KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Kebencian Zana


__ADS_3

"Ada apa ini? Aniya kamu kenapa ada di sini? " Hanu yang baru keluar dari kamar. Berjalan mendekati tiga orang yang menatap ke arah dirinya.


"Kamu kenapa? " tanya Hanu menatap Aniya yang sudah berkaca-kaca menatap dirinya. Ia beralih menatap Zana yang tertunduk. Sedangkan umma Sarah memilih menutup mulut ,biarkan saja Aniya yang menjelaskan semuanya pada Hanu.


Hanu mengusap pipi Aniya dengan lembut, menatap lekat istri pertamanya tersebut . Zana yang melihat itu tiba-tiba di liputi rasa cemburu yang mendera dan seolah tak rela. Tapi iaย  sadar dengan situasi di mana ia harus menyembunyikan semua yang ia rasakan.


Umma Sarah yang melihat raut wajah Zana yang tampak berbeda, menatap Hanu dan Aniya, tersenyum sinis. Ia berjalan mendekati madu dari putrinya tersebut.


"Yang pertama tetap akan jadi prioritas. Sedangkan yang kedua akan selalu mengalah, " bisik umma Sarah di telinga Zana yang diam mematung.


"Sekarang kita duduk dulu, " Hanu membawa Aniya duduk di sofa tanpa melepaskan pelukan pada istrinya tersebut.


"Kamu kenapa, Aniya?" tanya Hanu dengan lembut.


Wanita tersebut tidak menjawab ucapan Hanu tapi matanya melirik ke arah kalung di pakai Zana. Hanu yang sadar dengan tatapan Aniya menghela napas berat.


"Kalung itu ku berikan pada Zana karna____" Hanu menjeda ucapannya, melirik pada Zana yang menatap dirinya.


"Kalung itu sebagai hadiah untuk Zana. Jadi tidak ada salahnya kalau aku memberikan Zana kalung. Lagi pula kamu juga sering aku berikan hadiah." ujar Hanu menggenggam kedua tangan Aniya.


"Tapi kenapa kalung yang kamu berikan pada Zana harus berinisial nama kamu! Seolah Zana itu orang yang memiliki kamu sepenuhnya, " ujar Aniya dengan suara serak. Hanu kembali memeluk Aniya, mengusap kepala istrinya lembut.


"Zana tolong ambilkan air putih? " pinta Hanu yang langsung di turuti Zana yang langsung bergegas ke dapur mengambil yang di minta Hanu.


Sebelum kembali ke ruang tamu. Zana menarik napas begitu dalam,ia berjalan mendekati suaminya dan menyerahkan segelas air putih yang langsung di sambut Hanu.


"Makasih, sayang ," ucap Hanu.


"Minum dulu. Supaya kamu lebih tenang," Aniya meminum air putih yang di berikan Hanu.


"Nanti aku belikan kalung persis seperti Zana. Jadi jangan marah lagi, " Hanu membenarkan hijab Aniya yang tampak berantakan.


"Umma, itu apa? " tanya Hanu menatap kantong kresek hitam yang di pegang Umma Sarah.


Wanita itu paruh baya itu tampak gelagapan tapi berusaha tenang. "Ini, pakaian kotor. Kasihan Aniya kalau mencuci pakaian sebanyak ini. Apalagi bibi Ina tidak masuk bekerja , jadi semua pekerjaan rumahย  Aniya yang mengerjakan.Jadi Umma dan Aniya ke sini untuk meminta Zana mencucikan pakaian ini, semacam bagi-bagi tugas dari pada Zana cuma nyantai-nyantai saja,lebih baik mencuci pakaian ini." ujar Umma Sarah menjelaskan .


"Ya sudah letakkan saja di belakang rumah pakaiannya, " ujar Hanu, membuat senyuman Umma Sarah mengembang, apalagi Aniya. Sedangkan Zana menatap tak percaya pada suaminya yang menyuruh ia mencuci pakaian sebanyak itu.

__ADS_1


Aniya tersenyum remeh pada Zana, merasa menang. Tapi tidak berapa lama senyuman keduanya langsung menudar mendengar lontaran Hanu.


"Nanti pakaiannya aku laundry , kasihan Zana bila harus mencuci sebanyak itu, " ujar Hanu.


"Kenapa harus seperti itu Hanu? Lebih baik Zana yang mencucinya. Buang-buang uang kalau laundry, " sahut umma Sarah, yang di angguki Aniya.


Hanu menghela napas berat.


"Melaundry pakaian tidak akan membuat aku miskin. Lain kali kalau Bibi Ina tidak masuk kerja, dan pakaian kotor menumpuk banyak langsung di laundry jangan menyuruh Zana untuk mencucinya, " ujar Hanu.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Tok.... Tok


Suara ketukan pintu yang cukup keras membuat kegiatan Zana di dapur terhenti. Senyuman tercipta di bibirnya. Itu pasti Hanu yang kembali lagi ke sini setelah mengantarkan Aniya dan Umma Sarah. Dengan berjalan tergesa-gesa Zana ke pintu keluar. Ia langsung membuka pintu tersebut.


Senyuman itu seketika luntur, tubuhnya mematung. Matanya memanas. Rasa kebencian itu kembali muncul bahkan lebih besar lagi. Sepasang suami-istri menatap Zana dengan senyuman di wajah mereka berdua.


"Zana, anak ibu. Kamu sehat ,nak.Kamu makin cantik dan tambah gemuk, "Idah memeluk Zana, memcium kening putrinya.


" Sayang, bagaimana kabar kamu? "tanya Idah menatap Zana dengan ke rinduan yang begitu jelas di matanya.


" Untuk apa kalian ke sini?"desis Zana dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.


Idah tampak terkejut mendengar ucapan Zana. Kenapa putrinya berbicara seperti itu? Apa Zana tidak senang dengan ke datangan mereka berdua.


"Kamu kenapa bicara seperti itu, nak? Ibu dan Bapak ke sini ingin bertemu dengan kamu. Kami sangat merindukan kamu, sayang," lirih Idah.


Baron memilih duduk di kursi yang ada di teras. Ia sebenarnya sangat malas menemui Zana . Tapi Idah, istrinya yang terus meminta dan memaksanya.


"Ooh..... Ya. Ibu merindukan aku. Bukannya kita sudah tidak ada hubungan apa pun lagi setelah Ibu menjual aku dengan Mas Hanu. Dan Ibu juga merahasiakan tentang mas Hanu yang sudah beristri. Dan Ibu juga tega menikahkan aku jadi istri ke dua, " ujar Zana dengan suara yang bergetar, tangannya terkepal kuat.


Idah menatap Zana yang menangis di depannya dengan tubuh yang bergetar.


"Maafin Ibu, nak. Tapiย  alasan Ibu menikahkan kamu dengan Hanu bukan karna uang....... Tapi Hanu pria yang baik untuk kamu yang bisa menjaga kamu dan memberikan kasih sayang yang jarang kamu dapatkan dari Ibu dan Bapak. Ibu ingin kamu hidup enak_____"


"Ibu mungkin berpikir seperti itu. Aku hidup enak dan semua ke butuhan ku terpenuhi karna menikah dengan mas Hanu yang memiliki segalanya termasuk uang . Tapi ibu tahu ______Setiap hari aku harus mendengarkan cemoohan orang-orang pada aku, karna di anggap perusak rumah tangga orang dan di anggap wanita penggoda. Jadi istri kedua itu tidak enak Bu!Aku harus selalu mengalah dengan istri pertama mas Hanu . Harus menahan sakit hati dan cemburu!Selalu menyembunyikan apa yang aku rasakan seolah aku baik-baik saja. " Napas Zana terengah-engah dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


"Seharusnya kamu bersyukur Ibu mu menjual kamu dengan pria kaya. Anggap saja itu sebagai balas budi kamu pada kami yang telah merawat kamu, " sembur Baron.


"Pak! " tegur Idah tak suka dengan ucapan suaminya.


Air mata Zana makin meluruh, membasahi wajahnya.Dadanya begitu sesak.Ucapan Bapaknya begitu menyakitkan seolah tidak ikhlas merawat dirinya. Entahlah, ia ini anak kandung mereka atau hanya anak angkat.


"Jangan dengerin ucapan, Bapak. Ibu sebenarnya tidak ingin melakukan ini____Tapi Ibu butuh uang untuk operasi Bapak kamu, Zana, "Idah memeluk Zana yang hanya diam, namun air mata terus mengalir.


" Pak, Ibu.... "Sapaan Hanu membuat semua orang menatap pria yang memarkirkan motornya dan berjalan mendekat mereka.


Zana dengan cepat menghapus air matanya tak ingin Hanu mengetahui bila habis menangis.Gadis itu langsung masuk ke dalam rumah .


"Ayo masuk dulu, Pak, Bu, " ujar Hanu setelah salim pada mertuanya.


"Sudah lama datangnya? " Tanya Hanu, melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah di ikuti keduanya.


"Baru saja, nak Hanu. Ibu juga tahu alamat rumah Zana dari mertua kamu yang satunya, kalau tidak salah Umma Sarah namanya, " ujar Idah tersenyum.


"Duduk dulu, aku suruh Zana untuk membuat minuman, " ujar Hanu beranjak meninggalkan keduanya.


*******


Zana membasuh wajahnya di wastafel. Ia tidak ingin Hanu tahu bila habis menangis. Pasti pria itu akan bertanyatentang hal ini.


"Zana..... " Panggil Hanu, sontak tubuh Zana langsung menegang. Ia perlahan membalikkan badannya , Hanu sudah berdiri di belakangnya.


"Kamu nangis? " tanya Hanu menelisik wajah Zana, begitu jelas mata lembab seperti orang habis menangis.Zana menggelengkan kepalanya kuat.


"Tidak! Emm.... Mas ngapain ke dapur?" tanya Zana, menghiraukan pertanyaan Hanu.


"Saya tanya kamu kenapa seperti habis menangis? Apa terjadi sesuatu? " tanya ulang Hanu seperti memaksa Zana untuk mengaku.


Zana terdiam, menundukkan kepalanya. Ia bingung harus jujur atau berbohong saja pada Hanu.


Bersambung....


Tandai bila typo

__ADS_1


__ADS_2