KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Permintaan


__ADS_3

Hanu menguraikan pelukannya, menangkup wajah istrinya agar menatap ke arahnya. Ia menghapus air mata yang terus membasahi wajah Zana yang terlihat memerah.


"Kamu kenapa kabur dari rumah? Apa saya menyakiti hati kamu atau saya tidak bersikap adil terhadap kamu? "tanya Hanu dengan lembut. Zana menatap suaminya dengan sorot mata yang sarat akan kebencian .Ia menyingkirkan dengan kasar tangan Hanu yang bertengger di wajahnya membuat pria itu tersentak dengan apa yang di lakukan Zana.


"Kamu tidak usah pura-pura baik dengan ku!Aku sudah tahu semuanya. Kalau kamu menikahi aku karna hanya ingin mendapatkan anak dari aku! Iya'kan? Setelah aku melahirkan anak kamu. Kamu akan membuang aku layaknya sampah."


Hanu langsung menggelengkan kepalanya membantah ucapan Zana.


"Kamu mendengar dari mana? Saya tidak pernah menikahi kamu hanya karna menginginkan seorang anak apalagi sampai membuang kamu setelah melahirkan anak saya .Kamu istri saya dan sampai kapanpun akan terus begitu dan tidak akan menceraikan kamu .Saya sudah bersumpah di depan orang-orang  dan Allah SWT menyaksikan pernikahan kita saat saya mengikat kamu dalam sebuah tali pernikahan yang tidak akan pernah putus sampai takdir atau kematian yang memisahkan kita berdua. Pernikahan juga bukan sebuah permainan yang dilakukan satu pihak hanya untuk kepentingan pribadi. " tutur Hanu.


Zana menggelengkan kepalanya, seolah tidak percaya dengan ucapan Hanu .Ia masih tidak bisa melupakan obrolan suaminya dengan Aniya yang  terus terngiang-ngiang di telinganya.


"Aku tidak percaya,aku mendengar obrolan kamu di meja makan. Kalau kamu...menikahi aku hanya untuk bisa mendapatkan anak dari aku karna mbak Aniya tidak bisa memberikan kamu anak." ujarnya.


Hanu langsung memeluk Zana, mengusap-ngusap kepala istrinya yang tengah diliputi amarah yang menguasai seluruh pikirannya.Jadi percuma Hanu menjelaskan sepanjang apapun bila amarah yang masih menguasai diri Zana yang terus merasa benar.


Zana terdiam ketika dalam dekapan Hanu. Ia merasakan kehangatan yang menembus ke dalam hatinya yang ikut merasakan kehangatan dan begitu nyaman . Tidak pernah ia di perlakuan selembut ini oleh seorang pria. Ia bahkan sudah terbiasa di perlakuan kasar oleh ayahnya sendiri yang terkadang ringan tangan padanya yang selalu mendapatkan kekerasan fisik.


Suara perut Zana yang keroncongan membuat Hanu perlahan melonggarkan pelukannya menatap Zana yang sudah menundukkan kepalanya dengan pipi yang memerah karna malu. Ia dari pagi belum makan dan sekarang cacing di perutnya sedang berdemo meminta makan.


"Kamu lapar? "tanya Hanu yang perlahan pengangkat dagu Zana, agar bisa melihat wajah sang istri yang masih memerah.


Zana mengangguk kepalanya. Ia tidak bisa berbohong pada Hanu kalau ia memang benar-benar lapar. Ia bukan wanita yang memikirkan harga dirinya yang harus sempurna di depan pasanganny.

__ADS_1


"Ya sudah ,ayo kita makan." ujar Hanu meraih tangan Zana dan menggenggamnya dengan lembut.


Zana menatap tangannya yang di genggam suaminya yang menarik tangannya lembut, menuju ke sepeda motor.


Hanu memasangkan helm pada Zana yang terus menatap dirinya, entah apa yang di liat oleh gadis itu . Ia tersenyum lebar seraya mencolek hidung mancung Zana , membuat istri kecilnya itu langsung memalingkan wajahnya.


Pria itu juga melepaskan jaket yang melekat pada dirinya dan langsung memasangkan jaket tersebut pada tubuh Zana yang memakai kaos polos dengan lengan yang begitu pendek dan tipis. Pria manapun begitu mudah melihat lekuk tubuh Zana dan Hanu tidak akan membiarkan pria manapun itu melihat aurat istrinya bahkan keindahan yang ada pada istri kecilnya.


Zana memperhatikan Hanu mengancingkan resleting jaket yang di pakainya tersebut. Suaminya itu terlihat membuka jok motor dan mengeluarkan sesuatu dalam kantong plastik hitam. Sebuah celana panjang kolot yang Hanu sodorkan pada Zana yang mengangkat satu alisnya, bingung.


"Apa ini? "tanya Zana membuat Hanu yang tengah menutup kembali jok motornya, menoleh ke arah Zana yang tampak kebingungan.


Hanu melirik pada celana yang Zana pakai sekarang yang begitu pendek, memperlihatkan paha yang begitu putih mulus.


••••


Aniya terlihat gelisah berdiri di depan rumah, menunggu kedatangan kedua orang tuanya. Ia juga terus menghubungi Hanu yang tidak mengangkat telponnya.


"Mas Hanu angkat, " gumam Aniya mengigit bibir bawahnya kelu.


"Assalamu'alaikum, Aniya. Ada apa? "tanya Hanu yang baru mengangkat sambungan telpon.


"Waalaikumsalam,mas.Apa kamu sudah menemukan Zana? " Aniya langsung berbalik bertanya.

__ADS_1


"Sudah dan sekarang Zana sedang makan,sebentar lagi kami berdua akan pulang. Kamu mau menitipkan sesuatu?"tanya Hanu di sebrang sana.


"Tidak,mas. Aku cuma minta sesuatu dengan kamu jangan pulang ke rumah dulu apalagi membawa Zana. abah dan umma akan berkunjung ke rumah kita berdua. Aku tidak mau mereka tahu kalau kamu sudah menikah lagi mas, pasti abah akan sangat marah. " Jelas Aniya berharap Hanu paham akan hal ini.


"Kenapa harus seperti itu? Zana istri ku dan aku tidak mau menyembunyikan status aku yang sudah menikah lagi dengan abah atau pun dengan umma. Bagaimana pun Abah harus tahu semuanya bila aku telah menikah lagi tanpa memberitahu Abah itu sudah sangat salah, Aniya . " Jelas Hanu di sebrang sana.


Aniya memejamkan matanya sejenak.Ia berpikir bagaimana membuat Hanu menurut dengan ucapannya. Ia tidak mau rencananya hancur begitu saja.


"Mas ,aku mohon kali ini saja kamu menuruti permintaan aku. Aku janji akan memberitahu pernikahan kamu dengan Zana pada abah dan umma,tapi bukan sekarang. " Ujar Aniya dengan nada suara yang memelas dan memohon .


Terdengar helaan napas Hanu di sambungan telpon, "Baiklah, tapi kali ini saja aku menyembunyikan pernikahan aku dengan Zana. Bagaimana pun orang-orang harus tahu kalau Zana istri kedua ku termasuk Abah dan Umma yang harus tahu akan hal ini. " Ujar Hanu.


Aniya tersenyum lebar mendengar ucapan Hanu. "Terimakasih, mas. Pokoknya nanti aku telpon kalau abah dan umma sudah pulang dari rumah kita. Jadi untuk sementara kamu tidur di penginapan, " ujar Aniya yang di balas deheman oleh Hanu.


Aniya langsung mematikan sambungan telponnya, dengan senyuman yang begitu sumringah.


•••••


Hanu memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. Ia kembali ke tempat duduknya di sebelah Zana yang begitu rakus memakan bakso. Gadis ini sudah memesan dua porsi bakso mungkin kelaparan.


Hanu menatap sudut bibir Zana yang nampak blepotan. Ia langsung mengusap sudut bibir itu dengan lembut ketika jempolnya bersentuhan langsung di permukaan kulit Zana . Gadis itu langsung diam, membeku dengan apa yang di lakukan Hanu. Ia menatap suaminya yang begitu fokus membersihkan sudut bibirnya. Entah mengapa ia merasa aliran darahnya makin deras dan jantungnya yang berdegub kencang tidak seperti biasanya.


Bersambung...

__ADS_1


Aku update 2 hari sekali ya


__ADS_2