
Happy reading
Hanu melepaskan jas hujan di badannya dan meletakan di sebuah kursi kayu di depan teras . Ia nekat pergi dari rumah tanpa meminta izin kepada Umma atau pun Aniya untuk menemui Zana walau umma Sarah melarang. Hanu mengintip dari jendela kaca, melihat keadaan di dalam yang gelap gulita.
"Zana!Ini saya Hanu! Zana buka pintunya! " Hanu mengetuk-ngetuk pintu tapi tidak ada respon. Pria itu menggedor-gedor pintu kayu tersebut dengan sangat kencang, menimbulkan suara yang cukup nyaring terdengar telinga.
Tapi tetap tidak ada respon ataupun sahutan dari dalam.Tidak ada cara lain Hanu harus mendobrak pintu itu. Bisa saja terjadi sesuatu di dalam. Ia mengambil ancang-ancang dan langsung membenturkan tubuhnya di pintu tapi belum bisa terbuka. Hanu kembali mencoba untuk mendobrak pintu tersebut dan semoga berhasil.
Buk....
Pintu langsung terbuka lebar. Hanu langsung masuk ke dalam rumah mencari keberadaan Zana. Di dalam sangat gelap. Ia menyalakan senter dan melangkahkan kakinya ke kamar utama, milik Zana.
Ceklek.....
Hanu membuka pintu kamar tersebut. Mengendarkan pandangan matanya mencari sosok sang istri. Cahaya senter menyorot pada seseorang yang meringkuk di ujung ruangan dengan tubuh gemetar.
"Zana.... "
Hanu langsung memeluk Zana yang langsung mendongak menatapnya. Gadis itu langsung membalas pelukan suaminya dengan sangat erat. Hanu bisa merasakan badan Zana yang gemetaran dan berkeringat yang membasahi wajah gadis tersebut.
"A-aku takut gelap hiks.... Takut... " Zana terisak-isak dalam pelukan Hanu.
"Ssst____Sekarang tenang ya. Saya ada di sini jadi jangan takut lagi, " Hanu langsung menggendong Zana yang memeluk erat lehernya. Ia membaringkan istrinya di kasur, mengusap dahi Zana yang sudah basah oleh keringat.
"Kamu tunggu di sini. Saya mencari lilin dulu di dapur , " ujar Hanu tapi dengan cepat Zana menahan pergelangan tangannya, menggelengkan kepala. Tidak ingin di tinggalkan walau hanya sebentar.
"Aku ikut.Aku tidak ingin sendirian di sini."
__ADS_1
Hanu menghela napas pelan dan langsung menggendong Zana seperti koala. Gadis ini tidak ingin berpisah darinya dan tidak mau berjalan sendiri.
********
"Sekarang tidur, " titah Hanu mengusap-ngusap kepala Zana .
"Tapi jangan tinggalkan aku. Aku takut di sini sendirian, " lirih Zana, memeluk erat Hanu .
"Saya tidak akan meninggalkan kamu.Sekarang tidur, sayang. "tutur Hanu lembut.
Zana menatap Hanu yang sudah menutup matanya. Ia mengigit bibir bawahnya kelu.Zana ingin mengatakan sesuatu pada suaminya tapi takut dan juga malu.
" Kenapa belum tidur? "tanya Hanu yang perlahan membuka matanya. Zana terkesiap mendengar suara pria tersebut, membuat lamunannya buyar.
" A-aku____Mas aku sudah siap untuk memberikan hak kamu. Aku ingin segera mengandung anak kamu, "Zana langsung mengucapkan sesuatu yang sudah ia pikir matang-matang. Hanu mengerjapkan matanya. Ia menatap lekat Zana yang langsung memalingkan wajahnya dengan pipi yang memerah walau pencahayaan di ruangan ini tidak terlalu terang tapi ia bisa melihat wajah istrinya yang n
" Kamu yakin? "tanya Hanu dengan suara parau-nya. Mengenggam tangan Zana.
Zana menganggukan, yakin. " Aku yakin, Mas. Bukankah kamu menikahi aku karna menginginkan seorang anak, "ujar Zana , membuat wajah Hanu yang awalnya sendu kini berubah merengut, tak suka dengan ucapan sang istri.
" Kamu jangan berbicara seperti itu. Saya tidak suka, Zana. Seolah saya hanya menginginkan anak saja, saya mencintai kamu. Dan saya tidak mau menyentuh kamu , bila niatnya agar kamu cepat hamil. Saya ingin kita melakukannya karna sama-sama mau, sayang, "tutur Hanu lembut.
Zana perlahan mengulurkan tangannya, menyentuh rahang Hanu lembut. Ia tersenyum pada pria yang menatap sayu pada dirinya.
" Aku ingin menjadi istri kamu seutuhnya Mas dan bisa melahirkan keturunan kamu. Aku juga menginginkan kehadiran anak di antara kita, agar kebahagiaan rumah tangga kita semakin lengkap,"sahut Zana.
Hanu tersenyum. Rasanya ada gejolak kebahagiaan yang ingin meledak dari dalam dirinya. Ia menyentuh kedua pipi Zana menangkupnya lembut.
__ADS_1
"Kamu yakin? " Hanu kembali bertanya. Zana menganggukan kepalanya, yakin.
"Sebelum melakukannya kita baca doa dulu , " ujar Hanu.
Zana mengikuti doa yang di baca Hanu sebelum melakukan hubungan suami-istri.Pria itu mencium kening, kedua kelopak mata sang istri yang sudah terpejam. Hanu beralih mencium kedua pipi Zana , hingga tatapan matanya turun ke bibir tipis milik gadis tersebut.Ia perlahan mendekatkan wajahnya pada Zana, mengikis jarak yang semakin menipis, merasakan hembusan napas satu sama lain.
Zana melebarkan matanya, ketika bibir mereka berdua menempel sempurna. Ciuman itu perlahan menjadi sebuah ******* yang begitu lembut dan perlahan menjadi kasar . Zana terdiam, tidak tahu cara membalas ciuman Hanu yang menuntut, ia meringis ketika suaminya mengigit bibir bawahnya agar terbuka.
"Manis, " gumam Hanu di sela-sela ciumannya. Ia menyesap dan mengigit bibir Zana. Tangannya perlahan melepaskan kancing baju gadis tersebut tanpa melepaskan tautan bibir mereka berdua yang semakin panas. Suhu di ruangan di kamar ini mendadak panas dan gerah, membuat tubuh keduanya berkeringat. Padahal dia luar hujan deras.
🕸🕸🕸🕸🕸
Aniya mondar-mandir di ruang tamu dan mengintip di jendela , menunggu kedatangan suaminya. Tiba-tiba saja Hanu tidak ada di kamar atau pun di ruangan yang lain.
"Kemana mas Hanu, " gumam Aniya mengigit ujung jarinya. Mondar-mandir dengan pikiran yang begitu gelisah.
Umma Sarah menghela napas berat, yang dari tadi memperhatikan Aniya yang terus mondar-mandir. Dan pasti menunggu kedatangan Hanu.
"Sepertinya suami kamu itu ke rumah istri keduanya. "
Aniya yang mendengar itu langsung berbalik menatap Umma Sarah yang sudah berdiri di belakangnya.
"Kenapa mas Hanu ke sana lagi? Sedangkan jatahnya hari ini dan lusa bersama aku, Umma, " ujar Aniya marah.
"Umma perhatikan Hanu semakin lengket dengan Zana.Sekarang lihat perubahan Hanu yang dulu selalu izin ke mana pun dia pergi...Tapi sekarang tiba-tiba saja menghilang begitu saja. Zana begitu menjerat Hanu, yang tidak bisa jauh darinya. Dan itu juga alasan Umma tidak mengizinkan bila Hanu menikah lagi . Karna laki-laki itu bila sudah mendapatkan sesuatu yang baru pasti akan lupa dengan yang lama. Layaknya seperti anak kecil yang bila di belikan mainan baru maka dia akan lupa dengan mainan yang lama. Dan Umma tidak mau kamu seperti itu," ujar Umma Sarah.
"Karna Umma tidak mau kamu merasakan apa yang Umma rasakan dulu. Di buang oleh Ayah kamu setelah memilih menikah lagi, " batin Umma Sarah.
__ADS_1
Bersambung...