KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Ciuman pertama


__ADS_3

Zana memperhatikan sebuah bangunan yang bertingkat-tingkat dengan pandangan yang begitu kagum dan terpukau dari jendela kaca mobil.Bangunan yang cukup besar dan sangat mewah. Zana tersentak ketika Hanu menyentuh pundaknya. Membuat ia menoleh menatap suaminya.


"Sekarang,ayo turun dari mobil, " ajak Hanu yang lebih dulu keluar dari mobil. Beberapa detik kemudian pria itu membukakan pintu mobil untuk Zana dan menjulurkan tangannya pada sang istri yang langsung menyambut uluran tangan suaminya.


"Jang, tolong bawakan barang-barang aku, " titah Hanu yang di angguki oleh Ujang yang baru keluar dari mobil. Zana tidak henti-hentinya memandangi sebuah bangunan yang bertuliskan hotel permata. Gadis itu melangkahkan kakinya mengikuti Hanu yang terus menggenggam tangannya.


"Kenapa kita ke sini, mas? " Tanya Zana mendongak menatap Hanu yang lebih tinggi darinya yang hanya sebatas dada suaminya.


Hanu menoleh menatap istri kecilnya yang menunggu jawabannya.


"Untuk sementara kita menginap dulu di hotel . Karna sudah hampir gelap dan tidak mungkin kita teruskan perjalanan. Besok baru kita membeli barang-barang dan pakaian untuk kamu, " tutur Hanu. Zana menganggukan kepalanya ,paham.


Sebenarnya Hanu bisa saja membeli barang yang di perlukan dan pakaian Zana di desa. Tapi ia ingin mengajak istrinya untuk jalan-jalan dan menghilangkan kepenatannya yang terlalu sibuk mengurus rumah.


🍁🍁🍁🍁🍁


Aniya mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kukunya memutih. Matanya memerah dengan kilatan amarah yang begitu jelas dari matanya. Dadanya bergemuruh dan cemburu yang begitu membara di hatinya. Aniya mengigit bibir bawahnya kuat melihat foto Hanu dan Zana yang tengah masuk ke sebuah hotel. Sedangkan suaminya itu tidak pernah mengajak dirinya ke sana.Wanita itu meremas kuat ponselnya dan memejamkan matanya sejenak.


Aniya mencari kontak telpon suaminya dan langsung menghubungi Hanu.


Tuttt.....


"Assalamu'alaikum, sayang. "


"Mas, kamu di mana? Dan jawab jujur!" Tanya Aniya penuh penekanan. Hanu yang di sebrang sana mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan sang istri.

__ADS_1


"Kamu kenapa bertanya seperti itu? " Tanya balik Hanu dengan tenang.


Aniya mulai jengah mendengar ucapan Hanu yang seolah menghindari pertanyaannya. "Maksud aku, kamu di mana sekarang, mas?! " Tanya Aniya dengan suara yang meninggi.


Wanita itu bisa mendengar suara helaan napas panjang Hanu yang ada di sambungan telpon.


"Aku ada di hotel dengan Zana, " jawab Hanu jujur.Sejenak Aniya terdiam.


"Kamu kenapa ada di hotel?Bukannya kalian berdua akan ke rumah yang baru kamu beli untuk Zana, mas? " Aniya kembali melontarkan pertanyaan pada Hanu.


"Aniya___Sebenarnya aku dan Zana pergi ke kota untuk membeli sesuatu dan sekalian membawa Zana untuk liburan.Kasihan Zana yang tidak pernah aku ajak ke luar untuk sekedar jalan-jalan atau pun liburan untuk menghilangkan kepenatannya yang terlalu sibuk mengurus rumah." Tutur Hanu.


"Lalu bagaimana dengan aku, mas? Kamu pikir akuΒ  hanya diam saja di rumah! Aku menjalankan peran ku sebagai seorang istri termasuk mengurus rumah.Tapi aku tidak pernah mendapatkan apa yang kamu berikan pada Zana sekarang!"Ujar Aniya dengan suara yang bergetar.


Aniya langsung membanting ponselnya dengan kuat ke lantai , membuat layar ponsel tersebut retak. Wanita itu meremas hijabnya yang melekat di kepalanya dengan wajah yang memerah.


"AKU BENCI KAMU, ZANA. GARA-GARA KAMU MAS HANU BERUBAH!! " Teriak Aniya kencang.


"Aniya kamu kenapa? " Umma Sarah tiba-tiba masuk ke kamar putrinya saat mendengar suara teriakan dari dalam kamar.


Wanita paruh baya itu langsung memeluk Aniya yang menangis kencang. Umma Sarah mengusap kepala Aniya yang menyandarkan kepalanya di dada umma-nya tersebut.


"Kamu kenapa, Aniya? Kenapa menangis seperti ini? " Tanya Umma Sarah yang masih setia memeluk putrinya.


"Mas Hanu, bohong! Mereka berdua pergi ke kota dan menginap di hotel, Umma. Zana, telah merebut semuanya dari aku hiks..... " Adu Aniya.

__ADS_1


Umma mendengus kesal. Gadis itu benar-benar mengancam rumah tangga Hanu dan Aniya. Kehadiran Zana seperti bencana yang siap menghancurkan kebahagiaan putrinya. Jadi tidak salah bila dirinya sangat membenci gadis yang berstatus sebagai istri kedua Hanu.


"Sudah, Aniya. Kamu jangan menangis seperti ini yang ada si Zana itu makin senang melihat kamu yang begini. Pasti dia yang memaksa Hanu untuk pergi ke kota , supaya dia semakin bebas berduaan dengan Hanu, " ujar Umma Sarah.


Aniya menganggukan kepalanya, membenarkan ucapan Umma-nya. "Aku tidak menyangka Zana selicik itu, Umma. Lebih baik aku tidak usah memiliki anak dari wanita lain, dari pada harus kehilangan perhatian dan kasih sayang mas Hanu. " ujar mempererat pelukan pada Umma Sarah.


Entah ini ujian atau bencana yang harus ia hadapi. Kenapa harus sadar sekarang, setelah tahu rasanya di madu dan berbagi suami sangat menyiksa sekali, batin Aniya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•Έ


Hanu menghela napas kasar setelah sambungan telpon Aniya matikan. Ia meletakan ponselnya di meja. Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat atensi pria tersebut. Ia menatap Zana yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya sebatas dada.


Hanu menatap sang istri tak berkedip. Ia baru pertama kali melihat tubuh istri yang terbuka seperti itu. Kini matanya beralih menatap ke bawah, menampakan paha putih mulus Zana. Jakunnya turun naik. Tubuhnya memanas dengan gairah yang bangkit , ingin sekali menjamah istrinya.


"Wah! Es krim! " Pekikan suara Zana melihat es krim yang ia pesan pada petugas hotel telah datang. Hanu langsung tersadar.


Gadis itu berjalan mendekati Hanu dan mengambil sebuah es krim yang ada dekat suaminya. Ia duduk di sebelah Hanu dan mulai menikmati es krimnya tanpa menyadari dengan keadaan dirinya yang bisa saja di terkam oleh Hanu.Gadis tersebut sudah lama tidak memakan es krim, apalagi yang ini sangat enak. Mungkin karna mahal.


"Mas mau, " tawar Zana pada Hanu yang terus memperhatikan dirinya yang nampak gugup di liat seperti itu terus oleh suaminya.


"Mas kenapa? " Tanya Zana gugup melihat Hanu yang mendekatkan wajahnya. Ia bisa merasakan hembusan napas suaminya. Hingga___Ia bisa merasakan bibir Hanu menempel di sudut bibirnya dan merasakan jilatan lidah pria tersebut yang terasa hangat menyentuh sudut bibirnya.Tubuh Zana seakan membeku, tidak bergerak.


"Sangat manis, kamu blepotan makan es krimnya, " ujar Hanu setelah menjauhkan wajahnya dari Zana yang masih terdiam,membeku dengan mata yang melebar . Ciuman pertamanya sudah di ambil oleh pria yang merupakan suaminya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2