
...Assalamu'alaikum, semuanya!^^...
...Sudah lama kita tidak berjumpa. Sebenarnya aku bingung untuk tetap melanjutkan cerita ini atau tidak.Kemaren aku promosikan ke sosmed tapi malah dapat hujatan dari beberapa orang-orangš ...
...Jadi agak ragu buat publishnya.Mungkin karna ceritanya tentang pelakorš¼...
...Menurut kalian bagaimana mana?...
... ...
...~Happy reading~...
Khalisa menghela nafas berat,mengingat kejadian satu minggu yang lalu.Yap!Selama satu minggu ia tidak menemui Fandra karna ingin memulihkan sakit hatinya yang cemburu dan bentakkan pria tersebut yang membuat nyeri dan pedih di hatinya.
"Ini es krim untuk mu," ujar Aretha menyodorkan benda dingin itu pada Khalisa.
"Thanks."
Aretha duduk di sebelah sahabatnya.Mereka berdua sekarang berada di taman kampus,tempat biasanya mereka berdua berkumpul.
"Sa,lebih baik kamu stop mengejar-ngejar si Fa-fandra ya Fandra.Dia itu sudah punya istri dan dia juga sudah berani bentak-bentak kamu.Apa masih pantas kamu mencintai dia," ujan Aretha yang sarat akan kemarahan di balik ucapannya itu.Sahabat mana yang rela bila sahabat baiknya di sakiti?
Gerakkan tangan Khalisa yang tengah membuka bungkus es krim tersebut terhenti.Tergantikan helaan nafas panjang.
"Aku juga inginya seperti itu,Aretha.Tapi rasa cinta itu sangat sulit aku hilangkan.Seakan sudah sangat melekat di hati."
Khalisa tertunduk sejenak merasakan nyeri di hatinya.Apa harus sesakit ini mencintai milik orang lain?
"Semakin aku berusaha melupakannya maka... semakin besar pula cinta itu di hati ku."Tanpa sadar air mata kembali menetes dari sudut mata Khalisa tanpa di inginkan,seakan mewakili perasaan yang di rasakan gadis itu sekarang.
Khalisa menatap Aretha yang membalas dengan tatapan sendu." Apa boleh aku merebut Fandra dari istrinya?Sungguh rasa ingin memiliki itu semakin besar, walau pun Fandra sudah menorehkan luka begitu dalam di hati ku."ujar Khalisa.
"Jangan Lisa...seperti tidak ada pria lain saja," ujar Aretha mendelikkan matanya tak suka dengan ucapan Khalisa.
"Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya mencintai milik orang," dengusnya.
Baru beberapa menit menangis karna Fandra, kini berusaha bangkit untuk merebut pria tersebut dari istrinya.
Aretha menggeram kesal dengan Khalisa.Inilah yang ia benci dari sifat sahabatnya itu,curhat karna di sakiti pria sekarang kembali ingin mengejar. Apa tidak panas kuping setelah menyisihkan waktu untuk mendengarkan curhatannya yang unfaedah itu.
"Sejak kapan kau menggunakan dress kekurangan bahan seperti ini?Di mana rasa malu mu itu Lisa,"omel Aretha menatap menampilan Khalisa dengan dress yang tak berlengan dan di atas lutut memperlihatkan paha'nya.
__ADS_1
" Kemaren aku melihat istri Fandra menggunakan dress seperti ini.Berarti Fandra suka bila melihat aku berpakaian seperti ini,"ucapnya.
"Memang iya.Tapi dress yang dia kenakan tidak sependek diri mu."
Khalisa mengidikkan bahunya acuh."Biarlah yang penting mirip."sahutnya.
Aretha hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Khalisa.
¢¢¢¢¢
Khalisa turun dari taxi dan membayar ongkosnya.Dia berjalan dengan langkah cepat menuju perusahaan daddy nya. Khalisa memasuki lobby kantor tersebut dengan senyuman merekah di wajahnya,sudah tidak sabar menemui pujaan hatinya.
Karyawan yang berpapasan dengan Khalisa selalu menyapa dan di balas senyuman manis oleh gadis berlengsung pipi tersebut.
Di lain tempat,Fandra memasukkan berkas dan dokumen yang akan dia bawa untuk bertemu klien.Hari ini ia di tugaskan untuk menemui klien di sebuah restoran menggantikan Cio sang pimpinan perusahaan yang berhalangan hadir.
Fandra membuka pintu keluar dari ruangannya dan Khalisa sudah berdiri di hadapannya dengan senyuman mengembang. Mata Fandra menelisik pakaian Khalisa yang menurutnya tidak sopan sama sekali.Entah sudah berapa laki-laki menikmati paha yang di umbar-umbar itu.
"Minggir," ujar Fandra datar.
"Kamu ingin pergi ke mana Fandra?" tanya Khalisa memperhatikan tas hitam yang di tenteng Fandra.
Khalisa langsung terdiam. Entah mengapa ada rasa perih yang perlahan merayap di hatinya mendengar ucapan ketus Fandra.
Fandra mendorong bahu Khalisa sedikit kasar karna menghalangi jalannya.
Pria tersebut dengan langkah lebar meninggalkan Khalisa yang masih bergeming menatap sendu pria tersebut yang sudah menjauh darinya.Tapi denganĀ cepat Khalisa mengejar Fandra.
"Aku ikut kamu ya ,Fandra."
Khalisa berjalan di samping Fandra yang menatap lurus ke depan tanpa ada minat menoleh ataupun melirik dirinya.
"Fandra! Aku ikut kamu ya," Khalisa menarik pergelangan pria tersebut yang langsung menghentikan langkah kakinya.
"Lepas," desis Fandra menyentak tangan Khalisa kasar.
"Saya sudah senang karna kamu tidak menganggu dan hadir dalam kehidupan saya selama satu minggu...dan sekarang kau kembali lagi datang dan menganggu saya dengan menampilan seperti j*lang."maki Fandra.
Hati Khalisa seperti di tusuk sembilu, mendengar ucapan yang merendahkan dirinya.
" Tapi aku melakukan ini semua demi kamu,"ujar Khalisa menggenggam tangan Fandra yang lagi-lagi di tepis kasar.
__ADS_1
"Kamu berpakaian seperti apapun atau telanjang di depan saya sekalipun tidak akan membuat saya tertarik dengan wanita seperti kamu! Kamu sama persis seperti j*lang," ujar Fandra penuh penekanan.
Tangan Khalisa terkepal kuat bersamaan meluruhnya air mata.Khalisa menatap Fandra dengan air mata yang terus berguguran. Pria itu langsung bungkam melihat Khalisa untuk pertama kalinya menangis di depan dirinya.
"Aku juga seperti ini karna kamu...,"lirih Khalisa.
"Aku terima makian apapun yang kamu lontarkan pada ku tapi ucapan j*lang...itu sangat menyakitkan hiks..."Khalisa menangis terisak-isak.Rasanya sangat sakit di rendahkan oleh seseorang yang di cintai.
Fandra tertunduk dengan mata yang bergulir dan perasaan bersalah.Tidak sepantasnya ia merendahkan Khalisa karna risih dan emosi yang tak terkendali membuat kalimat tak pantas itu keluar dari mulutnya.
" Khalisa saya....,"belum sempat menyelesaikan ucapannya Khalisa langsung beranjak pergi meninggalkan Fandra yang diam terpaku melihat gadis itu berlari menjauh.
Khalisa melangkahkan kaki jenjangnya cepat.Di sepanjang koridor kantor yang ia lewati paraĀ karyawan memperhatikan dan berbisik-bisik.Tentu itu di tujukan pada dirinya.Khalisa tak memperdulikan pandangan orang-orang padanya yang menangis seperti ini.
"Kenapa harus seperti ini?Kenapa aku harus mencintai pria seperti Fandra hiks..."
Khalisa mengusap kasar air matanya sembari terus melangkahkan kakinya keluar dari lobby kantor.Gadis tersebut berjalan menuju jalan raya sembari melihat kanan-kiri menghadang taksi yang lewat.
Dadanya sangat sesak dan nyeri di ulu hatinya.Isakkan masih terdengar di bibir mungil Khalisa meski kristal bening tidak keluar lagi.
"Mau ke mana cantik?Mau Abang antar?"
Seorang pria dengan jaket hitam, rambut gondrong dan menunggangi motor Supra berhenti di depan Khalisa yang tampak kaget dan sedikit takut.Pria berkulit hitam itu memperhatikan Khalisa dari atas sampai bawah dengan tatapan yang seakan menelanjangi dirinya.
"Sana pergi.Saya sedang menunggu taksi," ujar Khalisa yang menutupi bagian pahanya dengan tas.
Masih berada di pinggir jalan dan dekat gedung perusahaan, Khalisa mencari-cari taksi yang belum lewat.Dan sialnya pria menunggang Supra itu masih berada di sini sambil menyisir rambutnya.Khalisa bisa menebak pria itu tukang ojek.
"Eh...,"
Gadis itu tersentak kaget kala sebuah jas hitam di ikat dengan kuat di pinggangnya, menutupi paha Khalisa yang terekspos.Pria menunggang Supra itu juga kaget.
"Aku tidak butuh ini!"
Khalisa melepaskan jas hitam yang diikatkan di pinggangnya oleh Fandra dan melemparkannya ke tanah.
"Apa yang kau lakukan?" desis Fandra dengan sorot mata tajam.
"Sengaja ingin memamerkan pakaian mu yang terbuka itu," ujar Fandra datar namun dengan nada meremahkan Khalisa yang mendengus geram.
"IYA, AKU SENGAJA." jawab Khalisa dengan nafas menggebu-gebu.
__ADS_1