KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Kembalinya masa lalu


__ADS_3

...Maaf ya baru updateπŸ™ Sedang marathon menyelesaikan novel satunya....


...Happy reading...


Bunyi sirine ambulans berbunyi dengan nyaring. Mengiringi kepulangan Aniya. Bukan karna ia telah sembuh tapi mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. Umma Sarah menangis pilu dengan keadaan yang begitu kacau.


Dirinya terus memeluk jasad Aniya yang sudah tidak bernyawa. Air mata sudah mengering menyisakan mata yang membengkak.Aniya, putrinya meninggalkan dirinya yang semakin hancur.


"Nak, kenapa harus meninggalkan, Umma? Umma tidak bisa tanpa kamu hiks...bagaimana Umma menjalani kehidupan ini bila putri kesayangan Umma meninggal."


Rasa sesak di dada semakin menjadi-jadi, menimbulkan rasa sakit luar biasa di hati umma Sarah. Bibirnya bergetar memandangi wajah Aniya yang pucat pasi. Tangan keriputnya terulur menggenggam tangan Aniya yang terasa dingin.


Semua orang berkumpul di depan rumah almarhum Aniya. Menyambut kedatangan jenazah Aniya.Tetangga sekitar tidak menyangka bila putri dari umma Sarah akan secepat itu meninggal dunia. Karna tidak ada kabar berhembus yang mengabarkan bila Aniya sakit parah.


Mobil ambulans, kini sudah sampai di depan pekarangan rumah. Semua orang berbondong-bondong mengerumbungi.


" Umma, ayo kita turun, "ujar Abah lembut pada Umma Sarah yang terus memeluk jasad Aniya.


" Tidak.Umma ingin tetap di sini. Umma ingin terus bersama Aniya."ucapnya.


"Umma, ikhlaskan Aniya. Jangan buat putri kita semakin sedih melihat Umma yang tidak bisa mengikhlaskannya, " nasehat Abah Husein. Pria paruh baya itu juga terpukul atas kematian Aniya. Namun,dia harus berusaha kuat.


Kematian sudah di gariskan oleh Tuhan. Kita sebagai manusia tidak bisa menentang ataupun menolak takdir yang tidak bisa di elak. Hanya ikhlas dan do'a yang di sematkan agar almarhum tenang di sana.


Jasad Aniya di turunkan dari ambulans.dengan kain tipis yang menutupi seluruh badannya. Umma Sarah berpegangan pada Abah Husein karna badan yang sudah sangat lemah tak bertenaga.


Mata Umma Sarah melirik bendera kuning yang sudah berkibar di depan rumah.


"Umma, minum dulu ya, supaya badannya tidak lemas." ujar Murti memberikan segelas air pada Umma Sarah yang sudah berada di kamar.

__ADS_1


Umma Sarah mengambil gelas berisi air putih tersebut. Meneguknya sedikit dan mengembalikan lagi pada Murti yang menatap iba.


"Umma ingin keluar. Umma ingin melihat Aniya, " pintanya.


*******


"Kamu yakin untuk ke sini dan.menemui Umma dan Abah, Zana?Mas bukannya melarang tapi keadaan kamu yang baru saja melahirkan." ujar Hanu yang sudah memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah almarhum Aniya yang di padati para warga yang ingin melayat.


"Bagaimana pun, mbak Aniya dulu kakak maduku, Mas. Aku juga masih tidak menyangka bila mbak Aniya akan secepat ini meninggalkan kita semua," ujarnya penuh kesedihan di benaknya.


"Mas, apa aku salah?Apa karna kehadiran ku di antara kalian berdua, mbak Aniya jadi sakit dan meninggal? Karna sakit hati dan menderita karna di ceraikan oleh, Mas Hanu.Apa aku penyebab kematian mbak Aniya Mas? " tanya Zana dengan bibir yang bergetar dan air mata yang meluruh.


"Tidak, sayang. Ini semua sudah takdir. Jangan menyalahkan diri kamu ,sayang." ujar Hanu. Memeluk Zana yang meneteskan air matanya.


"Ini sudah takdir. Tidak ada gunanya menyalahkan siapapun termasuk menyalahkan diri sendiri," ujar Hanu. Meski, dia juga merasa bersalah atas kematian mantan istrinya yang dulu mengajak dirinya untuk kembali rujuk.Namun, dirinya menolak karna memang tidak ada bisa yang perbaiki lagi.


"Ayo kita turun. Jangan menangis." Hanu mengusap air mata yang membasahi pipi Zana yang tampak pucat.


Keduanya turun dari mobil dan menjadi pusat perhatian orang-orang di sana yang berbisik-bisik. Tidak lama sebuah mobil berwarna hitam, berhenti di depan rumah almarhum Aniya.


Ayyara, dokter yang telah menangani Aniya, turun dari mobil.Bersama kedua orang tuanya, Ayyara mengambangi rumah duka. Ini sebagai bentuk bela sungkawa atas kematian pasien yang tidak berhasil ia selamatkan. Walau tahu, takdir kematian sudah di gariskan oleh Tuhan.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Umma Sarah melirik Zana dan Hanu yang melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah dan mendekat ke arahnya.


Zana duduk bersimpuh di hadapan Umma sarah yang menatap dirinya dengan pandangan mata yang sulit di artikan.


"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Umma Sarah dengan bibir yang bergetar menahan tangis.

__ADS_1


"A-aku turut berbela sungkawa atas meninggalnya mbak Aniya. Aku tidak menyangka mbak Aniya akan secepat ini meninggalkan kita semuanya... " lirih Zana.


"Seharusnya kamu senang, Zana.Karna memang ini yang kamu inginkan, kematian putriku. Kehadiran mu membawa sial bagi Aniya, hingga pernikahan rumah tangga anakku kandas. Kamu tidak tahu bagaimana depresinya Aniya setelah Hanu beberapa kali menolak untuk rujuk. Seharusnya kamu yang mati, bukan putriku," ujar Umma Sarah dengan suara yang bergetar dan mata yang melotot tajam pada Zana.


Sementara Hanu bersama Abah Husein di ruang tamu. Pria paruh baya itu terlihat sangat terpukul dengan raut wajah yang sedih dan suram meski sudah di sembunyikan. Agar terlihat baik-baik saja.


"Assalamu'alaikum." ucap Ayyara yang masuk ke dalam rumah dan berjalan dengan sopan melewati orang-orang yang tengah membaca do'a untuk almarhum.


"Walaikumsalam." sahut semua orang yang di sana termasuk Zana yang menoleh . Sementara badan Umma Sarah menegang melihat seseorang yang sangat dia kenal dan pernah menjalin pernikahan dengan dirinya.


Sama halnya dengan Bayu yang tampak kaget melihat mantan istri pertamanya. Umma Sarah langsung menunduk dengan rasa takut yang seolah mencekik lehernya.Melihat Bayu, mengingatkan dirinya dengan kesalahan yang telah dia perbuat 17 tahun yang lalu.


Tatapan Ayu dan ayyara terpaku pada sosok gadis yang juga menatap ke arah mereka berdua. Mata, wajah dan semua yang ada di diri Zana sangat mirip dengan putrinya yang meninggal dunia 17 tahun yang lalu.


Hati Umma semakin gelisah dan takut kala Bayu mendekatinya.


"Sarah, ini kamu?" tanya Bayu menatap lekat mantan istrinya.


"Apa ini anak kita? " tanya lagi Bayu.Walaupun sebenarnya Aniya bukan anak kandung Bayu. Umma Sarah hamil di luar nikah dan Bayu yang di paksa untuk menikahi atas paksaan kedua orang tua Umma Sarah.


Bayu dan Sarah di masa lalu adalah sahabat baik. Namun, hubungan mereka merenggang setelah menikah.


"Sayang, kenapa? " tanya Hanu yang memeluk Zana. Namun tatapan Zana masih terpaku pada dua orang yang ada di depannya.


"Wajahnya mirip dengan Adira,Ay." ucap Ayu pada Ayyara yang menoleh ke arah sang Mama.


"Sudah, Mah.Adira sudah meninggal. Mungkin wajahnya hanya mirip saja," ujar Ayyara.


Sedangkan Umma Sarah masih terdiam. Bibirnya kelu, seolah tenggorokannya tersumbat sesuatu hingga tidak bisa berkata-kata lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2