
...-Happy reading-...
Ayu dan Bayu saling bertatapan setelah mendengar jawaban dari Baron dan Idah yang berbeda.
"Jadi...jawaban yang benar di antaraย kalianย berdua yang mana?"tanya Ayu, membuka suara setelah sempat hening beberapa menit.
Baron berdehem.Sedangkan Idah terdiam dengan sorot mata yang terlihat sedih.
"Yang benar jawaban saya. Zana itu bukan anak kami. 17 tahun yang lalu kami menemukan Zana tergeletak bersimbah darah di pinggir jalan yang memang sangat jarang di lewati orang-orang.Singkat cerita, kami bawa Zana ke rumah sakit."
Ayu menutup mulutnya dengan wajah yang sangat terkejut dan air mata yang tidak bisa terbendung.Sama halnya dengan Bayu yang tidak bisa menyembunyikan ke terkejutannya dengan pernyataan Baron.
Meski tes DNA Zana dan dirinya belum keluar karna butuh waktu 1 minggu lagi.Tapi Bayu dan Ayu yakin Zana merupakan anak mereka yang hilang 17 tahun yang lalu.
"Di situ, Zana benar-benar kritis. Karna luka yang cukup parah di kepalanya. Dokter juga mengatakan bila Zana mengalami amnesia dan juga koma beberapa hari," tutur Baron panjang lebar.
"Dan kenapa kalian tidak langsung lapor ke polisi. Setidaknya kami tidak harus berpisah selama ini dengan anak kami, Adira."ujar Ayu.
" Ad-adira..."ulang Idah dengan kening mengkerut.
"Iya,nama anak kami yang hilang itu Adira Anesia," jawab Ayu menatap ke arah Idah.
"Kami tidak berani melaporkan ke polisi. Kami takut di tuduh dan menjadi tersangka atas kasus penculikan ataupun tabrak lari oleh polisi.Karna tidak tahu asal-usul Zana,kami memutuskan untuk mengangkat dia sebagai anak kami. Karna saat itu Idah, istri saya tidak bisa hamil.Dan kami memberi nama dia Khazana Vanessa." lanjut Baron.
Ayu meremas dress yang ia kenakan sembari tangan yang lain memegangi kepalanya dengan tatapan mata yang bergulir.
"Oh,iya.Apa anda masih menyimpan baju yang terakhir Zana kenakan saat kalian menemukannya?" tanya Bayu.
Baron menatap Idah, seolah memberikan isyarat lewat mata.Wanita paruh bayu itu bangkit dari kursi kayu menuju ke kamar. Ayu dan Bayu memperhatikan itu dengan perasaan yang tidak karuan dan juga penasaran.
Tidak lama, Idah kembali keluar dari kamar dengan membawa sebuah kotak yang berukuran sedang.Dia meletakkan kotak tersebut di meja tepatnya di depan Ayu dan Bara.
Idah membuka kotak tersebut,dan mengeluarkan baju berwarna biru polkadot yang penuh noda darah yang memenuhi permukaan baju tersebut.
Detak jantung Ayu sudah tak karuan. Air matanya lolos begitu saja di sudut mata.Dengan tangan gemetar Ayu mengambil baju tersebut dari Idah.
__ADS_1
"I-ini baju Adira yang terakhir kali dia pakai...," lirih Ayu.
Ayu menoleh menatap suaminya yang berkaca-kaca dengan air mata yang tergenang.
"Mas, Zana itu memang anak kita. Lihat ini baju yang terakhir kali Adira pakai. Akhirnya kita menemukan putri kita, dia ternyata masih hidup."
Ayu memeluk Bayu yang membalas pelukannya.Ini benar-benar sesuatu yang sangat membahagiakan bagi Ayu dan Bayu.
"Hmm..."Deheman Baron membuat sepasang suami-istri itu melepaskan pelukannya, karna saking bahagia.
Ayu menyeka air matanya dan tersenyum ke arah Baron dan Idah.
"Karna kami sudah merawat Zana dari kecil, kalian berdua harus membayar semua biaya kebutuhan Zana dari kecil sampai dewasa.Kami banyak mengeluarkan uang termasuk membayar uang perawatannya di rumah sakit pada Zana." ujar Baron tersenyum lancip.
"Memangnya berapa kami harus bayar?" tanya Bayu.
Idah hanya bisa menghembuskan napas panjang. Suaminya memanfaatkan masalah ini untuk memeras kedua orang tua kandung Zana.
Baron mengusap-ngusap dagunya, seolah tengah memikirkan sesuatu."Kalian harus bayar lima miliar,"ucap Baron dengan santai.
Bayu sampai melotot mendengarnya.
"Andai anak anda tidak saya selamatkan. Mungkin dia sudah mati," desis Baron tersenyum culas.
Ayu memgusap-ngusap lengan suaminya.
"Mas, lebih baik kita bayar saja lima miliar itu.Dia juga sudah menyelamatkan anak kita," bisik Ayu pada Bayu.
"Tapi itu terlalu banyak, Ayu. Bagaimana bisa kita membayar uang sebanyak itu," sahut Bayu.
"Bagaimana?" tanya Baron, membuat keduanya menatap pria tersebut.
"Baiklah.Tapi kalian harus menjelaskan pada Zana. Agar dia percaya bahwa dia bukan anak kalian. Kalau saya yang menjelaskan dan menunjukkan tes DNA, Zana belum tentu percaya," ujar Ayu dan Baron menganggukkan kepalanya.
๐๐๐๐๐
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Hanu sudah duduk di sofa di ruang tamu sembari menggendong Aezar yang tertidur pulas setelah jam 3 pagi terus menangis tidak ada henti-henti. Hanu dan Zana saling bergantian menjaga dan menggendongnya.
"MasyaAllah, anak Ayah tampan sekali bila tidur seperti ini. Capek ya, Nak tadi malam nangis terus?"
Hanu mencium gemas pipi bulat Aezar yang tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Mas Hanu, hari ini bawa bekal atau tidak ke kantor?" tanya Zana yang meletakkan segelas kopi panas di atas meja.
"Tidak usah sayang.Kasihan kamunya bila memasak untuk Mas.Tadi malam kamu sudah menjaga Aezar, dan. Pastinya kamu lelah dan mengantuk," ujar Hanu menatap sendu pada Zana.
"Iih, Mas Hanu. Itu sudah tugas aku, Melayani Mas. Katanya lebih suka makanan buatan aku daripada makanan di luar,"ujar Zana, duduk di sebelah Hanu.
Zana mencium wajah Aezar yang sangat wangi dengan aroma khas bayi.Sebelum gadis itu menjauhkan wajahnya dari bayi tersebut, Hanu mengecup pipi Zana.
Gadis tersebut ke arah Hanu.
" Kamu lebih wangi dari pada, Aezar."ucap Hanu.
"Masa?" sahut Zana terkekeh.
Hanu mengusap wajah Zana lembut."Terima kasih sudah jadi istri dan ibu untuk anak, Mas. Betapa bahagianya Mas dengan semua yang Tuhan berikan. Dulu pernikahan kita karna sebuah paksaan, tapi sekarang berakhir bahagia,"ucap Hanu sangat tulus dengan ucapannya.
Zana mengusap air mata yang lolos begitu saja di wajahnya."Aku juga bahagia, Mas. Aku pikir pernikahan kita tidak akan bertahan lama.Aku pikir menikah dengan Mas adalah sebuah masalah besar ternyata Mas sumber kebahagiaan aku,"Zana tertawa mengucapkan kalimat terakhir.
Hanu mencubit hidung Zana yang langsung memekik.
"Sakit, Mas!" pekik Zana menyingkirkan tangan Hanu yang bertengger di hidung.
"Siapa suruh mengatakan menikah dengan Mas masalah besar?"ketus Hanu merajuk.
"Dulu masalah besar... tapi sekarang kebahagiaan besar untuk aku. Aku cinta Mas Hanu." Zana memeluk Hanu dari samping.
"Mas juga mencintai kamu, sayang. Sekarang cium dulu," pinta Hanu menunjuk bibirnya.
"Malu minta cium di depan,anak sendiri. Sudah tua juga," gurau Zana.
__ADS_1
"Heh... " Hanu memelototkan matanya.
Bersambung....