KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Pengadilan agama


__ADS_3

...Sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Quran...


...Happy reading...


3 bulan berlalu...


Tak terasa sidang gugatan perceraian antara Hanu dan Aniya sudah akan di mulai hari ini. Pernikahan yang berjalan selama 8 tahun itu harus kandas karna kebohongan besar yang di sembunyikan oleh Aniya pada Hanu.Bukan hanya itu Aniya melakukan kekerasan pada Zana hingga istri kedua Hanu hampir keguguran setelah beberapa kali Aniya berusaha menyakiti Zana. Itu adalah hal yang tidak bisa di maafkan oleh pria tersebut.


Sebelum melakukan sidang perceraian pengadilan agama, Hanu dan Aniya melakukan mediasi yaitu suatu proses perdamaian antara suami dan istri yang telah mengajukan gugatan cerai, dimana mediasi ini di jembatani oleh hakim yang di tunjuk oleh pengadilan agama.


Tapi sayang, Hanu menolak perdamaian untuk membatalkan gugatannya. Ia sudah sangat yakin untuk menceraikan Aniya mengakhiri pernikahan ini.


Kini, keduanya duduk di kursi persidangan, disaksikan oleh beberapa orang termasuk Zana, Umma dan Abah yang duduk di kursi belakang. Aniya tak henti-hentinya menangis menatap lirih kearah Hanu yang tidak sedikit pun ingin menoleh kearahnya atau pun meliriknya.


"Sidang perkara perceraian hari ini di buka, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim. Sidang dibuka untuk umum," Hakim memukul palu hingga tiga kali.Menandakan bila persidangan akan di mulai.


"Saudara penggugat apakah saudara tetap dengan sikap sebelumnya? " tanya Hakim pada Hanu dengan keputusan menceraikan Aniya.


"Iya, saya tetap dengan sikap dan keputusan saya untuk menceraikannya, " jawab Hanu tegas. Sementara Aniya tidak bisa membendung rasa sakit hatinya dan sesak di dada yang menghantam bersamaan.


"Abah, Umma tidak tega melihat Aniya harus bercerai dengan Hanu, " lirih Umma Sarah pada Abah Husein yang setia memberikan pelukan hangat dan usapan lembut di bahu wanita paruh baya itu.


Zana mengusap perutnya yang sudah membuncit. Usia kandungannya sudah menginjak 5 bulan walau kemaren hampir saja keguguran saat Aniya dengan tega memberikannya makanan yang sudah dicampur obat penggugur kandungan. Beruntung Hanu membawa dirinya tepat waktu ke rumah sakit dan lebih beruntung lagi kandungannya kuat.


"Kami putuskan Saudara Hanu Hafiz Ali dan saudari Aniya Diana resmi bercerai pada tanggal 1 April 2022."


Tuk tuk tuk


Hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali. Hanu tertunduk sejenak menghirup udara dalam-dalam. Sedangkan Aniya langsung ambruk, jatuh pingsan dari kursi persidangan karna benar-benar tidak bisa menerima keputusan Hakim.

__ADS_1


"Aniya, bangun! Aniya, " Hanu membawa Aniya dalam dekapannya penepuk-nepuk pipi mantan istrinya dengan pelan.


Umma Sarah langsung berjalan mendatangi Aniya yang sudah tak sadarkan diri lagi.


"Puas kamu Hanu! Puas sudah membuat Aniya hancur?! Seharusnya kamu tidak harus menceraikan Aniya, kamu tidak tahu betapa menderitanya dia bila kamu tidak ada di sampingnya lagi, " ujar Umma Sarah diiringi isak tangis melihat keadaan putrinya.


"Tapi ini yang terbaik untuk Aniya. Dan agar dia bisa belajar dari kesalahan yang dia perbuat, " balas Hanu dengan nada tenang menghadapi Umma Sarah yang begitu emosi pada dirinya.


"Seharusnya kamu beri dia kesempatan kedua bukan bercerai seperti ini, " tukas Umma Sarah.


"Sudah jangan berdebat lagi. Hanu cepat bawa Aniya ke rumah sakit, " titah Abah Husein yang di angguki Hanu.


Zana berjalan mengikuti langkah suaminya dari belakang walau sedikit kesusahan. Namun, tangan Zana langsung dicekal oleh Umma Sarah membuat langkahnya terhenti dan berbalik kearah belakang.


"Umma, ken____"


Plak!


"Kamu itu tidak lebih wanita penghancur rumah tangga anak saya. Kalau saya tahu kehadiran kamu akan mengancam pernikahan Aniya, sudah pasti saya akan menyingkirkan kamu, " desis Umma Sarah penuh penekanan sarat akan kebencian yang mendarah daging pada Zana.


Wanita paruh baya itu langsung meninggalkan Zana yang diam mematung, setelah meluapkan kemarahannya.


"Kenapa kehadiran ku selalu membuat orang lain membencinya. Aku tidak pernah berniat untuk menghancurkan rumah tangga Mbak Aniya, " lirih Zana dengan suara yang tersekat di tenggorokan. Matanya langsung memanas dengan butiran kristal yang berjatuhan membasahi pipinya.


🍄🍄🍄🍄🍄


"Kamu kenapa, hmm? " tanya Hanu menangkup pipi Zana. Pria tersebut menyoroti pipi kanan sang istri yang sedikit lebam.


"Pipi kamu kenapa lebam seperti ini? " Hanu kembali bertanya. Zana menyingkirkan dengan pelan tangan Hanu yang bertengger di pipinya.

__ADS_1


Zana langsung menelusupkan dirinya dalam pelukan Hanu. Memejamkan matanya merasakan kehangatan dan aroma tubuh suaminya. Rasa letih di hatinya berangsur pulih walau ada rasa sakit yang mengganjal di hati.


"Mas,aku jahat ya? Karna merebut kamu dari Mbak Aniya? " tanya Zana yang makin menenggelamkan wajahnya dalam dada Hanu.


Pria itu mengusap-ngusap kepala Zana di balik hijab pashmina,'nya dengan lembut.


"Kenapa berbicara seperti itu, hmm? Kamu bukan perebut, Mas bercerai dengan Aniya karna kesalahan Aniya sendiri. Lagi pula wanita perebut pas di sematkan untuk pelakor yang berusaha menggoda para suami yang sudah beristri. Dan kamu wanita yang memiliki status yang jelas di mata agama maupun negara, " ujar Hanu, makin mendekap tubuh mungil Zana.


"Mas, jangan terlalu erat meluknya, anak kamu ke gencet! " pekik Zana , membuat Hanu dengan segera melepaskan pelukannya.


Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjongkok di hadapan Zana, menatap kearah perut sang istri.


"Maaf ya nak, Ayah meluk Bunda kamu terlalu erat. Biasa, Bunda kamu tidak bisa jauh dari Ayah, " kelakar Hanu dan Zana mengerucutkan bibirnya.


Hanu mengusap-ngusap perut Zana dengan lembut dan mencium perut buncit yang tertutup kain tersebut dengan sayang. Umma yang memperhatikan keduanya sedari awal mencak-mencak dengan mulut yang mendumel kesal melihat kemesraan dan kebahagiaan keduanya, sedangkan Aniya masih terbaring di brankar, belum sadarkan diri.


"Semoga kamu dapat balasannya, Zana. Sudah membuat Aniya menderita seperti ini. " ujar Umma Sarah dengan nada suara yang pelan agar tidak terdengar oleh Abah Husein yang masih setia duduk di samping brankar tempat Aniya berbaring sekarang.


Sedangkan Hanu dan Zana duduk di sofa.


Aniya mengerjapkan matanya beberapa kali. Hingga matanya terbuka sempurna.


"Mas Hanu, " lenguh Aniya yang memanggil nama mantan suaminya.


"Hanu, ke sini. Aniya memanggil kamu, " ujar Umma Sarah. Hanu berjalan mendekati brankar. Aniya langsung menggenggam tangan mantan suaminya tersebut dengan air mata yang tak tertahan.


"Mas, kenapa kamu tega menceraikan aku. Aku sangat mencintai kamu melebihi apapun, " lirih Aniya dengan isak tangis.


"Kamu intropeksi diri dulu dan renungkan kenapa aku menceraikan kamu, Aniya. Pertama kamu telah membohongi aku dan yang kedua kamu berusaha melenyapkan anak aku dalam kandungan Zana. Itu bukan kesalahan yang mudah untuk di maafkan. Kamu beruntung, karna aku tidak melaporkan kamu ke polisi meskipun kamu sudah hampir melenyapkan anak ku. Jangan jadikan rasa benci dan dendam menguasai diri kamu untuk mencelakai, Zana. Terimalah kenyataan bahwa kita bukan suami istri lagi, " tutur Hanu, perlahan melepaskan genggaman tangan Aniya pada tangannya.

__ADS_1


"Aku minta maaf, tapi aku mohon kita rujuk ya, Mas. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku janji tidak akan menyakiti Zana lagi dan anak dalam kandungannya, " ujar Aniya memohon, tidak peduli atas semua kesalahan yang telah dia perbuat.


Bersambung...


__ADS_2