
...Jangan lupa tinggalkan jejak ya! ^^...
...~Happy reading~...
"Umma, Mas Hanu kenapa tidak kesini? " tanya Aniya yang sudah kesal. Seharian Hanu tidak ke rumah sakit untuk menjenguknya.
"Umma juga tidak tahu,Aniya.Sudah Umma telpon beberapa kali tapi selalu di matikan. Pasti Hanu di rumah si Zana. Memang gadis itu sengaja menahan Hanu agar tidak kesini," ujar umma Sarah yang juga ikut kesal.
"Lalu bagaimana,Umma? Seharusnya Mas Hanu bersama ku dan menjaga aku yang sedang sakit.Aku butuh Mas Hanu,Umma." rengek Aniya.
"Nanti Umma suruh Ujang untuk menjemput Hanu," ujar Umma dan Aniya menganggukkan kepalanya.
"Sekarang kamu istirahat dulu, jangan banyak fikiran."
Aniya yang duduk bersandar di brankar kini merebahkan tubuhnya. Tapi ada perasaan tidak enak dalam hatinya yang mengganjal.
Umma Sarah duduk di sofa. Matanya memperhatikan Aniya yang sudah menutup matanya, tertidur. Ada rasa sakit melihat kehidupan putrinya yang menyedihkan dan begitu rumit karna terjebak dalam sebuah pernikahan poligami.
"Semoga kamu tidak seperti Umma, Aniya. Di ceraikan karna lebih membela istri keduanya, " gumam Umma Sarah, yang tanpa sadar meneteskan air mata.
Flashback
"Kamu keterlaluan Sarah!" bentak Bayu, menatap tajam pada istrinya.
"Ayu memang pantas mendapatkan itu, karna dia sudah merebut kamu dari aku,Mas.Istri mana yang tidak marah bila suaminya menikah lagi tanpa seizin istrinya .Semoga saja kandungannya keguguran," ujar Sarah tersenyum pongah.
Plak
__ADS_1
Tamparan yang begitu keras Bayu berikan pada Sarah, hingga wajahnya terhempas ke samping.
"Ini yang buat aku tidak betah bila selalu bersama kamu. Kamu itu wanita egois, pemaksa, boros dan juga selalu menuntut apapun yang kamu inginkan, tanpa memikirkan aku yang bekerja banting tulang siang malam mencari nafkah untuk kamu tapi... malah uang tersebut kamu hamburkan untuk berfoya-foya. Kamu juga tidak melakukan tugas mu sebagai seorang istri,selalu sibuk dengan urusan kamu .Sedangkan Ayu bisa membuat aku nyaman dan melayani aku dengan baik tanpa banyak menuntut, ujar Tomi membandingkan.Dengsn napas tak beraturan.
"Lagi pula aku tidak mencintai kamu. Aku terpaksa menikahi kamu karna paksaan dari kedua orang tua ku dan karna kamu hamil di luar nikah dengan pria lain.Tapi harus aku yang menikahi kamu." pungkas Tomi.
Sarah tidak bisa berucap apa-apa lagi. Hatinya benar-benar sakit luar biasa. Bukan tamparan ini saja yang menyakitkan tapi kenyataan yang begitu memilukan.Air mata lolos begitu saja dari sudut matanya bersamaan dengan kepedihan yang ia rasakan.
"Mulai saat ini dan detik ini juga kamu aku talak!Gara-gara kamu anak dalam kandungan Ayu keguguran!"
Sarah menggelengkan kepalanya.
"Mas, jangan ceraikan aku. Aku tidak ingin berpisah dari kamu hiks...Aku mohon, jangan." Sarah mengenggam tangan Bayu. Namun,langsung di hempaskan begitu kasarnya.
"Keputusan ku sudah bulat untuk menceraikan kamu . Semoga kamu bisa belajar dari kesalahan yang kamu perbuat dan berubah menjadi lebih baik lagi .Semoga kamu mendapatkan suami yang bisa membimbing kamu untuk jadi lebih baik lagi.Aku sudah benar-benar tidak bisa untuk mempertahankan pernikahan tanpa ada cinta di dalamnya." ujar Bayu. Setelah mengucapkan itu, pria tersebut meninggalkan Sarah yang terduduk di lantai koridor rumah sakit.
"Mas Bayu! Aku tidak ingin cerai hiks..." Sarah menangis histeris. Semua pengunjung rumah sakit memperhatikan Sarah yang tidak memperdulikan dirinya yang menjadi tontonan banyak orang.
Tanpa sadar air mata membasahi wajah Umma Sarah yang teringat akan masa lalu yang begitu menyakitkan.
🍄🍄🍄🍄🍄
"Enak? " tanya Hanu dan Zana menganggukkan kepalanya.
Pria itu kembali menyuapkan makanan ke mulut Zana.Gadis itu begitu lahap memakan nasi goreng yang di buat oleh Hanu.
"Mas,"
__ADS_1
"Mas!" panggil Zana dengan suara yang meninggi sedangkan Hanu tengah sibuk dengan lamunannya. Pikirannya saat ini begitu berkecamuk.Ucapan dokter terus terngiang-ngiang dalam ingatannya seperti kaset rusak.
Zana merebut piring dari genggaman Hanu, membuat pria tersebut langsung buyar dalam lamunannya.
"Sayang, kenapa?" tanya Hanu,seolah tidak sadar.
Zana hanya diam, membisu. Menyuapkan makanan ke mulutnya dengan kasar. Matanya mendelik sinis pada Hanu. Mood ibu hamil sangat mudah berubah-ubah. Bahkan kesalahan sekecil sedikit pun akan di perbesar. Terkadang mudah memaafkan kesalahan Hanu karna alasannya ingin bermanja.
"Sini, biar Mas yang suapi, sayang , " ujar Hanu, hendak mengambil piring tersebut kembali ,tapi langsung di jauhkan oleh Zana.
"Aku bisa sendiri. Mas kalau sedang memikirkan mbak Aniya lebih baik temui dia di rumah sakit. Dia lebih penting, dari pada aku, " ujar Zana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Hanu menggenggam tangan Zana, mengusanya dengan lembut.
"Iya, Mas memang sedang memikirkan,Aniya. Tapi tidak mungkin meninggalkan kamu sendirian di rumah, " ujar Hanu. Zana langsung menarik kasar tangannya dari genggaman Hanu.
"Seharusnya, Mas tidak usah pulang. Kalau akhirnya hanya memikirkan mbak Aniya dan acuh dengan ku.Biar nanti Gala yang menjaga aku di rumah dan Mas bisa pergi ke rumah sakit," ujar Zana asal.
"Zana!Mas tidak suka kamu berkata seperti itu. Apalagi sampai membiarkan kamu berduaan dengan laki-laki lain dalam satu rumah," ketus Hanu.
"Ingat,kamu itu istri Mas. Jadi jaga diri kamu dengan tidak berdekatan dengan laki-laki lain. Dia memang baik sudah menolong kamu tapi bukan berarti Mas rela menitipkan kamu dengan Dia! " sarkasnya.
Zana menekuk wajahnya, kembali memakan nasi gorengnya dengan wajah yang masih tampak kesal sedangkan Hanu menghela napas berat.
"Setelah makan langsung tidur ya, " ujar Hanu dengan suara yang melembut, sembari mengusap kepala Zana.
"Iya!" jawab Zana dengan ketus.
__ADS_1
Pria tersebut mengusap dadanya. Harus sabar menghadapi tingkah istri yang sedang hamil. Mood Zana sangat mudah berubah-ubah terkadang baik-baik saja dan terkadang marah-marah seperti ini, contohnya.
Besok Hanu akan ke rumah sakit menjenguk Aniya dan meminta kejujuran istrinya yang pernah melakukan aborsi.