
Zana terus melangkahkan kakinya yang tak tentu arah. Ia tidak tahu harus pergi kemana, tapi ia harus pergi sejauh-jauhnya dari Hanu dan Aniya. Wanita mana yang mau bertahan dengan seorang suami yang menikahinya hanya untuk bisa mendapatkan anak, dan setelah itu bisa saja Hanu membuangnya setelah mendapatkan apa yang mau.
Zana berjalan melewati sekumpulan ibu-ibu yang tengah mengerumbuni penjual sayur.Tampak beberapa ibu-ibu itu menatap ke arah Zana dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kamu tahu tidak gadis itu katanya istri kedua Hanu, " celetuk salah itu ibu-ibu yang berbisik pada temannya, namun masih bisa di dengar oleh Zana yang memelankan langkah kakinya.
"Mau, maunya jadi istri kedua. Padahal Hanu sudah bahagia hidup dengan Aniya walau mereka belum di karunia anak . Pasti gadis itu yang menggoda Hanu duluan secara Hanu tampan dan kaya, " timpalnya dengan ucapan begitu pedas bagi Zana yang langsung mempercepat langkah kakinya, menjauh dari perkumpulan ibu-ibu tersebut.
Zana berlari kecil dengan air mata yang tiba-tiba langsung menetes tanpa ia inginkan. Dadanya begitu sesak dan hatinya seperti di cabik-cabik mendengar ucapan ibu-ibu tersebut, yang menyalahkan dirinya menjadi benalu di rumah tangga Hanu dan Aniya.Padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia korban dari orang tuanya yang tega menjual dirinya dengan Hanu, untuk di jadikan istri kedua dan melahirkan anak untuk pria itu.
Zana langsung berhenti di sebuah pos kamling. Ia memegangi tiang pos kamling itu dengan kepala yang tertunduk, merasakan sesak di dadanya yang semakin menjadi-jadi dan air mata yang bercucuran . Gadis itu mendudukkan dirinya di pos kamling tersebut, menelungkupkan kedua tangannya, menangis terisak-isak dengan tubuh yang bergetar hebat. Orang lain tidak tahu sehancur apa dirinya saat ini. Orang lain hanya menilai dirinya dari apa yang mereka dengar tanpa ingin mengulik lebih dalam penyebab sebenarnya ia menikah dengan Hanu. Di umur yang masih sangat muda ia harus terikat pernikahan di jadikan propaganda oleh orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan mereka pribadi tanpa memikirkan perasaan dirinya yang saat ini perlahan hancur lebur oleh orang-orang terdekatnya.
••••
Hanu tidak henti-hentinya memanggil nama istri keduanya dan mencari Zana di setiap sudut ruangan di dalam rumahnya. Setelah selesai makan, ia mencari Zana yang tidak muncul-muncul dari tadi. Hanu tampak panik bercampur khawatir.
"Aniya, Aku sudah mencari Zana kemana-mana tapi tidak ada,apa dia pergi? Tapi itu tidak mungkin karna Zana belum hafal jalan di tempat ini, " ujar Hanu pada Aniya yang menghentikan aktivitasnya yang menjemur pakaian.
Aniya terdiam sejenak, selintas dalam pikirannya saat ini Kalau Zana kabur, bisa saja'kan karna gadis itu tidak menginginkan pernikahannya dengan Hanu, suaminya.
"Mas, apa jangan-jangan Zana kabur, " sahut Aniya yang membuat Hanu melebarkan bola matanya.
__ADS_1
Pria itu terdiam seakan, berpikir.Mungkin ucapan Aniya memang benar bila Zana kabur. Tapi saat ia periksa lemari di kamar ,pakaian Zana masih ada di dalamnya.
"Mas, kamu harus secepatnya cari Zana, aku tidak mau dia kabur, " ujar Aniya.
"Apalagi Zana belum mengandung dan melahirkan anak Hanu maka jangan harap gadis itu bisa kabur. " batin Aniya.
Hanu menganggukkan kepalanya. Pria itu langsung berlari ke dalam rumah mengambil jaket dan kunci motor . Ia langsung menaiki motornya untuk segera mencari Zana yang entah pergi ke mana. Ia berharap istri keduanya itu belum pergi terlalu jauh.
••••
"Semoga mas Hanu secepatnya menemukan Zana. Aku sudah banyak mengeluarkan uang demi bisa menjadikan Zana madu mas Hanu, " gumam Aniya yang nampak gelisah.
"Assalamu'alaikum, " ujar Aniya pada sang penelepon.
"Walaikumsalam, nak. Aniya, Abah sama Umma mau ke rumah kamu dan Hanu. Kami sudah di jalan ,sebentar lagi sampai , Umma sangat merindukan kamu, nak. Apalagi sudah satu bulan kalian berdua tidak mengunjungi kami , " ujar Umma Aniya yang tidak lain Sarah.
Aniya langsung membisu, tenggorokannya seolah kesulitan untuk mengeluarkan suara.Buliran keringat dingin membasahi dahi Aniya yang tampak kaget dan panik.Bagaimana kalau kedua orang tuanya ke sini maka umma dan abahnya akan tahu bila Hanu sudah menikah lagi. Sedangkan kedua tuanya sangat melarang Hanu berpoligami karna dulu ia membicarakan ini sebelumnya dan kedua orang tuanya langsung menentang. Orang tua mana pun tidak akan rela bila putri satu-satunya di poligami tapi Aniya harus bagaimana lagi, ia sangat -sangat ingin mempunyai anak.
"Aniya, kamu kenapa diam? " tanya Umma Sarah di sebrang sana membuat lamunan Aniya langsung buyar.
"Ti-tidak Umma. Aku hanya senang karna Umma dan Abah ke rumah, " Jawab Aniya berbohong.
__ADS_1
•••••
Hanu terus melihat kanan-kiri, menjalankan sepeda motornya dengan pelan. Mencari Zana yang sudah satu jam ia berkeliling kampung tapi tidak menemukan istri keduanya.Selintas dalam pikiran Hanu, mungkin Zana berjalan ke arah luar kampung yang menuju ke perkotaan. Dengan cepat Hanu menjalankan sepeda motornya ke arah luar kampung yang lumayan jauh.
Hanu menyipitkan matanya melihat dari kejauhan seorang gadis yang berjalan dengan prawakan tubuh mirip seperti Zana, istrinya. Ia makin cepat menjalankan motornya mendekati orang yang mirip seperti Zana .
Zana tersentak kaget dan langkah kakinya terhenti ketika sebuah motor menghalangi jalannya. Perlahan gadis itu menatap pengendara motor yang tidak lain adalah Hanu yang turun dari motor. Zana langsung berbalik arah, ia berlari secepatnya menghindari Hanu yang berteriak memanggil namanya dan mengejar dirinya.
"Zana!" teriak Hanu yang makin mempercepat langkah kakinya berlari mengejar Zana.
Greb
Zana memberontak dalam pelukan Hanu yang berhasil menangkap dirinya. Ia sampai menggigit lengan pria itu agar melepaskan dirinya,tapi bukannya melepaskan Hanu makin mempererat pelukannya pada Zana.
"Lepasin aku!Aku tidak mau pulang dan tinggal bersama kalian berdua!"teriak Zana yang masih dalam pelukan Hanu.
"Zana, saya salah apa dengan kamu hingga kamu kabur dari rumah? Kalau saya ada salah dengan kamu tolong beritahu saya bukannya kabur seperti ini, " ujar Hanu tapi yang dia dapatkan adalah Zana yang menangis terisak-isak. Dengan cepat Hanu melepaskan pelukannya membalikkan tubuh istrinya menghadap dirinya.
Pria itu mengusap air mata yang terus turun membanjiri wajah Zana yang memerah. Ia menarik Zana dalam pelukannya, membiarkan istrinya menangis dalam pelukannya, meluapkan apa yang di rasakan Zana saat ini. Hanu mendaratkan kecupan di kening Zana.
Bersambung....
__ADS_1