KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Gugatan cerai


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan jejak! ^^...


...~Happy reading~...


Aniya menatap Hanu sendu dengan air mata yang tertahan. Suster membawa wanita tersebut ke ruang operasi untuk melakukan pengangkatan rahim. Hancur, itu yang menggambarkan hati Aniya saat ini.Satu-persatu masalah datang menghantam dirinya.Sekarang, suaminya yang paling dia cintai bersikap acuh pada dirinya,seolah engga untuk menatap dirinya.


Apa karna masalah ia yang hamil di luar nikah dulu,Hanu membencinya. Bukankah setiap orang memiliki masa lalu yang  buruk .Lalu,kenapa suaminya tidak bisa menerima kesalahan masa lalunya yang dia perbuat. Bahkan Zana pun bukan wanita baik-baik juga. Dia saat baru menjadi istri Hanu memakai pakaian yang terbuka padahal dia seorang muslimah tapi___Hanu bisa menerima masa lalu Zana yang sekarang sudah menutup auratnya.


Kenapa dia tidak di berikan kesempatan untuk kembali memperbaiki diri dan rumah tangganya.


"Mas,tidak pa-pa? "tanya Zana yang berdiri di samping Hanu.Pria itu tersenyum tipis.


"Tidak pa-pa sayang. Sekarang kita cari penginapan di dekat sini.Kamu pasti sangat lelah," ujar Hanu.


"Lho?Lalu mbak Aniya bagaimana, Mas? Dia sedang menjalani operasi, seharusnya kita menunggunya sampai operasi selesai," ujar Zana.


Hanu menggelengkan kepalanya pelan.


"Kamu dan anak kita lebih penting, sayang. Mas,takut kamu kenapa-napa karna seharian ini tidak ada istirahat sama sekali,sedangkan kamu tengah hamil muda," ujar Hanu memberikan pengertian pada Zana.


Zana menghela napas berat dan menganggukkan kepalanya.Hanu menggenggam tangan sang istri dan menariknya lembut.Awalnya Dia ingin pulang ke rumah tapi jaraknya yang cukup jauh dan itu bisa saja membuat Zana kelelahan di perjalanan.Hanu harus begitu hati-hati menjaga istri mudanya, karna tengah mengandung anaknya dan retan keguguran, karna hamil di usia yang muda yaitu 18 tahun.


••••


Zana langsung merebahkan kepalanya di paha Hanu. Mereka berdua baru selesai melaksanakan sholat Isya berjamaah, untuk sementara mereka berdua menginap di hotel yang tidak jauh dari rumah sakit.Ada alasan kenapa Hanu tidak pulang rumah.


"Capek?" tanya Hanu yang mengusap kepala Zana yang masih berbalut mungkena.


"Iya,sama lapar juga,Mas." adu Zana mengusap perutnya yang keroncongan.


"Ya sudah,Mas pesankan makanan untuk kamu. Kamu mau apa, hmm? " tanya Hanu dan Zana mengetuk pipi chubby-nya seolah tengah berpikir.


"Aku mau makan bakso, sate sama


martabak asin, Mas. Boleh? " tanya Zana, takut-takut makanan yang dia pesan terlalu banyak.Apalagi Hanu sudah banyak mengeluarkan uang untuk membiayai perawatan dan operasi Aniya.


"Hanya itu?" tanya Hanu dan Zana  menganggukkan kepalanya kuat.


Pria itu mengambil ponsel yang ada di sampingnya. Ia memesan beberapa makanan yang inginkan Zana.


"Mas, pasti anak kita laki-laki,'kan? " ujar Zana membuat Hanu mengerutkan alisnya.


"Tahu dari mana kamu? " tanya Hanu sembari mencubit hidung Zana yang memekik.


"Jangan di cubit,Mas." sungutnya, mengusap hidung. "Kan, aku makannya banyak banget.Berarti anak kita laki-laki." ujar Zana begitu percaya diri dengan ucapannya.

__ADS_1


"Bukan begitu ,sayang. Mau kamu mengandung anak laki-laki atau pun perempuan, sama saja makannya pasti akan tetap banyak. Karna bayi dalam kandungan kamu butuh asupan makanan juga," tutur Hanu. Zana manggut-manggut mendengar penuturan suaminya.


"Mas, jangan ceraikan mbak Aniya, ya. Kasihan dia, sudah sakit dan sekarang rahimnya di angkat.Rahim di angkat sudah sangat membuat seorang wanita hancur karna ____"


"Zana, Mas pernah bilang sama kamu jangan ikut campur dengan masalah rumah tangga Mas dengan Aniya. Jangan suka ikut campur," ujar Hanu yang mendadak emosi mendengar pembahasan Zana tentang Aniya. Membuat dia mengingat masa lalu buruk yang di lakukan istri pertamanya itu.


Zana melengkungkan bibirnya ke bawah. Matanya sudah berkaca-kaca siap akan menangis, dadanya bergemuruh melihat Hanu marah padanya.


"Maaf,aku tidak bermaksud..." ujarnya lirih dengan posisi duduk menyampingi Hanu.


"Kamu kenapa nangis,sayang? " tanya Hanu yang tampak kaget melihat Zana yang sudah meneteskan air matanya.


"Tadi Mas marah. Aku hanya kasihan dengan mbak Aniya tapi kenapa Mas Hanu marah-marah sama aku. "


Hanu langsung menarik Zana dalam pelukannya. Mengusap pipi chubby sang istri yang dudah basah karna air mata.


"Maaf, sayang. Mas tidak suka orang lain ikut campur dengan masalah rumah tangga Mas dengan Aniya termasuk kamu. Keputusan apapun yang Mas ambil untuk Aniya itu adalah yang terbaik," ujar Hanu menatap lurus.


Zana hanya menyimak ucapan Hanu tanpa ada niat membalasnya.Dia menatap wajah suaminya lamat-lamat yang mulai muncul kerutan di wajah, mungkin terlalu  banyak pikiran yang membebani, membuat wajah Hanu sedikit menua tapi tak apa, Zana tetap mencintai suaminya.Ia menenggelamkan wajahnya di dada kokoh sang suami, menghirup aroma tubuh Hanu yang  memabukkan bagi dirinya yang sudah kecanduan.


"Mas, kapan makanannya datang?" tanya Zana yang menguraikan pelukannya pada Hanu.


"Sebentar lagi. Tapi kalau kamu sangat lapar,Mas masih punya jajanan yang ada di mobil tadi," ujar Hanu.


Pria itu bangkit dari sajadahnya dan Zana memperhatikan itu.


"Makasih,Mas." ucap Zana menggigit roti rasa coklat tersebut.


Hanu mengecup pipi Zana mesra.Pria itu menarik istri kecilnya itu untuk duduk di pangkuannya.


••••


Satu minggu berlalu, pasca operasi yang dijalani Aniya. Kini,ia tengah menjalani pemulihan di rumah sakit . Hanu sering menjenguk istri pertamanya tersebut.Namun,masih dengan sikapnya yang dingin pada Aniya dan berbicara seperlunya. Pria itu perlahan berubah pada Aniya, dari sikap, bicaranya dan tatapan mata yang seolah tidak tertarik lagi pada istri pertamanya itu.


"Kamu kenapa harus melakukan hubungan terlarang yang menjijikkan itu dengan Ardi, Aniya..." lirih umma Sarah yang duduk di kursi roda. Wanita paruh baya itu masih terlalu lemah untuk berdiri.


Tatapan kecewa dan terluka tampak jelas terbingkai di sorot mata Umma Sarah. Bahkan rasa sakit ini makin menjadi-jadi melihat kehancuran rumah tangga putrinya.


"Itu hanya masa lalu,Umma.Wajar bila  aku mudah terbuai dengan cinta yang di tawarkan oleh laki-laki yang aku sukai saat SMA dulu.Kami terlalu mabuk dengan perasaan kami masing-masing hingga melakukan itu, "ujar Aniya.


"Dan menyerahkan hal yang berharga dalam diri kamu, Aniya?Umma malu Aniya.Kamu tidak tahu bagaimana malunya Umma.Apalagi kalau sampai Hanu menceraikan kamu dan kamu menjadi buah bibir tetangga sekitar, " ujar Umma Sarah.


Aniya memalingkan wajahnya. Tangannya meremas ujung bajunya kuat. Dia tidak akan membiarkan suaminya menceraikan dirinya dan membiarkan Zana menjadi istri satu-satunya Hanu.


Ceklek

__ADS_1


Suara pintu yang terbuka membuat atensi keduanya teralihkan. Aniya tersenyum lebar menatap Hanu yang kembali datang menemuinya. Namun, keningnya berkerut melihat suaminya membawa sebuah map berwarna biru.


Seperti biasa, Hanu akan membawa Zana bersamanya. Membuat rasa sakit dan emosi yang bergejolak di dada Aniya melihat kehadiran gadis itu.


"Mas,kamu mau jemput aku? "tanya Aniya, karna hari ini dokter mengizinkan dirinya pulang, kondisinya sudah  pulih.


"Aku hanya ingin kamu menandatangani surat gugatan cerai ini,"ujar Hanu meletakkan selembar kertas itu di depan Aniya dan juga memberikan pulpen pada Aniya.


Umma Sarah menatap Hanu tidak percaya.Bagaimana bisa ucapannya menjadi kenyataan.Putrinya akan menjadi janda.


"Aku tidak mau cerai,Mas!Jangan hukum aku dengan perpisahan yang menyakitkan ini untuk aku atas kesalahan yang telah aku lakukan."


Aniya merobek surat gugatan tersebut dengan air mata bercucuran yang membasahi wajahnya di tambah dadanya yang semakin sesak seperti dihantam batu besar berulang kali. Rasanya sangat sakit lagi, dunianya seperti runtuh seketika.


Hanu kembali memberikan lembaran surat gugatan cerai pada Aniya. Pria itu mempersiapkan banyak lembaran surat gugatan cerai, karna yakin Aniya akan merobeknya.


"Seingin itukah kamu ingin menceraikan aku, Mas. Tega kamu, Mas! Kamu tidak kasihan dengan aku yang sangat membutuhkan dukungan kamu saat aku terpuruk seperti ini setelah rahim ku di angkat.Jangan ceraikan aku,Mas. Aku tidak mau! " Aniya menggelengkan kepalanya kuat-kuat,menangis meraung-raung.


Umma Sarah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membela Aniya yang memang jelas salah dalam masalah ini. Tapi dia tidak rela rumah tangga putrinya harus berakhir di meja persidangan.


"Tolong Aniya, tanda tangani surat ini. Atau aku harus mengucapkan kata tala___"


"Jangan ucapkan itu, Mas! "sentak Aniya. Dengan tangan gemeter dan kristal bening yang jatuh membasahi lembaran surat tersebut.


Aniya dengan berat hati menandatangani surat tersebut. Tapi dia akan berusaha untuk  memenangkan sidang perceraian ini agar gugatan Hanu pada dirinya gagal.


"Mas,apa boleh aku berbicara berdua dengan Zana?" ujar Aniya sembari menghapus air matanya setelah menanda tangani surat tersebut.


"Tidak.Bila ingin berbicara dengan Zana silakan, tapi aku tidak akan keluar dari ruangan ini."tolak  Hanu tegas. Aniya tersenyum getir.


"Sesayang itu kamu dengan Zana? Hingga berpikir aku akan menyakiti istri kesayangan kamu ini,Mas." ujar Aniya sebagai sindiran pada Hanu yang lebih memilih diam.


"Zana kemari," ujar Aniya. Dengan langkah berat Zana mendekati brankar tempat Aniya yang duduk bersandar.


"Kamu bahagiakan, sudah merebut semuanya termasuk suami aku.Kamu datang kehidupan aku sebagai istri kedua tapi sekarang kamu akan menjaga istri satu-satunya Mas Hanu. Aku tersingkir dan itu karna kamu. Karna kamu hidupku jadi sial." bisik Aniya penuh penekanan.


Hanu dan Umma Sarah memperhatikan mereka berdua tanpa bisa mendengar apa yang dibicarakan Aniya pada Zana.


"Aku tidak pernah ada niat, untuk merusak rumah tangga Mbak Aniya. Apalagi bahagia atas perceraian Mbak Aniya dengan Mas Hanu," bantah Zana dengan tuduhan Aniya yang tersenyum sinis padanya.


Plak...


"Munafik kamu Zana! Kamu bahagia melihat aku menderita seperti ini! " Aniya menampar dan mendorong Zana yang hampir jatuh bila Hanu tidak dengan sigap menangkap tubuh mungil istri keduanya.


"Kamu keterlaluan, Aniya! Aku semakin yakin untuk menceraikan kamu," desis Hanu dengan rahang yang mengeras melihat kelakuan Aniya.

__ADS_1


Umma Sarah menggelengkan kepalanya. Kalau seperti ini sangat susah memperbaiki pernikahan Hanu dan Aniya.


__ADS_2