
...Jangan lupa tinggalkan jejak ya! ^^...
...~Happy reading~k...
"Zana, dengarkan Mas dulu."ujar Hanu hendak menjelaskan alasannya tidak ke rumah istri kedua tersebut,setelah mengantarkan Aniya pulang.
"Mendengarkan apa, Mas?! Menjelaskan kalau Mas lebih mementingkan Mbak Aniya, tanpa memperdulikan aku yang hamil anak kamu, Mas! "Zana mendorong dan memukul-mukul dada bidang Hanu dengan brutal, meluapkan emosi dan cemburu yang melebur jadi satu.
Hanu langsung menahan kedua tangan Zana yang terkepal." Mas, tidak pulang ke sini karna umma...."
"Karna Umma melarang?iya?Kenapa Mas selalu patuh dengan perintah umma Sarah hiks.... Sedangkan umma tidak berhak ikut campur dengan masalah rumah tangga kita, Mas hiks.... " Zana menangis tersedu-sedu menahan sesak di dadanya. Dia juga ingin di perhatikan oleh suaminya seperti wanita lainnya yang sedang hamil. Ia butuh Hanu di sampingnya.
Hanu terdiam dengan tangan terkepal kuat dengan wajah yang memerah, menahan marah. Ia bukan marah pada Zana atau pada siapa pun tapi pada dirinya sendiri yang tidak bisa tegas dan tidak bisa menentang dengan apa yang umma Sarah perintahkan. Hidupnya di kendalikan oleh umma Sarah karna telah merawat dirinya saat kedua orang tuanya meninggalkan dirinya. Dan itu membuat ia merasa berhutang budi. Andai waktu bisa di putar, ia tidak ingin terjebak dalam situasi seperti ini.
"Zana, maafkan Mas yang tidak bisa bersikap adil dan selalu membuat kamu menangis seperti ini..." lirih Hanu. Pria itu mendekap tubuh mungil Zana yang bergetar terisak-isak menangis.
"Aku mohon, Mas. Jangan buat hatiku kembali hancur. Aku juga ingin bahagia hiks ..... " Zana mendongak menatap Hanu dengan wajah yang sudah basah dengan air mata yang terus mengalir.
Hanu mengusap wajah Zana dengan kedua tangannya, menghapus air mata istrinya. Hati Hanu benar-benar sakit melihat wanita yang dia cintai menangis,sangat terluka dan itu karna dirinya.
"Tetap bertahan sayang, apa pun yang terjadi.Mas janji ini terakhir kalinya kamu menangis dan terluka seperti ini, " ujar Hanu, menyatukan kening mereka berdua.
"Mas, mencintai kamu,sayang, " ujar Hanu, mencium kening Zana yang memeluk erat dirinya
"Jangan buat aku seperti ini lagi, Mas, " lirih Zana dengan suara parau.
"Iya, sayang. InsyaAllah. " Jawab Hanu, mengusap kepala sang istri dengan sayang.
Baru beberapa menit, mereka berdua berdamai,suara dering panggilan masuk dari ponsel, membuat Hanu melepaskan pelukannya pada Zana yang seolah tidak ingin di lepaskan dalam dekapan hangat suaminya.
Hanu melirik Zana setelah melihat nama penelpon.
"Assalamu'alaikum,umma. Ada apa? " tanya Hanu. Zana langsung menampilkan wajah kesalnya setelah tahu sang penelpon.
__ADS_1
"Hanu cepat pulang ke rumah! Aniya, Aniya mengeluh sakit perut dari tadi . Umma takut dia kenapa-kenapa, Hanu! " ujar Umma Sarah yang terdengar panik di sebrang sana. Hanu memejamkan matanya sejenak .
"Hallo, Hanu. Kamu dengar Umma atau tidak?! Cepat pulang, Aniya butuh kamu, jangan terus berada di rumah Zana!"
"Iya,umma aku akan segera pulang, " ujar Hanu.Pria itu mematikan sambungan telponnya.
"Sayang, Mas..."
"Pulang.Dan meninggalkan aku lagi, Mas?"
Zana terkekeh sinis. Sudah ia duga umma Sarah akan selalu mengganggu dirinya dan Mas Hanu saat mereka berdua sedang bersama. Apa harus seperti ini menjadi istri kedua, selalu mengalah dan mengalah. Memang sungguh miris kehidupannya dari kecil sampai berumah tangga sekali pun. Seolah kebahagiaan tidak pantas ia dapatkan.
"Lebih baik Mas pulang dan tidak usah balik lagi ke sini. Mbak Aniya lebih penting dari pada aku yang sedang mengandung anak kamu! " ketus Zana, mendorong Hanu untuk keluar dari rumah. Air mata yang baru saja mengering kini kembali membasahi wajah Zana.Hati yang baru saja menghangat,kembali terluka.
"Sayang, kamu jangan seperti ini. Tolong pahami kondisi Mas, sayang. Istri Mas bukan hanya kamu tapi juga Aniya.Jangan buat Mas menjadi suami yang tidak bertanggung jawab pada Aniya yang sedang membutuhkan,Mas." ujar Hanu yang sudah berada di ambang pintu.
"Iya, aku tahu. Tidak usah di ingatkan. Aku ini sadar dengan posisi aku yang merupakan istri kedua, yang di pakai saat kamu menginginkannya.Aku sama halnya seperti pelacur!" sembur Zana yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Zana, bukan seperti itu, kamu...."
Brakk.
"Zana, buka pintunya!"
"Zana, buka pintunya!"
"Zana! "
Brakk....
Hanu menendang pintu dengan kuat, meluapkan emosinya. Ia mencengkram rambutnya frustasi.Hanu benci di situasi yang membuatnya jadi serba salah. Rasanya Dia ingin menangis menghadapi Zana yang mudah marah, umma Sarah yang tidak ingin di bantah dan Aniya yang terlalu manja.
Hanu langsung menyalakan motornya dan meninggalkan pekarangan rumah.
__ADS_1
Zana, gadis itu menangis pilu di belakang pintu. Memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa nyeri, merasakan sakit. Mungkin karna terlalu banyak pikiran dan tertekan dengan keadaan membuat cabang bayi dalam perutnya kontraksi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hanu membuang napas kasar menatap kosong selembar kertas yang tengah ia pegang. Dia tengah berada di rumah sakit, Aniya mengalami sakit perut yang luar biasa , membuat Hanu membawa istrinya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, setelah sebelumnya memanggil dokter Devi ke rumah.
"Jadi istri bapak mengidap penyakit kanker rahim . Dan sesegera mungkin harus melakukan operasi mengangkatan rahim . Kalau tidak maka akan sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawa istri bapak, " jelas dokter Lisa.
Hanu mendongakkan kepalanya ke atas dengan mata yang terpejam. Kenapa satu persatu masalah mulai bermunculan di kehidupannya.
"Ujian apa lagi ini..." gumam lirih Hanu.
********
Hanu masuk ke dalam ruang rawat Aniya dengan langkah gontai, tak bersemangat. Bahkan pria itu seperti melamun, terlalu banyak masalah yang ia pikirkan antara Zana dan Aniya.
"Mas, tadi kamu kenapa di panggil dokter ke ruangannya? " tanya Aniya yang berbaring di brankar.
"Iya, Hanu.Memangnya dokter bicara apa dengan kamu? Aniya tidak apa-apa,'kan? " tanya Umma Sarah sedikit mendesak.
Hanu hanya diam dengan tatapan kosong. Bagaimana dia memberitahu sebuah kenyataan yang mungkin akan membuat Aniya hancur.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Masih sakit? " tanya Gala yang duduk di sisi kasur. Zana menggelengkan kepalanya.
"Mana suami kamu? Kenapa tidak bertanggung jawab sampai membiarkan kamu mengalami kontraksi seperti ini? Kalau kenapa-kenapa dengan kandungan kamu bagaimana?" ujar Gala yang kesal bukan main.
Pria itu tidak sengaja mendengar suara minta tolong saat dirinya tengah duduk bersantai di teras.
"Apa aku keguguran..." lirih Zana, menatap Gala dengan mata yang berkaca-kaca. Karna celananya terdapat flek merah sedikit, menembus celananya.
Gala, menggelengkan kepalanya, "Jangan berpikir seperti itu. Sebentar lagi dokter datang,kamu harus berpikiran positif semuannya akan baik-baik saja," ujar Gala mengusap kepala Zana, lembut.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menolong ku ,kalau tidak......."Belum menyelesaikan ucapannya Zana menangis terisak-isak. Dia benar-benar sensitif karna pengaruh kehamilannya dan juga masalah yang harus ia hadapi.