KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Cerai atau tidak


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan jejak ya! ^^...


...~Happy reading~...


"Kita mau kemana,Mas? " tanya Zana yang mengikuti Hanu dari belakang.


"Kita ke rumah sakit menjenguk Aniya. Sekalian memeriksa kandungan kamu," ujar Hanu tanpa berbalik melihat ke arah Zana. Pria itu membuka pintu keluar dan mendahulukan istrinya yang terlebih dulu keluar rumah.


Hanu berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir di depan halaman rumah. Awalnya ia ingin memakai motor tapi melihat kondisi Zana yang hamil muda dan cuaca yang cukup panas , membuat Hanu memilih naik mobil.


Hanu membukakan pintu mobil pada sang istri."Sekarang masuk."titah Hanu. Zana langsung masuk ke dalam mobil.


"Ini punya siapa,Mas? " tanya Zana memperlihatkan satu kantong plastik snack makanan pada Hanu yang baru masuk.


"Ini punya kamu. Mas sengaja menyuruh Ujang membelikan snack untuk kamu supaya tidak bosan di perjalanan dan biasanya wanita hamil itu suka laper tiba-tiba," ujar Hanu, tersenyum.


"Terima kasih ya Mas, " ujar Zana melemparkan senyumannya pada Hanu.


Gadis itu membuka bungkusan roti coklat. Matanya langsung berbinar melihat makanan yang di belikan Hanu. Sedangkan pria tersebut memasangkan sabuk pengaman pada Zana yang sibuk mengunyah roti di mulutnya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat sang istri yang terus makan dan makan. Tapi itu malah bagus bagi Zana apalagi tubuh Zana mulai berisi.


Mobil tersebut mulai berjalan, meninggalkan pekarangan rumah. Gala memperhatikan mobil yang mulai menghilang dari pandangan matanya.Sebenarnya ada rasa kasihan di benak Gala pada Zana yang menjadi istri kedua. Umur yang masih sangat muda dan cantik, padahal bisa saja gadis itu mendapatkan pria yang lebih baik lagi.


Entah alasan apa hingga Zana terikat pernikahan dengan Hanu yang lebih pas menjadi pamannya. Gala menghela napas panjang, miris sekali dirinya yang jatuh cinta pada seorang gadis yang ternyata sudah bersuami dan lebih gila lagi gadis itu merupakan istri kedua.


Dia fikir Hanu itu adalah paman Zana dan ternyata dugaannya salah.


🍁🍁🍁🍁🍁


Aniya memakan bubur yang di suapi Umma Sarah dengan tidak bersemangat. Matanya menatap ke arah pintu berharap Hanu datang.


"Aniya, Abah sudah berbicara dengan dokter yang menangani kamu. Malam ini kamu akan menjalani operasi pengangkatan rahim. Abah dan Umma sudah menanda tangani surat persetujuan untuk operasi kamu termasuk Hanu, jadi tinggal kamu yang tanda tangan persetujuan itu, " ujar Abah mengusap bahu Aniya lembut.Abah tahu pasti ini sangat berat bagi putrinya tapi ini memang yang terbaik bagi Aniya.


Allah memiliki suatu alasan kenapa memberikan sebuah ujian atau cobaan yang kita anggap tidak sanggup untuk di lewati, karna Allah yakin kita bisa melewati ini semua. Bahu kita sangat kuat memikul semua masalah yang diberikan oleh sang Pencipta untuk menaikkan derajat kita lebih tinggi lagi.Setiap ujian kehidupan ada kebaikan di dalamnya.


"Kenapa aku harus mendapatkan ini semua, Abah? Hidupku sudah begitu menyedihkan karna tidak bisa memberikan anak pada mas Hanu, dan rela membiarkan mas Hanu menikah lagi...sekarang aku harus mendapatkan penyakit kanker yang membuat rahim ku harus di angkat. Aku merasa bukan wanita yang sempurna lagi, sedangkan aku berharap bisa hamil hiks....."


Tangisan Aniya tidak bisa terbendung lagi. Ia mengeluarkan semua keluh-kesah dalam hatinya yang selalu ia sembunyikan dari semua orang.Dia merasa Tuhan tidak adil padanya,memberikan ujian yang begitu berat baginya.

__ADS_1


Abah memeluk Aniya ,mengusap punggung putrinya lembut. Hatinya begitu sesak melihat Aniya terpuruk seperti ini. Walau Aniya bukan putri kandungannya tapi abah sangat menyayangi Aniya seperti anak kandungnya sendiri.


Umma Sarah menyeka air matanya, mengusap lengan anaknya, untuk memberikan semangat. Percayalah, seorang ibu yang paling menderita melihat keadaan anaknya yang terpuruk seperti ini.


"Assalamu'alaikum."


Hanu yang baru masuk ke dalam ruang rawat membuat ketiganya langsung menoleh ke arah Hanu. Mata Aniya langsung berbinar melihat kedatangan suaminya dengan senyuman yang merekah di bibir manisnya. Tapi senyuman itu perlahan memudar melihat sosok Zana yang berjalan di belakang Hanu. Tangan keduanya saling bertautan , membuat ke cemburuan Aniya meradang.


Lain halnya umma Sarah yang memicingkan matanya pada Zana yang memilih tidak menghiraukan tatapan tidak suka dari dua orang tersebut padanya.


"Waalaikumsalam." jawab abah Husein.


"Umma, Abah."


Hanu mencium bergantian tangan umma Sarah dan abah Husein yang tersenyum. Zana juga mencium tangan abah tapi saat mengulurkan tangan pada umma Sarah yang tidak mau menerima uluran tangannya.


Hanu yang melihat itu menarik Zana, agar menjauh dari umma Sarah.


"Kamu duduk di sofa," perintah Hanu yang di angguki Zana.


"Kamu kenapa harus membawa Zana kesini, Hanu?Itu akan membuat Aniya tidak senang dengan kehadiran Zana."bisik umma Sarah pada Hanu, sembari melirik sinis pada Zana yang menundukkan kepalanya.


Jujur, seberusaha apapun Zana untuk tidak menghiraukan ucapan Umma Sarah, itu tetap akan menyakitkan bagi dirinya yang berusaha tegar dihadapan semua orang.Apalagi dirinya yang begitu sensitif, ada rasanya ingin menangis tapi itu akan membuat umma Sarah semakin menyudutkan dirinya.


"Aku kesini bukan hanya untuk menjenguk kamu tapi ingin menanyakan sesuatu pada kamu, Aniya," ujar Hanu yang tenang dan harus kuat bila kenyataan pahit itu akan terlontar di bibir istrinya.


Umma Sarah dan Abah tampak penasaran dengan ucapan Hanu yang akan ditanyakan pada Aniya.Apalagi melihat wajah menantunya itu terlihat sangat serius.


Hanu menarik napas dalam-dalam dan menghela napas panjang.Matanya menyorot pads Aniya yang tampak tegang dan penasaran dengan ucapan Hanu yang akan dilontarkan padanya.


"Apakah sebelum kamu menikah dengan ku. Kamu memiliki hubungan dengan pria lain dan hamil anak dari pria tersebut, kemudian melakukan aborsi? "


Deg


Pertanyaan yang dilontarkan Hanu tiba-tiba membuat jantung Aniya berhenti berdetak beberapa detik. Matanya membola sempurna. Wajahnya langsung tertunduk dengan dahi yang sudah di banjiri keringat dingin.


"Hanu! Jaga ucapan kamu yang kurang ajar itu! Apa maksud kamu sampai menuduh Aniya pernah berzina dengan pria lain, bahkan menuduh Aniya melakukan aborsi? " Umma Sarah menatap Hanu dengan sorot mata yang tajam dan marah.

__ADS_1


"Hanu, kali ini Abah tidak suka dengan ucapan kamu yang merendahkan putri Abah. Aniya , wanita yang baik-baik dan begitu Abah jaga tidak mungkin sampai melakukan hubungan menjijikkan itu," ujar abah yang merendamkan amarahnya.


"Kamu menuduh Aniya seperti itu, sama saja merendahkan aku sebagai Ibunya.Kamu itu tidak tahu balas budi Hanu. Kami sudah mau menjaga kamu dan memberikan kamu tempat tinggal untuk mengabulkan permintaan kedua orang tua mu sebelum meninggal.Tapi dengan tidak tahu sopannya kamu menuduh Aniya seperti itu. Kamu sekarang berubah dan suka melawan seperti ini pasti karna wanita pelacur itu'kan! " teriak umma Sarah di akhir kalimat, sembari menunjuk ke arah Zana yang masih syok dengan ucapan yang di lontarkan suaminya pada Aniya.


"Stop,Umma!Jangan merendahkan istriku, Zana. Aku hanya minta kejujuran Aniya bukan menghakimi ataupun menuduh dia! " Kini Hanu benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya. Rasa tidak suka dengan Umma Sarah yang selalu menyangkut pautkan Zana dalam setiap masalah, termasuk selalu merendahkan istri keduanya itu.


Umma Sarah langsung terdiam membisu, mendapatkan ucapan Hanu yang cukup ketus.


"Aniya, sekarang jujur dengan ku. Jangan sampai aku sendiri yang mencari soal kebenaran ini," ancam Hanu menatap tajam pada Aniya yang tidak bisa menahan tangisnya.


"Maaf, Mas...aku memang pernah mengandung anak pria lain. Aku terpaksa menggugurkannya karna dia tidak mau tanggung jawab, Mas hiks...maaf Mas." tangisan Aniya yang penuh penyesalan terdengar memilukan. Dia menggenggam tangan suaminya berharap Hanu memaafkan kesalahannya di masa lalunya.


Tubuh Umma Sarah langsung meluruh ke lantai. Dirinya tidak sanggup menerima kenyataan yang langsung meruntuhkan hati dan harga dirinya sebagai seorang ibu.


"Siapa yang melakukan itu, Aniya. JAWAB! " desak Hanu dengan mata yang sudah memerah. Aniya masih menangis dengan derai air mata.


"Ardi, teman satu sekolah SMA aku dulu." jawab Aniya begitu takut.


Plak


Tamparan yang begitu kasar , membentur pipi putih Aniya dengan kasar, sampai darah muncrat dari sudut bibirnya yang langsung sobek. Hanu terkejut melihat itu, termasuk Zana yang menutup mulutnya.


Abah menatap nyalang pada Aniya yang sudah menangis begitu histerisnya.


"Kamu membawa aib buruk pada keluarga kita, Aniya. Abah mendidik kamu dan menjaga kamu begitu hati-hati. Tapi dengan mudahnya kamu menyerahkan mahkota kamu pada laki-laki yang tidak memiliki ikatan halal untuk kamu. Kamu bahkan lebih dari pelacur yang dengan suka rela memberikan tubuh kamu pada seorang pria dengan gratis!! "bentak abah dengan napas yang memburu,menahan rasa nyeri di bagian jantungnya.


Sedangkan umma Sarah masih terduduk di lantai dengan tatapan yang begitu kosong.


"Maaf,Abah." sesal Aniya.


"Kamu pikir dengan kata maaf akan membuat semuanya kembali seperti semula begitu? Abah malu Aniya dengan Hanu. Menikahkan Hanu dengan wanita yang sudah berzina , bahkan membunuh janin yang ada di dalam kandungan yang tidak berdosa sama sekali," ujar Abah menatap sangat kecewa pada Aniya.


"Sekarang terserah Hanu. Abah tidak akan menentang keputusan kamu, Hanu bila ingin menceraikan Aniya. " ujar Abah yang sudah pasrah.


"Mas, jangan ceraikan aku.Aku mohon, aku janji akan berubah lebih baik lagi. Tolong jangan ceraikan aku hiks..." Aniya menggenggam tangan Hanu begitu kuat, menatap Hanu begitu memelas dan berharap untuk tidak mengakhiri pernikahan mereka berdua.


Sedangkan Zana menatap iba pada Aniya. Meski kakak madunya itu sering menyakitinya, tapi dia tidak tega melihat Aniya memohon seperti itu.

__ADS_1


Sementara Hanu memalingkan wajahnya ke arah lain, engga menatap Aniya yang menangis sembari memohon pada dirinya.


__ADS_2