
"Gimana makanannya? Enak?" tanya tuan Anton.
Saat ini mereka sedang menikmati makan malam di tengah hamparan laut nan luas. Makan malam romantis beratapkan bintang-bintang dan ditemani oleh alunan musik romantis dari kapal itu.
Tari mengangguk, ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan pria di depannya ini. Pria yang sangat romantis, baik hati dan juga penyayang. Tari sangat menyayangi tuannya itu.
Acara makan selesai, kini Tari dan tuan Anton kembali lagi di tempat pertama mereka datang. Menikmati semilir angin laut yang menyegarkan. Kedua insan itu duduk bersebelahan di sebuah kursi yang tersedia di sana.
Hening, hanya suara angin dan ombak laut yang menjadi melodi malam itu. Tuan Anton, tengah memikirkan sesuatu saat ini. Sedangkan Tari, ia masih terfokus dengan indahnya gemerlap bintang yang berkedip-kedip.
"Sayang," panggil pria itu. Tari menoleh, menjawab panggilan tuannya dengan sebuah senyuman.
"Ada yang ingin Papi bicarakan." Tuan Anton terlihat serius, namun kelembutan dari matanya tak pernah hilang.
"Mau bicara apa Pih?"
Tak menjawab, malah tuan Anton memanggil seorang pelayan untuk datang.
"Ambil kan hoodie yang ada di lemari kamar ku!" perintahnya. Pelayan itu mengangguk dan segera berlalu.
Beberapa saat kemudian, pelayan itu datang kembali dan memberikan sebuah hoodie kepada tuannya.
"Ini Tuan!"
"Terimakasih," Kemudian, pelayan itu pergi dari tempat itu.
Sedari tadi Tari hanya melihat mereka saja tanpa berbicara sesuatu. "Ini pakailah!" titah tuan Anton pada gadis itu.
"Ana ngga kedinginan Pih."
"Pakailah!" Tuan Anton memegang lengan Tari, "Lihat, tubuhmu sangat dingin. Pakailah hoodie ini, nanti kamu sakit sayang."
Tari menerimanya, "Baiklah Ana pakai. Tapi Papih juga pasti kedinginan kan?"
__ADS_1
Tentunya pria itu juga kedinginan, dia hanya memakai sebuah kaos. "Yang penting kamu ngga kedinginan." Tuan Anton tersenyum lalu membantu memakaikan hoodie itu pada gadisnya.
Tuan Anton memang berbeda dari para pengusaha lain yang dingin, jutek, keras dan arogan. Pria dewasa itu justru lebih hangat, lembut, baik hati dan juga ... Romantis. Wanita mana yang tidak jatuh hati pada pria kaya dan romantis seperti dia?
"Oh iya, Papih tadi mau ngomong apa?"
"Ah, iya." Tuan Anton merogoh saku celananya, sebuah kotak hitam kecil kini sudah di genggamnya. Lalu ia membuka kotak itu dan menyodorkannya di depan Tari.
Tari terkesiap, sebuah kotak berisi cincin bermatakan berlian berada tepat di hadapannya.
"Apa ini Pih?" Tari merasa bingung apa yang di maksud tuannya.
"Pakailah! Ini hadiah untukmu."
Tari menatap tuan Anton sekilas lalu berpindah ke cincin itu.
"Tapi ini pasti sangat mahal Pih." Gadis itu merasa tak pantas memakainya. Ia hanyalah gadis biasa yang pria itu bantu mentas dari jurang kemiskinan. Sudah diberi tempat yang layak dan juga uang, itu sudah sangat membantu Tari. Bahkan ia belum bisa membalas jasa tuannya itu. Lalu, apalagi ini? Sebuah berlian yang pria itu berikan padanya? Benda itu pasti tidak akan bisa ia bayar walaupun seumur hidup harus bekerja.
Tari menggeleng, "Engga Pih, ini terlalu bagus dan mahal. Ana tidak bisa menerimanya. Bahkan Ana belum bisa membalas budi Papih pada keluarga Ana. Dan ini? Sungguh, Ana tidak bisa menerimanya."
"Kau tidak mau menerimanya?" tanya pria itu dengan nada yang mulai marah.
Tari menunduk lalu menggeleng. Tuan Anton marah, ia menutup kembali kotak itu dan berjalan menuju ujung deck kapal. Tari hanya menatap punggung pria itu. Entah apa yang akan pria itu lakukan.
Sedetik kemudian, tuan Anton dengan sekuat tenaga melempar kotak berisi cincin berlian itu ke laut. Tari terkejut, astaga ... Cincin itu?
"Papih? Apa yang Papih lakukan?" gadis itu menghampiri tuannya. Tari juga ikut melihat ke arah lautan untuk melihat kotak itu, namun kotak itu langsung hilang tenggelam sirna.
"Papih, cincin itu pasti sangat mahal ... Kenapa Papih buang?" gadis itu menatap tuannya dengan kesal.
Tuan Anton masih diam, napas nya sedikit kembang kempis karna menahan amarah.
"Pih?" panggil Tari lagi.
__ADS_1
Tuan Anton menoleh, ia juga menatap tajam gadisnya. "Barang itu tak berharga sedikitpun." jawabnya ketus. Lalu pria itu pergi meninggalkan gadis yang membuatnya kesal.
Tari mengikuti langkah tuan Anton hingga sampai ke dalam sebuah kamar. Tuan Anton langsung duduk di sofa dan membuka ponselnya. Pria itu sepertinya sedang menelepon sang nahkoda dan memintanya untuk kembali.
"Pih?" Tari sudah duduk di samping pria itu, sebenarnya ia takut. Pasti tuan Anton sangat marah padanya.
"Maaf!" lirih Tari. Sepertinya gadis itu sudah menyesal dengan apa yang ia perbuat. Menolak barang berharga pemberian dari orang yang mencintainya.
"Maafin Ana Pih, Ana mohon! Ana menyesal, seharusnya Ana menerimanya. Jadi Papih tidak akan merugi seperti ini." Tuan Anton tak menjawab, malah semakin dibuat kesal dengan pernyataan gadis itu.
Astaga, pemikiran seperti apa itu? 🤦
Hening sesaat, Tari hanya menunduk tak tau berbuat apa lagi. Sedangkan tuan Anton masih sangat kesal. Pria itu menoleh ke arah Tari dan mulai berbicara. Baru kali ini gadis itu benar-benar membuat mood nya kacau.
"Kau tahu? Benda apapun yang ada di dunia ini tak lebih berharga dari mu!" ucap pria itu dengan tegas. Suaranya sedikit meninggi karna memang masih menahan marah. Tari pun terkesiap dengan pernyataan tuannya.
"Aku memberikan semua nya untukmu karna aku ingin memberikannya. Aku tidak pernah memintamu untuk membalasnya atau mengembalikannya. Kau lebih berharga dari apapun!" jelas pria itu. Kata-katanya melembut, namun kesalnya masih menyulut suasana hatinya.
Tari, hanya diam termangu. Perasaan apa yang tuannya coba utarakan?
"Dengan tetap berada di sampingku, tak perlu melakukan apapun. Dan nikmati segala bentuk kasih sayang yang ku berikan untukmu." Kini posisi tuan Anton sudah menghadap Tari, matanya sendu menatap gadisnya yang ternyata juga menatapnya. Mendengarkan segala tutur katanya dengan perasaan yang tak menentu. Amarah pria itu tiba-tiba menghilang begitu saja. Ia benar-benar ingin mengutarakan perasaannya pada gadis mungil itu.
Tuan Anton meraih tangan Tari dan menggengamnya. Menciumnya dalam-dalam.
"Aku sangat mencintaimu Ana!" Pria itu kembali menatap gadisnya.
"Mungkin usia kita terpaut sangat jauh, tapi perasaan ini tidak mampu ku bendung lagi. Aku benar-benar sangat mencintaimu sayang! Meskipun aku tahu kau belum mencintaiku. Jangan anggap aku sebagai dewa penolong yang harus kau balas budinya. Aku bukan penolongmu. Aku hanya memberimu apa yang pantas aku berikan untukmu. Tetaplah berada di sampingku. Aku yakin, perlahan kau akan membalas cintaku." Tuan Anton kembali mencium tangan Tari.
Tari hanya bisa diam terpaku. Mendengar pernyataan cinta dari pria itu, membuat perasaannya tak karuan. Dua tahun berlalu, Tari hanya menganggap tuan Anton sebagai dewa penolongnya. Entah mengapa perasaan yang disebut cinta itu tidak singgah di hatinya untuk tuan Anton.
Tuan Anton menarik Tari ke dalam pelukannya. Sedangkan gadis itu hanya menurut saja diperlakukan apapun oleh tuannya.
"Malam ini, temani Papi minum!" ucap pria itu setelah melepas pelukannya. Gadis itu hanya mengangguk. Ia tak mau membuat tuannya kembali marah.
__ADS_1
To Be Continue ....