KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Kemarahan Hanu


__ADS_3

Hanu memberhentikan motornya di halaman rumah. Ia menyuruh Zana lebih dulu turun dari motor.Pria itu memarkirkan motornya di depan rumah,dekat teras.


"Sekarang ayo masuk ke rumah, " ujar Hanu yang lebih dulu berjalan mendahului Zana. Ia membuka pintu dan menyuruh Zana untuk lebih dulu masuk.


"Mas,tidak langsung pulang? " Tanya Zana pada Hanu yang menutup pintu dan menguncinya.Pria itu tersenyum.


"Saya pulang setelah kamu tidur, " ujar Hanu yang masih tersenyum.Zana menganggukkan kepalanya, tersenyum tipis . Ada rasa senang membuncah mendengar ucapan yang di lontarkan Hanu.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Hanu langsung melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi untuk sekedar membilas wajah dan tangannya. Zana melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya. Ia menggantung jaket berwarna coklat tersebut di belakang pintu.


Gadis itu langsung membaringkan tubuhnya di kasur empuk itu. Memejamkan matanya, merasakan badannya yang terasa pegal-pegal karna seharian membersihkan rumah yang baru ia tinggali ini.


Zanaย  tersentak. Ia mengerjapkan matanya. Saat membuka mata ia langsung menatap Hanu yang mengecup pipinya. Zana langsung bangkit dari tempat tidurnya, dan duduk menghadap kearah Hanu.


"Saya kira kamu sudah tidur? " ujar Hanu terkekeh. Zana menunduk, tersenyum malu-malu dengan pipi yang bersemu.


"Sekarang ayo tidur sudah malam ini."


Hanu menepuk-nepuk kasur di sebelahnya. Zana langsung mendekat dan membaringkan tubuhnya di susul oleh pria tersebut yang juga membaringkan tubuhnya di kasur. Hanu menarik Zana dalam dekapannya.Zana terkaget-kaget karna ulah suaminya yang langsung memeluknya. Ia bisa menghirup aroma tubuh Hanu begitu menusuk ke indra penciuman nya yang membuat ia candu.


"Tutup matanya, jangan melihat kearah saya terus. " Hanu meraup wajah Zana yang tertawa. Gadis itu merapatkan tubuhnya pada Hanu. Memeluk erat tubuh suaminya.


"Tidur Zana, " titah Hanu seraya menepuk-nepuk punggung Zana pelan.


Zana menutup matanya mengikuti perintah sang suami. Ia belum sepenuhnya tidur. Zana merasakan usapan lembut Hanu yang beralih ke kepalanya.


"Istri saya kalau lagi tidur makin cantik. " Puji Hanu menatap lekat wajah Zana yang sudah tertidur pulas. Jari telunjuknya mengusap-ngusap pipi sang istri. Ia mendaratkan kecupan di kening, pipi dan terakhir bibir Zana yang begitu memabukkan baginya.

__ADS_1


Matanya melirik kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Hanu bangkit dari kasur dengan sangat pelan. Ia menjauhkan tangan Zana yang melingkar di perutnya dan mengantinya dengan guling di samping Zana. Sebelum pergi Hanu menutupi tubuh gadis tersebut dengan selimut hingga batas dada. Ia kembali mencium pipi Zana.


"Mimpi indah sayang, " bisik Hanu dekat telinga Zana.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Aniya membuka pintu rumah. Ia menatap Hanu yang baru datang dengan wajah datar .


"Kamu tadi dari mana, Mas? " Tanya Aniya seraya mencium tangan suaminya.Hanu menghela napas berat. Ia langsung melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya tanpa melirik kearah Aniya sedikit pun.


Aniya yang merasa di acuhkan itu langsung menarik pergelangan tangan Hanu yang hendak ke kamar. Ia menatap gahar pada suaminya.


"Kamu kenapa sih, Mas?Datang-datang cuma diam dan juga mengacuhkan aku! Oo.... Aku tahu pasti kamu dari rumah Zana kan? Iyakan Mas?! " Desak Aniya memaksa Hanu agar mengaku.


Hanu menatap Aniya yang tak minat untuk menjawabnya karna itu akan memicu pertengkaran di antara mereka berdua.


"Sudah, Aniya. Aku lelah aku ingin istirahat, " ujarnya, melepaskan genggaman tangan Aniya di pergelangannya.


"Maksud kamu apa yang berubah? Aku tidak berubah Aniya. Tapi kamu yang membuat aku berubah menjadi bersikap dingin terhadap kamu. Aku ingin kamu intropeksi diri kamu atas kesalahan yang kamu perbuat . Aku tanya? Kamu buat apa tadi ke rumah Zana sama Umma? " Tanya balik Hanu yang menahan marahnya.


Aniya langsung terdiam, menutup mulutnya rapat. Jantungnya berdetak tak karuan mendengar pertanyaan Hanu. Dari mana Hanu tahu bila dia ke rumah Zana bersama Umma. Pasti gadis itu yang mengadu. Cih! Tidak menyangka Zana mengadukan hal itu pada Hanu ,dan pasti Zana sangat suka sekali membuat rumah tangga nya hancur!


"Jawab Aniya! " Desak Hanu menatap tajam pada Aniya.


"Aku ke rumah Zana cuma ingin, ingin_____Melihat rumah yang di tempati Zana" jawab Aniya bohong. Hanu tersenyum miring seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Hanu berjalan mendekati Aniya yang memundurkan tubuhnya menjauh dari dari dirinya beberapa langkah. Ia bisa merasakan aura yang berbeda dari Hanu. Pria itu melipat tangannya di dada menatap Aniya menelisik.

__ADS_1


"Tapi kenapa pipi Zana membiru seperti habis di tampar, apa kamu tahu penyebabnya ? " Tanya Hanu yang ingin melihat reaksi Aniya.


Mata Aniya langsung membola mendengar pertanyaan Hanu. Perlahan rasa takut mulai merayap di benaknya. Apa Hanu sudah tahu bila Umma menanpar Zana. Kalau benar, berarti gadis itu benar-benar ingin mencari masalah dengan nya lihat apa yang ia lakukan kalau Hanu benar tahu semuanya.


"A-aku tidak tahu. Saat aku datang ke rumah Zana keadaannya baik-baik saja tadi, " jawab Aniya gugup dengan tenggorokan yang tersekat sehingga terbata-bata saat bicara.


Hanu masih setia melihat gelagat Aniya yang tampak begitu aneh. Terlihat sangat gugup sekali .


"Aku hanya ingin bertanya saja? Aku pikir kamu tahu soal penyebab itu. Zana tidak mau mengatakan kenapa pipinya yang lebam itu. " Ujar Hanu.


"Kalau begitu aku ke kamar, " imbuh Hanu yang langsung berjalan ke kamar.


Aniya bernapas lega setelah Hanu pergi. Syukur bila suaminya tidak tahu tentang hal itu. Itu berarti Zana tidak mengadu kejadian yang tadi . Aniya tersenyum menyeringai .


"Jangan harap Zana kamu bisa merebut Mas Hanu dari aku. Aku pastikan setelah kamu melahirkan anak mas Hanu. Kamu langsung terbuang. " Ujarnya tertawa .


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Zana yang tengah asyik menyapu teras rumah langsung teralihkan perhatiannya pada sebuah mobil pick up yang parkir di halaman rumah yang setahu nya kosong. Tidak berapa lama sebuah mobil Alphard berhenti, tepat di sebelah mobil pick up tersebut. Sepasang suami-istri turun dari mobil Alphard tersebut di susul oleh seorang pemuda yang berjalan mengikuti suami-istri tersebut.


"Mari mbak, " sapa wanita paruh baya tadi. Membuat Zana langsung melemparkan senyum nya.


Mata Zana kembali memperhatikan pemuda yang memakai headset tersebut yang tersenyum kearahnya. Pemuda itu sangat tampan dan Zana perkirakan umurnya 20-an.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Gala, Ayah harap kamu betah tinggal di sini. Dan jangan coba-coba kabur dari rumah ini, " sarkas pria paruh baya itu setelah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Gala hanya memutar bola matanya malas. Sungguh Ayahnya terlalu lebay memberikan hukuman dengan mengirim dia untuk tinggal di pedesaan ini.


Bersambung...


__ADS_2