KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Part 61


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan like,vote dan hadiah ya.Terima kasih....


...Happy reading...


17 tahun yang lalu


Sarah memperhatikanย  anak berumur 2 tahun tengah duduk di kursi sambil memakan es krim di sebuah taman di temani oleh sang kakak, Ayyara.


"Umma, untuk apa kita memperhatikan mereka berdua?" tanya Aniya.


"Kamu bisa diam. Umma,sedang memperhatikan anak kecil di samping gadis itu,"jawab Umma Sarah yang berada di balik pohon.


" Untuk apa Umma mengawasi mereka. Memangnya mereka berdua siapa? "Lagi-lagi Aniya kembali bertanya.


" Bisa diam atau tidak!"sentak Umma Sarah. Membuat Aniya mengerucutkan bibirnya.


"Aku tidak akan pernah rela melihat kamu bahagia mas Bayu, dengan keluarga baru mu itu.Sedangkan aku harus menderita setelah perceraian itu." batin umma Sarah.


Matanya masih fokus memperhatikan anak perempuan berumur 2 tahun tersebut. Umma Sarah berniat menculiknya, dan itu tentu akan membuat keluarga mantan suaminya itu di buat merasa kehilangan yang teramat. Seperti apa yang di rasakan dulu. Di buang dan ceraikan.


Alasannya menculik anak tersebut. Karna beberapa hari ini dia memperhatikan Bayu yang sangat menyayangi anak bungsunya tersebut. Mungkin karena anak terakhir.


"Aniya, kamu sekarang bantu, Umma." ujarnya.


"Bantu apa, Umma? " tanya balik Aniya.


"Kamu alihkan perhatian gadis itu dan Umma akan menculik anak kecil yang ada di sampingnya," ujar Umma Sarah.


Aniya tampak kaget mendengar permintaan sang umma.


"Untuk apa kita menculiknya? Nanti kita bisa masuk penjara, Umma." ujar Aniya mengingatkan dengan raut wajah takut.


"Diam, kamu. Kamu cukup menuruti apa yang Umma suruh." ujar Umma Sarah.


Aniya menghela napas panjang dan menganggukkan kepala terpaksa.


******


"Hallo," sapa Aniya pada Ayyara yang tengah asyik membaca bukunya. Ia mendongak menatap gadis seumuran dirinya.

__ADS_1


"Aku boleh minta tolong?" tanya Aniya membuat alis Ayyara mengkerut. Sedangkan Aniya menahan kegugupan dalam dirinya, apalagi membantu umma nya menculik anak orang.


"Tolong apa?" tanya Ayyara.


"Begini.Aku tidak tahu di mana toilet umum di taman ini. Jadi... Bisakah kau mengantarkan ku?" ujar Aniya.


"Boleh," ujarnya.


"Dek, ayo ikut Kakak." ujar Ayyara menarik tangan Adira yang menggelengkan kepalanya.


"Ndak mau. Dila mau di cini caja," ucap Adira kembali menjilat es krimnya.


Ayyara terdiam sejenak.


"Ya sudah, tapi Dira jangan kemana-mana ya. Kakak anterin Kakak yang ini ke toilet sebentar," ujar Ayyara menunjuk Aniya dan Adira menganggukkan kepalanya.


Selang beberapa menit sepeninggal Ayyara. Kini, Adira hanya seorang diri dan di taman itu tidak terlalu banyak orang. Senyuman bak iblis terukir di bibir seseorang yang berjalan mendekati anak kecil tersebut.


"Mamph..." Umma Sarah membekap mulut Adira yang memberontak. Hingga es krim yang di genggam Adira terjatuh.


Wanita itu segera membawa masuk Adira ke dalam mobil setelah melihat sekitar, memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Dan hari ini adalah keberuntungan bagi umma Sarah, karna rencananya berjalan lancar.


"Lepacin..." Adira memukul bahkan mengigit tangan umma Sarah yang memekik ke sakitan.


"Dasar anak kurang ajar!" Umma Sarah tidak segan memberikan pukulan kasar di paha Adira yang haanya menggunakan rok pendek dan memberikan cubitan kuat di lengan Adira hingga membiru.


Sedangkan sopir taksi yang sudah di bungkam dengan uang hanya diam melihat tindak kekerasan yang di lakukan wanita tersebut.


" Mama hiks... Papa hiks... "tangisan Adira pecah.


" Diam, atau saya pukul lagi,"desisnya dengan mata yang melotot membuat Adira langsung terdiam dengan badan gemetar.


Kini, mobil itu berjalan menuju tempat yang sudah di sebut umma Sarah pada sopir taksi tersebut. Sementara Aniya tetap berada di taman agar tidak membuat Ayyara menaruh curiga.


"Apa yang anda lakukan, Bu!" teriak sopir tersebut melihat umma membuka pintu mobil.


"Tetap jalankan mobilnya, jangan banyak tanya!" ketus umma Sarah.


Umma Sarah membuka pintu mobil yang sedang berjalan laju dan mendorong Adira keluar dari mobil.

__ADS_1


Anak itu langsung jatuh ter guling-guling di aspal hingga kepalanya membentur trotoar. Darah segar mengalir dari kepala Adira yang menimbulkan bau amis darah yang menyeruak.


"Selamat menjemput ajal mu, Nak."


Mobil itu kemudian kembali melanjutkan perjalanan'nya. Meninggalkan Adira yang sudah di ambang sekarat. Umma Sarah sengaja melakukan di tempat itu, karna sangat jarang pengendara yang melewati jalan tersebut. Dan tidak akan ada yang menolong Adira, anak mantan suaminya.


****


Ingatan itu berputar kembali di ingatan umma Sarah.Bagaimana ia melenyapkan anak kandung dari mantan suaminya.


Namun, raut ketakutan terbingkai jelas di wajah umma Sarah tidak bisa di sembunyikan. Bayu membuka penutup wajah Aniya. Dan kembali menutupnya.


"Aku turut berduka atas meninggalnya,Aniya.Termasuk meminta maaf atas kesalahan ku di masa lalu... " lirih Bayu.


Umma Sarah hanya diam. Hatinya tersentil dengan ucapan mantan suaminya. Bayu meminta maaf karna kesalahannya dulu.Sementara dia telah membunuh Adira, anak Bayu. Rasa bersalah perlahan merayap di hati Umma.


"Apakah meninggalnya Aniya, sebagai karma karna dia telah melenyapkan Adira."batin umma benar-benar gelisah dan takut bila kejahatannya terkuak.


Sungguh setiap perbuat yang dilakukan akan mendapat balasannya, entah di dunia maupun di akhirat kelak.


๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„


Sementara Zana duduk di teras.Tidak lama, Hanu datang membawa sebotol air mineral dan memberikannya pada sang istri.


" Minum dulu,"ujar Hanu. Zana menerima air mineral dari Hanu, meminumnya hingga tinggal setelah botol.


Genggaman hangat yang diberikan Hanum, membuat Zana menoleh, menatap suaminya.


"Jangan masukkan ucapan umma yang menyakiti kamu, sayang. Umma masih tidak bisa mengontrol emosinya karna kehilangan Aniya. Kamu mau pulang? " tanya Hanu tidak tega pada Zana yang harus di terus di salahkan umma Sarah.


Zana menggelengkan kepalanya."Aku ingin tetap di sini. Sampai pemakaman mbak Aniya selesai. Boleh'kan, Mas? "tanya Zana dan Hanu menganggukkan kepalanya.


" Iya, boleh sayang. Tapi kamu jangan jauh-jauh dari Mas. Tetap di samping, Mas."Zana menganggukkan kepalanya.


Satu kecupan Hanu berikan pada Zana di kening. Tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang melihatnya.


Tidak jauh dari sana,Ayu tersenyum melihat sepasang suami-istri tersebut. Hatinya seolah mengatakan bila gadis muda itu adalah putrinya yang hilang 17 tahun yang lalu.


"Ayyara.Tolong Mama untuk melakukan tes DNA dengan gadis itu. Mama yakin itu Dira." ujarnya yakin.

__ADS_1


"Mama.Adira sudah meninggal. Polisi juga sudah angkat tangan menangani kasus hilangnya, Adira." ujar Ayyara, terselip rasa bersalah. Andai dia tidak meninggalkan adiknya, mungkin mereka semua akan berkumpul sampai sekarang. Dia memang sangat ceroboh.


Bersambung...


__ADS_2