
...Jangan lupa tinggalkan jejak ya! ^^...
...~Happy reading~...
"Ayo makan lagi sayang," bujuk Hanu menyodorkan makanan dekat mulut Zana.
Zana menggelengkan kepalanya pelan. "Aku sudah kenyang, Mas."
Hanu mengenggam tangan sang istri yang menatap dirinya sendu.
"Kamu harus banyak-banyak makan. Karna di perut kamu ada nyawa kecil yang juga butuh asupan makanan, sayang, " ujar Hanu mengusap perut rata Zana di balik baju."Sekarang kamu harus makan, karna kamu dari tadi muntah terus, "Hanu kembali menyodorkan makanan pada Zana yang dengan terpaksa menerima suapan dari Hanu.
pria itu tersenyum melihat Zana menerima suapan darinya. Hanu juga memberikan segelas susu Ibu hamil yang ia beli saat akan pulang ke rumah.
" Sekarang minum susu dulu sebelum tidur , supaya anak kita sehat, "ujar Hanu.
Zana mengambil segelas susu dari Hanu, meminumnya hingga tandas. Pria tersebut mengusap atas bibir Zana yang blepotan bekas sisa susu.
"Kamu mau buah? " tanya Hanu yang di balas gelengan oleh Zana yang benar-benar sudah kekenyangan.
"Ya sudah. Kalau begitu kamu tidur ya. Mas sholat dulu, bila mau apa-apa tunggu Mas selesain sholat , " ujar Hanu mengusap kepala Zana lembut seraya mengecup kening istrinya.
Zana membaringkan badannya di bantu oleh Hanu. Padahal dia bisa saja membaringkan badannya sendiri di kasur, tapi Mas Hanu sangat memperhatikan dirinya,walau hal kecil.Seolah apa pun yang dia lakukan harus berhati-hati dan harus di bantu oleh Mas Hanu. Ada rasa senang dan bahagia yang membuncah di hatinya dengan perhatian dari suaminya meski hal kecil pun ,tapi itu sangat berarti bagi Zana.
Semenjak ia hamil mas Hanu jauh sangat perhatian pada dirinya. Bahkan kemaren ia di marahi pria tersebut karna ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu tanpa meminta bantuan Mas Hanu. Suaminya itu sangat takut ia kenapa-kenapa semenjak ia hamil.
Entah ada rasa sedih ,marah dan cemburu karna semua yang Mas Hanu lakukan dan perhatian yang di berikan padanya karna ia tengah mengandung. Tapi ia bersyukur ,semenjak ia hamil Mas Hanu 24 jam selalu bersamanya. Bahkan pria itu tidak ke peternakan lagi karna takut meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Zana tersentak ketika merasakan usapan lembut di perutnya.Dia tersenyum memperhatikan Mas Hanu yang membacakan doa, yang entah apa itu dan meniupkan ke perutnya yang sudah di singkap baju yang menutupi perutnya.
"Semoga anak Ayah sehat-sehat di sana ya,Nak. Jangan siksa Bunda terus, kasihan Bunda muntah-muntah."
Zana terkekeh mendengarnya.Dia mengusap rambut tebal suaminya yang masih asyik mengajak bicara pada janin yang masih berbentuk gumpalan darah itu. Yang paling Zana suka dari Hanu setelah sholat adalah aroma minyak wangi Kasturi yang selalu di pakai setiap akan melaksanakan sholat.
"Memangnya, dia bisa dengar Mas bicara,'kan dia belum berbentuk? " tanya Zana. Hanu langsung menoleh ke arah Zana.Dia memposisikan dirinya duduk di samping sang istri yang berbaring.
"Tidak, tapi Mas ingin selalu mengajak anak kita bicara, entah dia mendengar atau tidak, " ujar Hanu seraya mengecup kening Zana.
"Mas, aku boleh tanya? " ujar Zana yang tampak ragu.
"Boleh.Kamu mau tanya apa,sayang?"
"Mas, kenapa selalu sama aku terus? Bukannya aku tidak suka . Tapi beberapa hari ini Mas tidak pulang ke rumah mbak Aniya, padahal ini jatah mbak Aniya sama Mas Hanu? " ujar Zana.
Hanu tersenyum mendengarnya.Dia mengusap kepala Zana lembut.
"Tapi..."
"Sstt, sekarang lebih baik kamu tidur. Mau Mas peluk supaya cepat tidurnya, hmm?Ibu hamil itu paling suka bila di perhatikan oleh suaminya karna itu yang mereka butuhkan, " ujar Hanu.
Zana mengulum senyumannya,Hanu begitu romantis. Hanya sebuah ucapan tapi mampu membuat hatinya menghangat.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Aniya.Hanu kenapa beberapa hari ini tidak ke sini lagi? Bukannya ini jatah kamu?" tanya umma Sarah yang tengah mengaduk teh yang ia buat.
__ADS_1
Aniya terdiam sejenak sebelum menjawab, menghela napas berat. "Zana hamil, jadi Mas Hanu tidak bisa ke ini. "
Umma Sarah membelalakan matanya, kaget. Sendok yang di pegang wanita paruh baya itu langsung jatuh ke lantai karna saking terkejutnya.
"Apa!Zana hamil?" ujarnya dengan suara yang meninggi.
Umma Sarah menggelengkan kepalanya dengan bibir yang mencebik.
"Tapi tidak seharusnya Hanu seperti itu. Namanya dia tidak bersikap adil dengan kamu. Hanya karna Zana hamil, Hanu sampai melupakan kamu. Pasti Zana memanfaatkan keadaan.Karna tengah mengandung, dia ingin Hanu selalu di dekatnya dan ingin bermanja-manja." tuding umma Sarah.
Aniya lebih memilih diam. Tapi mencerna ucapan umma Sarah yang ke mungkinan memang benar adanya. Sudah satu minggu Hanu tidak pulang ke rumah, jangankan menjenguk dirinya, menelpon pun tidak.
"Astaghfirullah,Umma."
Umma Sarah dan Aniya, kompak menoleh ke arah Abah Husein yang tiba-tiba sudah berada di belakang dan mendengar semua obrolan mereka berdua.
"Umma tidak boleh berkata seperti itu. Mengatakan sesuatu yang belum di ketahui kebenarannya termasuk fitnah. Dan bila yang Umma katakan itu benar, itu termasuk ghibah. Wajar bila Hanu sangat memperhatikan Zana, karna Zana sedang mengandung cucu kita dan itu juga merupakan anak yang begitu di tunggu-tunggu oleh Hanu ke hadirannya, " tutur Abah Husein lembut namun tegas.
"Cucu? Bahkan aku tidak sudi mengakui anak dari wanita yang membuat Aniya menderita dan sedih seperti ini.Sebagai cucu?Abah selalu membela Zana.Abah tidak tahu rasanya menjadi istri pertama yang tidak di pedulikan dan itu sebab istri ke dua!"
Napas Umma Sarah memburu dengan mata yang memerah karna emosi yang mendidih.
Abah Husein menggelengkan kepalanya, dengan wajah yang tampak tenang.
"Ini bukan salah Zana. Umma seperti ini karna membawa-bawa masa lalu, dan melampiaskannya pada Zana. Abah paham Umma di ceraikan suami dahulu karna istri ke dua . Tapi itu masa lalu dan harus di lupakan, " nasehat Abah Husein.
Aniya kaget mendengar semua kenyataan yang di rahasiakan dari dirinya. Jadi Umma nya pernah gagal berumah tangga sebelum menikah dengan Abah. Dan bercerai karna ke hadiran istri kedua. Lalu di anak kandung Abah atau anak dari suami pertama? Mata Aniya berkaca-kaca, ke takutan menerpa hatinya. Takut rumah tangganya akan seperti umma nya.Dia tidak mau bercerai dari Hanu karna Zana.
__ADS_1
"Abah mudah mengatakan itu! Aku seorang Ibu dan pernah di posisi Aniya. Aku tidak mau rumah tangga Aniya hancur karna ke hadiran istri ke dua.Aku lebih memilih tidak memiliki cucu dari pada Hanu menikah lagi.Dan itu semua telah terjadi. Aku tidak mau nasib Aniya seperti aku, Abah hiks.... " Umma Sarah menangis terisak-isak mengingat bagaimana suaminya yang dulu mengusir dan mentalak dirinya saat sedang mengandung Aniya.
Sedangkan Aniya menatap kosong dengan air mata yang perlahan meleleh dari sudut mata membasahi pipinya.