KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Pencarian


__ADS_3

...Maaf ya baru update. Karna merayakan lebaran dengan kerabat jadi tidak sempat update. Sekali lagi maaf🙏...


...Happy reading...


"Terima kasih Tante sudah menjaga Aezar," ujar Zana yang mengambil alih bayi laki-laki yang tengah tertidur lelap di gendongan Sinta.


"Tidak masalah,Zana.Tante malah senang bila menjaga Aezar. Maklum Tante sangat ingin cucu tapi Cio belum bisa memberikannya karna belum ingin menikah," ujar Sinta sembari memberikan Aezar pada Zana.


"InsyaAllah, pasti Cio akan segera di pertemukan dengan jodohnya," ujar Hanu yang duduk di samping Zana.


Pria itu mencium pipi gembul Aezar yang tampak kemerah-merahan.


Sinta tersenyum."Aamiin.Semoga dia bisa secepatnya menikah dan menyusul kalian memiliki anak,"sahut Sinta.


"Cio nya masih kerja, Tante?"tanya Hanu yang mengedarkan pandangannya, menatap sekitar ruang tamu.


"Cio memang seperti itu. Saat hari minggu menghabiskan waktunya di kantor. Padahal hari libur." ucap Sinta terkekeh.


"Tante sampai lupa. Kalian ingin minum apa?"


"Tidak usah Tante. Kami akan langsung pulang. Karna sudah larut malam. Terima kasih sudah menjaga Aezar. Maaf merepotkan," ujar Hanu tampak tak enak pada Sinta.


"Sudah jangan tidak enak seperti itu.Tante malah senang kalau setiap  hari bisa menjaga Aezar." ujarnya sembari mencubit pelan pipi bayi lelaki itu.


"Kalau begitu kami pamit, Tante."Hanu dan Zana bangkit dari sofa di ikuti oleh Sinta.


Ketiganya berjalan menuju pintu keluar.


" Kalian sering-sering main ke sini. Tante sering kesepian, apalagi Cio sibuk kerja terus di perusahaan.Cio seperti pria yang sudah berkeluarga saja, kerja terus."ucap Sinta di akhiri tawa ringan.


"Iya, Tante. InsyaAllah, aku akan sering main-main ke sini." jawab Zana yang makin erat memeluk Aezar kala sudah sampai teras.


"Aku pulang dulu, Tante." Zana mencium punggung tangan Sinta setelah itu di ikuti oleh Hanu yang juga bersalaman dengan Sinta.


Hanu membukakan pintu mobil untuk Zana. Tangan besarnya memegangi pucuk kepala sang istri saat akan masuk ke mobil, takut ke jedot langit-langit atas mobil.


Sinta tersenyum melihat itu semua. Beruntung Zana mendapatkan suami seperti Hanu.


"Pasang dulu sabuk pengamannya, sayang," titah Hanu yang baru masuk mobil.


"Tidak usah Mas. Nanti aku susah gerak. Kalau Aezar ingin ASI bagaimana?"jawab Zana.


" Mas, tahu. Tapi bahaya bila tidak memakai sabuk pengaman. Aezar juga sedang tidur,"ujar Hanu dan Zana mengangguk dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


Cup


Hanu mengecup bibir Zana, membuat gadis itu terkejut dengan mata terbelalak.


"Sini, Mas pasangin sabuknya," ujar Hanu sembari memasang sabuk pengaman pada tubuh Zana, mata pria menatap lekat istrinya dan beralih melihat pada Aezar yang masih terlelap.


Zana memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Pipinya terasa memanas, hanya karna mendapat kecupan dari Hanu ia masih tersipu malu.


Hanu menjalankan mobilnya tanpa menyadari pada orang yang ada di sebelahnya tengah tersenyum menatap dirinya.


"Mas, aku kasihan dengan umma Sarah. Pasti rasanya sangat sakit sekali karna harus kehilangan mbak Aniya." ujar Zana membuka suara. Tangan satu gadis itu menepuk-nepuk pantat Aezar pelan.


Hanu melirik Zana sekilas dan kembali fokus ke depan."Tapi ini semua sudah takdir, Zana. Setiap yang di tinggalkan oleh orang yang di sayang ataupun yang di cintai pasti akan merasakan itu. Tapi seiring berjalannya waktu umma akan ikhlas. Semua hanya butuh waktu untuk menerima itu semua,"papar Hanu dan Zana menganggukkan kepalanya.


Suasana di dalam mobil hening sejenak, namun Zana kembali membuka suara.


"Apa Mas Hanu juga sedih atas kepergian mbak Aniya?" Pertanyaan itu terlontar begitu  saja di bibir Zana.Karna penasaran dengan perasaan suaminya pada Aniya yang sudah meninggal.


Hanu tersenyum tipis dan Zana bisa melihat itu."Aniya pernah jadi bagian dari hidup,Mas.Tentu ada rasa sedih atas kepergiannya. Setiap orang memiliki tempat tersendiri di hati kita."jawab Hanu.


"Jadi... Mas mencintai mbak Aniya?" Zana kembali melontarkan pertanyaan.


"Zana, zana.Aniya memiliki tempat tersendiri di hati, Mas. Tapi bukan berarti mencintai, sayang.Dia pernah menjadi terpenting karna dulu Mas menikahinya atas permintaan abah dan umma. Mas, tidak enak menolak, apalagi mereka sudah sangat baik dengan,Mas." tutur Hanu. Wajah pria itu langsung berubah sendu.


Hanu hanya tersenyum tipis mendengar itu.


******


Hanu sibuk menciumi pipi gembul Aezar. Bayi itu terbangun dari tidurnya setelah sampai di rumah. Matanya mengerjap-ngerjap lucu menatap bolam lampu di atas langit-langit. Karna bayi yang baru lahirnya belum bisa melihat dengan sempurna, kecuali objek terang itu pun masih samar-samar.


"Lucunya anak,Ayah.Hidung,bibirnya mirip Bunda dan sisanya mirip Ayah. Pasti kalau sudah besar kamu akan menjadi pemuda yang sangat tampan," ujar Hanu di sertai tawa ringan.


Aezar tersenyum, menampakkan gusinya. Seolah mendengar dan paham yang di ucapkan sang Ayah.


Zana yang baru keluar dari kamar mandi, setelah membersihkan badannya yang terasa gerah dan lengket.


"Mas, mandi dulu. Kalau orang bilang setelah pulang dari pemakaman harus cepat mandi, nanti bisa sakit," ujar Zana sembari mengambil baju di lemari.


"Nanti dulu, sayang. Mas masih mau main dengan Aezar."


"Iya'kan, Nak." ujar Hanu menggengam tangan mungil Aezar.


Zana tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Melihat dua orang sangat penting dalam hidupnya. Ia tidak menyangka pernikahannya dengan Hanu akan berakhir bahagia seperti ini.

__ADS_1


Walaupun dulu tidak harus banyak masalah yang harus ia hadapi.


🍄🍄🍄🍄🍄


Satu minggu berlalu


Semenjak pengakuan umma Sarah. Ayu makin gencar mencari asal usul Zana.Wanita itu sangat yakin bila gadis itu putrinya.


Sebenarnya Ayu ingin sekali membawa kasus kejahatan yang dilakukan umma Sarah ke jalur hukum tapi rasa kasihan dan tidak tega lebih mendominasi dirinya. Cukup jahat bila ia menjebloskan umma Sarah ke penjara saat umurnya begitu tua dan kesedihan atas kehilangan anaknya itu.


Di tempat inilah Ayu berada bersama suaminya Bayu.Di rumah kayu yang sangat sederhana.


"Jadi apa yang akan kalian berikan bila saya memberitahu perihal tentang, Zana?" tanya Baron yang duduk berhadapan dengan keduanya.


Idah hanya diam, tidak bisa berkutik. Baron melarang dirinya untuk buka suara.


"Saya akan memberikan uang sebesar dua puluh juta bila anda mengatakan, apakah Zana anak kandung anda atau anak tiri." ujar Ayu mengeluarkan amplop di tasnya yang berisi uang.


Mata Baron seolah hijau dan tergiur dengan uang yang akan di berikan Ayu.


"Jadi... apakah Zana anak kalian?" tanya Ayu penuh harap.


Idah, mencengkram paha suaminya dan menggelengkan kepalanya pelan. Agar suaminya tidak mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak ingin kehilangan Zana. apalagi, bila Ayu memang benar ibu kandung putrinya tersebut.


Baron hanya sekilas menatap Idah, dan kembali menatap Ayu dan Bayu.


"Akan saya tambah uangnya. Asalkan kalian berdua berkata jujur," ujar Bayu.


Baron memegangi dagunya, tersenyum lancip di sudut bibirnya.


"Saya akan mengatakan yang sebenarnya. Tapi saya ingin uang 200 juta.Kalau kalian tidak mau ya sudah." ujar Baron seolah sedang memeras.


Ayu menatap suaminya. Jujur, itu bukan nominal uang yang sedikit bagi Ayu maupun Bayu.


"Baiklah... jadi katakan yang sebenarnya."desak Bayu.


Baron tersenyum kesenangan. Hari ini benar-benar hoki untuk dirinya.


" Zana itu... "


"Anak tiri/kandung." Baron menatap tajam pada Idah yang ikut menjawab.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2