
...Jangan lupa tinggalkan jejak ya! ^^...
...~Happy reading~...
"Aku tidak mau, Mas! Aku tidak mau rahim ku di angkat hiks...."Tangis Aniya pecah. Ia memeluk umma Sarah dengan tangisan yang makin menjadi-jadi dan terdengar menyayat hati.
Hanu tertunduk , tidak tega melihat Aniya yang begitu terpukul dengan kenyataan yang begitu menyakiti dirinya sebagai seorang wanita. Tapi apa boleh buat, ini sudah takdir yang sudah terukir dalam kehidupan setiap makhluk-Nya.
"Hanu, apa tidak ada cara lain?Umma tidak mau Aniya harus di angkat rahimnya? "tanya umma Sarah penuh harapan.
"Umma, bila Aniya tidak melakukan pengangkatan rahim, itu malah berbahaya bagi Aniya sendiri. Lagi pula........ Aniya tidak akan mungkin bisa hamil, " ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Hanu, membuat hati Aniya semakin sakit.
"Kenapa Mas Hanu bicara seperti itu? Aku memang tidak bisa hamil tapi aku masih berharap untuk bisa mengandung anak kamu , Mas...." ujar Aniya begitu lirih. Umma Sarah tidak bisa menahan tangisnya .
Entah kenapa,Tuhan terus memberikan cobaan dan ujian pada putrinya. Kenapa Aniya harus mengalami ini semua?Bila boleh meminta, biar dia yang menggantikan posisi putrinya sekarang. Dari pada harus melihat Aniya yang sangat terpukul.
Umma Sarah, makin mendekap tubuh Aniya yang bergetar dengan suara tangisan yang begitu pilu bagi yang mendengarnya. Kenyataan yang pasti akan membuat wanita manapun akan hancur.Aniya merasa bukan wanita yang sempurna lagi bila rahimnya di angkat. Masih ada setitik harapan dalam dirinya untuk mengandung. Dia juga ingin merasakan bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan tapi itu semua langsung di renggut dengan paksa oleh kenyataan yang menghancurkan hatinya berkeping-keping.
Hanu menarik Aniya dalam dekapannya, mengusap kepala istrinya lembut. Sementara Aniya makin menenggelamkan wajahnya di dada Hanu dengan tangisan yang tertahan. Tangannya meremas kuat baju Hanu. Dia benci dengan dirinya sendiri yang tidak bisa hamil, membiarkan suaminya bermadu kasih dengan wanita lain karna kesalahannya sendiri membawa masuk Zana dalam kehidupan rumah tangganya.Sekarang rahimnya harus di angkat, kenapa Tuhan tidak pernah adil padanya.
"Mas, aku tidak mau diangkat rahimnya hiks.....aku takut kamu meninggalkan aku hiks....aku ingin seperti Zana,hamil dan merasakan melahirkan," Aniya mendongak menatap Hanu dengan wajah yang memerah di banjiri air mata.
Pria itu mengusap wajah Aniya dengan tissu. Mengecup kening istrinya lembut.Ada rasa sakit di hati Hanu melihat sorot mata Aniya yang tampak terluka dan kecewa.
"Aku tidak akan pergi meninggalkan kamu, sayang. Sebentar lagi kita juga akan memiliki anak. Anak Zana juga anak kamu." ujar Hanu.Sedangkan Aniya hanya diam. Dia makin erat memeluk Hanu.
Tok..... Tok.....
Suara ketukan pintu membuat perhatian ketiganya mengarah kepada suster yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Maaf, Bapak Hanu di panggil kembali oleh dokter Lisa ke ruangannya," ujar suster tersebut. Hanu menganggukkan kepalanya.Setelah menyampaikan itu suster tersebut keluar dari ruangan.
Hanu melepaskannya pelukannya pada Aniya, "Aku ke ruangan dokter Lisa dulu. Kamu jangan menangis lagi, lebih baik istirahat agar kesehatan kamu cepat pulih, " ujar Hanu yang di angguki Umma Sarah, mengiyakan ucapan menantunya itu. Sedangkan Aniya masih diam dengan tatapan mata yang kosong.
Aniya belum bisa menerima ini semua. Kenyataan ini benar-benar membuat dia hancur dan sakit hati.
******
"Ada apa dokter Lisa kembali memanggil saya? Apakah ada hal yang penting?"tanya Hanu, yang menduga pasti akan membahas tentang operasi yang akan di lakukan terhadap Aniya.
Dokter Lisa menghela napas kasar, menatap sebuah selembaran ronsen milik Aniya di tangannya.
"Apakah istri bapak pernah melakukan aborsi sebelumnya?Karna setelah saya teliti lagi melihat hasil ronsen milik istri bapak, terdapat luka di dinding rahim dan mungkin dia melakukan aborsi dengan dokter yang sembarangan. Dan itu yang membuat istri bapak juga sulit untuk hamil, "tutur dokter Lisa dengan wajah yang serius.
__ADS_1
Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Hanu tiba-tiba mematung mendengar penuturan dokter Lisa. Tapi sedetik kemudian Hanu tertawa seolah ucapan yang di lontar dokter tersebut sebuah lelucon. Sedangkan dokter Lisa mengeryit heran melihat Hanu tertawa yang tidak percaya dengan ucapannya.
"Tidak mungkin istri saya melakukan aborsi.Sedangkan Aniya belum pernah hamil sama sekali dan saat saya menikahi istri saya.Dia masih perawan." ujar Hanu.
"Tapi saya tidak berbohong. Kalau tidak percaya silahkan Bapak periksakan langsung istrinya ke dokter kandungan yang lain, pasti jawabannya sama atau tanyakan langsung ke istri Bapak. Tidak mungkin Bapak sebagai suaminya tidak tahu tentang hal ini," ujar dokter Lisa.
Kini, mulut Hanu langsung bungkam tidak bisa berucap apa-apa lagi. Melihat raut keseriusan di wajah sang dokter.
"Mungkin sebelum menikah dengan Bapak, istri Bapak pernah melakukan aborsi karna mengandung anak pria lain. Dan melakukan operasi," ujarnya.
"Maksudnya operasi apa, Dok?" tanya Hanu yang tak paham.
"Operasi selaput dara yang termasuk dalam jenis operasi plastik yang bertujuan untuk menyatukan kembali selaput dara yang sudah robek. Dalam dunia kedokteran, operasi ini disebut juga dengan hymenoplasty atau hymenorrhaphy." tutur dokter tersebut dengan rinci.
Kepala Hanu tiba-tiba langsung pening dan tubuhnya yang melemas.Tidak mungkin Aniya seperti itu, dia percaya dengan istrinya. Mustahil bila Aniya pernah melakukan zina dengan pria lain. Sedangkan istrinya merupakan wanita yang baik-baik.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Bagaimana keadaan kandungannya? " tanya Zana pada dokter Devi.
"Tidak usah khawatir. Ini cuma pendarahan ringan yang keluar dari v*gina.Kondisi ini biasa terjadi selama kehamilan, terutama trimester pertama." tutur dokter Devi dan Zana bernapas lega mendengarnya. Dia takut terjadi apa-apa dengan kandungannya.
"Lain kali ibu Zana jangan terlalu banyak beraktivitas apalagi banyak pikiran yang akan mempengaruhi kehamilan ibu Zana. Perbanyak makan buah-buahan dan sayur, " tukas dokter Devi yang angguki Zana.
Panggilan seseorang di ambang pintu membuat Zana dan dokter Devi bersamaan menatap kearah Hanu yang langsung melepaskan helmnya yang masih terpasang di kepala.
"Kamu kenapa,sayang? " tanya Hanu duduk di sisi kasur memegangi dahi Zana dengan wajah yang tampak khawatir.
"Cuma terjadi pendarahan ringan pada ibu Zana. Tapi tidak usah khawatir itu tidak membahayakan janin di dalam sana," sahut dokter Devi.
Hanu menatap sendu pada Zana yang memalingkan wajahnya. Gadis itu masih marah dengan suaminya yang tiba-tiba meninggalkannya begitu saja.
"Kalau begitu saya permisi, " ujar dokter Devi.
"Iya.Terima kasih dokter Devi, " ujar Hanu yang di angguki dokter Devi, setelahnya keluar dari kamar.
Kini, tinggal mereka berdua di kamar ini yang saling diam.Hening. Hanu berdehem memecahkan keheningan agar Zana menatap ke arahnya.
"Tadi Mas di telpon Gala.Tidak tahu di mana dia dapat nomor Mas, sayang. Dia bilang kamu mengalami pendarahan makanya Mas langsung pulang ke rumah, " ujar Hanu.
"Aku yang memberikan nomor, Mas dengan Gala.Dia yang memaksa ku untuk memberikan nomor kamu ke dia," ujar Zana yang enggan menatap wajah suaminya.
Masih ada rasa kesal dan marah di hatinya pada Hanu. Tapi ia tidak bisa membohongi dirinya yang ingin sekali memeluk suaminya.
__ADS_1
Tangan pria itu menyingkap baju Zana dan mengusap perut istrinya dengan lembut. Sedangkan Zana kaget dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Sehat-sehat di dalam ya,Nak. Jangan buat Bunda sama Ayah khawatir, " ucap Hanu.
"Aku juga seperti ini karna Mas Hanu! Kalau Mas masih ada urusan dengan mbak Aniya tidak usah pulang ke rumah ini..." lirih Zana yang terselip rasa kesal di dalamnya.
Hanu meraih tangan Zana. Menatap lekat netra coklat berair istrinya.
"Maaf... Mas salah." ujar Hanu menundukkan kepalanya sejenak dan kembali menatap Zana yang merengut.
"Kenapa pulang? Bukannya mbak Aniya lebih membutuhkan Mas.Kalau begitu aku tidak usah memberikan nomor Mas ke Gala.Karna pasti menganggu waktu Mas dengan mbak Aniya." ujar Zana.
"Jangan bicara seperti itu,Zana.Kamu sangat penting bagi Mas. Kalau tidak penting buat apa Mas kembali ke sini lagi. Mas cinta kamu,sayang." ujar Hanu menangkup pipi Zana.
Zana menatap mata Hanu lekat. Mencari kebohongan dari tatapan mata suaminya. Tapi yang dia dapat sebuah ketulusan dari balik mata yang mencermin kejujuran setiap kata yang terucap.
"Jangan marah lagi.Malam ini Mas bermalam di sini. Mas merindukan kamu,sayang." ujar Hanu, mengecup pipi Zana.
Zana menatap ke arah lain dengan pipi yang memerah. Kenapa dia mudah sekali tersipu malu dengan ucapan Hanu yang terkesan sederhana tapi membuat hatinya sesenang itu.Apa mungkin karna kehamilannya ini.
Suara dering panggil masuk dari ponsel Hanu, membuat Zana mengerucutkan bibirnya apalagi ia melihat nama penelpon.Siapa lagi kalau bukan umma Sarah.Namun,Hanu langsung mematikan telpon tersebut. Membuat Zana menatap heran pada suaminya.
"Kenapa dimatikan, Mas? Nan..."
"Sstt...Mas hari ini ingin menjaga kamu. Sekarang mau makan apa? "tanya Hanu mengalihkan topik.
" Terserah,"ujar Zana tersenyum. Ada rasa senang di hatinya karna suaminya akan bersama dirinya malam ini.
" Perempuan selalu terserah, "timpal Hanu dan Zana tertawa mendengarnya.
Sedangkan Hanu masih berkecamuk dengan pikirannya.Ucapan dokter Lisa masih terngiang-ngiang dalam otaknya. Dia belum siap menemui Aniya apalagi kalau memang benar Aniya pernah hamil, sebelum menikah dengannya.
" Mas Hanu kenapa?"tanya Zana. Memperhatikan Hanu yang terlihat melamun.
Pria itu tersadar dari lamunannya."Tidak apa-apa, sayang. Sekarang kamu istirahat dulu."ujar Hanu.
"Mas ingin pergi lagi ya?"Zana menggenggam tangan Hanu erat. Takut bila di tinggalkan lagi.
" Tidak. Mas mau membuatkan kamu makanan di dapur."
"Aku kira Mas akan meninggalkan aku lagi.Aku tidak ingin sendirian malam ini di rumah." ujar Zana mengerjapkan matanya.
Hanu mengusap kepala sang istri lembut."Mas akan bermalam di sini. Dan maaf Mas belum bisa menjadi suami yang bisa membuat kamu bahagia dengan pernikahan ini. Tapi Mas janji tidak akan membuat kamu kembali kecewa ataupun kembali menangis."ujar Hanu.Zana tersenyum. Dia memeluk suaminya erat.
__ADS_1