
...Maaf ya baru update. InsyaAllah secepatnya akan update lagi🙏...
...~Happy reading~...
"Aku turut berduka atas meninggalnya mantan istri pertama mu, Hanu.Dan aku juga baru tahu bila kau memiliki dua istri," ucap Cio yang melangkahkan kakinya bersamaan dengan Hanu.
"Aku lupa memberitahu mu soal itu,Cio."ucap Hanu.
"Berarti yang kau bawa ke kota ini istri kedua mu? Hebat kau bisa memiliki dua istri sekaligus," ucap Cio bergurau.
Hanu menghela napas berat dan tersenyum tipis."Mempunyai dua istri itu tidak semudah di bayangkan orang-orang. Mungkin mereka mengira laki-laki yang memiliki dua istri hidupnya sangat enak karna di layani oleh dua wanita. Tapi sangkaan mereka salah.Apalagi bila kita sebagai seorang suami tidak bisa bersikap adil dan kecemburuan istri yang tidak bisa di tebak yang kapan saja, apalagi melihat kita bermesraan dengan salah satu di antara mereka.Tanggung jawabnya besar di akhirat, Cio."tutur Hanu.
Keduanya masuk ke dalam ruang Cio. Hanu mendudukkan dirinya di sofa, sembari memijit pangkal hidungnya.
"Ini minum dulu," Cio menyodorkan minuman bersoda dingin pada Hanu.
"Kau tampak kelelahan,Hanu."ujar Cio memperhatikan.
Hanu membuka kaleng soda tersebut dan meminumnya." Setiap malam aku harus bergadang untuk menjaga Aezar, anakku.Tidak tega bila membangunkan Zana yang seharian sudah mengurus rumah dan juga Aezar,"ujar Hanu kembali meneguk soda dingin itu.
"Kau sangat pengertian terhadap istri mu, Hanu."puji Cio, menepuk-nepuk bahu Hanu pelan.
Hanu tersenyum." Bukan hanya pengertian, Cio. Seorang suami bukan hanya memberikan nafkah dan perlindungan untuk istrinya tapi bagi aku seorang suami juga harus bisa meringankan tugas istri.Karna menikah itu bukan hanya menyempurnakan separuh agama tapi juga saling melengkapi dan meringankan beban pasangan."tutur Hanu yang di angguki.
"Kau kapan akan menikah, Cio?" tanya Hanu balik.
Cio mengidikkan bahunya."Aku tidak tahu. Aku masih sibuk dengan perusahaan dan usaha restoran ku, Hanu. Do'akan saja semoga cepat mendapatkan wanita yang tepat."ujar Cio terkekeh pelan.
"Kalau bisa kita jodohkan anak kita nanti,"kelakar Cio tertawa renyah.
" Kalau anak kita di takdirkan berjodoh. Karna aku tidak ingin memaksakan anakku nanti untuk menikahi wanita pilihan ku tapi hatinya menolak.Aku tidak ingin mengekang anakku, Cio. Biarkan dewasa nanti dia memilih pasangannya sendiri."ucap Hanu dengan wajah sendu.
__ADS_1
Hanu tidak ingin nasib Aezar seperti dirinya dahulu. Di paksa menikah dengan Aniya sedangkan hatinya menolak.Karna tidak enak dan ingin balas budi atas kebaikan abah Husein,Hanu harus mengorbankan perasaannya sendiri.
🍄🍄🍄🍄🍄
Zana memgeryitkan keningnya kala membuta pintu. Ayu langsung berhambur dalam pelukan gadis tersebut. Terdengar jelas isak tangis dari Ayu yang mengeratkan pelukannya.
Zana terdiam, namun perlahan tangannya terangkat, membalas pelukan Ayu yang entah mengapa ada rasa nyaman dan kehangatan yang menjalar di hatinya.
"Zana, ini Mama sayang. Orang tua kandung kamu." Ayu menguraikan pelukannya dan menunjuk dirinya sendiri.
"Maksudnya?" tanya Zana, bingung.
"Idah dan Baron itu bukan orang tua kandung kamu ,sayang. Kami berdua orang tua kandung kamu, Zana." Ayu tidak bisa menahan tangisnya.
Badan Zana langsung melemas bahkan sampai hendak ambruk bila Bayu tidak dengan sigap menahan tubuh putrinya tersebut. Air mata lolos begitu saja di sudut mata Zana. Dia menatap ke arah Idah dan Baron yang baru datang dan berjalan mendekat ke arahnya.
"J-jadi aku bukan anak kandung kalian?" tanya Zana dengan suara pelan dan bergetar.
"Pa-pantas kalian tega menjual aku," ujar Zana tersenyum miris bersamaan meluruhkannya air mata.
"Ja-jadi kalian menjual anakku,hah?!Biadab kalian, bukan berarti Zana anak tiri ,kalian boleh menjualnya dan saya tidak akan membayar uang yang kalian minta," tegas Ayu menatap geram.
Baron langsung mengangkat kepalanya dengan sorot mata yang terlihat marah.
"Tidak bisa seperti itu.Kalian sudah berjanji untuk membayar, masih untung Zana kami rawat tidak kami buang di panti asuhan.Kami menjualnya dengan Hanu untuk biaya operasi saya saat itu. Kita berdua terpaksa melakukan itu karna perekonomian kami yang terpuruk." sahut Baron dengan deru napas yang memburu.
Ayu menatap ke arah Zana yang masih terlihat syok."Jadi kamu menikah dengan Hanu,suami dari Aniya karna di jual, Zana."tanya Ayu yang sakit hati dengan nasib putrinya.
Zana hanya diam, namun air mata terus berguguran.Bayu menggendong putrinya tersebut dan meletakkannya di sofa.
"Ayu ambilkan air," pinta Bayu. Ayu segera ke dapur dan tidak lama membawa segelas air putih.
__ADS_1
"Minum dulu, Nak."
Zana menerima gelas yang di berikan Bayu dan meminumnya dua teguk.Baron dan Idah hanya bisa berdiri mematung di dekat pintu.
Idah menyeka air mata yang siap akan tumpah. Inilah waktu yang paling di takutkan olehnya, Zana bertemu dengan orang tua kandungnya,sedangkan dirinya sangat menyayangi putri tirinya itu,tidak ingin melepas.
"Zana! "
Suara seseorang membuat semua atensi teralihkan ke arah Hanu yang baru datang. Pria itu berjalan mendekati Zana, namun langsung di cegat Ayu.
"Maaf, kalian kenapa ada di sini?Dan istri saya kenapa?" tanya Hanu dan sedikit heran melihat guratan kemarahan di wajah Ayu.
Plak
Tamparan yang kasar Ayu layangkan pada Hanu yang terkejut dengan tamparan di wajahnya.Zana terkejut melihat apa yang di lakukan wanita paruh baya itu pada suaminya.
"Apa salah saya?" tanya Hanu sembari memegangi pipi kanannya.
"Seharusnya saya yang tanya.Kamu kenapa membeli anak saya seperti barang dan menjadikan dia istri kedua, hah?!" bentak Ayu.
"Sa-saya tidak melakukan hal yang di tuduhkan anda.Zana memang istri kedua saya tapi sekarang tidak, dia istri satu-satunya."bantahnya.
"Kamu pikir saya percaya.Baron sendiri yang mengatakan bila dia menjual Zana dengan kamu." lanjut Ayu.
Tatapan Idah bergulir,dia memilin ujung bajunya.Takut mengatakan sebenarnya bila yang menawarkan untuk menjual Zana itu Aniya.
"Buka__" ucapan Zana terpotong oleh Bayu.
" Saya tidak ingin Zana menjalani. Pernikahan ini dengan kamu karna keterpaksaan."timpal Bayu.
Hanu menatap keduanya yang menyalahkan dirinya.
__ADS_1
"Maaf, saya katakan sekali lagi. Saya menikahi Zana memang terpaksa dan itu atas permintaan mantan istri saya, Aniya. Tapi sekarang saya sangat mencintai Zana. Dan saya tidak membeli Zana agar bisa menikahinya dan tuduhan anda salah," bantah Hanu tegas dengan tangan terkepal kuat.
Baron bersender di tembok melihat perdebatan ketiganya.