
Happy Reading
Hanu meneteng beberapa tas belanjaan milik Zana. Istrinya sudah membeli beberapa pakaian yang dia pilih sendiri, walau gadis ini sempat menolak ketika melihat harga pakaian yang dia pilih cukup mahal.Sekarang mereka berdua akan ke restoran yang ada di mall ini, karna Hanu merasa lapar.
"Duduk dulu Zana," titah Hanu menarik kursi dan mendudukan Zana yang terus menelisik ,matanya memperhatikan restoran yang menurutnya mewah. Pasti makanan yang ada di sini sangat mahal, tebak Zana membantin.
Hanu meletakan belanjaan yang ia tenteng di kursi kosong di sebelahnya. Tidak berapa lama seorang pelayan restoran datang mendekati meja yang di isi oleh Hanu dan Zana.
"Zana kamu mau makan apa? " tanya Hanu memperlihatkan buku menu makanan pada Zana yang tampak bingung.
"A-aku terserah Mas saja mau pesan makanan apa." jawab Zana.Hanu manggut-manggut . Pria itu memesan beberapa makanan pada pelayan yang mencatat menu makanan yang dia pesan.
"Mas, di sini pasti makanannya mahal, " bisik Zana memajukan kepalanya mendekati Hanu yang ada di sebrang mejanya. Pria itu terkekeh mendengarnya.
"InsyaAllah, saya masih sanggup membayar makanan yang kita pesan. Sesekali saya ingin menyenangkan hati kamu dengan mengajak kamu makan di restoran yang cukup mewah ini, " ujar Hanu.
Seseorang menepuk bahu Hanu cukup keras, membuat sang empu membalikan badan'nya. Hanu melebarkan bola matanya, sedetik kemudian ia tersenyum menatap Cio yang merupakan pemilik restoran ini dan juga teman lamanya yang sudah lama tak jumpa.
"Hai! Apa kabar kamu Hanu? Sudah lama kita tidak bertemu," Cio memeluk Hanu, menepuk-nepuk bahu temannya pelan. Matanya melirik ke arah Zana yang langsung menundukkan kepalanya.
"Kamu tambah dewasa dan semakin tampan, " puji Cio pada Hanu yang tersenyum tipis.
"Semenjak kedua orang tua mu meninggal kau sudah tidak pernah muncul lagi, Hanu. Aku pikir kau sudah lenyap di dunia ini, "gurau Cio di akhir ucapannya sambil terkekeh pelan.
Hanu menundukkan kepalanya sejenak dan kembali menatap Cio yang tersenyum lebar. Ia tidak memberitahu pada Cio bila ia sudah di jodohkan dengan Aniya dan memilih tinggal di pedesaan untuk menghilangkan rasa sedihnya semenjak sepeninggal kedua orang tuanya beberapa tahun silam.
"Aku hanya ingin menenangkan diri ku. Dan ya, aku tidak tinggal di kota ini lagi karna itu akan mengingatkan tentang kedua orang tua ku, " ujar Hanu ya tampak terlihat sedih dari sorot matanya. Ia benar-benar merindukan sosok kedua orang tuanya.
Zana memperhatikan perubahan raut wajah suaminya. Ia bisa melihat kesedihan yang terbingkai jelas di wajah tampan Hanu. Cio menghela napas pelan, ia mengusap bahu Hanu ikut hanyut dalam kesedihan temannya itu.
Cio menatap ke arah Zana. Ia begitu penasaran dengan sosok gadis muda ini. Tapi setahu-nya Hanu tidak memiliki seorang adik perempuan atau saudara karna temannya tersebut anak tunggal.
"Hanu dia siapa? " tanya Cio menunjuk dengan ekor matanya pada Zana.
__ADS_1
Hanu menoleh menatap ke arah Zana sekilas dan melihat pada Cio.
"Dia istri ku. Namanya Zana, " jawab Hanu.
Cio sedikit terkejut mendengar pernyataan Hanu. Kalau boleh mengatakan, gadis ini terlalu muda untuk Hanu yangย sudah berumur 30-an yang seumuran dengan dirinya.Tapi bedanya ia belum menikah karna sibuk dengan perusahaan ayahnya yang kini berpindah tangan padanya.
"Sudah lama menikah? " Cio kembali melontarkan pertanyaan.Zana tersenyum kikuk mendengar ucapan pria asing tersebut, ia melirik ke arah suaminya.
"Baru satu bulan lebih aku menikah dengan Zana, " jawab Hanu tersenyum. Cio hanya ber'oh'saja mendengarnya.
Pelayan restoran meletakan beberapa makanan di meja. Zana menatap dengan mata berbinar melihat makanan yang sungguh mengunggah seleranya dan juga tampilannya sangat cantik. Jadi tidak tega untuk memakannya.
"Cio ayo makan bersama, " ajak Hanu.
Cio menggelengkan kepalanya, "Tidak usah. Yang kamu tawarkan itu makanan yang aku jual. Kamu lupa kalau akuย pemilik restoran ini. Aku pamit pergi karna masih ada pekerjaan yang lainnya, " ujar Cio undur diri.
"Baiklah, " sahut Hanu.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
"Kalau kamu kenapa-kenapa atau butuh sesuatu, kamu ke rumah Ujang, " ujar Hanu menunjuk rumah Ujang yang ada di sebelah rumah Zana.
"Iya Mas, " jawab Zana.Ia mencium punggung tangan Hanu yang kini mencium keningnya lembut.
"Assalamu'alaikum." salam Hanu yang sudah menaiki sepeda motornya.
"Waalaikumsalam."
Zana memperhatikan sosok Hanu yang mulai menghilang dari pandangan matanya. Ia berjalan masuk ke dalam rumah yang baru ia tempati. Zana menghela napas berat. Tiba-tiba rasa kesepian mulai terasa. Ia tidak biasa tinggal di rumah hanya seorang diri.
Tapi ia harus menerima ini semua. Karna ini lebih baik dari pada harus tinggal satu rumah dengan Umma Sarah dan mbak Aniya yang selalu melontarkan ucapan yang begitu menyakitkan bagi dirinya.Zana terperanjat kaget mendengar suara gemuruh dan hujan yang tiba-tiba turun begitu deras.
"Semoga tidak mati listrik, " gumam Zana yang bersegera masuk ke dalam kamar. Ia benar-benar takut gelap apalagi bila listrik mati,sedangkan sekarang ia tinggal seorang diri di rumah ini.
__ADS_1
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Aniya terus tersenyum menatap cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Begitu cantik. Tangan wanita itu terulur membongkar tas belanjaan yang di bawa Hanu dari kota. Senyuman Aniya makin merekah memperhatikan pakaian yang begitu bagus dan sepertinya sangat pas di tubuhnya.
"Bagaimana? Apa kamu suka? " tanya Hanu yang baru keluar dari kamar mandi. Aniya langsung mendekati sang suami dan memeluk erat.
"Iya, pakaian ini sangat bagus. Kamu sangat pintar memilihkan untuk aku, Mas, " ujar Aniya melepaskan pelukannya. Ia berjalan kedepan cermin, menempelkan baju itu di depan tubuhnya. Melihat pantulan dirinya.
"Pakaian itu Zana yang memilihkan untuk kamu. Karna aku bingung harus memilih pakaian mana yang kamu suka. Syukur bila kamu menyukainya, " ujar Hanu. Pria itu berjalan ke lemari pakaian.
Senyuman Aniya perlahan memudar. Ia langsung melemparkan pakaian tersebut ke kasur dengan raut wajah yang begitu kesal. Hanu mengernyitkan keningnya melihat hal itu.
"Kenapa malah di lempar seperti itu pakaiannya? " tanya Hanu mendekati Aniya, mengusap kepala istrinya lembut.
"Aku tidak suka dengan pakaian tersebut. Warnanya terlalu mencolok," jawab Aniya.
"Bukannya kamu mengatakan sangat menyukainya? " tanya lagi Hanu.
Aniya menggelengkan kepalanya, "Sekarang tidak. Aku keluar dulu ya Mas, mau menyiapkan makan malam untuk kamu, " Aniya berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Hanu yang terheran-heran dengan sikap sang istri yang selalu berubah-ubah.
Dup....
Tiba-tiba lampu listrik mati, membuat pria itu sedikit kaget . Hanu langsung meraba-raba benda di sekitarnya, mencari ponselnya yang ada di meja dekat kasur. Ia menyalahkan senter di ponselnya. Entah mengapa tiba-tiba ada rasa tidak enak yang merasuk di hatinya.
Di dapur Aniya langsung menyalahkan lilin. Umma Sarah menyalahkan kompor untuk membantu putrinya memanaskan makanan yang baru di masak tadi sore.
"Hanu kamu mau kemana? " tanya Umma Sarah menatap menantunya yang sudah memakai jaket, hendak pergi ke pintu keluar.
"Aku mau melihat keadaan Zana.Pasti dia ketakutan sendirian di rumah karna listrik mati," ujar Hanu mengambil kunci motor di meja .
"Kamu ngapain melihat keadaan Zana. Dia itu sudah besar. Kalau mati listrik tinggal menyalahkan lilin. Yang ada si Zana itu jadi manja sama kamu karna terlalu di khawatirkan. Ingat Hanu, sekarang jatah Aniya bersama kamu bukannya Zana. Kamu harus adil jadi seorang suami jangan condong ke salah satu istri kamu apalagi ke Zana, " Umma Sarah merebut kunci motor dari tangan Hanu.
"Jangan buat putri Umma sedih. Dia sudah menderita karna kamu poligami, sekarang bersikap manis'lah dengan Aniya, " Umma Sarah langsung melengos pergi dari hadapan Hanu.
__ADS_1
Bersambung...