
...Sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Quran...
...Happy reading...
Hanu kembali masuk ke dalam ruangan setelah menerima telpon dari abah. Dia mendekati dokter yang berdiri di samping brankar.
"Apa ada masalah serius dengan istri saya,Dok? " tanya Hanu.
"Tidak, Pak. Semuanya baik-baik saja. Hanya saja Bapak perlu menebus obat di apotek rumah sakit ini untuk pereda nyeri pasca jahitan di daerah sensitif istri Bapak, " papar dokter wanita tersebut dengan rinci.
"Baiklah." jawab Hanu. Dokter tersebut memberikan resep obat yang harus di tebus.
"Terima kasih, Dok. " ujar Hanu menerima kertas putih itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Semoga Ibu Zana lekas pulih. " ucapnya dan Zana membalas dengan senyuman tipis.
Setelah kepergian dokter tersebut.Hanu mengusap kepala Zana lembut.
"Sekarang kamu istirahat. Biar Mas yang menjaga Aezar, " ujar Hanu. Matanya memperhatikan Zana yang mengusap lembut pipi Aezar dan sesekali menciumnya.
"Tidak, Mas. Aku masih ingin bersama Aezar, " ujar Zana.
"Ya sudah kalau begitu. Mas tinggal sebentar menebus obat dulu ya, " ujar Hanu dan Zana mengangguk kepalanya samar.
"Mas tolong bukain kancing baju aku, " pintanya. Membuat alis Hanu mengkerut.
"Untuk apa? "
"Aku ingin menyusui Aezar, sepertinya dia haus, " ujar Zana, memperhatikan bayi itu yang terus mengecap-ngecap.
Tangan Hanu terulur membuka tiga kancing baju Zana, agar memudahkan sang istri untuk memberikan ASI pada Aezar. Bayi itu dengan rakus dan begituΒ kuat mengisap ASI yang di berikan Zana. Padahal baru saja di berikan ASI di ruang NICU.
πππππ
"Sepertinya Aniya harus di rujuk ke rumah sakit di kota yang lebih lengkap alatnya di sana, " tutur dokter Devi.
Umma Sarah menatap Aniya yang terbaring di kasur. Sakitnya makin parah, demam yang tidak turun-turun.
"Aniya hanya demam tapi kenapa harus dirujuk ke rumah sakit di kota, Dok?" tanya Umma Sarah yang tidak bisa menahan tangisnya. Dadanya begitu sesak dan perih melihat keadaan Aniya sekarang.
Abah Husein menggenggam tangan Aniya yang kurus.
__ADS_1
"A-aku ingin bertemu Mas Hanu Abah... " lirih Aniya dengan butiran air mata yang membasahi pelipis dan bantal yang dia rebahi.
Dokter Devi menatap iba pada Aniya. Wanita ini begitu menderita semenjak perceraiannya dengan Hanu.PerasaanΒ Aniya lah yang membuat dia harus menanggung penderitaan sesakit ini.
"Mungkin hanya demam biasa. Tapi bila dibiarkan maka demam ini akan makin parah. Nanti, saya akan mencari seseorang yang mengantarkan Aniya ke rumah sakit di kota, " ujar dokter Devi.
"Abah, bagaimana kita bisa membayar perawatan Aniya di rumah sakit? " bisik Umma Sarah di depan dokter Devi.
"Tenang, Umma. Hanu sudah mentransfer uang untuk biaya pengobatan Aniya, " jawab Abah.
"Masih peduli pria itu dengan Aniya. Gara-gara dia, Aniya jadi seperti ini. Umma tidak sudi memakai uang pemberian Hanu! " sarkas Umma.
Dokter Devi memperhatikan perdebatan keduanya.
"Umma, jangan egois seperti ini,jangan memikirkan uang ini dari Hanu atau siapa pun . Yang terpenting kita mempunyai biaya untuk pengobatan Aniya, " ujar Abah.
"Umma, Abah. Kita harus secepatnya membawa Aniya ke kota. Saya takut sakit Aniya makin parah, " ujar dokter Devi menyudahi perdebatan keduanya.
"Iya, Dok.Tapi dimana kita bisa meminjam mobil untuk bisa membawa Aniya ke kota? " tanya Abah Husein.
Dokter Devi tersenyum tipis. "Itu biar urusan saya. " ujarnya.
πππππ
Terdapat omurice omelette, semacam nasi goreng dengan omelet. Kemudian, ada salad makaroni, sup ayam, cumi goreng, buah dan teh hijau.
Sementara Aezar ,Hanu di letakkaΒ di inkubator. Putranya itu tertidur pulas dengan perut yang sudah kekenyangan.
"Biar Mas yang menyuapi kamu, " ujar Hanu. Dia menaikkan bagian belakang brankar agar Zana bisa bersandar.
"Makanannya terlihat enak dan mahal. Dulu bapak saat di rawat di rumah sakit tidak seperti ini makanan yang diberikan pihak rumah sakit, Mas. Hanya bubur yang rasanya hambar dan sup ayam yang tidak terlalu berasa asinnya."cerocos Zana sembari membuka mulutnya menerima suapan dari Hanu.
" Tentu beda, sayang. Kamu baru saja melahirkan jadi butuh makanan yang berkabohidrat. Dan makanan ibu hamil dengan makanan pasien yang sedang sakit, memang beda. Kalau bapak kamu kemaren sakit bagian paru-paru,kalau tidak salah."ujar Hanu.
Zana terdiam sejenak membuat tangan Hanu terhenti ketika akan memberikan suapan selanjutnya.
"Kenapa? " tanya Hanu heran.
"Mas, tahu tidak kenapa aku bisa menikah dengan Mas Hanu. Dan ibu menyetujui pernikahan kita berdua yang jelas-jelas usia kita terpaut sangat jauh, " ujar Zana menerawang dan mengulik masa lalu.
"Yang saya tahu. Kamu gadis pilihan Aniya untuk menjadi istri kedua saya dan keluarga kamu ikhlas bila saya mempoligami kamu, " ujarnya.
__ADS_1
Zana memalingkan wajahnya, berdecih pelan. Berarti suaminya tidak tahu bila Aniya membeli dirinya seperti barang jualan dan bodohnya ibu yang merupakan orang tuanya sendiri yang tega menukar dia dengan uang. Dan dia lupa menceritakan masalah ini dengan Hanu.
"Sayang, kenapa? " tanya Hanu menyentuh dagu Zana.
"Tidak kenapa-kenapa. Hanya teringat masa lalu dulu. " ujarnya.
Hanu menghela berat.
"Jangan memikirkan tentang masa lalu terus. Lebih baik memikirkan masa sekarang. Mas, tidak mau kamu mengingat sesuatu yang berhubungan dengan Aniya, " ujar Hanu.
πππππ
Dengan hati-hati Aniya di turunkan dari mobil danΒ di dudukkan ke kursi roda. Mereka bertiga sudah sampai di rumah sakit kota.
Tidak lama dokter Devi turun dari mobil.
"Ayo Abah, Umma. " ujar dokter Devi yang lebih dulu berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
"Umma, " panggil Aniya dengan suara yang terdengar pelan dan lemas.
"Ada apa, Nak? " tanya Umma Sarah yang berjalan di samping Aniya.
"Aku ingin bertemu dengan Zana dan Mas Hanu. Aku ingin meminta maaf... " lirihnya.
Abah Husein langsung menghentikan dorongannya pada kursi roda Aniya. Dia terkejut mendengar ucapan putrinya. Namun bersyukur bila Aniya bisa berubah.
Ummat Sarah mendengus kasar dan mendelikkan matanya. Tidak suka dengan ucapan yang terlontar di bibir Aniya.
"Buat apa kamu minta maaf pada dua orang yang membuat kamu hancur seperti ini, Aniya?! Seharusnya Zana yang minta maaf dengan kamu. Gara-gara dia kamu seperti ini! " Umma Sarah dengan napas menggebu-gebu.
"Aku sudah lelah dengan semua ini. Hidupku sangat menderita dan itu karna perasaan aku sendiri yang terlalu berharap dengan Mas Hanu yang jelas-jelas tidak mencintai ku hiks...Aku tidak jauh berbeda dengan wanita murahan di luaran sana yang terus mengejar pria yang tidak pernah menginginkan ku... "
Plak!
"Jangan merendahkan diri kamu seperti ini, Aniya. Yang murahan dan pelacur itu Zana!" pekik Umma Sarah.
"Umma! Kau keterlaluan. Hanya masalah Aniya ingin meminta maaf, Umma menampar, Aniya?Seharusnya Umma senang Aniya bisa berubah." ujar Abah Husein terlihat marah.
Aniya hanya bisa menangis sembari mengusap pipinya yang memerah dengan rasa nyeri yang menjalar akibat tamparan dari Umma.
Semua orang yang ada di rumah sakit memperhatikan mereka bertiga sambil berbisik-bisik.
__ADS_1
Bersambung...