
Lamunan Zana langsung buyar, saat mendengar suara pintu yang terbuka. Ia menatap kearah Hanu yang masuk ke dalam kamar dengan wajah yang terlihat merengut dengan membawa semangkok bubur dan segelas air putih di nampan. Pria itu berjalan mendekati Zana dan meletakkan nampan tersebut di meja , dekat ranjang.
Hanu langsung mengubah raut wajahnya yang merengut kini dengan raut wajah tersenyum pada Zana, yang membalas dengan senyuman kikuk.
"Sekarang kamu makan dulu. Saya belikan bubur. Kamu suka bubur'kan? " Ujarnya sambil, mengambil mangkok bubur tersebut di nampan. Pria tersebut menyendokan bubur dan mendekatkan pada bibir istrinya. Zana perlahan membuka mulutnya, menerima suapan dari Hanu.
Hanu tersenyum. Ia mengusap kepala Zana dengan sayang. Sedangkan tubuh gadis itu langsung menegang merasakan usapan di kepalanya.
"Kamu harus banyak-banyak makan.Karna saya tidak mau kamu terlihat sangat kurus. Nanti orang-orang pikir saya tidak mengurus kamu dengan baik. " Ujar Hanu terkekeh dengan candaannya sendiri.
"Tapi badan aku sudah ideal seperti ini, kenapa harus banyak makan? Nanti orang-orang mencemooh tubuhku yang gendut, " sahut Zana, yang menanggapi ucapan Hanu serius , dengan bibir yang mengerucut.
"Kalau kamu memikirkan tanggapan orang-orang, yang ada itu akan menyiksa kamu, sayang. Kecuali ucapan orang tersebut, ada kebaikan untuk kamu silahkan untuk di ikuti. Tapi bila ucapan mereka membuat kamu harus menahan makan, contohnya supaya berat tubuh kamu tetap ideal. Saya paling senang melihat istri saya bertubuh berisi".
Zana terdiam mendengar penuturan. Ia tersentak ketika Hanu mendekatkan sendok di bibirnya.
" Sekarang makan lagi. Kamu harus habis makan bubur ini, "ujar Hanu. Zana kembali menerima suapan dari suaminya. Entah mengapa Ia merasa terharu, karna Hanu benar-benar telaten merawat dirinya. Padahal ia tidak sakit, cuma lebam di pipi saja, tapi pria ini memperlakukan dirinya seperti orang yang sedang sakit.
__ADS_1
Ini merupakan perhatian yang tidak pernah Zana dapatkan dari siapapun termasuk kedua orang tuanya yang selalu memaksakan dirinya untuk mandiri. Bahkan saat ia sakit pun kedua orang tuanya tidak menghiraukannya yaitu acuh. Terkadang ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia hanya anak angkat kedua orang tuanya. Ayahnya dulu selalu melakukan kekerasan fisik pada dirinya,sedangkan ibunya tidak bisa berbuat apa-apa hanya diam sambil menangis melihat dirinya menjadi sasaran luapan emosi ayahnya yang selalu pulang larut malam dengan keadaan mabuk.
Perlahan kristal bening jatuh membasahi pipi Zana , mengingat hal yang menyakitkan bagi dirinya. Bahkan ingatan itu terekam jelas di kepalanya.
" Kenapa nangis? Ada yang sakit? "Tanya Hanu khawatir, menghapus air mata di pipi sang istri. Zana menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak apa-apa. Cuma aku terharu karena kamu merawat aku dengan tulus. Padahal aku tidak sakit, "jawab Zana. Hanu langsung meletakkan mangkok di nampan. Ia memeluk Zana, memberikan usapan lembut di kepala gadis tersebut, yang membalas pelukannya.
" Itu sudah kewajiban saya, untuk merawat dan juga melindungi kamu.Saya bertanggung jawab atas diri kamu, karna memang itu tugas seorang suami. Bukan hanya memberikan nafkah lahir,batin dan menjadi pemimpin rumah tangga, "tutur Hanu, yang di balas anggukan oleh Zana, dalam pelukan Hanu.
" Mas Hanu. "Panggil Aniya, yang berdiri di ambang pintu dengan sorot mata yang syarat akan cemburu yang menggerogoti hatinya. Hanu langsung melepaskan pelukannya pada Zana . Keduanya menatap kearah Aniya yang berjalan mendekati mereka.
" Aku ingin bicara berdua sama kamu, mas, "lirih Aniya yang masih setia menggenggam tangan Hanu yang menatap dingin pada istri pertamanya. Jujur ia masih marah dengan istri pertamanya ini. Setelah mendengar obrolan Aniya dan Umma di ruang tamu, itu sudah membuat ia benar-benar kecewa pada istrinya tersebut.
" Kamu tunggu, di luar . Aku akan menyusul,"ujar Hanu, melepaskan genggaman tangan Aniya yang menatap nanar. Wanita itu beberapa langkah menjauhkan dirinya dari Hanu dan berbalik keluar dari kamar dengan perasaan yang bersalah dan di campur adukan dengan rasa cemburu. Ternyata sesakit ini berpoligami. Andai ia tahu akan akan sesakit dan semenyiksa ini berbagi suami, mungkin ia tidak akan mau merelakan Hanu menikah dengan Zana.
"Saya keluar dulu. Sementara kamu makan sendiri buburnya, " ujar Hanu, mengacak-ngacak rambut Zana pelan dan berlalu pergi dari hadapan gadis tersebut.
__ADS_1
Zana menatap kepergian Hanu dengan gelenyar aneh yang merasuk di hatinya. Apakah ia mulai tertarik pada suaminya? Atau bahkan mulai menerima kehadiran Hanu pada kehidupannya.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Kamu ingin membicarakan apa? " Tanya Hanu yang sudah berada di belakang Aniya. Wanita itu langsung berbalik kebelakang dan memeluk tubuh besar Hanu dengan air mata yang tidak bisa terbendung.
"Aku minta, mas. Aku salah hiks.... Aku benar-benar tidak kuat harus berbagi kamu dengan Zana. Aku menyesal telah memaksakan kamu menikahi Zana, " lirih Aniya di sertai isak tangis yang begitu memilukan.
Hanu hanya diam. Ia menunggu kelanjutan ucapan Aniya.
"Kamu boleh menceraikan Zana, mas. Karna aku tahu kamu hanya mencintai aku dan tidak mencintai Zana. Aku tidak mau kamu tersiksa dengan pernikahan kamu dengan Zana. Nanti kita adopsi anak kak Diah. Lagi pula kamu belum menyentuh gadis itu. "
Hanu langsung melepaskan pelukan Aniya. Ia menatap istri pertamanya itu dengan sorot mata yang tajam.
"Aniya! Kamu menyuruh aku menceraikan Zana?! Kamu pikir pernikahan adalah sebuah permainan begitu. Sama saja aku laki-laki yang lepas dari tanggung jawab dan juga plin-plan. Aku sudah mengikat Zana dalam sebuah hubungan pernikahan dan tiba-tiba langsung memutuskan hubungan itu. Kamu pikir Zana tidak sakit hati bila aku tiba-tiba menceraikannya. Aku sudah menuruti kemauan kamu bahkan untuk menikahi Zana. Tapi untuk menceraikan Zana, aku tidak bisa".
Hanu langsung beranjak pergi dengan emosi yang ingin meledak. Ia merasa tidak mengenali lagi Aniya, yang kini berubah menjadi bersikap egois seperti itu. Tidak memikirkan perasaan orang lain, tapi mementingkan perasaannya sendiri.
__ADS_1
Bersambung...