KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 48


__ADS_3

Yoga, semakin yakin bahwa Ana adalah Tari. Namun, hatinya tetap menyangkal keyakinannya. Yoga merasa bahwa perasaan nya pada keduanya sangat berbeda. Ana adalah gadis yang disukai sedangkan Tari, perasaannya tidak lebih dari rasa sayang pada seorang sahabat. Bagaimana mungkin mereka adalah satu orang yang sama? Yoga terus saja menyangkal kebenaran yang dirasa belum pasti itu. Dia harus mencari bukti autentik untuk meyakinkan dirinya sendiri. Hanya bermodal kesamaan cincin yang mereka pakai tidak akan cukup, bukan?


****


"Aku harus bersiap-siap jika terjadi sesuatu nanti." ucap Tuan Anton pada Beni, orang kepercayaannya sejak dulu.


Saat ini, Tuan Anton dan Beni sedang berada di dalam ruang kerja Tuan Anton. Beni baru saja menjemput Tuan Anton dari bandara kemudian mengantarnya ke perusahaan. Ia juga memberitahu apa yang terjadi pada Tari dan Yoga selama Tuan Anton berada di luar kota.


"Tuan, bolehkah saya memberi saran?" tanya Beni dengan menunduk.


"Katakan!" titah Tuan Anton sembari menyilangkan kaki nya dan bersender di kursi kebesarannya.


"Apa tidak sebaiknya Tuan memberitahu tuan muda tentang Nona Tari?"


"Aku akan melakukannya. Tapi tidak sekarang." jawab Tuan Anton seraya memijat pelipisnya.


Tuan Anton tidak menyangka bahwa Yoga akan menemukan Ana dan menaruh perasaan padanya. Dia pikir dengan Yoga satu sekolah dengan Tari akan membuat Yoga menjadi dekat dengan calon ibu sambungnya. Dia sudah mengetahuinya sejak lama dan hanya membiarkannya saja. Namun, ternyata keputusannya itu malah membuat keadaan menjadi semakin rumit.


"Aku tetap akan mencintai gadis itu. Aku yang bersamanya lebih dulu. Yoga pasti akan mengerti." ucap Tuan Anton penuh keyakinan.


"Jangan lupakan bahwa tuan muda juga anak Anda, Tuan."


Beni merasa simpati dengan permasalah yang sedang menerpa atasannya itu. Mencintai gadis yang sama dengan anaknya. Dia yakin Tuan Anton saat ini sedang mengalami polemik batin dalam hati nya. Menyerah atau terpecah? Ah, sudahlah. Dia tidak mau terlalu lancang ikut campur urusan keluarga Tuan Anton. Yang terpenting adalah tetap menjalani apapun yang diperintahkan oleh Tuan Anton.


"Aku tahu itu. Tidak perlu kamu ingatkan lagi. Yoga memang anakku."

__ADS_1


Tuan Anton beranjak dari duduknya kemudian melangkah pergi keluar ruangan meninggalkan Beni yang masih setia berdiri dan menunduk. Pria itu kesal dengan ucapan Beni yang seakan memintanya untuk menyerah. Tidak. Dia tidak mau menyerah. Cintanya pada Tari sudah mengakar dalam hati.


Setelah sampai di depan lift pria itu segera menekan tombol menuju lantai pertama. Tuan Anton masuk ke dalam lift setelah pintu terbuka sembari merapikan pakaiannya yang terlihat kusut. Dalam pikirannya sekarang hanyalah Tari sang gadis pujaan. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan gadis itu setelah beberapa hari tidak bertemu. Apa lagi Tuan Anton tidak mau menyiakan kesempatan karena Tari sudah memaafkannya.


Pintu lift terbuka setelah sampai di lantai satu. Tuan Anton keluar dan berjalan dengan tegap menuju pintu keluar. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Tuan Anton membungkuk hormat pada pria itu. Sebagai atasan yang ramah, Tuan Anton pun selalu melempar senyum pada karyawannya.


Semua karyawan selalu memandang hormat pada atasannya tersebut. Tuan Anton dikenal sebagai atasan yang tegas, lembut dan penuh perhatian. Bagi Tuan Anton, kenyamanan karyawan adalah hal yang paling utama. Prinsip kerja pria itu adalah 'Karyawan tak menjerit perusahaan akan melejit.' karena tanpa karyawan, dirinya dan perusahaan tidak akan menjadi sukses seperti sekarang ini.


"Si*al!" umpat Tuan Anton setelah berada di area parkir.


Pria itu lupa bahwa ia tidak membawa kendaraan sendiri. Benar, tadi ia dijemput Beni dengan kendaraan pribadinya. Tuan Anton berkacak pinggang seraya menendang udara. Dia kesal pada diri nya hari ini. Begitu banyak permasalahan yang harus ia pikirkan hari ini. Sudah lelah duduk berjam-jam di pesawat, masalah cinta nya yang rumit, ditambah lagi sekarang ia tidak bisa pergi dari tempat itu.


Tiba-tiba otak cerdasnya menghilang ketika lelah melanda. Dia harus cepat. Tuan Anton segera berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi.


Tin ... Tin ....


"Apa Anda butuh tumpangan?" tanya Beni sembari melongokkan kepalanya dari balik jendela mobil.


Tanpa basa-basi, Tuan Anton segera masuk ke dalam mobil milik Beni.


"Kita ke mana, Tuan?" tanya Beni sembari melajukan mobilnya.


"Ke rumah gadisku." jawab Tuan Anton singkat.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


****


"Apa aku harus masuk ke dalam rumah itu?" gumam Yoga. Saat ini dia sudah berada di depan rumah Tari.


Sebenarnya dia hanya ingin mengintai rumah itu. Namun, tiba-tiba dia ingin sekali masuk ke dalam rumah itu dan menemui sahabatnya. Dia ingin bertanya langsung pada gadis itu. Ya, lebih baik seperti itu. Mendengar langsung dari sumber utama. Saat Yoga ingin membuka pintu mobil dan berniat untuk bertamu, mobil milik papa nya memasuki gerbang otomatis di rumah itu.


"Papa?" Yoga urung melakukan niatnya. Ia kembali duduk di balik kemudi dan mengamati apa yang terjadi selanjutnya.


Tuan Anton terlihat turun dari mobil dan di sambut oleh Adnan. Adik ketiga Tari. Yoga mengamati gerak-gerik sang papa dengan seksama. Sang papa langsung mengendong Adnan dan memeluknya dengan erat. Mereka seperti sudah sangat dekat sekali. Kemudian, seorang gadis keluar dari rumah itu. Tak terlihat jelas memang. Namun, Yoga yakin bahwa gadis itu adalah Tari.


Yoga kembali dibuat tercengang kala melihat sang papa memeluk Tari dan gadis itu pun membalasnya. Tuan Anton juga mencium kening Tari beberapa saat sebelum akhirnya mereka masuk kedalam rumah dengan Tuan Anton yang mengendong Adnan dengan satu tangan dan satu tangan lainnya memeluk pinggang Tari.


Yoga mendengus kesal. Ia seperti sedang dipermainkan. Dirinya seperti orang bo*doh yang tidak tahu apapun. Apa yang mereka sembunyikan? Lagi-lagi setir kemudi itu menjadi sasaran empuk kemarahan Yoga. Pria muda itu memukul keras kemudinya berkali-kali. Kesal sekali rasanya ketika kita tidak tahu apapun tentang keadaan sekitar padahal kita berada dilingkungan itu. Itulah yang sedang Yoga rasakan saat ini. Hubungan apa yang papa nya dan Tari jalani?


****


"Kamu sangat merindukan Papi, ya?" tanya Tuan Anton pada bocah kecil yang sedang digendongnya.


"Atu linduuu, Papih." (Aku rinduuu, Papih.) jawab bocah itu seraya memeluk erat leher sang papi.


"Ahaha ... Kira-kira Kakak juga rindu Papi nggak ya?" tanya pria itu lagi sembari melirik gadis yang sedang berjalan di sampingnya.


"Apaan sih, Pih?" Tari menahan malu.


"Tatak juja lindu, Papih. Ya, tan?" (Kakak juga rindu, Papih. Ya, kan?)

__ADS_1


"Ish, Adnan sama Mbak dulu ya! Papih biar istirahat dulu. Kan capek baru datang." Tari mengambil Adnan dari gendongan sang papi. Kemudian ia memberikan Adnan pada pengasuhnya.


"Papih mau mandi dulu? Biar Tari siapkan air hangat." Tari segera berjalan menaiki tangga menuju kamar sang papi. Ia masih sedikit canggung bila berada satu tempat dengan sang papi.


__ADS_2