedatangan mereka berdua setelah sekian lama tidak ke sini.


"Bagaimana kondisi peternakan? " tanya Hanu yang terus menggenggam tangan Zana dan merengkuh pinggang gadis tersebut.


"Alhamdulillah baik, Pak Hanu. Dan semua sapi dalam keadaan sehat, " jawab salah satu pekerja.


Hanu menganggukkan kepalanya. Ia berjalan menuju jejeran sapi yang ada di dalam kandang. Zana merapatkan badannya dengan Hanu, ia masih saja takut dengan hewan tersebut.


"Kenapa, sayang? " tanya Hanu pada Zana yang memeluk dirinya erat.


Gadis itu mendongak menatap suaminya.


"Aku takut, " cicit Zana.


"Tidak usah takut, sayang. Mereka semua jinak-jinak termasuk Kitty, " ujar Hanu mengusap kepala sapi kesayangan itu.


"Ujang, " panggil Hanu.


Tidak berapa lama, Ujang datang mendekati keduanya.


"Si Kitty sudah melahirkan anaknya? " tanya Hanu.


"Sudah.Bulan lalu, " jawab Ujang.


"Coba kamu pegang, sayang kepalanya, " ujar Hanu menarik tangan Zana untuk menyentuh kepala Kitty.


"Tidak.Aku tidak mau, Mas. " tolak Zana menarik tangannya dari genggaman sang suami.


"Dia tidak akan menggigit kamu, " ujar Hanu.


"Aku tetap tidak mau, jangan paksa aku, " omel Zana, membuat Hanu tertawa melihat wajah marah sang istri yang tampak menggemaskan.


Cup


Hanu mencium pipi Zana, sedikit menekannya. Ia benar-benar gemas sendiri jadinya.


Para pekerja tampak tersenyum melihat keduanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2